Selamat Pagi, Pak Gik!

img_34742

teks dan foto: Duitor

Kalau ada laku bisu, kenapa kita tidak menggiatkan laku sapa?

Mengingat lagi sebuah kenangan waktu beberapa dari temen kita masih sekolah dulu. Diajarkan bagaimana menghargai orang lain, sebait lagu karya Ibu Sud, kurang lebih menyiratkan pesan bahwa kita musti menghormati orang lain, baik itu yang lebih tua, yang sebaya, atau yang lebih muda sekalipun dari kita.

Namun dalam kenyataannya, mengemban kandungan lagu “Oh Ibu dan Ayah” itu tidak mudah walau memang implementasinya bisa sangat mudah dilakoni.

Untuk menyapa orang lebih dahulu waktu berpapasan di jalan misalnya, tidak harus mengikuti latihan kepribadian dulu untuk nglakuin ini, bukankah orang akan senang bila disapa lebih dulu? Kecuali orangnya gi sewot he he he. Terhadap orang yang lebih tua, lelaku seperti ini bisa diartikan sebagai bentuk rasa hormat dan menghargai. Lantas menyapa seseorang yang lebih muda bagaimana jadinya, dan apa untungnya, bukankah yang lebih tua wajib dihormati yang lebih muda?

Dalam kuliah linguistics (ilmu berbahasa) yang pernah saya ikuti waktu masih di kampus dulu juga disebut bahwa menyapa atau bertanya atau bertindak seolah berbasa-basi dengan seseorang akan punya makna lebih mengakrabkan dan menghargai, walaupun apa yang kita tanyakan itu kita sendiri sudah tahu jawabannya atau bahkan gak ada perlunya kita nanya nanya segala. Memang! itulah Pathic Communion. Misal, udah tau kalo di depan rumah ada anak pake seragam SD mau berangkat sekolah kok kita nanya, “Mau berangkat sekolah dik?” Lantas apa perlunya kita nanya kayak gitu, dan juga lantas apa untungnya buat yang kita tanyain?

Lain cerita kalau kita bertemu Pak Gik, seorang pensiunan pegawai kesehatan yang dulu bertugas di Puskesmas Sulang. Bertemu dengan Pak Gik anak-anak pasti selalu disapanya, “ Selamat Pagi, Dik. Badhe sekolah enggih?” sederhana memang, tapi jika hal itu ditanyakan dari seorang Pak Gik, pasti dengan sertamerta anak anak akan menjawab ”Selamat pagi Pak, iya mau sekolah!” Pak Gik adalah seseorang yang konsisten mengimplementasikan mata pelajaran Budi Pakerti kepada setiap orang, secara tidak langsung komunitas yang ada dilingkungan beliau akan memperolah nuansa keakraban dan merasa kinajen.

Penasaran dengan memori indah dari seorang Pak Gik, saya berkunjung langsung ke rumah beliau di desa Landoh Kecamatan Sulang. Di rumahnya yang asri saya bisa ketemu beliau langsung walau harus nunggu sejenak karena beliau lagi ngobatin pasien (setelah pensiun Pak Gik punya aktivitas baru, yaitu pijet alternatif).

Bapak yang berusia 74 tahun ini tidak tampak berubah, giginya yang tersusun rapi itu itupun masih utuh menghiasi senyumnya yang renyah. Ingatannya juga masih kuat untuk lelaki kelahiran Pati tahun 1935.

Dari percakapan kami Pak Gik bercerita kalau kebiasaan ‘ramah’nya itu sudah ia lakukan semenjak masih sekolah dulu, sebab dulu masih ada mata pelajaran Budi Pekerti untuk anak SD/SR. Sebuah mata pelajaran untuk anak sekolah yang sekarang sudah hilang dari daftar jadwal mata pelajaran yang dipajang di dinding kelas.

Memang layak disesalkan penghapusan mata pelajaran Budi Pekerti unutk anak sekolah, walau memang tidak sepenuhnya mata pelajaran ini akan menjadi kunci pembinaan budi pekerti pada anak-anak, lingkungan sekitar dan didikan orangtua juga punya andil besar terhadap pembentukan mental anak. Semoga kelak pemerintah kembali menerapkan mata pelajaran tersebut di sekolah sekolah. Karena kita bangsa Indonesia, bangsa yang terkenal keindahan alam dan keramahan warganya.

Pak Gik sampai sekarang pun masih seperti dulu, masih selalu menyapa dahulu setiap orang yang ia temui, baik sekalipun, tidak dibedakan.

Selamat Pakgik Pak ! eh salah, Selamat Pagi Pak Gik !

11 thoughts on “Selamat Pagi, Pak Gik!

  1. beliau adalah seorang penyayang, penolong tanpa berharap imbalan. salut akan kepribadian beliau yang patut diteladani oleh semua generasi..sehat selalu ya mbah gik..

  2. .Makasih ea Eyang atas p’lajarant eang di berikan utk kta semua…
    .Kami semua bangga menjadi cucu eyang…
    .l0ve u s0 much…

  3. ya ya pak Gik saya ingat itu mmang murah seyum, ya semoga seyumnya dapat seponsor dari produk pasta gigi, oke

  4. Nah loh ternyata ada info lebih tuh dari Pak Kid, siap! laen kali kita sowan ke sana lagi, rame rame kalo perlu.

  5. Pak Gik… Yup, the most friendly man di Bumi Sulang.

    Dulu saya kira beliau orang kidulan, eh, setelah baca tulisan Mas Dui ternyata come from Bumi Minatani, yang karakter masyarakatnya terkenal keras, lugas, “ceplas ceplos” untuk berterus terang, to the point dan ngga banyak basa-basi.

  6. Selamat pagi/siang/sore/malam buat semuanya…Semoga Anda semua selalu sehat dan selalu optimis dalam tiap aktivitas…

    *Trinkk kasih senyuman paling manis🙂

  7. Selamat sore Pak Gik, selamat sore Duitor. wah! Saya baru tahu kalok P Gik juga punya kemampuan bidang terapi pijat syaraf. Bagus Du, potensi desa Landoh (tetangga desa Sulang) perlu juga digali.
    Bicara tentang P Gik, masih ada satu lagi potensi yang patut dikenang dan dicatat. Pak Gik adalah mantan penari, pelatih dan sekaligus penata beksan klasik “wayang wong” desa Landoh dan Kec Sulang (seingat saya sekitar th 1964 s/d 1980 an. Tokoh yang paling sering dan paling pas diperankan P Gik adalah Prabu Kresna. Saya salute banget pada seniman kampung legendaris yang satu ini.
    @ Duitor: kalok ada waktu silakan digali sisi lain potensi P Gik ya, pren…. Jempol lima buat Anda (sing siji endi?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s