Kupas Ringan Lagu Kebangsaanku

bataviase.wordpress.com
bataviase.wordpress.com

Untuk Meningkatkan Rasa Patriotik dan Nasionalisku

Teks: Ki Dhalang Sulang

Wage Rudolf Soepratman (1903-1938), seorang anak bangsa yang dilahirkan di Jatinegara Jakarta, pada 9 Maret 1903, telah menggebrak dengan harmoni melodi yang meliuk-liuk indah dan patriotik lewat gesekan biola tuwa. Proses pentiptaan yang tak kenal telah menghasilkan karya besar, yang kemudian diakui, diangkat, dan dikukuhkan sebagai lagu pengikat nasionalisme, oleh para patriot dan pejuang pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Lagu ini pertama berkumandang secara resmi tanggal 28 Oktober 1928, saat penutupan Konggres Pemuda yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. Karena kekuatan harmoni dan syair patriotik yang luar biasa, dengan cepat lagu ini popular di mana-mana, yang ketika itu tengah bangkit mengenyahkan para penjajah dan durjana di negeri Nusantara tercinta.

Bahkan konon menurut riwayat, setiap para pejuang kita mendengar dan menyanyikan lagu ini, seolah ada darah segar mengalir di tubuhnya. Timbullah berlipat ganda semangat dan keberanian untuk bertempur secara fisik dan non fisik melawan para penjajah. Di benak para pejuang kita tertatam suatu tekad “Merdeka atau mati”. Sungguh luar biasa kandungan penanam jiwa lagu ini.

Pada saat pengibaran bendera pusaka Merah Putih di depan Gedung Pegangsaan Timur Jakarta, 17 Agustus 1945, lagu ini berkumandang secara resmi untuk pertama kalinya setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sejak itulah karya sosok komponis besar W.R. Soepratman ini ditetapkan sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Hingga kini lagu itu terus berkumandang di bumi Indonesia, di setiap acara dan upacara resmi yang dilaksanakan di bumi Nusantara. Lagu Indonesia Raya telah membuat kita semua merasa jadi bangsa yang besar, sejajar dengan bangsa-bangsa yang merdeka di seluruh dunia. Benarkah?

Beberapa Pertanyaan Ringan

Sejak kanak-kanak kita telah dikenalkan lagu tersebut oleh orang tua dan para guru kita. Kita semua hampir setiap saat mendengar atau bahkan ikut larut menyanyikan lagu kebangsaan kita.

Untuk itu marilah sejenak mereduksi ingatan kita, pada saat ikut menyanyikan atau mungkin sekedar ikut mendengarkan berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, baik secara langsung, lewat media visual, maupun non visual. Apa yang kita rasakan?

Marilah kita bayangkan kembali saat-saat kita menyaksikan pengalungan medali emas untuk atlit Indonesia pada even-even olah raga di tingkat regional maupun internasional, saat-saat pengibaran sang saka Merah Putih dengan iringan instrumen lagu Indonesia Raya. Apa yang kita rasakan?

Juga waktu kita menyaksikan langsung maupun hanya lewat televisi, pertandingan-pertandingan tinju profesional untuk perebutan gelar pada suatu kelas antara jago kita dengan petinju luar negeri. Sebelum pertandingan dimulai pasti dikumandangkan lebih dahulu lagu kebangsaan masing-masing petinjunya. Salah satunya pasti lagu Indonesia Raya. Apa yang kita rasakan?

Kita pasti pernah mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih setiap hari Senin di sekolah-sekolah kita dahulu, atau bahkan kita pernah menjadi tim koor pembawa lagu kebangsaan itu sendiri. Kita juga sering mengikuti upacara bendera pada hari-hari nasional. Bahkan setiap setahun sekali, pada tanggal 17 Agustus kita mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi. Dengan mengangkat tangan kanan kita ke depan daun telinga kanan sebagai penghormatan pada sang saka

Merah Putih. Pandangan mata kita mengikuti gerak bendera yang pelan-pelan naik ke atas menuju puncak tiang. Telinga kita mendengar instrumen lagu oleh korps musik maupun nyanyian tim vokal lagu kebangsaan kita. Apa yang kita rasakan?

Tentu kita masing-masing mempunyai kesan sendiri-sendiri. Namun pada umumnya kita akan merasakan segenggam kebanggaan. Bangga pada Merah Putih yang tengah berkibar-kibar tertiup angin di atas sana. Atau mungkin bangga pada korps musik dan tim paduan suara yang khidmat melaksanakan tugasnya. Bahkan kita saling bangga pada peserta upacara termasuk kita sendiri yang tampak teratur rapi gagah perkasa. Semua itu adalah implementasi dari rasa cinta kita kepada tanah tumpah darah kita, Republik Indonesia.

Dan setelah semuanya berlalu, upacara pengalungan medali telah selesai. Upacara bendera yang kita ikuti telah berakhir. Adakah kesan kebanggaan terhadap kebesaran bangsa dan negara kita masih tertanam di sanubari kita?

Sebuah pertanyaan ringan yang mungkin tidak begitu sulit kita menjawabnya secara ringan pula. Namun apabila kita mau jujur kepada diri kita masing-masing, pertanyaan ringan tersebut sungguh tidak mudah untuk menjawabnya. Sebab, apa yang mesti kita banggakan pada kondisi dan situasi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini?

Tiap hari kita selalu disuapi warta dan berita yang membuat dada kita semakin sesak rasanya. Baik lewat media cetak maupun elektronik, bahkan dari mulut ke mulut.

Berita tentang kekeringan di sana-sini. Banjir di mana-mana. Sekelompok warga yang kelaparan di pojok-pojok negeri. Raja tega yang membuat atraksi mutilasi tak kunjung henti. Belum yang sembako begitu, yang minyak begini, yang pupuk begini dan begitu. Belum lagi yang saling kepruk dan saling serang antar warga sendiri, antarkeluarga sendiri, antarsahabat sendiri, bahkan antara anak dan bapak, antara bapak dan ibu, antara ibu dan anak. Belum lagi carut marut wajah perpolitikan, perekonomian, dan lain-lain, tentu saja termasuk dunia perkorupsian.

Wah! Bukan main! Sebuah pertanyaan ringan muncul lagi di sini: kapan semua itu akan berakhir?Jawabannya harus ringan pula: sebentar lagi. Oleh siapa? Oleh kita bersama-sama. Mungkinkah? Pasti mungkin.

Caranya? Salah satunya dengan kesadaran bersama untuk menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme yang terasa makin tipis, lewat kupas ringan tentang makna yang terkadung dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bait per bait, namun yang ringan-ringan saja, misalnya seperti kupasan ringan di bawah ini.

Kupas Ringan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Bait pertama:

Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru: Indonesia bersatu

Bait ini mengandung makna yang terkait dengan hak asasi kita, baik secara individu maupun bersama-sama. Siapa pun warga negara Indonesia berhak untuk bertempat tinggal, beraktivitas, dan berbudidaya secara bebas untuk mencari penghidupan yang layak. Siapa pun berhak untuk menjadi “pandu ibuku”, yaitu panutan atau saling memberi suri teladan dalam berjuang demi terwujudnya cita-cita bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat , serta hidup secara adil dan makmur. Bait ini sekaligus juga mengingatkan kepada kita semua agar tetap bertekad untuk “Indonesia bersatu”, yaitu pengakuan nasionalisme dan patriotisme untuk tetap bersatu padu, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Indonesia.

Bait kedua:

Hiduplah tanahku, hiduplah negriku

Bangsaku, rakyatku semuanya

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

Kita harus tetap mempertahankan kehidupan tanah air, negara, bangsa, dan rakyat Indonesia. Kemerdekaan yang kita raih harus tetap kita pertahankan sepanjang masa. Setiap individu dan secara bersama-sama harus bertekad dan berbuat untuk membangun, berkarya nyata untuk bangsa dan negara Indonesia, sehingga tetap berdiri kokoh dan sederajat dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Kesemuanya itu dapat diwujudkan hanya dengan bermodalkan jasmani dan rohani yang sehat, serta hanya dengan satu tujuan untuk Indonesia Raya tercinta. Jiwa patriotik dan kesadaran rasa nasionalis sejati perlu tetap dibangun dan dipertahankan.

Bait ketiga:

Indonesia Raya, merdeka merdeka

Tanahku, negriku yang kucinta

Indonesia Raya, merdeka merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

Bait terakhir di atas menandasan bahwa negara kita adalah negara yang besar (Indonesia Raya). Kita harus tetap mempertahankan kemerdekaan tanah air, bangsa, dan negara Indonesia yang kita cintai. Disebut negara besar karena pada kenyataannya Indonesia merupaka Negara kepulauan terluas di dunia. Penuh keunikan, kekhasan, dan berpotensi besar. Baik Sumber daya, letak geografis yang strategis, di antara dua benua dan dua samodera. Terdiri dari banyak etnik, kaya ragam budaya, bahasa dan potensi sumber daya manusia serta alamnya. Kalau kita mampu tetap bersatu padu, niscaya bangsa dan negara Indonesia akan tetap hidup lestari sepanjang masa.

Simpulan Ringan

Dengan memahami makna lagu Indonesia Raya, niscaya jiwa patriotik dan nasionalis kita akan tergugah. Sedangkan jiwa patriotik dan nasionalisme akan dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Kalau kita tetap bersatu dan terus bersatu, maka segala krisis multi dimensional seperti yang kita alami sampai saat ini, akan segera dapat kita sirnakan. Indonesia Raya yang tetap merdeka, dengan rakyatnya yang hidup layak sebagaimana bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Hidup makmur penuh keadilan, dan hidup adil penuh berkemakmuran., sebagimana yang telah dicanangkan oleh para pendahulu kita. Semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan meridloi kita semua, hingga tetap jayalah dan hiduplah Indonesia Raya.

Akhirnya ada sebuah lagi pertanyaan ringan: Mungkinkah?

Dan pasti ada jawaban ringan pula: Sangat mungkin, asalkan kita tak lupa membangun jiwa patriotik dan nasionalis secara serentak dan bersama-sama. Salah satu caranya adalah dengan bersenandung dalam hati kita masing-masing di waktu-waktu luang, dan sejenak merenungkan makna syairnya, lagu Indonesia Raya. Mengapa kita tak mencobanya?

61 thoughts on “Kupas Ringan Lagu Kebangsaanku

  1. Genderane nggak berwarna tapi bawa rasa gicu loh! Dan ini murah meriah, karena harganya merupakan kesepakatan berdasarkan hasil musyawaroh….. yang ndak boleh ketinggalan, harus ada sebuah frase penting “Saya terima……. dst… he he he he he (@ Dusone: harap sabar dikit nunggu nomor urut ya, xixixixixixixsss)

  2. Genderane nggak berwarna tapi bawa rasa gicu loh! Dan ini murah meriah, karena harganya merupakan kesepakatan berdasarkan hasil musyawaroh….. yang ndak boleh ketinggalan, harus ada sebuah frase penting ” Saya terima……. dst… he he he he he (@ Dusone: harap sabar dikit nunggu nomor urut ya, xixixixixixixsss)

  3. Gendarane Gus Gobang khusus loh! Ngerek layar terkembang sebuah bahtera, dan perlu dikawal pasukan khususnya Duitor….. Rowdaat
    xixixixixixix………….

  4. gendera -abang, ijo, kuning, putih- ada semua,,tinggal pilih,,dipilih dipilih,,tgl 9 april,,

  5. @ semua: Komentar2 yang sensual untuk mengingat, membangkitkan gairah, dan juga membekali “aliran darah” yang tlah lama mengering karena kita belum bisa melihat bendera berkibar, Indonesia Raya berkumandang saat kita berprestasi.Kapan ya???????

  6. Ha ha ha… iya ya, Duz. Terus ‘kapan kapan’ harus diganti apa coba? apa dijawakno ‘mbesuk mbesuk’ ya? Oh ya, puisi2 Anda telah saya lahapi. Tapi belum semua. Baca puisi memang harus sabar dan diulang-ulang. Yok tulisannya ditambah lagi biar cepet penuh webnya. Ongkrik?

  7. @Dwiyoga: Mumpung ada waktu, Du, saya tak nyaingi si raja komen dari Malang,he he he…
    Memag betul, Du , segalanya memang perlu memperhatikan ’empan papan’, termasuk etika membawakan lagu-lagu perjuangan. Namun yang ada peraturan khususnya memang cuman lagu Indoneia Raya. Tapi kalok sekedar bersenandung sendiri dan ngangen-angen kadungan makna lagunya, nggak ada peraturannya kok. Hehehe… siapa tahu kita menemukan sesuatu yang menurut Anda bisa ketelingsut, spirit patriotik.

    @Pak Walkot: Sebenarnyalah, yang saya harapkan sebagai pionir-pionir untuk kebangkitan warga Sulang, lebih luas lagi warga negara kita, salah satunya termasuk Anda loh. Kalok nggak sekarang, terus kapan lagi, yang peting bukan ‘kapan-kapan’. Ho ho hooooo.

    @Gus Gobang: woalah! kesan menyanyikan lagu Indonesia Raya di markas Brawijaya belum ditulis loh!

  8. @Editor: Apa kabar? Gimana nih? Apa ini suatu fenomena model wayangan SO ya?

    @Wowod: lama nggak tilik SO, men! Ya, itulah, untuk memperoleh spirit melawan, kita harus dihadapkan lawan. Dalam keadaan terjepit oleh lawan, timbullah spirit melawan yang berlipat ganda. Kalo dulu para pendahulu kita terjepit oleh agresivitas penjajah, dan… kini kita didesak oleh musuh yang lebih hebat, yaitu kemiskinan, kebodohan, primordialism, kapitalism, premanism, anarchism, dll. Inilah saatnya kita bersama-sama bangkit melawannya. Namun sekali lagi hal ini lebih mudah diomongkan dari pada diimplementasikan. Akan tetapi kita tak boleh merasa kalah sebelum bertanding, dan cuman berpangku tangan saling menunggu, okai, men!
    Ngomong2 kamu dah ngisi pendaftaran komunitas blogger SO belun ya? He he he….

  9. Bangunlah jiwanya…bangunlah raganya… untuk Sulang, untuk SO, untuk menumbuhkan kesadaran; bahwa sadar adalah keterjagaan dari ketidaksadaran, ketidak tahuan, ketidak pedulian dan ketidak lainnya yang menjadikan kita menjadi pribadi egois yang tak peduli sekitar.

    Pak Kiids…..dari hari ke hari tambah keren banget nihye…

  10. Saya juga pernah pake nada tunggu “Maju Tak Gentar”, komentar yang nelpun saya juga sama, nasionalis banget katanya. Sungkan kalau hanya dibilang sok nasionalis akhirnya tak ganti saja dengan lagu yang disukai anak muda. Sampai sekarang saya masih nyimpen kode2 nada tunggu lagu kabangsaan.
    Saya setuju pendapat mas DiSa ( Didiksalambanu ) menggunakan lagu kebangsaan musti empan papan. Salah salah lagu “Syukur” dinyanyikan artis “Koplo” pake goyang ngebor berdandan kostum mau tidur!

  11. Membaca ulasan dari babe kid yang terkupas tuntas,tidak salah jika Lagu Indonesia Raya begitu merasuk ke jiwa semangat para pejuang kita di era pra kemerdekaan,karena Lagu kebangsaan kita ini penuh dengan syair yang menggetarkan jiwa raga sehingga muncullah patriotsme terhadap bangsa kita.Tetapi apabila kita tidak “melawan orang asing” kayaknya tidak akan bertambah jiwa patriotisme kita walaupun dah mendengar lagu kebangsaan.Tul nggak pren?Inilah uniknya bangsa kita.

  12. @Mas Didik Salambanu: Ha ha ha…. ini ada cerita nyata lagi tentang ringtone favorit, sampai kini masih dapat dibuktikan beneran. Embah putrinya Wowod dan Ndura (Bu Mino) itu ringtone-nya pakai lagu wajib “Halo Halo Bandung”. Ndak mau ganti2 hingga kini. Ringtone setingan sendiri dg hp nokia yang agak kuno (seri N375 atau berapa ya?). Saya sendiri nggak tahu alasan beliau. Saya cuman mbatin: nasionalis buuuanget ini orang…. he he he….

  13. Pak Kid, saya pernah nyoba (ngga lama sih) pake ringtone lagu “hening cipta”. pernah malem2 bunyi, eh jadinya malah merinding Pak. Serasa didatengi arwah para pahlawan. Hahaha…
    kl menurut saya pribadi ngga pas pak lagu2 perjuangan dijadiin ringtone. menurut saya itu lagu suci, lagu pengiring momen dan peristiwa bermakna bagi bangsa Indonesia. tidak bisa seenaknya dipake…kedah empan papan dan empan wektu.

    Makasih Pak Kid sampun bertamu di blog saya. Sampun kulo reply komen dari Pak Kid. Saya sempatkan untuk selalu mengupdate jika ada berita, cerita or pengalaman baru. Semoga memudahkan kita untuk terus berinteraksi, tukar kawruh dan dan sharing pendapat.

  14. @Mas Didik: Idenya bagus juga, saya coba dulu ya, tambah patriotik apa tambah lucu ya? O iya, Mas, blog Anda yang di wordpress dah saya jenguk loh! Termasuk sate kelinci telaga sarangan dah saya lahap habis, nikmat banget. Silakan dihimpun terus ya, menu kuliner Nusantaranya. Sekarang saya jadi lebih simple ngasih komennya, he he he….
    @Cah Pasar: Maung Bandung, lama lagi mengaum. Apa kabar? Saya juga sering kok, waktu shalat Jumatan tiba2 denger dering hp. Namun suatu saat ada yg jokes banget, ringtonenya malah bunyi lagu “silent night”.

  15. jadi ingat kejadian waktu sholat sunat disebuah mesjid,ada seseorang disebelah sy ketika sholat hpnya bunyi kebetulan ringtonenya indonesia raya,lha itu dari rokaat pertama sampai akhir indonesia raya terus berkumandang,lalu sy memilih keluar mesjid saja membuang ketawa…hak..hak..

  16. Pak Kid, bagaimana kalo kita menggalakkan pemakaian Lagu Indonesia Raya sebagai ringtone (nada dering) ponsel kita?
    Setiap terima telpon, semakin bertambah kecintaan terhadap tanah air.

    Ngayal ya! hehehe…

  17. @Pak Totok: sepantasnya… setiap waktu… ingat lagu kebangsaan… Amboi, Pak Dhe! saya jadi punya usul ringan, bagaimana seandainya diadakan festifal menyanyi lagu kebangsaan khusus bagi para caleg kita? Pasti heboh deh! Hahaha….
    @Gus Gobang: bagaimana ya, rasanya diwisuda dg iringan lagu Indonesia Raya? Ingatkah Anda?
    @Duitor: yang bisa ketelingsut ternyata bukan hanya uang saja ya, Du, spirit ya bisa nyaris ketelingsut je. Setujuuu banget.

  18. Indonesia Raya. Sebuah jiwa dalam nyawa siapapun yang ber KTP Indonesia. Tulisan pak Kidhal seperti menemukan kembali spirit yang nyaris ketelingsut.

  19. @Dusone: Ho’oh, sayang, maksud gua d/u/s/o/n/e xixixixixixixxixixix

    @Sakti62art/P Anom: wah, nek ngumbulke orang jok penthit-penthit dong, saya malah mbediding je, ah!
    Lepas dari itu saya senang banget kalo Pak Anom sering berkunjung ke SO nemenin saya ‘tuk bercanda, ber-kangen2an, berbagi ide, berbagi kritik, berbagi kenangan, dll, bersama sahabat2 kita. Sembah nuwun.

  20. @kidhal…situsnya bukan rumahmattahari, kalau itu mah email, situsnya ya dusone…hehheee…ben gak keliru ning omahe tanggane boss….

  21. Wah! tiba-tiba saya baru teringat bahwa Lagu Indonesia Raya mengandung pesan yang begitu kuat untuk membangun kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Memang kita layak mencoba seperti ajakan Ki Dhalang kita. Walaupun dikatakan “kupas ringan” tapi sejatinya merupakan pesan paradoksal. Saya cukup hapal kok gaya Ki Dhalang, karena saya sering sapejagong dg beliaunya. Ki Dhalang sering menggunakan bahasa simbolis, seperti pribahasa Jawa ‘nggutuk lor kena kidul’ hehehe, salut saya buat Anda, Pak Kidh. Salam untuk Editor dan blogger SO semua.

  22. @Pak Totokyc2tdp: ya, memang luar biasa kandungan harmoni dan syair lagu tersebut. wah maaf ya temen2 SO Commuty, kalok komen saya terasa kayak orang kaul aja, terutama mohon maaf untuk Boss Editor SO-nya, kwek kwek kwek….. O ya satu lagi boleh Gus Uud?
    @Dusone: setuju banget. Lagu Indonesia tanah air beta (Indonesia Pusaka) juga salah satu lagu perjuangan favorit saya. Dan, eh, tentang puisi melankolik Anda di situs rumahmattahari sdh sering saya jenguk. Namun, mungkin dasar mata saya sdh mengalami degradasi degeneratif, maka saya tak bisa ngasih respons, sebab sulit temukan kotak- kotak untuk nulis pesan, email, blog. Desain web Anda indah, tapi background-nya gelap je, tapi ya nggak apalah nanti tak cobane lagi, ongkriiik Duz.

  23. @Mas Didik Salambanu: makasih tambahan info untuk monumen dan prasasti pesan patriotik WR Sopratman. Pasti sangat bermanfaat bagi kita sbg generasi penerus bangsa, asal kita secara bersama-sama, besatu padu dan berjiwa patriot. Namun hal ini memang lebih mudah diomongkan atau ditulis, sangat sulit dikerjakan, rasanya bagaikan mimpi. Tetapi kita juga tahu bahwa banyak karya besar anak bangsa yang berawal dari mimpi. Semoga mimpi indah kita termasuk di blog ini bisa jadi kenyataan. Sangat mungkin atas ridlo Alloh tentu saja. Okai, men.

  24. Totally agree dengan tulisan Pak Kid.
    Lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah “lem perekat” komunitas bangsa Indonesia, yang beragam suku, adat istiadat, agama dan identitas daerah masing-masing.
    Ada fakta menarik.
    Bila tanggal 17 Agustus adalah hari kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut adalah tanggal mangkatnya WR Soepratman. Beliau wafat 17 Agustus 1938.
    Ini saya kutipkan pesan terakhir sebelum beliau meninggal, yang kata-katanya diabadikan di komplek makam WR Soepratman.

    “Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal. Saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka.”

    Siapa yang tidak bangga memiliki sosok Pahlawan seagung WR Soepratman?

  25. @Si Kembarbulan (Gus Uud): rasa haru memang pertanda adanya ikatan yang kuat, sedang di saat upacara sekolah dulu kok rasanya biasa biasa saja, itu juga sama dengan yang saya rasakan. Mungkin jaman sekolah dulu kita merasa ada keterpaksaan karena takut Pak Guru dan Bu Guru. Hi hi hiks….

  26. sebetulnya kalau saya mendengarkan lagu indonesia raya dan menyanyikan lagu itu badan terasa merinding entah karena apa.tapi yang jelas lagu itu terasa sekali untuk saya rasakan rasa kebangsaan dan rasa nasional sebagai warga bangsa indonesia

  27. Tapi saya selalu terharu setiap melihat tayangan atlet nasional kita yang sedang menerima medali di arena internasional. Tapi kalau pas upacara bendera jaman sekolah kok tidak merasa begitu, ya? Salahkah bila saya tidak selalu terharu jika mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s