Ampera

Teks: Yudil Arif

Membaca judul di atas mungkin teringat masa revolusi pergolakan politik negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi tetapi rakyatnya selalu ditimpa derita.

Akibat ketidakstabilan politik saat itu melambungkan tingkat inflasi yang akhirnya membuat banyak bahan pokok tak mampu dibeli oleh rakyat,yang kemudian menggerakkan para mahasiswa eksponen 66 untuk menyuarakan Amanat Penderitaan Rakyat menuntut perubahan kepada pemerintahan waktu itu yang terkenal dengan TRITURA dan salah satu isinya adalah tuntutan penurunan harga.

Tetapi lain lagi di Bandung, amanat penderitaan rakyat itu diwujudkan dalam bentuk nasi Timbel, aneka tumis (jamur putih, tahu-sawi sampai tauge-ikan asin), aneka gorengan (ayam, ikan air tawar, tempe, tahu, aneka jeroan sapi, dan ayam, bakwan jagung, ikan asin dan daging sapi empal), aneka panggangan (ayam, ikan air tawar, seafood yang terdiri dari cumi dan udang) sampai aneka pepes (telur asin, tahu, oncom, jamur, teri dan peda).

Ditambah citra rasa khas resto ini terletak pada berbagai macam sambel (sambel dadak, sambel oncom, sambel godang, dan sambel terasi goreng plus kecapnya) yang akan siap membuat lidah berdesis gebes-gebes plus berlinang keringat karena efek samping dari sambel yang pedesnya edan bukan main.

Tak lupa bagi penggemar pemakan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikategorikan sebagai lalap disediakan gratis tinggal mengambil sendiri. Semua disajikan ala prasmanan. Pengunjung baris berderet mengambil makanan yang disuka selanjutnya langsung bayar di si “teteh” bagian kasir tak lupa dikasih bonus senyuman.

Lantas apa hubungannya sajian makanan itu dengan Amanat penderitaan rakyat?

Ternyata sang pendiri sekaligus pemilik resto ini awalnya hanya sebuah warung makan khas sunda yang tergolong kecil di bilangan terminal Kebon Kelapa. Warung Nasi Ampera ini terkenal bersih dan murah. Agaknya kata “murah” ini mungkin bisa dihubungkan dengan Amanat penderitaan rakyat di tengah harga-harga yang terus naik.

Dalam perkembangannya, Ampera hingga saat ini telah meluaskan sayapnya hingga 60 cabang di seluruh Jawa Barat dan Jakarta. Salah satu yang terbesar di Bandung terletak di jalan Soekarno Hatta tidak jauh dari perempatan jalan Muh.Toha.

Melihat bangunannya yang besar dan pelataran parkir yang luas, tidak sulit untuk menemukan lokasi itu bila satu saat anda berkesempatan mengunjungi Kota Bandung dan ingin coba merasakan masakan khas Sunda.

Selain bersih ciri khas Warung nasi Ampera ini terletak pada bentuk fisik bangunan yang memadukan gaya modern dan tradisional seperti penambahan unsur bambu, itu berlaku di hampir semua cabangnya.

Dan satu hal yang cukup menarik dari resto ini mungkin dipertahankanya sebutan “Warung Nasi” di depan Nama Ampera hingga sekarang padahal kalau dilihat dari fisik bangunan dan parkir kendaraan pengunjung yang selalu meluber hingga areal jalan.

Ampera sudah bisa digolongkan sebagai restoran bukan sekedar warung nasi. Mungkin sang pemilik sengaja terus mempertahankan imej “murah” di balik sebutan ”warung nasi”itu.

Beberapa kali mengunjungi warung nasi Ampera yang di jalan Soekarno Hatta ini hampir dipastikan selalu penuh oleh pengunjung. Bahkan pasca terjadinya kebakaran yang menghabiskan seluruh bangunannya yang kemudiaan untuk sementara didirikan semacam tenda di areal parkir itu pun tak menyurutkan para penggemar Warung nasi Ampera itu untuk datang menikmati masakannya.

Tidak seperti pemilik resto ini yang mengemban Amanat penderitaan rakyat, kami para pengunjung mungkin hanya mengemban amanat penderitaan perut, untung saja pelayannya itu cakcek melayani apa maunya pengunjung. Kalo tidak… (lha wong lapar hare )

15 thoughts on “Ampera

  1. Aku pelanggan setia nasi ampera yang sambelnya yahut,sejak belasan tahun yang lalu. tapi aku sekarang tinggal di lampung bagai mana kalau ampera melebarkan sayapnya ke tempat kusekarang karena akau sekarang jarang ke bdg, kalau ke bandung aku pasti mampir yang di kebon kelapa. sorry aku siap jadi patner untuk dilampung kalau diinginkan. tanks

  2. kalau paket buka puasa yang di suci kira-kira harga paketnya berapa ya, tolong di informasikan secepatnya

  3. masuk waiting list untuk dicoba…

    semenjak dipopulerkan oleh maestro kuliner, Pak Bondan, wisata kuliner selalu menjadi paket yang tak terpisahkan dari wisata alam, wisata sejarah, turing jelajah negri atau sekedar acara jalan-jalan.

    di saat masyarakat perkotaan mulai jenuh dengan makanan cepat saji ala barat, dunia kuliner nusantara kembali menjadi primadona.

    Clue-nya adalah citarasa yang lebih membumi, cocok dengan lidah rakyat, murah meriah, cara penyajian yang unik tanpa mengabaikan nilai gizi dan aspek kebersihannya.

  4. maskun.. kalo saya tetep milih murah dan wareg saja he he..dan memang yang di jl.SS itu terlihat paling rame,kalo miturut saya Ampera menunya biasa2 saja tapi sambelnya itu lho..kapok lombok pokoknya..

  5. Aku juga sering ke Ampera nih mas. Pernah jg mbandingin Ampera yang di Sukarno-Hatta, Suci sama yang di Sumedang. Ternyata masih maknyus yang di Sukarno Hatta ya mas.
    Tapi aku sendiri salut ma bumbu desa mas. Gaya2 niru Ampera, tapi ditambah dengan pelayanan dan kenyamanan extra, Bumbu desa bisa jual dengan harga lebih, dan pasti keuntungan lebih ya mas.. Pripun mas

  6. Wah kangen juga sama tulisan Anda, Mas Youdil. Saya jadi makin penasaran “visiting to Dayeuh Bandung”. Yang paling bikin penasaran itu “sambel dadak”. Dadak kok disambel ya? Terus yang diambil sebagai bahan tuh dadak apa ya, Mas. Berrrrrr, waduh liur netes terus nih. Salam dari kampung. Warung Ampera mudah2an jadi sumber inspirasi untuk warga kita yang pengin ngembangkan dunia kuliner di Sulang dan sekitarnya. Hateur seuweun, Mang Youdil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s