Guru Bangsa dan Teladan Hidup dari Jatimudo

Ini adalah lanjutan dari tulisan tentang Pak Naim, Imam Masjid Jatimudo yang tulus mengabdikan dirinya untuk umat. baca tulisan sebelumnya.

oleh: Didik Salambanu

Foto : Dwiyoga N

Pak Naim menelusuri setiap jengkal bentangan awang-awang sambil terus menghisap rokok ‘generik’nya yang masih tersisa, dan untuk selanjutnya kuikuti tatapannya. Sejauh mataku memandang, vegetasi darat khas pesisir yang jumlahnya tak banyak di bumi nusantara tampak begitu mendominasi.

Puluhan pohon berbatang tunggal sejenis palem dengan kontur kulit pohonnya yang kasap, agak kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah, yang kokoh menjulang hingga ketinggian 25 m, tajuk nan rimbun dan membulat, daunnya sekilas mirip kipas, bundar, kaku, bercangap berjari dan berwarna hijau keabu-abuan, bentuk pelepahnya pendek, menghitam, bercelah di pangkal, berijuk dan bergerigi di tepiannya.

Kuamati Pak Naim yang bersiap menjalankan profesi sampingannya sebagai penyadap air legen. Digantungkannya sebagian bumbung kosong di pelepah anakan pohon siwalan yang masih ‘balita’, sedang bumbung yang lain disangkutkan di lengan kirinya.

Diselipkannya pisau gores untuk ‘menggarap’ tangkai bunga bogor lanang di belakang punggungnya. Dengan cekatan dipanjatnya pohon siwalan di dekatnya dia berdiri, kakinya dijejakkan di takik-takik berundak yang sengaja dibuat di batang pohon siwalan, sembari alat bantu tali panjatnya dijulurkan hingga melingkari batang sebagai tumpuan kekuatan sewaktu memanjat.

Dengan kelihaiannya bak mountain side climber, tak perlu waktu sampai dua menit untuk menaklukkan ketinggian 15 m pohon siwalannya. Bapak yang bernama lengkap Nyono Naim ini pun telah nangkring di atas tajuk pohon siwalan, memulai jobdesk utamanya.

Dilihatnya beberapa bumbung yang dipasang kemarin sore telah penuh oleh tetesan air legen. Dengan telaten dilepas dari kaitnya dan disisihkan, digantinya dengan bumbung baru sambil tangkai kembang lama dipotong dan digores baru di bawahnya dengan pisau kerjanya nan tandes, cresh…cresh… Air legen pun lambat laun menetes dari ujung tangkai bunga yang baru saja dipotong, seakan lewat getah bunga pohon siwalan inilah rejeki Pak Naim mengalir, memenuhi pundi-pundi nafkahnya.

Satu per satu bumbung yang telah terisi diambil, hingga semuanya dituntaskan, digantikan dengan bumbung baru. Tak satupun ‘kembang siwalan’ yang terlewat digarapnya.

Pak Naim pun menjalani alur kerja keduanya, menuruni pohon siwalan. Meski lebih gampang dibandingkan sewaktu naik, namun beban berat dari bumbung-bumbung yang sarat air legen menuntut ekstra kehati-hatian.

Namun bagi Pak Naim yang hampir 30 tahun menekuni dan berpengalaman dengan pekerjaan menyadap air legen, tidaklah susah dan ribet melakukannya. Cukup hanya 15 menit leadtime yang dibutuhkan untuk ‘mencumbui’ satu pohon siwalan, dari foreplay hingga endplay. Tak perlu rehat lama, selang berikutnya pohon keduanya pun digarapnya, seterusnya dan seterusnya, hingga pohon siwalan ke-12 miliknya yang terakhir memanggilnya, bersiap diri kembang siwalannya untuk di’sunat’.

Selaksa Makna Air Legen

Peluh keringat yang membanjiri permukaan kulitnya tak dirasakan, keletihan dan kepenatan tak dihiraukannya, dan bayang-bayang kekhawatiran bahwa rejeki yang diterimanya hari ini tidak halal tak bakal menghantuinya.

Hanya senyum mengembang mengisyaratkan kebahagiaan menyaksikan belasan bumbung-bumbung yang telah penuh terisi air legen yang seolah menjadi saksi buah kerja keras dan keikhlasannya menjalani profesi yang terkadang dipandang sebelah mata.

Matahari telah di sepertiga perjalanannya. Pak Naim pun beranjak pulang, memikul beban berat puluhan liter air legen. Dalam benaknya membayang, betapa Maha Pengasih Dzat Yang di Atas. Mendiam di bumi Dologan nan gersang, di saat sawah dan ladang cuma jadi pengangguran, dibelenggu krisis air bersih sehingga seteguk air menjadi barang yang tidak murah, di tengah ketidakpastian kapan mongso labuh akan datang, seakan air legen menjadi dewa penolong, penyumbang materi yang sebelumnya seret bahkan mampet karena ketiadaan panenan padi maupun palawijo, penyambung kelangsungan denyut nafas kehidupan Pak Naim sekeluarga.

Sesampai di rumah, istrinya yang sedari tadi setia menunggu segera menyambut ‘oleh-oleh gratisan’ Pak Naim dengan wajah berbinar. Kolaborasi nan indah sebuah household relationship, mencitrakan keharmonisan dan kemesraan rumah tangga Pak Naim.

Oleh Bu Naim,-yang terbiasa dipanggil Mbah, panggilan kesayangan dari pak Naim-, dituangnya air legen ‘sejuta makna’ ini ke dalam wadah kuali secara perlahan-lahan, agar tidak berceceran untuk menghargai hasil kerja suami, dicucinya hingga bersih bumbung-bumbung yang habis terpakai untuk persiapan Pak Naim menek kembali nanti sore.

Dan Pak Naim pun mengisi waktu luangnya dengan sejenak beristirahat, momong putu, mengurus ternaknya, ndarus Al Quran dan mengaji atau sekedar tilik-tilik tegal, karena di saat musim kemarau seperti ini, tak banyak yang bisa dikerjakan di sawah ladangnya.

Tak lama kemudian, Lek Sukir, tetangganya dari Dusun Ngemplak, muncul di depan pintu, kulakan air legen hasil ladang Pak Naim, dibarter dengan sekian lembar uang rupiah, untuk nantinya dijual ke kota, menyusur pasar komunitas legeners yang tersebar luas di Blora, Cepu, Juana, Pati, Kudus, Jepon, Japah, Wirosari, Randublatung bahkan sampai ke Ngawi.

Dari hasil usaha sampingannya ini, Pak Naim pantas dijadikan guru kehidupan. Bagi kita mungkin jumlah rupiah per harinya tak seberapa. Namun bermodal sikap bersahaja, sabar dan nrimo menjalani hidup keseharian, gemi lan nastiti, disisihkannya sebagian hasil transaksi air legennya, sedikit sedikit lama-lama membukit.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan berkat ke-Maha Kasih dan Maha Sayang dari-Nya, hingga akhirnya Pak Naim diundang bertandang ke bumi Mekah, menjadi tamu Allah, menyempurnakan rukun islam kelima di tanah suci, diangkat derajatnya, naik pangkat menyandang gelar seorang haji, di tahun 2000 silam. Hal yang tak pernah diangankan Pak Naim bakal kesampaian, namun bila Gusti Kang Murbeng Dumadi berkehendak lewat setetes air legen, siapa yang tak bersukacita menyambut uluran tangan-Nya.

Inilah potret kehidupan seorang penyadap air legen, yang menyiratkan sebuah pelajaran bahwa selama kita taat, manut dan munduk-munduk kepada-Nya, pandai sebagai hamba yang tak pernah putus mengucap kata syukur, di mana, kapan saja dan kondisi apapaun, bakal ada jalan rejeki yang tiada terduga, sebagai penggenap keberkahan perjalanan hidup manusia.

Thanks for all Pak Naim, you’re my inspiration, teacher of my life…

4 thoughts on “Guru Bangsa dan Teladan Hidup dari Jatimudo

  1. aku ikut bangga karena tetanggaku sekaligus guruku (ngaji) sewaktu masih dikampung dulu. bisa jadi insprirasi bagi orang lain. salut n mantap abis.
    mas editor: salam to pak naim y kalo ketemu, cos sekarang aku jarang ketemu beliaunya. suwun.

  2. Matur sembah nuwun, Dik… Estunipun ingkang “sophisticated”punika Pak Naim to, lajeng Mas Didik.. [Aku rak mung nonton saka kadohan…]
    Wonten kanca saking Kabanjahe Sumatera Utara ingkang kepingin sanget mangertos bab siwalan lan bogor, ugi bab awrat lan endahipun gesang. Wah, ketingalipun tulisanipun Mas Didik saged kawula rujuk. Pramila kawula usul tambahan foto2, awit kangge priyantun saking Kabanjahe, narasi saking Mas Didik mbetahaken ilustrasi pendukung..
    [dadi komplit : Pak Naim, Bu Naim, siwalan, bogor, Mas Didik, Mas Dwi, Mas Editor, blog Sulang Online… muantebb… SULANG KOK…]

  3. Terima kasih atas respon yang sophisticated ini, Mas. Sebenarnya tim editor punya fotonya Pak Naim, kok. Tapi karena ada beberapa foto profil penderes Legen, kami jadi ragu-ragu, mana yang Pak Naim. Kami akan mengumumkannya setelah konfirmasi bahwa itu benar-benar Pak Naim. Maaf atas ketidaknyamanan ini.

  4. Laporan yang sangat inspiratif… Ada guru bangsanya, karena ada murid bangsanya. Jaman berputar, menuntut adanya murid lebih dulu, baru bermunculan guru-gurunya. Teladan muncul karena ada yang rela dan merangkak-rangkak meneladani, yang bagi sebagian yang tak acuh seorang Pak Naim adalah sekedar liyan (others) yang boleh diabaikan…
    Apakah Pak Naim menolak ditampilkan wajah Beliau, Mas Didik? Juga wajah Bu Naim? Juga gambar pohon bogor yang utuh tunggal, maupun yang dari jauh terlihat hamparan pepohonan bogornya… Sulang bisa urun banyak kalau cerita bernas seperti ini ditambahi gambar2 usulan saya tersebut.. Pergaulan antara manusia dengan alam adalah bagian dari materi pendidikan holistik yang meskipun tokohnya menyebar dengan beragam kearifan lokalnya, namun mereka dari Sumber Yang Satu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s