Balada Dua Ayam Arab

Pengantar Editor: balada di bawah ini saya muat ulang dari sebuah catatan di Facebook milik Layla Jihan. Tentu saja dengan persetujuannya. Selamat menikmati (tulisannya tentu … bukan Layla).

* * *

Teks dan Foto: Layla Jihan Ilustrasi: Ist.

Ini adalah karya iseng2 saya di sore yang cerah ini…sebelumnya saya mohon maaf jika ada kesamaan nama dan karakter dalam cerita ini…sumpah saya gak sengaja kalo ada yang sama!!!

4:27 pm

Kisah ini bermula pada suatu sore…

Saya: “Ibuukkk…kok ada ayam di rumah????!!” (sambil melihat dua ekor ayam arab di samping rumah).

Ibuk: “He-eh Mbak, tadi Ibuk beli ayam arab pas pulang kantor, soalnya..bla..bla..bla..” (memberikan alasan dan argumentasi untuk memperkuat alibi).

Saat itu sempat terlintas pertanyaan di kepala saya, kira-kira kalo tiap pagi, ayam arab itu berkokok atau ber-adzan ya??

—-haripun berlalu seperti biasa—-dan saya masih tidak suka dengan eksistensi kedua ayam arab itu di rumah—-

Hingga tragedi itu terjadi di suatu sore di awal Desember…

Alif (tetangga belakang rumah): “Assalamu’alaikum…Mbak, ini ayamnya kabur ke bawah, tapi yang satunya udah lari ke sungai jadi gak bisa tak tangkap.”

Saya: “Owh…larinya jauh, Lif?”

Alif: “iya og, Mbak…”

Saya: “Ya udah, makasih ya udah dibantuin nangkapin satu” (haduh, seandainya kabur dua-duanya pasti cihuy (jahat ya))

Begitulah, si ayam betina berhasil kabur meninggalkan si ayam jantan yang kurang beruntung hingga bisa ditangkap kembali oleh si Alif. Mungkin si ayam betina hendak mencari pejantan tangguh lain di luar sana, atau dia ingin main ke kampus biar statusnya jadi ayam kampus (kalo mahasiswa sering ke mall kan disebut anak mall), entahlah…

Yang jelas, sejak saat itu si ayam jantan terpaksa bertahan hidup seorang diri tanpa kehadiran si ayam betina di sisinya, belum lagi ia harus menerima berbagai intimidasi dari saya (maaf ya, yam). Terkadang kenyataan itu terlalu pahit untuk dijalani namun itulah yang akan membuat kita semakin kuat dan tegar.

Backsound: ndang baliooo Sriiii…ndang baliooo…

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan…

Bulan Januari yang dikenal dengan kepanjangannya sebagai bulan hujan sehari-hari pun tiba. Tiap hari di umbrellapudak (Pudakpayung) angin berhembus dengan kencang, mendung menggantung pertanda akan turun hujan, kilat dan petir menyambar-nyambar.

Mungkin akibat kondisi cuaca yang tak bersahabat dan penderitaan karena ditinggal pergi sang kekasih, ayam jantan pun tumbang. Nafsu makannya hilang, badannya menjadi lemas, dan kemarin sabtu sore ia terkulai lemah tak berdaya di bawah pohon rambutan sambil ditemani adik bungsu saya yang tak henti-hentinya menangis, “huhuhuhuhu….Jangan mati ayam…..huhuhuhu…ibuuukk…ayamnya mau mati…..huhuhu…jangan mati ayam….huhuhuhu…”.

Saya? Apakah Anda menanyakan bagaimana perasaan saya ketika mendengar tangisan yang menyayat hati yang keluar dari bibir adik saya???… tangisan penuh kegalauan dan keputusasaan??… sejujurnya saya hanya mendengar sepintas-sepintas karena saya masih setengah sadar dari tidur siang saya…ya, saya terbangun akibat tangisan si bungsu…hmph…

Demi menyelamatkan nyawa si ayam jantan, ibu saya langsung membawanya (ayam jantan, bukan adik bungsu saya) ke dalam rumah, ia (ibu saya, bukan ayam jantan) kemudian memakaikan selimut di sekujur badannya (ayam jantan, bukan penjual siomay) agar tetap hangat. Ibu saya kemudian membuat ramuan obat untuk mengobati (kalo sapu untuk menyapu, kalo obat untuk mengobati) si ayam jantan. Ibu saya membuat 3 jenis ramuan obat sebagai berikut:

1. Kencur (bukan anak bau kencur) yang ditumbuk halus.

2. Sari kurma milik ayah saya (entah apa yang muncul di benak ayah saat melihat ibu menuang sari kurma ke sendok sambil berkata, “Ini buat ayam og, Yah”).

3. Larutan gula garam untuk mengobati dehidrasi.

Akhirnya setelah meminum ramuan-ramuan tersebut, tadi pagi kondisi si ayam jantan mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Walaupun ia masih terkulai lemas namun ia sudah mau makan. Karena melihat kondisi yang baik itu, Ibu mengajak saya ke awul-awul di dekat trafficlight Banyumanik. (Gak nyambung ya para pembaca). Dan kami berhasil membawa pulang sebuah jaket dan dua topi yang lucuuuu ^^. (Gak nyambung kok tetep diterusin critanya).

Sesampainya kami di rumah selepas menggila di awul-awul, Alif (masih ingatkan?) datang membawa kabar gembira. Ia membawa pulang si ayam betina yang berhasil ia tangkap di semak-semak dekat sungai. Segera ibu saya membawa si ayam jantan untuk menemui kekasihnya yang lama pergi tak kembali. Sampai note ini dibuat, ibu saya masih mendendangkan sebait lagu Bang Ridho Rhoma yang berjudul “Menunggu” sambil berharap-harap cemas, semoga si ayam jantan dapat bertahan hidup setelah… sekian lama aku menunggu untuk kedatanganmuuu…

Para pembaca yang budiman, hikmah apa yang dapat kita ambil dari cerita di atas???

Baiklah, akan saya katakan. Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah…jangan terlalu lama berada di depan laptop sambil membuka fesbuk… akibatnya Anda akan terserang penyakit iseng yang mengakibatkan lahirnya note gak jelas seperti ini…

Sekian dan Terimakasih.

Ini adalah penulis note yang kami samarkan wajahnya.

Ini adalah sedikit ilustrasi bagi para pembaca yang tidak tahu seperti apa bentuk dan rupa ayam.

Update

09.00 pm

HEADLINE NEWS:

Penulis merasa perlu untuk melanjutkan Balada Dua Ayam Arab:

Kurang lebih 60 menit setelah saya mempublish note ini, terdengar teriakan dan raungan dari bawah, ternyata si bungsu kembali menangis. Penyebab tangisan tersebut adalah kenyataan bahwa si ayam jantan telah disembelih oleh ayah saya.

Kemudian, saya sebagai kakak yang baik, mencoba menghibur si Bungsu.

Si Bungsu: “Huhuhuhuhu…ayamnya dibunuh Ayah…”(sambil memeluk pinggang saya).

Saya: “Sudah, Madha. Jangan nangis, kasian kalo ayamnya sakit terus, kalo dia disembelih kan jadi gak kesakitan lagi, terus dia bisa masuk surga.”

Si Bungsu: “Huhuhuhuhu… biar gak sakit lagi? Huhuhuhu…”

Saya: “Iya, apalagi kalo dagingnya dikasih ke lele sama kura-kura (kami memelihara lele dan kura-kura di kolam), jadi bisa bermanfaat untuk hewan lain.”

Si Bungsu: (membelalak kaget), “Aaa… huuuaaaaaa… huaaaa… huaaaa… huhuhuhuhuhuhuhuhuhu..” (jadi tambah kenceng plus histeris).

Usut punya usut, adik saya tahunya bahwa si ayam jantan disembelih kemudian dikuburkan dengan layak di belakang rumah. Dan saya —dengan suksesnya— memberitahu kenyataan paling pahit bahwa jasad si ayam jantan telah habis menjadi santapan lele dan kura-kura.

Untuk beberapa saat hingga note tambahan ini dipublish, si bungsu masih trauma jika berdekatan dengan kolam.

Maafkan aku adikku.

* Layla adalah warga Pudakpayung yang nunut lahir di Sulang. Sarjana Hukum lho, tapi Undip :p. Saat ini sedang giat senam agar sehat karena sebentar lagi akan menjadi wanita karir di Jakarta.

7 thoughts on “Balada Dua Ayam Arab

  1. aha… jeng Layla yg kini udah nangkring di Mahkamah Konstituti qe3 titip salam sukses yo, omm Udin🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s