Pradana Hari Di Padang Kurukasetra (Bag. 2)

Wah setelah dinanti akhirnya kisahnya muncul juga sambungannya. Silakan rekan semua penuhi rasa penasaran Anda. Monggo….

Bhisma Ketemu Abimanyu.

Pradana Hari Di Padang Kurukasetra

Oleh: Ki Dhalang Sulang

Bagian Kedua

Sigra campuh gumregut hangembat watang. Demikianlah, begitu risang bagaskara menjatuhkan kerlingan cahya pertamanya di bangbang wetan, maka melesatlah dua panah api ke angkasa raya, sebagai pratanda di mulainya perang agung sepanjang masa. Bharatayudha Jayabinangun. Dua panah api yang melesat hampir bersamaan dari kedua kubu itu, telah bertabrakan di angkasa. Terdengar sebuah ledakan dahsyat disertai maneka warna bunga-bunga api yang terang benderang, menimbulkan siluet indah bak lukisan perkelaian dua ekor naga raja.

Bersamaan dengan itu, dari balik mega-mega terhambur bunga liwa-liwa dari telapak indah para bidadari Kahyangan di bawah pandega Dewi Supraba. Bunga-bunga itu menebar harum wangi minyak kastuba. Merinai bagai gerimis pagi, terlihat gemerlap kilap warna warni, karena dibuai sinar mentari pagi. Bathara Matali yang dibantu oleh Bathara Patuk dan  Bathara Temboro segera memberikan sasmita inggah gendhing kepada para dorandara, pengrawit gamelan Lokananta, dari gendhing kadewatan Manik Maninten yang anggun, menjadi gendhing Chandranata, yang membangkitkan rasa semangat membara luar biasa bagi siapapun yang mendengarnya, ibarat semangat prajurit pilihan yang sangat berbakti pada rajanya, yang tengah diutus maju ke medan laga.

“Hai punggawa Hastinapura!…..majuuuuuu!… ha ha ha haaaaa… ayo bunuhlah musuhmu sebanyak-banyaknya!…. ha ha ha haaaa…. jangan ragu! sebab keraguan hatimu akan lebih cepat menghantarkan nyawamu!” teriak Raden Dursasana dari atas kuda perangnya.

Harya Bimasena tanggap atas suara sasmitayudha dari pihak musuhnya. Dia sebagai panglima agung wangsa Pandawa saat ini, segera membalas teriakan Dursasana, “Hemmmh!….punggawa Amarta! ayo sambutlah musuhmu!…. yakinlah bahwa kamu semua saat ini sedang melaksanakan tugas luhur untuk mempertahankan kehormatan wangsa dan negara kita semua…. berhati-hatilah, jangan gegabah…. tetapi juga jangan berkecil hati…. lihat di angkasa raya, para dewa-dewi menyambut agung dharmabhakti kita…. majulah! Hemmmmmmh!”.

Bersamaan dengan titiran bendeberi, dan hentakan genderang perang dari kedua belah pihak yang berseteru , maka dua mesin pembunuh raksasa itu telah bertemu. Lesatan panah-panah sakti mulai beterbangan mengintip nyawa para prajurit di kedua belah pihak. Rincingan lembing dan tombak, dentingan tameng, pedang, gada, bindhi, dan keris sakti yang tengah beradu, pusaran bandhil besi dan toya baja tampak berkilat liat, desing mendesing.  Bagai tarian para malaikat pencabut nyawa yang sedang mengintai-intai sasarannya. Padang Kurukasetra yang sebelumnya tampak indah menghijau laksana hamparan permadani nirwana, mulai diperciki warna merah menyala, percikan darah para ksatria yang telah rela medarmabaktikan jiwa raga bagi bangsa dan negaranya.

Meski sebenarnya jumlah kekuatan prajurit Amarta kurang sebanding dengan jumlah prajurit Hastinapura, namun campuh pradana itu kelihatan berimbang adanya.  Gelar perang Dwiradametha pasukan Kurawa, ternyata mampu diimbangi gelar perang Supit Urang oleh prajurit Pandawa.

Dalam gelar Dwiradametha, yang bermakna  seekor gajah yang sedang mengamuk, seorang sekutu Kurawa yang bernama Prabu Bogadenta bersama prajuritnya telah memberanikan diri bertempat di bagian belalai gajah. Ini berarti bahwa Bogadenta berada di barisan terdepan dari prajurit Hastinapura. Di bagian gading kiri dipilih raja Sindhu yang bernama Raden Jayadrata bersama para pengawal khususnya. Sedangkan di bagian gading kanan adalah pasukan Awangga pimpinan Adipati Basukarna. Harya Sangkuni dan Pandhita Durna masing-masing berposisi di bagian mata kiri dan kanan. Raden Dursasana yang ditunjuk sebagai senopati agung berada di bagian kepala gajah, bersama Prabu Duryudana, Resi Bhisma, Resi Krepa, dan Prabu Salyapati raja Mandraka. Sedangkan Segenap prajurit lainnya berada di posisi kaki dan tubuh gajah yang sedang mengamuk itu.

Untuk mengimbangi gelar Dwiradametha, Harya Werkudara telah memilih formasi Supit Urang. Abimanyu, putra Arjuna yang gagah berani itu,  dengan dikawal pasukan Plangkawati ditempatkan di bagian sungut udang. Pada mata udang kiri dan kanan masing-masing ditempati Harya Setyaki dengan pasukan khususnya dari negeri Swalabhumi, serta Harya Uttara dengan pengawal terpilih dari Kerajaan Wirata. Di bagian supit kiri ditempatkan Raden Gatutkaca bersama pasukan raksasa dari Pringgadani. Di supit sebelah kiri dipilih Raden Dresthajumena bersama pengawal terpilih dari Kerajaan Pancalaradya. Prabu Yudhistira sendiri bersama Sri Kresna, Prabu Drupada, Prabu Maswapati, dan raja-raja sekutu lainnya berada di bagian kepala udang.

“Pilihan gelar yang tepat oleh Bima, Kakanda Prabu,” bisik Prabu Yudhistira kepada penasehat perangnya, Sri Bathara Kresna, Raja Dwarawati, yang tengah berada di sampingnya.

“Benar, Yayi Prabu, Bima memang seorang panglima yang mumpuni. Mudah-mudahan dia berhasil menguasai medan ini. Dan semoga Hyang Agung selalu melimpahkan kerahayuan dan keunggulan kepada kita, Yayi Prabu…,” jawab Sri Kresna sambil tetap memandang secara teliti seluruh keadaan medan perang yang makin garang itu. Sri Kresnapun tampak menghirup nafas dalam-dalam, sambil tak pernah berhenti mengucap puja mantra walau sedetak jantungpun.

Dari atas kereta Jaladaranya, pandangan Sri Kresna berhenti tajam di bagian sungut udang. Di sana ada Abimanyu yang dengan gagah perkasanya mengeluarkan segenap kemampuan ulah kridhaning prang, terutama keahliannya dalam melepas panah-panah sakti. Entah sudah berapa ratus prajurit dan wiratamtama Kurawa yang tewas oleh bidikan anak panahnya. Ketika sang dewangkara berada di puncak langit, pasukan Kurawa dengan gelar Dwiradametha itu mulai goyah. Kemampuan belalai dan gading-gadingnya serasa mulai berkurang kedigdayaannya.

“Sangat pantaslah dia sebagai anak Janaka dan kemenakan Kresna, hemmmmh… sungguh luar biasa,” puji Sri Bathara Kresna dalam hati sambil mengukir sungging senyum di bibirnya.

Namun sebelum Sri Bathara Kresna puas dengan senyumnya, tiba-tiba ada kekuatan maha dahsyat yang mampu membangkitkan formasi gajah yang hampir jatuh limbung itu. Tampaklah di hadapan Abimanyu telah berdiri seorang tua renta dengan ciri pakaian brahmana dan selempang selendang warna putih. Sri Bathara Kresna, dan juga para sesepuh Pandawa lainnya terkejut. Brahmana itu tiada lain Resi Bhisma, putra Dewi Gangga, yang sudah tak diragukan lagi kesaktiannya.

Dan sebelum mereka habis rasa terkejutnya, telah terjadilah perang tanding yang dahsyat antara seorang cucu dan kakek buyutnya sendiri. Selisih usia yang demikian jauhnya, seolah tak ada pengaruhnya sama sekali bagi mereka berdua. Lesatan anak panah dan tangkisan gandewa yang demikian cepat bagaikan kilat dan thathit yang saling sambar menyambar. Laksana dua ekor naga taksaka yang tengah berebut sakti.

Begitu dahsyatnya perang tanding antara Resi Bhisma dan Abimanyu, sehingga membuat siapapun yang hadir di padang Kurukasetra itu menjadi kagum dan sekaligus termangu. Bahkan kedahsyatan pertemuan dua kesaktian itu membuat perang tiba-tiba sejenak telah terhenti. Tak hanya itu. Di angkasa raya, suara gamelan Lokananta juga tak terdengar lagi. Demikian pula sejenak tak tampak tebaran bunga-bunga dari para bidadari. Agaknya para dewa dan dewi yang tengah menjadi saksi pertempuran agung itu, juga tengah tertegun pada krida perang tanding dua orang ksatria sejati.

(BERSAMBUNG)

3 thoughts on “Pradana Hari Di Padang Kurukasetra (Bag. 2)

  1. Wah, kapan ya isa melekan maneh nganti esuk, nonton wayang kulit, dhalange Mas Djup…. Ning kawedanan, apa ning ngarep Pasar Sulang, padha ramene…
    Yen ana gambar Dwiradametha karo Supit Urang, wah pepak Mas… Wayang kulit Sulang, diwaca saka KL, dheleg-dheleg tenan. Kelingan limang windu kepungkur ning Jatimudo..
    Kawula nengga seri salajengipun Mas Djup…

  2. Bhisma Abimanyu akhirnya pindah medan laga perang di lapangan kawedanan Sulang…..hehehe
    Muantab ceritanya Ki Dhalang Sulang. Masih bersambung ke episode ketiga….ya
    Setia kutunggu lanjutannya Ki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s