Menepis Mimpi, Membuka Hari (2)

Pak Naim, Sang Penderes

Ini lanjutan dari kisah Pak Naim sebelumnya.

Teks: Didik Salambanu

Saat mentari mulai meninggi dan sinarannya mendatangkan terang bagi bumi, Pak Naim pun bersiaga menjemput jatah rejeki. Ditanggalkannya baju dan sarung simbol pengakuan sebagai hamba yang lemah, terkecuali peci putih kebanggaan, oleh-oleh adik iparnya dari tanah Arab, berganti kaos oblong nan usang, bercelana biru pudar model kulot hingga batas bawah lutut, -lengkap dengan rokok kretek dan korek api di sakunya-, yang seakan menjelma menjadi pakaian dinasnya hari ini

Diraihnya belasan bumbung bambu kosong tanpa isi yang teronggok di dapur, disatukan menjadi dua bagian agar pikulannya sanggup membawanya secara seimbang. Tak ketinggalan arit kecil yang telah direkayasa menjadi pisau tajam dan alat bantu panjat berupa seutas tali made in sendiri berbahan daun lontar yang dipilin hingga padat, singset, dan kuat , dimasukkan ke dalam salah satu bumbung.

Lengkap sudah peralatan yang dipersiapkan untuk ‘berperang’, menggugurkan kewajiban menafkahi keluarga. Dengan pundak yang terlihat masih kekar di usianya, ditentengnya sejumlah potongan ruas bambu petung yang telah berubah wujud menjadi bumbung dengan sebatang pikulan dari bongkotan pohon bambu. Sebatang rokok terjepit di sela bibirnya yang hitam sembari dihisap dalam-dalam dan sejurus kemudian dihembuskannya secara kuat-kuat asapnya untuk membuang kejenuhan rutinitas.

Ditapakinya rute tanah berbatu dengan kaki-kaki telanjangnya menuju lahan pencahariaan, yang terhampar di pojok dusun. Jalur setapak yang dilewatinya tiap hari seperti dipayungi rimbunnya rumpun bambu yang menguasai kerajaan flora di kanan kiri jalan. Sebagian batang hijaunya nan panjang melambai hampir berebahan, tak kuasa melawaan kencangnya terpaan angin.

Dan bunyi gegesekan antar batang bambu akibat hempasan udara yang mengalir, diiring senandung kicau burung-burung emprit dan tekukur yang berloncat-loncatan di dahan jati, menciptakan simponi musik kampung nan merdu merindu, menggambarkan suasana pagi yang riang di ujung jalan desa. Dan jangkauan langkah Pak Naim pun terhenti di pematang yang tak rata.

Dipandanginya ladang luas miliknya yang garing kemringking pertanda kemarau sedang puncak-puncaknya. Tanah pun nelo-nelo, seakan menyerah melawan sengatan panas matahari yang membakar. Rumput-rumput pun tampak kuning layu, merana, mengiba kepada cucuran rinai hujan.

Seketika Pak Naim teringat akan ternaknya di kandang. Sedih membayangkan nasib tiga ekor sapinya, yang hanya mendapat asupan makanan ala kadarnya. Hanya jerami kering residu panenan padi kemarin, dan terkadang diimbuhi daun pohon pisang sebagai tambahan vitamin, agar hewan kesayangannya bisa survive mengarungi musim kering yang diperkirakan akan berlangsung lama..

Berkali-kali Pak Naim menghela nafas, mengusap keringat yang membahasi wajahnya yang mulai keriput, mengusir hawa panas meski pagi baru saja memulai peredarannya. Seolah semua yang tampak di depan matanya adalah korban bisu dari ganasnya efek degradasi lingkungan.

“Hidup jangan mudah menyerah, Dik. Derita karena alam bukan tanda Tuhan tak sayang abdi-Nya. Petaka kecil seperti ini bukan untuk diratapi, justru harus menambah rasa syukur. Ini adalah ujian tak tertulis dari Gusti Allah, untuk menilai seberapa besar kualitas penghambaan awakke dhewe. Yakin ae, di balik kesulitan, pasti ada kemudahan, selama kita berpegang teguh kepada simpul ajaran-Nya. Kita makhluk yang sempurna, kita dibekali akal, pasti ada jalan keluar selama kita mau berpikir,” itulah nasehat arif yang dilontarkan Pak Naim sewaktu aku temui di ladangnya.

14 thoughts on “Menepis Mimpi, Membuka Hari (2)

  1. y aku subha(subek) cah ndeso sebelah lor sulang kuwi lho…kesasar ki. goleki awakmu. ngilang ne ndi ae?

  2. siiiiip…salut.
    titip salam kanggo pak naim y! aku tonggone pak naim, tapi jarang ketemu, paling 1 tahun sekali.

  3. Adeeemmm baca komentar Pak Didik di atas…Semua dari kita hidup dengan menghadapi cobaan masing-masing…di situ lah “kesempurnaan” kita sebagai manusia diuji…cobaan bukan semata soal kesedihan, tapi juga tersirat pembelajaran agar hidup kita lebih baik..

  4. @Pak Kid,
    Di mata saya, orang2 daerah Sulang adalah hamba yang disayang Allah. Berbagai kesulitan hidup silih berganti menghampiri, mulai krisis air, tanah nan gersang, curah hujan minim, menyempitnya aeral hutan, penurunan kualitas lingkungan dan iklim pesisir yang panas. Namun tak membuat patah semangat bagi warga Sulang, yang sebagian besar menggantungkan hidup dari lahan pertanian.
    Semua lilo legowo, ini adalah ujian Tuhan dan tantangan alam untuk dihadapi. Semua kesempitan ini disikapi dengan kerja keras, pantang menyerah, penuh ikhtiar, berpikir positif dan tak putus untuk berdoa.
    Kalaupun hasil panenan tak sesuai dengan harapan, mereka tetap yakin, bahwa nilai perjuangan dalam menjemput rejeki lebih berharga di mata Tuhan.

  5. ya akal ….akal yang bisa kita manusia sempurna, dengan akal kita bisa membedakan buruk dan baik, terang dan gelap lanang lan wadon, dan ….dan ….lainnya yang diciptakan secara berpasangan

  6. “Hidup jangan mudah menyerah….” wah! hebat betul kata Pak Naim yang bijak.Akhirnya kita semua jadi ingat, di saat kita menemui kesulitan tertentu justru di sinilah letak cinta kasih Tuhan kepada kita, karena kesulitan itu ujian, dan kalau ujian pasti ada lulus dan tidak lulus, dan kalau lulus kita bakal dapat ijazah dari Alloh, dan derajat hidup kita bakal dinaikkan. (Weleh weleh weleh, sekali2 agak seriously boleh, nggih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s