Sulang ada “Mall”nya lho..!

img_0119

bakso-solo

indomaret

Teks dan Foto: “metamorfosa Bakso Solo- Indomaret : Dwiyoga ‘duitor’ Nugroho

Ada yang baru yang turut meramaikan Sulang. Dibukanya sebuah minimarket waralaba, Indomaret.

Sepanjang sejarah perniagaan, Sulang memang bukan sebuah desa pusat perdagangan, secara geografis sulang jauh dari jalur perdagangan (Jalan Pantura). Tak ayal Sulang sedikit lebih sepi dibanding daerah pesisir.

Walau demikian bukan berarti di Sulang kita tidak bisa mendapatkan kebutuhan hidup secara mudah dan lengkap. Sebut saja sebuah warung kelontong milik mbah Mutik di depan SD Sulang I. Gambaran yang lengkap tentang suasana warung mbah Mutik bisa di baca lewat tulisan Ki Dhalang Sulang.

Ada lagi komplek perwarungan Pecinan di sebelah selatan eks-Kawedanan Sulang. Klan etnis sempat mendirikan beberapa kios yang menjual berbagai kebutuhan warga Sulang. Anda bisa baca sekilas tentang komplek pecinan Sulang atau Anda juga bisa mengenang kembali rasa Coklat Cap Jago yang dulu tersedia di Warung Mbah Kaji Ndori di pojokan perempatan Sulang.

Kebutuhan untuk membuat kue juga bisa mudah di peroleh di Warung Ibu Is (istri Bapak Umar), hasil bumi atau polowijo juga melimpah di warung Mbah Kaji Nurnis, atau Pak Kaji Ta’in. Beberapa kebutuhan lain seperti alat alat tani, perlengkapan jahit mejahit bisa di dapat di Warung Pak Jami’an. Mau beli paku sampai pipa paralon bisa meluncur di warung Haji Faqih yang letaknya tak jauh dari pusat sandang berngaran “Toko Santai” milik Mbak Mus.

Ya itulah Sulang dulu, kecil namun mencukupi.

Perkembangan jaman perlahan telah merubah lajur perniagaan di Sulang. Sulang dulu dan kini memang tak jauh berubah, hanya beberapa toko yang terpaksa tutup karena sesuatu sebab, namun adapula lajur lajur baru niaga yang di didirikan dengan strategi lebih maju.

Salah satunya Warung Pak Jamian yang kini telah berubah wajah menjadi warung yang nyaris serba ada. Mulai dari karet gelang sampai karet regulator kompor gas di jual di sana. Warung Mbah Ndori juga sudah dilengkapi Fruit Corner layaknya di pasar modern di kota. Atau Toko Santai yang sudah di akuisisi Ria Foto sebagai satu satunya penyedia layanan fotografi dan telekomunikasi (HP maksudnya).

Di sebelah utara jembatan Branglor juga muncul satu kekuatan baru milik Pak Mursid yang nyaris lengkap untuk memenuhi kebutuhan sembako di Sulang. Semuanya hadir karena tuntutan kebutuhan warga yang hampir serupa kebutuhan masayarakat perkotaan.

Mungkin dari pemikiran itulah sesorang yang katanya tidak berasal dari Sulang berani membeli franchise sebuah bisnis waralaba yang sudah dikenal di seluruh negeri Indonesia, ialah Indomaret. Sebuah kemasan modern dari sebuah warung yang menawarkan layanan dan interior lebih memanjakan pembeli. Bangunan yang nyaman dan berpendingin ruang, areal parkir yang lega serta pramuniaga yang berbusana sedap-pandang.

Apakah ini sebuah pembaharuan karena Sulang memang potensial? Apakah ini sebuah permudahan karena kebutuhan memang harus dipenuhi? Atau apakah Sulang harus bergeser?

Saya pribadi memandang ada dua sisi mata duit yang menjadi wajah realita. Dengan adanya Minimarket ini apakah langganan Bu Ratemi akan berpaling, juga apakah Toko Mbah Faqih akan turun omzet ? Sisi lain adalah, keberadaan minimarket ini menjadi pemicu warga Sulang untuk lebih kreatif dan kompetitif dalam berwirausaha karena strategi penjualan minimarket ini sangat patut untuk disadur atau dijiplak. Sah sah saja bukan?

Ada rasa penasaran (atau kegumunan) dari beberapa orang Sulang (termasuk saya) akan kehadiran minimarket yang dibangun menggantikan Bakso Solo ini.

Di hari launchingnya ratusan orang datang kesana untuk membeli kebutuhan baik itu yang memang mereka butuhkan atau kebutuhan yang sifatnya “mesisan karo ndelok-ndelok” atau hanya untuk nuruti momongan yang rewel pengen lihat pasar yang katanya modern itu.

Berseberangan jalan dengan Indomaret terdapatlah pusat bisnis desa ini, ya Pasar Sulang. Pasar yang telah berdiri puluhan tahun silam dan telah menampung berbagai aktivitas penunjang hidup banyak orang, masing masing pelaku bisnis yang nimbrung di pasar Sulang bisa dipastikan hanya menjual sesuatu yang mejadi kompetensinya.

Kang Kamdani yang jualan ayam, Bu Modin yang jualan bumbu dapur, Yu Karmi yang jualan Krupuk Usek, Mbah Sutar yang jualan Gendhar, Bu Ismail yang khusus Tempe atau Mbak Sukini yang juragan ketimun.

Omzet yang berputar di pasar ini di bagi rata untuk banyak orang dan keluarga. Bila dibandingkan minimarket memang sangat berbeda, hampir semua kebutuhan bisa di dapat di sebuah bangunan nyaman yang notabene milik seorang entrepreneur dari Blora.

Saking lengkapnya, minuman sejenis Heinekken pun dipajang dan tinggal ambil di Cooling Box dan bayar, semuanya mudah. Saya membayangkan bagimana kalau keponakan kita (karena penasaran) lantas menabung uang sakunya untuk membeli “Bintang”. Ah mungkin saya terlalu berlebihan, semoga saja tidak seperti itu.

Lets the time rolls, Saya yakin warga Sulang mampu menyesuaikan diri dengan semua itu.

80 thoughts on “Sulang ada “Mall”nya lho..!

  1. seneng banget ada mall di Sulang…apalagi ada yg istimewa di banding di daerah lain…klo di Bontang – Kaltim,swalayan buka jam 8.30 pagi….tapi di Sulang,jam 6.00 pagi udah buka…jadi gak repot klo mo belanja…semoga Sulang bertambah maju…BRAVO SULANG,my beloved hometown….

  2. modal bakul ku dikit dibanding bakul mall ””supermarket”””’……..tapi aku sepiiiiiiiiiiiiii…….pembeli………oh……nasib

  3. jo isin2ni to. gpp sing penting jujur y ora? jujur kacang ijo enak lho…. sumpah. opo maneh ditambah susu…

  4. Mlarat kok sombong. Koyo aku ngene iki duit bayaran 3 sasi kepungkur durung entek entek. Durung entek maksute utuh tapi mbuh nandi parak e.

  5. iyo, aku jan-jane yo mesakne ro bakule tapi kepiye maneh, aku yo lagek ora patek usum duwek o’

  6. mugo2 ae sing dodolan ne pasar payu, ne swalayan y payu. nak ora pau ayo podo tuku…mesakke kui sing dodol….ok

  7. Kok pertanyaane dusone sing ” SPG ayu2 ??” gak dijawab2 seh..Sing dadi SPG wong Blora po Sulang?? Dadi gak sabar pengen pulang. Rame gak sih? Balik Sulang ah, nginguk ………………..

  8. @ gobang : wuih, lek durung ono sing nduweni teori iki, kudu ndang dipatenke; selak kedisikan wong liyo…. :)) sehat ker?

  9. Eh mas Gobang…
    Lumayan berbobot dengan teori atomnya,salute to Gobang!!!
    Bar madang opoe???
    Emange teori atom seperti itu apa masse???hehe

  10. dengan adanya indomaret yg pasti ngebuat mas komplong senang karena bisa cuci mata didepan komplongnet,betul ra plong?

  11. aturan memang dibuat untuk dilanggar, hahaha,,,

    kenapa RATMAL gak sepi-sepi dan IM gak rame-rame? karena di IM gak bisa ngenyang kaya di pasar…

    kok gak da yg jawab pertanyaanku yaaa..SPGne ayu2 po gak?

  12. sebenernya semakin kita bikin aturan yang menurut sebagian orang bener akan semakin di langgar

    biarlah norma itu kita jalani dengan apa adanyaaaaa…

    yang penting pondasi dari dalam kita…

    karakter manusia sangatlah unik

    1. suatu keburukan (contoh: Lokalisasi) semakin kita tentang kita bubarkan maka semakin meluas keburukan akan terjadi, ini berdasarkan teori atom yang akan pecah di mana2 unsur pecahannya

    2. suatu peraturan yang di bikin dari pemerintah akan di langgar, di ingatkan akan semakin menentang… manusia akan menunggu suatu benturan dari dirinya sendiri… ini akan menimbulkan sesuatu norma aturan yang timbul karena pengalaman seseorang

    begitulah karakter manusia semoga jangan di protes tolong di rasakan saja yaaaaaa

    ini sekilas aja asal ngomonggggggggggggggggggggggggggg

  13. Dua minggu mengamati IM dan Ratmall. IM gak rame rame banget dan Ratmall juga gak sepi sepi banget. Segmentasi rupanya mulai terpeta.

  14. EH mas agus…nek misale sulang sampai ada lokalisasi piye menurutmu??mungkin gak,suatu saat akan ada??terus menurutmu tempat yang cocok dimana??saat ini apa sudah perlukah???he
    misale terjadi beneran piyeyo dadine sulang…ngeri juga!!!medeni…
    apalagi nama besarnya sampai mendunia…minimal sulang dan sekitarnya.
    he…just kidding ndes!!!

  15. kalau bisa sulang ada sepuluh mall atau lebih biar ramai masa sulang hanya itu saja pasti ada perubahan , seperti trotoar yang sekarang digunakan untuk lesehan, mungkin nantinya untuk lapangan di kecamatan ada suatu pasar kaki lima setiap malam sehingga menambah hiburan dan acara keluarga sambil menikmati hidangan yang digelar ya toooooooooooo

  16. lha bingungnya kita,di indonesia itu nggak ada kebijakan yang baku dan berlaku tetap,gimana uang mengalir saja alias gimana miturut maunya yang punya duwit saja…

  17. yo nak sing jenenge perubahan perlu katanya sulang pengen berubahhhhhhhh… ini salah satu benuk dari sebuah perkembangan

    sing penting tetep sulang rukun cahhhhhhh

    sing penting podo ngertine berusaha dan tetap bersyukur

    masalah rejeki wis ono sing ngatur

  18. Prof. Bakdi Soemanto (guru besar FIB-UGM) bercerita, tahun 2006 dia ada undangan seminar di almamaternya waktu ngambil pasca sarjana dulu. Dia masih terkaget-kaget, 25 tahun sejak meninggalkan kota tersebut (sebuah kota di Eropa, simbol kapitalisme, dengan berbagai perubahan yang sangat cepat) ternyata tidak ada perubahan yang cukup berarti pada kota tersebut. Kebijakan larangan bagi kendaraan bermotor di dalam kota masih diberlakukan. Dan menariknya, tidak ada mall ataupun supermarket yang dibangun dalam jarak 25 km dari kota selama waktu 25 tahun sejak dia meninggalkan kota itu. “Waktu seolah berhenti di kota tersebut”. Nah lho…

    Analogi ini mirip dengan impor beras yang dilakukan pemerintah : untuk menyediakan beras dalam waktu yang relatif cepat dan harga terjangkau, kita impor beras. Namun dampaknya apa : petani-petani Indonesia kalah bersaing dalam memroduksi beras dengan harga bersaing pula. Sementara petani di luar negeri dengan kemampuan modal serta proteksi dari pemerintah (termasuk subsidi dan pengurangan pajak) produk pertaniannya mampu membanjiri pasar Indonesia; di sisi lain petani Indonesia hanya mampu menjadi penonton.

    Inilah sedikit gambaran tentang kedaulatan ekonomi yang oleh pemerintah kita jarang diperhatikan.

    Intinya bukan hanya sebatas pada adanya perubahan, segmentasi pasar, dll; namun bagaimana political will dari para pemangku kebijakan (stakeholders) dalam membuat kebijakan sebagai stakeholders dan tidak justru berubah menjadi stockholders.
    Mewujudkan kedaulatan ekonomi, mewujudkan kedaulatan pangan, serta kedaulatan lainnya; dan dalam waktu bersamaan melihat realita dan permasalahan sesungguhnya yang ada dalam masyarakat. Dan menawarkan solusinya. Inilah tantangan kita.

  19. @eonk : nek gak gelem diparkir, titip ng warnet ae..xixixi..

    @semuanya : yang namanya perubahan itu pasti terjadi, betapapun kecilnya itu..karenanya mari kita sikapi dg bijaksana..Ratmi-Barokah cs & IM pasti punya segmen sendiri2, g sah dipertentangkan..ngemeng2 SPGne ayu2 gak?

  20. eh mas dwik e pak giman…
    nek tuku neng kono d parkiri ra??
    wah nek d parkiri berarti ora luweh murah…minimal 500 gelo.
    nek tuku djarum regane 7800,dadine 8300.
    melaku wae nek ra yo ndonone???he lumayane 500,nek dkumpulke iso nggo munggah kaji.
    cah petung soale aku…he

  21. @ duz:betul Duz, yang namanya gemblong g mungkin pake pengawet. Pacul? malah ntar SPGne melu matun. Nasi pecel??? Wuih nyamleng tenan kalo dinikmati bareng2 sambil ngobrol yang tak mungkin ditemukan di IM. Kalo aku yakin banget kalo harga di IM yang paling murah cuma susu Duz! lainnya luewat Ratmi Mall.

  22. he he…kok wangun2 analisane cah, para pengamat okonomi d sulang.
    ak idem wae…he.
    komentar titik ahh…
    sebuah ilustrasi:
    1.sebuah khidupan primitif d papua sangat menjual untuk pariwisata, apalagi bule2 sangat terkagum2.kehidupan primitif mereka d jaga dan d lestarikan keprimitifannya.dengan alasan melestarikan budaya daerah.aneh g sich?kemiskinan dan kebodohan kok d pelihara…he.
    2.Di jepang kehidupan masyarakatnya sangat dinamis dan maju,perkembangan teknologinya sudah sangat d akui dunai.masyarakat dunia juga kagum melihat kmajuan jepang yang sangat pesat.mereka juga punya budaya asli yang masih d jaga kelestariannya,masyarakat duniapun kagum.gumunan soale…he.
    Itu semua pilihan,kita mau maju atau tetap menjaga kebodohan dan keterbelakangan.perubahan tidak selalu identik dg suatu hal yg negatif.kadang kita takut dg adanya perubahan dan kmajuan.apa yg kita takutkan???he
    kita tdk bisa mencegah perubahan dan kemajuan jaman,yang penting kita harus ikut dan terlibat!!!gayane…
    koyone malah g nyambung dg topiknya…ngapuntene mawon!!!latian ngetik cah…he

  23. @maskuntop: Saya kadang2 sudah ngluyur ke blog Anda loh, kalok nggak salah saya sudah ninggalin jejak di sana. Salam buat segenap keluarga.

    @Gus Gobang: kapan minta diposting sensasinya? eh, nggak sensasi dhing, tapi seriuuuuuuuussssssss tenan. Ada surprise di bulan Kartinian barangkali, ha ha ha ha ha ………

    @Mbak Ika dan Mbak PQ: untuk ngadepin Kartinian gimana ya kalok SO diisi artikel lagi?

    @Cah Pasar Bersaudara: hallo, maung Bandung. Dunia wisata dan kulinernya a la Pejajaran saya tunggu loh, men….

    @Dusone dan Didik Salambanu: permisi mau nginguk dan nginjen rendezvous Anda. Kontennya opo meneh jal, xi xi xi xi xis…….

  24. “Sampai kapankah semua akan bertahan…” komentar yang menarik🙂
    yang jelas, kalo pengen beli es krim dah deket, g usah jauh-jauh.Hmm…nyam nyam nyam….

  25. Saya makin bangga setelah mencermati berbagai komentar, khususnya pada Mini Market-nya Duitor. Setidak-tidaknya ada ‘trend positif’ mengenai kepedulian para sahabat blogger SO, untuk desaku yang kucinta.
    Tentang IndoMart di Sulang, saya sudah dua kali masuk, namun belum sempat shopingshoping (he he he , dokunya cumpon), karena saat itu saya cuman butuh sebungkus rokok Jarum 76. Sambil keliling-keliling untuk sekedar menikmati seni penataan barang, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada etalase bangsa rokok-rokokan. Kontan saya menatap bungkusan rokok jarum 76 enam. Namun sebelum jari ini meraih bungkusan, tiba-tiba saya “kelingan” komennya Mbak Icha. Eh! dari pada di Mall mini cuman beli sebungkus rokok, kan gengsi dong. Kemudian saya ‘kluyur-kluyur’ keluar menuju toko kelontong sebelah Indomart dan tanpa pikir panjang saya minta sebungkus rokok Jarum 76.Sambil ‘nyelengkarang’ di sadel sepedamotor butut dan ‘jedhal-jedhil’ ngisep rokok, saya tetap ngamati hilir mudik warga kita yang keluar masuk mallmini. Entah isapan yang ke berapa, saya kok ingat tentang proses beli Jarum 76 tadi. Lho mengapa ya, kok larinya uang saya (Rp.5.500,-)kok justru ke warung sebelah ya?, apa karena komennya Mbak Icha, atau ada sesuatu rahasia tertentu yang kita tak mampu menembusnya? Wallohu alam.
    Sayapun ‘jedhal-jedhil’ lagi, sambil ngayal ‘ngalor ngidul’…..hemmm…. minimarket sudah hadir di desa saya. Sebuah kemajuan zaman tentunya,dan tak mungkin kita menolak kehadirannya. Namun kita musti inget bahwa yang namanya pembaharuan dan kemajuan iptek hampir pasti bawa efek ganda, positif & negatif. Terus saya ngayal lagi, barangkali yang paling penting bukan pro dan kontranya, namun bagaimana kita menyikapinya secara bijak. (weleh… bijak kuwi pakanan apa to ya?). Maksud saya, untuk menanggapi segala sesuatu, hendaknya kita harus berusaha untuk memaksimalkan yang segi positifnya, dan meminimalkan segi negatifnya…..*halah halah halah*…. paling penting Bravo SO, bravo Sulang’s Blogger. Okaiiiiiiiiiiiiii………………….

  26. tenang aja, orang tidak (setidaknya belum) akan memperoleh gemblong-pacul-arit-dumbeg-lombok di IM, mereka masi akan diperoleh dipasar

  27. butuh pembelajaran masyarakat agar perlu hati hati dalam membelanjakan rejeki ( uang ), kadang ada harga yang murah di dalam mini market ( mall )dan bahkan ada harga yang lebih murah diluar mall dalam arti pasar tradisional, maka pandai pandai kita dalam memilih dan memilah harga, dan tak lupa kita hati hati massa kedalu warsa, toh nanti yang diuntungkan adalah masyarakat karena pembeli adalah raja dalam memilih barang yang akan dibeli, maka produsen ( pedagang ) haruslah pandai merayu raja untuk bisa membeli barang yang dijajakan.

  28. Sekedar sharing cerita…

    Dulu saya pernah tinggal 5 tahun di salah satu perumahan rakyat kelas menengah ke bawah di kota bekasi. Awal tahun 2000 adalah waktu terjadinya booming MMP (Minimarket Masuk Perumahan). Dalam sekejap, dalam lingkup perumahan kecil, ada 3 minimarket, 2 IM dan 1 AM. Blm genap setahun, toko2 kelontong kecil habis, bangkrut. Padahal mereka merintis usaha dari nol, hingga telah puluhan tahun berdagang di kompleks perumahan tsb. Tragis!!!

    Saya punya teman satu kantor, dia kebetulan juga mengelola minimarket waralaba. Dia sendiri berkeluh kesah, perusahaan payung tempat dia menjalankan bisnisnya juga tidak konsisten dengan aturan yang dibuat. Dengan tegas di dalam aturan perusahaan tsb menyebutkan, untuk menyehatkan persaingan, tidak diberikan ijin pendirian minimarket sejenis di dalam radius 5 km. Aturan ini berlaku untuk kota besar, dan itu pun masih bersyarat dengan melihat kepadatan penduduk, daya beli masyarakat dan segmen pembeli yang dibidik. Namun, ini juga “mlempem” dalam pelaksanaan.
    Teman saya bercerita, dia bukan hanya bersaing dengan toko lain, melainkan dengan minimarket yang sama. Bisnis itu kejam Jendral!!!

    Kita bandingkan dengan Kota Rembang, kota kecil dan taraf kehidupan penduduknya yang pas-pasan. Tidak sampai 2 tahun, telah ada 3 IM dan 2 AM. Jelas, perusaahan besar dibalik IM dan AM sudah buta mata terhadap aturan sendiri. Sekarang sudah bergeser, siapapun yang mengajukan permohonan bisnis berbentuk franchise, langsung di-acc, tanpa ada analisis mendalam untung2an ekonomi. Apalagi sekedar masalah remeh, dampak sosial… Uang yang bicara!!!

    Just corious, jangan2 kue bisnis yang besar tak mampu mereka raih, sehingga malah getol menyeser bisnis retail, yang jelas-jelas sumber rejeki masyarakat kecil?

    Menurut saya, pemangku kebijakan harus melakukan proteksi terhadap ekonomi rakyat. Tidak belajarkah kita dari krisis moneter 98? Siapa biang keladi krisis dan siapa pula yang ambruk duluan? Hanya industri skala kecil dan mengengah yang mampu survive diterpa gelombang hebat krisis keuangan. Inilah yang semestinya dilindungi, karena terbukti merekalah penopang ampuh perekenomian bangsa.

    Atau akankah kita akan terperosok dalam lubang yang sama?

    Dalam bayangan liarku, tidak mengherankan bila besok di selatan Balai Desa Sulang tau2 berdiri megah KFC untuk bersaing dengan Kang Kamdani, Branglor dimasuki Alfa Mart untuk menghadang laju bisnis Pak Mursyid, di pojok prapatan dibangun Hipermarket, karena tak mau kalah dengan bisnis kecil-kecilan Mbah Ndori atau di Tapaan nangkring Hugos Cafe untuk merebut pelanggan setia kopi lelet Cak Neri.

    Hanya pendapat pribadi…

  29. Setiap orang selalu melihat peluang sebagai suatu kesempatan.

    Seperti yang pernah kita tahu bahwa gurita bisnis hipermarket telah mematikan pasar tradisional di kota besar. Sehingga pemerintah perlu aturan yang tegas mengenai batasan area yang boleh dimasuki oleh pertokoan Hipermarket, Supermarket dan Minimarket.

    Sayang aturan untuk meminimalisasikan dampak dari itu belum sepenuhnya dijalankan.

    Minimarket merupakan perpanjangan tangan dari gurita bisnis hipermarket itu sendiri. Siapa dibelakang group Indomaret atau Alfamart. Dengan Bargaining Power jaringan bisnisnya yang besar, maka baik Indomaret maupun Alfamart dapat menjual barang dengan harga yang lebih murah.

    Siapa yang untung dari bisnis ini ???
    Tentunya pembeli, karena dapat membeli dengan harga yang lebih murah.

    Siapa yang dirugikan dalam hal ini ???
    Tentunya pedagang tradisional dengan modal yang pas-pasan.
    Dan sepertinya disinilah letak permasalahan di Sulang.

    Cepat atau lambat akan ada seleksi alam, seperti yang sudah terjadi di banyak daerah.

    Yang pernah saya dengar, ada satu daerah menolak keberadaan Indomaret di daerahnya karena dapat mematikan ekonomi kerakyatan yang ada.
    Cukup mengherankan juga kenapa kok bisa di Sulang ada Indomaret ???

    Bukan saya apriori dengan adanya perkembangan positif dari Sulang, tetapi yang jadi pertanyaan, sampai kapankah semua akan bertahan….

  30. ndak masalah ada atau tidaknya pasar modern, itu efek dari perubahan peradaban. setiap orang punya hak yang sama untuk hidup dan berusaha. soal dampak dari adanya ‘modernisasi’ tergantung dari masing-masing untuk menyikapinya. pada akhirnya, untuk persaingan usaha, hukum ekonomi yang akan berbicara.

  31. kadang masyarakat tergiur dengan godaan lokasi,penampilan, penampakan , setelah dihitung hitung ternyata ada perbedaan

  32. memang dalam perkembangannya manusia modern lebih memilih yang segalanya instan:cepat,tepat,teratur dan bersih seperti halnya supermarket itu.supermarket dan sebangsanya yang didukung pemodal raksasa agaknya akan terus melebarkan sayapnya.warung2 kecil dan pasar tradisional kalo tidak dilindungi mungkin akan menjadi kenangan saja…

  33. Yang aku takutkan terjadi…

    Pemodal besar dan gurita konglomerasi mulai merangsek ranah ekonomi kerakyatan Sulang. Meski dengan tempat “alami”, pengelolaan secara otodidak, omzet tak besar, pembukuan sederhana, storage management yg ala kadarnya, terbukti selama ini pasar dan toko-toko perorangan mampu menjadi wahana penyedia barang kebutuhan warga Sulang sekaligus menopang kelangsungan hidup keseharian pemiliknya.

    Apalagi pasar tradisional dan toko konvensional mempertemukan secara langsung penjual dan pembeli, sistem transaksi “face to face”, beda jauh dengan sistem swalayan, yang berarti mendekatkan person to person, sesuai kultur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi hubungan antar manusia.

    Bukan apriori, sedikit banyak bakal ada efek domino dengan adanya Mall di Sulang. Bukan hanya aspek ekonomi, tetapi budaya, gaya hidup dan peradaban warga Sulang.

    Maaf kalau berbeda pendapat.

  34. yo lumayan lah!
    paling ga’ sekarang ada tempat cangkrukan anyar! (ndak entuk?)
    ga’ melulu di PSan, foto copyan, angkringan, counter, atow warnete komplong!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s