Sendratama

Teks : Dwiyoga Nugoroho

Pada kesempatan yang lalu pernah di tulis sedikit mengenai Seni Pertunjukan yang pernah ada di Sulang. Dari banyak Grup musik yang ada, disebutlah Sendaratama sebagai salah satu grup contoh. Berikut mungkin cerita lebih lanjutan mengenai Sendratama.

Tidak ingin membiarkan pemuda desa ini beku dalam berkreativitas, beberapa muda Sulang pada awal 70-an berinisiatif mencipta paguyuban yang kreatif.

“Waktu itu belum terpikir akan membentuk perkumpulan semacam apa, yang penting kaum muda Sulang harus berkreasi positif,” kenang Bp. Suwarno (Eks. Camat Sulang yg lahir di Sulang, juga sesepuh Sendratama, sekarang tinggal di Tegalrejo – karangtengklik -Tegalsari Sulang.)

Pernyataan senada juga terlontar dari Bp. Supriyanto (Mantan Kepala Desa Sulang),Kaum muda Sulang waktu itu banyak memiliki potensi, baik potensi positif maupun negatif. Nah, untuk menghindari potensi negatif dari pergaulan akhirnya terciptalah sebentuk paguyuban yang lagi trend dan sama sama digemari, Gambus. Selain jadi hiburan, sedikit sedikit gambus juga profitable (baca : Menghasilkan duit), walau itu bukan tujuan utama,” katanya.

Gambus memang lagi ngetren pada waktu itu. Kesenian khas Timur Tengah ini sedang menjamur dan hampir setiap desa besar di Kabupaten Rembang memiliki grup sendiri. Namun, gambus Sulang di bentuk lebih kreatif sehingga berbeda dengan gambus kebanyakan yang cenderung ke-Arab araban, namanya pun tidak pake Sufiks-Al, contoh Al-Manaar, Al Buruuj, de el el. Bayangkan saja dengan gambus Sulang yang bertitel Sendratama. Beda banget kan? berbeda juga dengan kemasannya yang unik walau sepintas hampir mirip Ludruk Jawa Timur atau Lenong Betawi.

Semula, Sendratama adalah singkatan dari kata ‘Seni Drama Taman Muda’ usulan Bp Suwarno. Karena dirasa kurang enak diucapkan (atau mungkin kurang ngejual kali ya!) akhirnya teman-teman mengusulkan untuk diganti dengan ‘Seni Drama Tunas Muda’. Pak Warno yang punya usul-pun manut kalo harus ganti akronim, demi kepentingan bersama, ben guyub, ben rukun.

Dengan perangkat musik unplugged, selain mengusung lagu yang lagi in Sendratama juga membawakan naskah drama, digawangi Sutradara bernama Suprihadi (kakak dari pak “mantan”, Supriyanto) yang kebetulan waktu itu sedang sekolah di Surabaya.

“Mas Hadi sering pulang di akhir pekan untuk mengarahkan kawan-kawan berlatih drama,” ujar Pak Priyo (Tokoh Sendratama, yang sekarang tinggal di Sulang Tengah). Rupanya Mas Hadi ingin menularkan ilmu dari referensinya menonton Ludruk di Surabaya. Mas Hadi rela pulang tiap akhir pekan demi rekan-rekan Sendratama, padahal jarak Sulang – Surabaya tidak dekat, ditambah lagi masih jarangnya sarana transportasi pada waktu itu. Sebuah pengorbanan besar untuk Sulang yang layak dicontoh.

Setiap malam minggu Sendratama berlatih bersama di kompleks Gang Buntu RW IV Gaplokan. “Walau hanya latihan, yang nonton sudah kayak main betulan. Buanyak sekali,” tukas Pak Mun’im (mantan Personel Sendratama yang sekarang jadi Pegawai Negeri Sipil di SD Sulang II).

Semakin hari, personel Sendratama bertambah jumlahnya dan naskah yang dibawakan semakin bervariasi. Hal ini yang menarik orang ingin nanggap gambus Sendratama. Bahkan pernah ada cerita kalau putra Bu Kari mau dikhitankan kalau di tanggapke Sendratama, wah piye iki?

Sendratama menjadi brand imej Sulang. Selain sering di tanggap per-grup, artis Sendratama juga sering dibon (di sewa) kelompok gambus yang lain. Bahkan Bp Supriyanto sering dimintain tolong untuk maen bareng grup gambus daerah lain untuk jadi tokoh utama, misal jadi Komandan Kompeni, Polisi, Turis ataupun jadi Jagoan. Namun Sendratama juga sering memakai additional player dari lain daerah. Misal Suriah dari Pamotan yang jadi vokalis ceweknya. Maklum grup gambus Sulang waktu itu belum punya vokalis wanita sampai akhirnya Bu Suparti bergabung (Bu Suparti adalah istri Pak Supriyanto).

Sendratama telah menjadi komoditas milik Sulang dan para personelnya mulai tersohor sampai luar daerah. Sendratama sering dapet job luar kota. Tidak jarang para personel harus jalan kaki kalau rumah yang hendak nanggap letaknya jauh dari Sulang. Semua alat musik dan pendukung lainnya dipikul bergantian. Wah..wah..wah …cah saiki opo gelem?

Seperti kalimat “Ada awal pasti ada akhir”, setelah hampir 1 windu eksis sebagai kelompok seni akhirnya Sendratama mulai redup. Bukan karena ada masalah internal antaranggota tapi semata karena semakin berkurangnya jumlah personel. Banyak dari mereka harus meninggalkan Sulang untuk sekolah, nikah ataupun cari nafkah ke luar daerah. Dari beberapa tokoh Sendratama yang saya temui, sebenarnya mereka masih ingin menggiatkan lagi Sendratama, namun kenyataan berkata lain. Idealisme terpaksa dipincuk rapat dalam sebuah harapan. Kebutuhan mengurus keperluan pribadi lebih penting, emang!!.

Beliau para mantan artis Sendratama-pun sebenarnya masih ingin nama Sendratama digemakan oleh pembawa acara walau hanya acara 17 Agustusan, atau Pranata Adhicara khitanan atau mantenan. Bahkan nama Sendratama-pun boleh dipakai lagi oleh muda Sulang yang ingin membangun sebuah kelompok Seni Drama. Ayo siapa tertarik ??

Semoga Muda Sulang semua tidak membaca tulisan ini hanya sebagai pe-mincuk kenangan saja. Kalo ada ide ingin membangun Sendratama baru silakan dirembug bareng-bareng. Jangan pernah memikirkan apa hasilnya yang penting maju terus pantang nyundul, eh mundur ding !!!

11 thoughts on “Sendratama

  1. @Duitor: Opo kowe gak eling jamane pentase wong tumo2 ning baledeso? Iku wae wir wuapit, meneh sing jaman dhisik, rak isih orisinil tenan yo le? Kapan yo aku dijak omong-omong karo mangan serabi winong?

  2. ya sudah mbikin saja persiapan dramanya sekarang ,buat tujuh belasan nanti lho,pasti pak camat anyar ndukung…nggih tho pak kidh..

  3. @Duitor: Okai, Du, silakan. Kalo ketemunya di kancab redaksi SO (mgn net) rasanya kok nggak leluasa ngomong, sebab nyambi browsing tentunya. Lha dene urusan minum dsb itu kan dah ada seksinya gitu loh, kita tinggal mancal. Kalo pas ada ya mari diminum, dene kalo nggak ada ya kita terima saja. He he he….

    @walikota: kok lagi klihatan, Wal, apa lagi persiapan ngliput ISL antara PSIS vs Persijap?
    Atau tadi ngliput PSIR vs Persego ya?
    Ya, saya setuju kalo perintis seni dikumpulin, diajak dialog, dll, pasti bermanfaat bagi warga kita. Makasih pak walkot….

  4. hanya sebatas dengar, gak pernah lihat aksinya…..namun ku yakin pasti heboh adanya. gimana kalo seniman kawakan dikumpulin, dipentasin, terus di tepukin,….pasti nggregetin n ngangenin. iya in,….

  5. Siap, tapi gak usah ada teh panas segala njih pak . Bukan menolak, tapi rasanya kalau disuguhi tuh kayak tamu yang cuma sebulan sekali berkunjung. He he he

  6. Sendratama, ya, ini juga salah satu monumen sejarah seni budaya Sulang. Kalok Mas Dui mau dan ada waktu, saya juga punya sedikit catatan untuk melengkapinya. Okai, kapan2 silakan ngomong dengan saya. Pokoknya saya athungi jempol buat ketelatenan dan kejelian Duitor Sulang Online.

  7. Betul mas didik. seorang teman juga pernah bilang, ibarat kata, Sulang itu Jeladrenane sudah bagus tinggal menyediakan loyang dan oven. Kalau di biarkan, adonan itu bisa bikin bantat tuh roti he he he.
    Salut buat generasi pendahulu dan juga generasi kini yang masih peduli dengan Sulang.

  8. Semakin menegaskan kemutlakkan ‘fatwa’ Pak Kid, bahwa di Sulang banyak kader-kader budayawan.
    Ternyata darah seniman memang diwariskan turun-temurun dari generasi pendahulunya.
    Bagus Mas Dui, jejak peninggalan seperti ini harus didokumentasikan. Inilah bukti tingginya peradaban budaya warga Sulang jaman baheula yang patut diteladani dan dilanjutkan oleh generasi sekarang.

  9. saya pernah lihat acara itu sekitar tahun 1977 di tegal geda sewaktu ditanggap. ya waktu itu sebuah hiburan yang menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s