Gentora, sisi lain penghiburan di Sulang.

DSC04250

Teks dan Foto : Duitor, SO.

Masihkah rekan Sulang ingat dengan Gentora? Ya, itu sebutan lain dari pengeras suara yang berbentuk corong, sampai sekarang pengeras suara seperti itu masih bisa jumpai di masjid atau mushala di seputar Sulang. Dahulu gentora punya fungsi lain, selain untuk pengeras suara Muadzin atau Mubaligh, gentora dipergunakan untuk memeriahkan sebuah acara Nduwe Gawe warga desa kita. Hajat yang digelar seperti nikahan dan sunatan wajib menggunakan gentora sebagai penanda jika yang memasang gentora itu sedang punya hajat.

Gentora diikat pada pucuk sebatang bambu atau diatas pohon di dekat rumah yang punya hajat, tidak lupa mealalui Tip Deck ( Desk Tape ) diputar lagu lagu yang sedang disukai pada waktu itu. Seingat saya lagu milik Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Mansyur S, Evi Tamala, Caca Handika, Leo Waldy paling sering di puter, seolah menjadi lagu wajib sang operator. Walau suaranya tidak sebagus audio set muthakir, bahkan cenderung sangat cempreng, keberadaan gentora bisa jadi hiburan tersendiri bagi warga, terlebih jika operator memutar serial Ketoprak, bisa dipastikan warga yang kebetulan sedang angon kambing di tegalan serasa mendapat hiburan dari langit, bayangkan saja suara gentora bisa terdengar pada radius 2 km. Walau yang punya hajat di Banyurawa orang Tegalsari bisa ikut liyer liyer mendengar sayup lagu Selamat Malam nya Evi Tamala.

Di Sulang ada beberapa orang yang punya profesi persewaan Gentora dan perangkat audio lainnya. Sebut saja Mbah Karno, rumahnya di belakang pasar Sulang, tepatnya di dukuh Berangkulon. Saking terkenalnya mbah Karno ini dengan perangkat Audio Tape Recorder, beliau biasa di panggil dengan sebutan Karno Tip, wajahnya mirip Sam D’lloyd vokalis grup band D’lloyd yang terkenal era 70-an di negeri ini. Selain mbah Karno Tip ada juga Mbah Sarwi, Kang Mathori dan Kang Harno di Banyurowo, Selain menyewakan perangkat audio biasanya mereka juga menyediakan perangkat penerangan, lampu TL dan generator bahkan lampu Petromax juga disediakan. Corong gentora yang mereka pilih rata rata berwarna biru tua dan bermerk sama, TOA, dengan alasan awet dan tahan cuaca, corong tersebut masih bisa beroperasi walau kuping corongnya sudah penyok penyok.

Lain duru lain kini, teknologi diciptakan untuk memenuhi selera manusia yang semakin bertambah, dentuman Bass dan desiran Treble menjadi tolok ukur indahnya suara Audio Set di acara hajatan, namun kenangan indah suara gentora tidak pernah bisa mudah terlupakan, terngiang ngiang selalu dalam benak kita.

Ada tips buat yang ingin mendengarkan suara audio berkualitas gentora, pada Equalizer tempatkan panel bass dan treble pada level paling bawah, sedang panel paling tengah diposisikan ke peak tertinggi sehingga membentuk pola gunung, pastikan speaker yang anda gunakan tidak berkualitas bagus apalagi terkoneksi dengan Subwoofer, memang suaranya sangat cempreng tapi begitulah kiranya suara sebuah gentora. Orang Sulang bilang Kemlunthung.

5 thoughts on “Gentora, sisi lain penghiburan di Sulang.

  1. mbah karno…wah jadi inget masa lalu…
    please….temen-temen sulang salam kenal
    dari bocah sulang yang di pedalaman kalimantan

    best regard
    nanuk

  2. Punten ya mang pasar, abdi baru bisa nulis nulis lagi. Entar tak nulis lagi buat SO. Keep in touch wit SO ya Mang. Salam buat Keluarga n mas keluarga Yunan juga.

  3. Good, Du, fenomena yang pernah hadir di situs budaya “wong nduwe gawe” a-la Sulang…. Sepleker Lik Karno dan Kang Sudadi, sangat indah untuk di kenang jua. (Suk nek ‘you mairit’ perlu juga bernosgalgia dengan sepleker….okaiii)

  4. kalo di Bdg orang menyebutnya toa ,sama kaya mereknya,Btw kok baru muncul tulisannya mas dui ini..lanjutkan..😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s