Menepis Mimpi, Membuka Hari (1)

Pak Naim Sang Pemimpin

Teks: Didik Salambanu

Tatkala kokok ayam jantan saling bersahutan membangunkan fajar. Membuka pintu menyambut tibanya pesona pagi. Dan gaung kumandang ayat-ayat suci dari pengeras suara Musholla Nurul Huda. Mendayu-dayu ke setiap sudut Dusun Dologan nan permai. Menembus dinding hati setiap insan yang mendengarnya, seolah rangkaian kata-kata rayuan mesra dari langit bagi yang beriman untuk bersegera bersimpuh di hadapan sang Khalik.

Pak Naim beranjak dari pembaringannya nan hangat. Diusirnya aura kemalasan. Diagungkannya nilai ketakwaan. Ditinggalkannya mimpi indah namun sejatinya semu, bergegas menuju kiwan nan sederhana di belakang rumah, untuk membersihkan badan. Berwudhu menyucikan diri.

Lalu dipakai busana religiusitasnya. Baju koko hijau pupus polos tanpa ornamen, dipadu bawahan sarung tenun putih dengan corak lembut garis kecoklatan, yang warnanya pun mulai memudar dimakan guliran waktu. Disematkannya di atas kepala peci putih favoritnya, yang berbahan rajutan benang-benang yang direnda secara apik oleh pembuatnya. Dan tak lupa dibelitkannya surban merah maroon barunya di leher. Surban tanda cinta dari istrinya.

Langkah kakinya pun diarahkan ke musholla yang tak seberapa jauh dari rumah. Bangunan peninggalan leluhur bumi Dologan yang belum lama ini selesai dipugar.

Muadzin pun melafalkan kalimat adzan, memanggil setiap hamba Allah untuk cepat-cepat memenuhi shaf musholla yang masih kosong, yang biasanya pun hanya dua baris yang terisi. Sembari menunggu sebagian jamaah mengerjakan sholat sunah fajar, disambungnya dengan menyanyikan syair-syair lagu pujian buat Pemimpin Agung, Nabi Muhammad SAW.

Semenjak ditunjuk menjadi imam musholla, Pak Naim pun untuk mengemban amanah menjadi warasatul anbiya, pengayom kaum muslimin-muslimat di kampungnya. Dijadikan panutan dan teladan, sandaran pertanyaan masalah keagamaan, atau konselor problematika hidup warga Dologan. Pemimpin spiritual.

Beliau merupakan etalase berjalan seorang hamba Allah yang berbalut baju keislaman nan tebal. Di kala goda dunia makin nyata adanya, hanya ulama-lah yang mampu mengingatkan dan membimbing umatnya dengan petuah bijak dan kata-kata penyejuk.

Tak terkecuali di ambang pagi ini. Kakek satu cucu ini memikul tugas menjadi imam sholat shubuh di musholla tempat masa kecilnya belajar mengaji, yang dari namanya bermakna sang cahaya petunjuk.

Semuanya larut dalam kekhusyukan ibadah sholat shubuh yang dipimpin pria paruh baya ini. Disempurnakan dengan dzikir panjang sesudahnya. Ngudo roso mencurahkan isi hati di altar Sang Pencipta. Penuh doa dan pengharapan agar dimantapkan niat mengisi hari ini dengan amal ibadah, dilapangkan jalan penghidupannya, dikaruniai kesehatan lahir dan batin serta dianugrahi keberkahan hidup.

26 thoughts on “Menepis Mimpi, Membuka Hari (1)

  1. @Ki Dhalang: Haiyaaaaaaaaah….saya ini cuma petani kata-kata yang mencoba menanam kata di ladangkata. Panennya, monggo dinikmati…

    @Pak Didik: Salam kenal kembali…nunggu editor Sulang untuk menampilkan tulisan berikutnya..:)

    Siap, Mbak Icha. Naskah Mas Didik tidak takedit kok. Wong sudah bagus. Omong-omong, njenengan ulang tahun ya kemarin?. Selamat, ya. Coba Anda mau datang ke Sulang, pasti dirayakan seru tuh.

  2. @ladang kata.
    Sebenarnya kisah kehidupan Pak Naim sudah selesai saya tulis Teh Icha, dan semuanya sudah masuk di meja redaksi Sulang Online. Mungkin baru proses editing, maklum yang nulis juga masih tahap belajar, jadi narasi-narasinya perlu banyak pembenahan. Jadi sabar yah.
    Tak lupa, salam kenal ya Teh Icha.

  3. Madar kawa! “Dewi Penguasa Dunia Kata” dah turun dari Kahyangan Jonggring Saloka. Ada wisik apa gerangan? Ladang katanya apa sudah ada semaian baru, Teh Icha? Kemarin saya “injen” kok belum ada, hi hi hiks…. Sembah nuwun “nganglang jagad” nya di SO.

  4. Tulisan Pak Didik renyah dan enak sekali dibacanya. Mengalun pelan, tak tergesa-gesa mengajak pembaca untuk larut di dalamnya.Pas dengan kontennya. Tak sabar nunggu lanjutannya, Pak…

  5. Tul Mas Didik! Kang Turam memang jago juga di bidang romantisme. Salah satu ‘prasasti kata’ yang mengindikasikan betapa ‘romantisnya’ Kang Tarom, dpt ditelusur lewat situs web pribadinya ‘Kamituwo’-nya, misalnya pada artikel ‘Taman Bukit Sumber Semen’nya, hihihiks. Silakan dijenguk klo ada waktu luang. Okai?

  6. @walikota. Sakbenere sopo sing romantis je Kang Turam? Biyen pas awakke dadi konco sekolah, malah sampeyan sing diidolake konco2 tho? Lha mergo ngerti yen sampeyan kui wonge romantis, pinter ceramah, jago nyanyi lagu2 syahdu-ne Bang Rhoma, wasis olehe nggoda lan njupuk atine konco2 wedok. Istilahe sakiki selalu tebar pesona…:))

  7. Inspirasi tulisan ini datang ketika saya ujug2 teringat bahwa saya dulu pernah menjadi bagian dari keluarga Pak Naim, meski tanpa ikatan darah atau garis keturunan. Ra dulur ning dadi sedulur.
    Beliaulah orang tua kedua saya, dan alhamdulillah, saya pernah mencicipi suka dukanya hidup bersama keluarga penyadap air legen, merasakan rekosone dadi wong tani.
    Apa yang saya tulis adalah kenangan 10 tahun silam, saat 24 jam hidup di rumah Pak Naim. Dan semampu saya mengingat-ingat tiap sisi kehidupan Pak Naim kala itu, yang semoga tidak ada yang terlewat saya menuliskannya.
    Jadi kl semua tulisan saya ini semuanya telah naik tayang di SO, pasti banyak bolong-bolong kekurangannya, baik soal redaksi, ataupun penggambaran detail sosok kehidupan Pak Naim kala itu. Apalagi setelah jadi kaum urbana, semakin menyempitkan ruang bersilaturahmi dengan beliau.
    Namun, Pak Naim akan selalu bersemayam di hati saya, atas sikap hidupnya, wejangan2nya dan budi baiknya kepasa saya selama ini.

  8. @ all, makasih atas komennya, Pak Kid, Gus Ed, Mas Gobang, Kang Turam.
    Di luar tema tulisannya, saya malah pengen dipecut lagi sama bloger2 SO, ditegur lewat kritik membangun masalah narasi, tata bahasa maupun cara penulisannya.
    saya pun baru2 ini saja mulai menulis, setelah sadar, banyak momen2 kehidupan yang touching my heart, yg sayang kl tidak diabadikan melalui tulisan. seminggu masih membekas di memory, tak ada yang menjamin setahun kita masih persis mengingatnya…prasasti kata2 yang akan kekal menyimpannya.

  9. Pancen Kang Gendut kui ket mbiyen romantis. Meng isen yen arep ngetokke wae….he e.Ra heran tulisane jan enak di baca. oke coy!

  10. Leser, eh leres, Gus Ed, itulah salah satu dari sekian gaya bahasanya Mas Didik. Ada personifikasi, litotes, paradoks, dll. Entah paragraf yang ke berapa, saya ketemukan metafora yang cukup apik (tertulis: … Beliau merupakan etalase berjalan seorang hamba Alloh….dst). Wah! bukan main…. eh… sungguh main dhing! He he he…. Saya memang belum ngenal yang namanya P Naim. Namun ada sesuatu yang tersirat di artikel ini, yang layak dijadikan bahan renungan. Pripun Gus Gobang, Dusone, dan Cah Pasar, dan sahabat kita yang lain?

  11. Saya sependapat dengan Ki Dhalang. Jebul Mas Didik ki romantis, nggih. Ra nyangka jaman sekolahe ketoke ming ahli rumus fisika sing hwuangil. Eh, sananu kalau nulis cerita malah seperti mencurahkan mantra. Coba mari perhatikan paragraf pertama itu. leres napa mboten niki, Pak Kidhal?

  12. Sekecil apapun pasti ada nilai keteladanan hidup dari sosok Pak Naim bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
    (@Mas Didik: gaya personifikasi dan metafora-nya bagus).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s