Sega Berkat, Ngangeni tur Maregi.

Teks dan Foto : Dwiyoga Nugroho

“Mangke ba’dal Maghrib diaturi Kajatan ting redaksi Sulang Online!”

Berkat (1)a

Rasanya gak mungkin melupakan suasana desa Sulang tercinta ya, baik itu warganya, makanannya, maupun kulturnya. Gak bakalan lupa deh dengan yang namanya Ater-ater, budaya saling berkirim makanan memaknai sebuah hajat yang sedang di helat sang pengirim makanan. Biasanya diawali dengan memasak makanan special, lebih special dengan menyembelih ayam atau kambing bahkan sapi. Ada beberapa varian lauk, sayur dan tumisan yang melengkapi menu untuk kiriman, tergantung kemampuan ekonomi sang empunya hajat, kemudian diikuti berkirim makanan ke sanak saudara yang biasa di sebut kegiatan Ater-ater. Malam harinya di tutup dengan Sholawatan atau Tahlilan memanjatkan doa syukur pada Allah SWT. Seremoni Tahlilan di desa Sulang terkenal dengan sebutan Kajatan mungkin ini berasal dari kata Hajatan, acara ini diadakan di rumah yang punya hajat, doa bersama dipimpin seorang Modin atau tetua agama, dalam acara itu juga telah dipersiapkan bungkusan makanan yang biasa disebut Berkat sinonim dari Berkah atau Barokah, bisa jadi ini sebuah berkah dari Allah bagi setiap wakil dari keluarga yang diundang bakal kebagian nasi lengkap dengan lauknya, untuk dibawa pulang.

YBerkat (2)aang menarik disini adalah dari komposisi penyusunan berkat, lauk yang paling enak dibanding yang lainnya selalu di taruh di tengah, entah itu paha ayam, potongan danging kambing yang dimasak Lapis ( seperti kare tapi lebih kental, manis dan cenderung tidak berair ), ataupun telor rebus, yang tengah ini disebut Lawoh. Menemani Lawoh utama adalah oseng-oseng kacang, tumis tempe pedas dengan cabai hijau yang diiris menyerong biasa disebut Nyomok Tempe, ada juga sambel goreng kentang, Mie Gelung rebus, Cenggereng ( Serundeng ), Tewel / Gori kukus bumbu ( sejenis Nangka yang masih muda), Cager (Oseng tempe dengan cabe ijo diiris melintang ), adapula Tahu atau tempe yang telah dibumbui. Beraneka ragam lauk adalah opsional, tergantung budget. Disusun rapi pada sebuah bakul plastik atau Besek, di beri tatakan daun pisang atau kertas Samir, dibawah lauk tersebut di taruh nasi uduk atau nasi biasa, nasi yang dipilih adalah nasi yang tidak terlalu lembek dan cenderung Kakasen ( seperti kurang air waktu menanaknya ). Dalam sebuah tatanan lawoh biasanya terdiri dari lawoh utama dan minimal empat menu lawoh pendamping, sebuah guyonan menceritakan tentang bagaimana menilai Berkat yang “berkualitas”, lihat saja bagian tengahnya, apa lawohnya?, seberapa besar potongan lawohnya ? jika Lawoh nya menarik sudah barang tentu variasi lauk yang lain akan menjadi rebutan dirumah.

Berkat aDiatas tatanan lawoh biasa di tutup dengan kertas tipis bertuliskan “Selamat Menikmati” warnanya beraneka ragam, tapi yang sering saya temui adalah yang berwarna jambon dan kuning. Diatas kertas “Selamat Menikmati” ditata penganan ringan, ada Kembang Goyang. Krupuk Lempeng, Krupuk Usus, Tumpi, Rempeyek, Nogosari, Bogis, Bongko,bahkan Iwel-iwel. Berkat memang bener bener membawa berkah di rumah, suasana rumah jadi rame gara gara rebutan berkat, walau kadang susah di telan ( Sereden ) karena tidak ada kuah sayurnya, namun keberadaan Berkat seolah telah dinanti anak-anak dirumah, rasa penasaran terhadap isi berkat membuat seru rasanya menunggu Bapak pulang dari kajatan.

Berkat memang masih banyak dijumpai sampai kini di pelosok Sulang, tapi keberadaan jasa Catering rupanya mulai menggeser dominasi Berkat, catering lebih modern dan terkesan lebih estetis dan bergengsi, makanan yang ada dalam satu kardus ( sekarang pake kardus ) berkat modern ini nyaris semuanya berubah, gak ada lagi Nyomok tempe atau Cager, di gantikan Cap Cay atau Oseng Jerohan. Krupuk Lempeng, Tumpi, dan Nogosari pun sudah digantikan dengan Muffin, Agar-agar, Bolu gulung, dan bahkan buah seperti Pir dan Apel merah pun kini sudah tidak aneh lagi menghuni kardus Berkat.

Sebagian anda yang kangen dengan Berkat pasti tidak bisa melupakan yang namanya Rinjing. Berkat dengan porsi lebih lengkap dan lebih banyak, wadahnyapun seperti keranjang dari bambu yang ada pegangannya ( Cantolan ). Rinjing biasa dihias dengan Rontek atau telor rebus yang di tusuk, adapula uang ribuan yang di hias serupa bendera.

Bikin penasaran saja memburu makanan ndeso ala desa Sulang ya ?. Silakan saja anda pulang kampung atau berkunjung di Sulang pas Maulid Nabi Muhammad SAW, atau hari besar penanggalan Jawa / Islam lainnya , bakal banyak Berkat dan ater ater berseliweran di Sulang.

8 thoughts on “Sega Berkat, Ngangeni tur Maregi.

  1. sing penting iwak e ra apus2…tak kiro iwak jebul e gori…hehe…
    jaman cilik…nek kajatan neng langgar…golek berkat e sing wadah kerdus…biasane isine iwak…hehe
    nek wadah e wakul biasane isine ketan…nek sego biasane lawuhe endok(wakul)…nek kerdusan biasane lawuh e iwak…nek ra bejo,entuk iwak roso gori…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s