Facebook haram… Tokeeek… halal… Tokeeek… haram…

fcbook

Othok-othok-othok…Tokeeek…

Facebook haram… Tokeeek… halal…
Tokeeek… haram… Tok tok tok …keeek… ha…laaal…

Ditulis oleh: Ki Dhalang Sulang

Amenangi jaman edan
Ewuhaya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya keduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Satu ‘pada’ syair tembang di atas dicuplik dari karya Pujangga Besar Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha, yang menurut riwayat beliau, pernah dibesarkan di kalangan pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Jenis tembangnya bernama Sinom. Tembang ini memang sudah sangat popular di mana-mana, khususnya di kalangan orang Jawa. Syair tersebut dipetik di sini tidak untuk dianalisis, tetapi hanya sekedar untuk ilustrasi pembanding (Comparative Illustration), terkait dengan “issue” miring tentang cyberspace, khususnya jejaring sosial Facebook (FB).

Jejaring sosial yang berlabel “Facebook” hasil temuan Mark Elliot Zuckercberg, jebolan mahasiswa Harvard University USA ini, seolah mampu menyihir interneter seluruh jagat raya, termasuk di Indonesia, hanya dalam hitungan waktu yang relatif singkat. FB sendiri diluncurkan perdana pada tanggal 4 Februari 2004. Sampai kini dalam rentang waktu hanya lima tahun, sudah mampu menyisihkan situs jejaring sosial  lainnya, semisal Friendster dan Myspace.

Sejak dari kalangan usia anak-anak hingga kaki-kaki dan nini-nini, sejak yang berstastus pelajar sampai mahasiswa, karyawan kantor, buruh pabrik, kalangan pengangguran, dan sejak dari para eksekutif, pejabat birokrasi, sampai dengan guru dan dosen, bahkan para pejabat negara dibuat kranjingan oleh situs yang satu ini. Sungguh luar biasa.

Namun, di tengah-tengah merajalelanya situs FB, tiba-tiba para facebooker dikejutkan oleh issue “Fatwa: Facebook Haram”. Fatwa atau petuah yang mengharamkan Facebook ini dilontarkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se Jawa Timur, berdasarkan hasil “Bahtsul Masail” tentang Facebook di Ponpes Putri “Hidayatul Mubtadiaat”, Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu yang lalu.

Petuah mengharamkan FB tersebut, tentu saja mengundang berbagai komentar pro dan kontra, baik dari kalangan interneter, pejabat, maupun dari  kalangan ulama sendiri. Permasalahan “haram” dan “halal” mau tak mau telah menjadi menu komuditas harian media massa, baik cetak maupun elektronik. Menu harian tersebut sampai dengan detik ini belum kelihatan jelas ujung-ujungnya. Terkait dengan hal ini, maka di bawah ini dipaparkan beberapa komentar para tokoh agama dan pakar budaya, yang disampaikan lewat beberapa media massa nasional dan regional Jawa Tengah, dengan disunting seperlunya.

FB ibarat pisau mermata dua

Rektor  IAIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Djamil, MA, tak ketinggalan untuk ikut mengomentari fatwa FB haram tersebut. Menurut Abdul Djamil (2009),  FB adalah sarana komunikasi tak ubahnya seperti telepon maupun ponsel. Jadi, kita harus mampu melihatnya secara utuh dan konprehensif. FB dapat diibaratkan sebagai “pisau bermata dua”, yakni alat yang berfungsi ganda dan berlawanan. Pisau akan sangat bermanfaat sebagai pelengkap peralatan memasak di dapur, tetapi pisau akan sangat merugikan dan bersifat kriminal kalau digunakan untuk menusuk tubuh seseorang.

Abdul Djamil sendiri menganggap bahwa FB merupakan sarana komunikasi yang sangat bermanfaat. Selain sebagai sarana tali silaturahmi, FB dapat dikembangkan sebagai sarana dakwah Islamiyah yang efektif.  Seorang dai  dapat dengan mudah dan cepat untuk mendistribusikan materi-materi dakwah kepada ummatnya dengan jangkauan lebih luas,  lebih optimal, lebih murah, dan tidak terlalu monoton.  Oleh sebab itu, Abdul Djamil berharap agar ummat Islam dan masyarakat pengguna situs FB tidak merisaukan dan membesar-besarkan tentang polemik fatwa haram tersebut. Kalau terus terjadi perdebatan pro dan kontra tentang hal ini, justru dikhawatirkan akan menjadi naïf, dan dunia akan mencintrakan bahwa ummat Islam (di Indonesia) memang sempit sudut pandangnya.

Pengharaman FB itu memang aneh

Prof. Dr.  H Ahmad Rofiq, MA, yang menjabat sebagai Sekretaris MUI Jawa Tengah dan Rektor Universitas Islam Wahid Hasyim Semarang, menganggap bahwa pengharaman FB itu memang kelihatannya aneh. Tetapi itu bukan fatwa dari MUI, mungkin hanya bersifat intern saja (pen).  FB adalah alat, yaitu sarana komunikasi. Jadi, pengharaman sebuah alat itu namanya lucu juga. Menetapkan haram sebuah alat itu jangan “digebyah uyah”.Bisa-bisa  nanti berkembang ke peralatan lain, misalnya mengharamkan tv, ponsel, radio, komputer, dan lain-lain, bahkan lama-lama bisa saja menuntut ilmu diharamkan. Kan lucu itu namanya.

Semua pihak jangan sembarangan menentukan haram tanpa dukungan dasar hukum yang kuat dan valid. Memang, Ahmad Rofiq juga mengakui, bahwa FB itu ada sisi manfaat maupun mudharatnya. Maka pandai-pandailah memanfaatkannya. Apapun (tidak hanya FB) kalau dipergunakan secara berlebihan dan kurang bertanggung jawab, tentu saja lebih dekat dengan mudharatnya.  Khusus untuk anak-anak (yang belum jernih berfikir) memang perlu diantisipasi dengan pengawasan yang relatif cukup oleh keluarga masing-masing.

Jangan “gagap” merespon modernitas

Seorang tokoh kepemudaan Islam yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi A DPRD Jeteng, Hussein Syifa, tak ketinggalan memberikan tanggapannya untuk fatwa pengharaman FB. Menurut Hussein Syifa, fatwa pengharaman  FB oleh forum apapun itu namanya “gagap”  merespon modernitas. Suatu keinginan yang barangkali untuk menunjukkan eksistensi, justru terjerumus ke dalam lembah kenaifan yang gelap. Apa sebenarnya yang dijadikan alasan atau dasar hukum untuk pengharaman FB? Kalau yang dijadikan pola pikir itu cuma karena “rasan-rasan” negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan sarana FB yang berlebihan dan kemungkinan disalahgunakan untuk kejahatan dan kekejian, mestinya tidak perlu dibawa ke forum “Bahtsul masail” segala, yang kemudian justru menghasilkan fatwa yang membingungkan.

Dalam agama, sesuatu yang berlebihan memang sudah jelas dilarang. Tidak hanya nge-FB saja. Silaturahmi berlebihan kalau sampai lupa tidak pulang itu juga dilarang, termasuk juga ingin menyenangkan Tuhan dengan ritual, tapi lupa tugas sosialnya sebagai makhluk Tuhan, itu juga dilarang. Namun, sebaiknya fatwa tersebut tidak perlu dipolemikkan, tapi justru ditarik hikmahnya  sebagai autokritik dan evaluasi diri, agar para pengguna FB lebih berhati-hati dalam memberikan comment maupun informasi diri, hendaknya juga sesuai dengan etika pergaulan umum. Sebagaimana pemanfaatan sarana komunikasi yang lain, penggunaan FB itu mubah-mubah saja, tidak perlu diharamkan.

Othok-othok-othok… Tokeeek…

Dari pendapat para tokoh agama dan budaya di atas tentang fatwa haram terhadap FB oleh FMP3 Jatim, hendaknya dapat kita jadikan pelajaran, bahwa penentuan hukum haram maupun halal tidak boleh gegabah, harus ada dasar hukum dan pola pikir yang jelas. Sebab memutuskan hukum (lebih-lebih hukum agama) tanpa dasar hukum dan pola pikir yang jelas dapat tersesat ke dalam keputusan yang menyesatkan. Ibaratnya seperti mengambil keputusan dengan main “gambling” suara tokek. Tokeeek… haram…tokeeek… halal… tokeeek… haram… tokeeek… halal. Mudah-mudahan tak terulang lagi fenomena ini.

Di samping itu, kita perlu mengingat juga bahwa kebesaran pondok pesantren di daerah Jawa Timur banyak melahirkan orang-orang bijak, ulama besar, dan pujangga besar, semisal KH Imam Kasan Besari,  KH Hasyim Asyari  dan Bagus Burham, yang kemudian disebut Raden Ngabehi Ranggawarsita. Dan pasti akan terus lahir orang-orang bijak hasil gemblengan pondok pesantren di wilayah ini.

So……. Selamat nge-Net, nge-Friendster, nge-Myspace, dan  nge-FB bagi para blogger dan facebooker Nusantara. Namun marilah kita tetap memegang teguh etika, simpati, empati, kecerdasan pikir, dan kejernihan hati. Are you ready, Brow?

8 thoughts on “Facebook haram… Tokeeek… halal… Tokeeek… haram…

  1. sing penting digunakan sebagai mana mestinya, maksude ojo digawe kanggo hal2 negatif. kalo kita niatnya baik n g neko2 kayak NURDIN MEMANG TOP. pasti dapt pahala kencana….halah….hehe….

  2. Lho bener to, pak Kid udah masuk dunia maya sedemikian jauh. Kita yang muda lewat brow!

  3. Argumen yg keren,membangun,ilmiah,penuh motivasi Be kidhal…Othok-othok Tokek Halal…thok..thokek Halal…SETUJU!!
    Tuh…tokek aja Setuju..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s