Pradana Hari Di Padang Kurukasetra

Satu lagi karya dari Ki Dhalang Sulang, memberi bumbu sedap bagi Sulang Online yang sempat ‘kantu’ nyepaki pasugatan. Semoga bisa menjadi referensi yang unik. dan wiguna serta bisa menggugah munculnya tulisan baru dari rekan semua. (duitor)

Pradana Hari Di Padang Kurukasetra

Oleh: Ki Dhalang Sulang

Bagian Kesatu

Prabu Duryudana

yudhistira

Hong wilaheng sekaring bawana langgeng. KehendakNyalah yang harus terputar di jantra jagat raya. Sibakan angin di mega-mega, terbit tenggelam sang dewangkara, senyum tangis candranata, darudenta, dan kartikayuta. Sekokok ayam jantan, sekerik jengkerik, semelata tokek di dahan goyang angin, dan sesambar petir bersaut taut di dirgantara, serta securah hujan dan tetes embun malam, kesemuanya adalah kodrat dan wiradatNya. Tak juga beda dengan sengalan nafas-nafas panas para ksatria darah Bharata pada pradana hari di padang Kurukasetra.

Bagai kutuk para dewa, maka hampir terjadilah apa yang telah dipralambangkan di jauh hari sebelumnya, bahwa sesungguhnyalah perang itu harus tetap terjadi. Perang Bharatayudha Jayabinangun. Perang antara wangsa Kurawa dan Pandawa, yang sebenar-benarnya masih sedarah, setitis, dan seturun dari Prabu Bharata, ksatria pendiri negeri yang diperebutkan itu. Tak lain adalah Kerajaan Hastinapura, ya Negara Gajahoya, atau Negeri Liman Benawi. Negeri ini memang pernah menjadi kawasan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah aripah, karta tur raharja.

Panjang, bermakna menjadi pusat perbincangan di jagat raya. Punjung, sangat luhur kewibawaannya. Pasir, yang amat luas  dikelilingi samudera, ujung, teluk, dan semenanjung. Wukir, terpaku kuat oleh gunung-gunung dan pegunungan, ngarai, lembah, hutan, dan hamparan sawah ladang. Loh, apapun yang ditanam pasti tumbuh subur berbuah limpah ruah. Jinawi, berarti sungguh murah sandang, pangan, dan papan. Gemah, siapapun yang bergerak di bidang perdagangan dan pelayaran selalu berjalan terus, anglur selur tanpa henti. Aripah, bangsa dari manca negara yang boro rantau di  negeri Hastinapura begitu banyaknya, bak pribahasa aben cukit tepung taritis, kawasan yang maha luas seolah terasa sempit, dikarenakan begitu banyak yang tertarik untuk menetap di negeri ini. Karta, sebuah negeri yang aman tenteram. Raharja, segenap pangemban pangembating praja selalu mengetengahkan keutamaan hidup, bijaksana, cinta negeri beserta seluruh rakyatnya.

Namun kini, di pagi buta sebelum mentari mengintip cakrawala timur, telah terdengar taluan genderang perang, terhambur dentuman tambur, lengkingan terompet-terompet tanduk kerbau bule dan rumah kerang raksasa yang memekakkan gendang telinga. Juga gemuling seruling bambu petung, ori, dan apus wulung, ringkik dan ketepak derak kaki kuda-kuda pemberani, serta titiran  bendeberi tak kunjung henti. Di Padang Kurukasetra, sebuah hamparan tanah lapang raksasa yang berumput hijau dan bersemak-semak ini telah berhadapan dua kekuatan laskar dan prajurit yang sangat besar luar biasa. Dua kekuatan itu adalah wangsa Kurawa dan Pandawa, yang juga masih saudara sekakek, cucu-cucu Resi Wiyasa, yang juga bergelar Bagawan Abiyasa. Selayang pandang memang tampak adanya selisih kekuatan. Prajurit wangsa Pandawa hanya berjumlah separoh dari kekuatan prajurit wangsa Kurawa.

Di esok surya itu, di hari perdana Bharatayuda, panglima agung Pandawa adalah ksatria agung Bimasena, sedangkan di pihak Kurawa tiada lain sang Dursasana. Serempak derap kedua kekuatan raksana itu saling mendekat. Tampak berkibaran bendera, rontek, umbul-umbul, payung bawat, serta kekanda warna warni, sebagai simbol kekuatan kelompok masing-masing. Di tengah kedua kelompok raksasa itu terdapat panji-panji kebesaran kerajaan.  Kurawa dengan simbul trisula emas dengan dasar beludru berwarna merah darah, sedangkan Pandawa dengan simbol teratai putih yang berbeludru hitam legam, yang di tepinya diberi ronce warna kuning emas. Kedua panji itu berada di samping pimpinan tertinggi masing-masing pihak. Prabu Duryudana di pihak wangsa Kurawa dengan Kerajaan Hastina, dan Prabu Yudistira di pihak wangsa Pandawa dengan Kerajaan Amarta.

Demikianlah, dalam hitungan kurang dari seribu detak jantung, kedua kekuatan itu akan campuh luruh, untuk saling silih ungkih, membunuh atau dibunuh. Di padang rumput ini bakal tak ada lagi pertimbangan nalar dan budi berdasarkan rasa kemanusiawian, namun nafsu indra hewanilah yang paling berperan. Perang. Suatu kejadian ulah manusia yang pasti menimbulkan banyak tragedi dan limpahan malapetaka.

Namun tiba-tiba terdengar aba-aba yang menghentikan gerak prajurit Pandawa. Aba-aba itu dengan cepat melintas sambung menyambung, dijalin oleh para manggala penghubung di seluruh kelompok prajurit Pandawa. Maka hampir serempak pula pasukan Pandawa pun berhenti dengan penuh tanda tanya di setiap benak mereka, termasuk di benak para panglima dan senopati-senopatinya.

Tampaklah Prabu Yudistira telah turun dari kereta perangnya. Dia menyibak gelar prajurit di sekitarnya. Dengan langkah kaki mantap putra pambayun Kunti  Talibrata itu menuju ke gelar prajurit Kurawa, yang secara mendadak juga telah menghentikan gerak maju pasukannya. Persis di tengah antara dua pasukan yang terhenti itu diapun menghentikan langkahnya. Sekilas Prabu Yudistira menengok ke belakang ke arah pasukannya, kemudian beralih memandang tajam ke arah pasukan Kurawa. Dengan cekatan dia menanggalkan seluruh busana perangnya beserta segenap persenjataan yang dibawa. Maka, semua yang berada di padang hijau itupun semakin diliputi tanda tanya. Adakah Prabu Yudistira akan mengurungkan niatnya untuk berperang melawan saudara-saudara sepupunya, yang berarti juga akan menyerah kalah tanpa syarat? Namun mereka hanya bisa menunggu dengan debar jantung yang tiada menentu.

Sementara itu di dirgantara, di sela tirai rona mega putih, tampaklah sembulan wajah para dewa dewi pimpinan Batara Indra yang juga bingung bilulungan demi menyaksikan ulah raja Amarta itu. Serentak Batara Matali pun juga telah menghentikan para dorandara, penabuh gamelan Kahyangan yang bernama Lokananta. Dan suara hangrangin gamelan Lokananta dengan gending Manik Maninten itupun serentak berhenti juga. Demikian pula jari-jari lentik bidadari-bidadari Kahyangan di bawah pimpinan Dewi Supraba, yang telah siaga menabur bunga liwa-liwa di hari pertama Baratayudha itupun melepas genggaman bunganya. Meskipun mereka itu para dewa dan dewi, namun sebagaimana makhluk Ilahi, merekapun ada kalanya tak luput dari sifat ketidaktahuan juga.

Dengan langkah berani Prabu Yudistira telah menyibak barisan Kurawa. Dia ingin menemui para sesepuh Kurawa yang juga sekaligus sesepuh para Pandawa, dengan tujuan mohon doa restu sebelum peperangan dimulai. Mereka anatara lain, Resi Bisma sebagai kakek buyutnya, Pandita Durna sebagai mahagurunya, Prabu Salyapati sebagai  saudara tua Dewi Madrim, ibu kandung Nakula dan Sadewa, dan juga Adipati Basukarna yang telah diketahui sebagai saudara tuanya, karena Pandawa Lima dan Basukarna sama-sama anak Kunti Talibrata. Mereka semua merestui Prabu Yudistira, sekaligus meyakinkan bahwa wangsa Pandawa akan muncul sebagai pemenang di kancah Baratayudha, meskipun dengan alasan-alasan khusus mereka akan saling berhadapan sebagai musuh di padang pembantaian manusia ini.

Terakhir di tengah barisan Kurawa itu, Prabu Yudistira menemui Prabu Duryudana yang juga telah turun dari gajah perang kesayanganya. Yudistira menyatakan bahwa Pandawa telah bersiap lahir batin untuk melaksanakan pertempuran yang diyakini sebagai tugas mulia ksatria bawana untuk membasmi keangkaramurkaan di bumi Hastinapura ini. Prabu Duryudana tak mau menjawab sapaan perwira itu. Dia hanya menggeram dan mendengus sambil memalingkan kepalanya, disertai raut muka dendam penuh kebencian kepada Yudistira. Seandainya Duryudana tak takut pada aturan kesepakatan tata cara peperangan maupun kutuk para dewa, maka serasa dia ingin melumat tubuh Yudistira dengan gada di tangan kanannya di saat itu juga. Mumpung Yudistira berlagak jumawa dengan keberaniannya mendatangi kubu musuh dengan tanpa pakaian perang dan tak membawa senjata sama sekali. Namun Prabu Yudistira menerima dengan lapang dada ulah Duryudana itu.

Akhirnya Prabu Yudistirapun telah meninggalkan barisan Kurawa. Setelah mengenakan baju perangnya kembali serta mengangkat senjata-senjatanya, dia pun menuju ke arah pasukan Pandawa, dengan diiringi sorak gegap gempita dari kedua pihak yang telah siap siaga menjalankan darmabakti bagi kerajaan masing-masing. Dan di dirgantarapun kembali berkumandang gending Manik Maninten gamelan Lokananta oleh para dorandara. Demikian pula jari-jari lentik para bidadari Kahyanganpun kembali siaga menebar bunga liwa-liwa, sebagai penghormatan atas ceceran darah para ksatria.

(BERSAMBUNG)

3 thoughts on “Pradana Hari Di Padang Kurukasetra

  1. Ki Dhalang TOP memang top markotop, god marsogud!!! Ditunggu nih seri keduanya. Jangan lama-lama ya Ki………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s