Pande Besi, Peluang Investasi di Sulang

pande-besi
foto: Dwiyoga Nugraha

Teks dan foto: Dwiyoga Nugroho

Hujan telah memberi sejuta harapan bagi semua, yang terlupakan dari benak kita sekalipun.

Bukan hanya pupus daun saja yang seakan merebak menghiasi sekujur tubuh sulang tercinta, suka cita seluruh warga pun tak kalah riuh, para petani mulai putar otak menyiapkan rupiah menyambut datangnya tetes kehidupan ini, bukan mau syukuran nanggap wayang tapi siap siap rupiah hendak ada gawe tahunan, Tandur.

Dinamika perekonomian desa kita tidak seperti biasanya, Pak Tani, Bu Tani, Tukang Luku, Tukang Garu, Sewa Traktor, sewa Sedot air, buruh Ndaud, Agen pupuk bahkan Perbankan pun siap siap ketiban berkah dari langit. Musim Rendheng telah datang.

Sobat blogger pernahkah terbersit ada komponen lain penunjang pertanian desa kita? Ya betul, salah satunya adalah Pande Besi, kalo Presiden Barrack Obama bilang itu namanya black smith.

Di Sulang kalo saya gak salah ngitung, ada sekitar 3 bengkel Pande Besi yang pandai ilmu tekuk besi. Di Tegalgede ada 1 workshop yang dikelola Kang Kasmin dan Almarhum Mbah Bayan Deblo. Biarpun sekarang masih terima pesenan sepuh-tekuk pacul arit kayaknya itu hanya buat usaha sampingan saja dikarenakan usia Kang Kasmin sudak tak mendukung lagi. Di Gaplokan Sulang juga ada 1 bengkel tapi sekarang kayaknya udah gak ada bekasnya.

Nah yang satu ini mungkin masih bisa dikunjungi hampir saban hari, sebuah bengkel “sepuh-tekuk-bikin-servis” segala macam alat pertanian yang belokasi di Segong-Sumberjo-Banyurowo. Digawangi 5 orang Crew yang masih muda dan bertenaga menjamin pesenan bisa segera di order sesuai keinginan dan lebih tepat waktu.

Dengan biaya Rp.10.000,- cangkul tumpul tajam kembali. Teknik sepuhnya menggunakan tungku sederhana yang suhu bara apinya di kendalikan dengan pompa manual. Jangan salah kira kalo prinsip kerja para Blacksmith di desa ini bisa dilakukan tanpa latihan. Mereka sudah bertahun tahun hafal betul karakter material / bahan yang mau di garap. Setelah beberapa saat di panggang dalam bara arang, perkakas lalu di celup air, nyelupnya pun gak seperti nyelupin roti dalam susu, butuh kecepatan dan ketepatan, salah salah pacul sodara bisa keriting gara gara muai tidak merata.

Pak Jamal di Santren Tegalsari sudah mengelola bengkel ini sejak lama. Dibantu kerabatnya asal kota Blora dan beberapa pekerja lepas mereka siap melayani segala kebutuhan para petani terkait dengan perkakas pertanian. Selain servis alat tani, mereka juga bikin baru. Bahkan mereka telah memiliki jaringan pemasaran yang lumayan luas, salah satu rekanan mereka adalah Pak Haji Jamian (Suami Bu Hajjah Ratmi), pebisnis dari Sulang yang identik dengan alat pertanian. Kalau ingin bertemu Pak Jamian sodara bisa kunjung langsung ke rumahnya atau bisa menyambangi setiap Selasa dan Jumat di Pasar Sulang.

Namun, Pande besi kelolaan Pak Jamal ini lagi menghadapi masalah pendanaan. Karena itu bengkel ini tidak bisa memproduksi alat pertanian lebih banyak lagi. Jika masalah ini teratasi niscaya pande besi konvensional ini bisa lebih berkembang, jejaring pemasaran yang telah terajut akan tetap terjaga.

Jadi catatan khusus nih, Pande besi Sumberjo ini punya pelanggan tetap dari berbagai penjuru kabupaten Rembang, bahkan produknya limited production-nya bisa ditemukan sampai ke Blora.

Kalau ada dana sekitar 10 juta, menurut estimasi salah satu karyawan senior Pak Jamal, untuk membeli alat produksi yang lebih mumpuni, pande besi ini bisa lebih banyak menyerap tenaga kerja dan ujung ujunngnya akan lebih membantu kelancaran sektor pertanian.

Sobat blogger yang bingung invest duit buat usaha, boleh juga tuh memanfaatkan peluang bisnis pande besi yang potensial ini. Monggo dianalisis secara bisnis dulu, sapa tau mathuk.

Selamat Berbisnis Pande Besi di Sulang !

9 thoughts on “Pande Besi, Peluang Investasi di Sulang

  1. Kalau boleh tau, alat-alat pertanian made in Pak Jamal dikasih label merek apa Mas Dui?
    Soalnya, petani2 daerah Sulang sudah minded dengan cangkul, arit, bendo cs dengan cap Kaliwangan.

  2. Hal pande besi di Sulang, sampai saat ini masih dibutuhkan meski bersifat musiman (musim rendengan). Kedudukannya belum dapat digantikan oleh kemajuan iptek, sehingga masih tetap sistem tradisional. Nah, segala sesuatu yang masuk ranah tradisional pasti mengandung nilai plus-minus, tinggal dari sisi mana kita nyotingnya. Oke? Masukan yang bagus, Mas Dui. Sekaligus di sini saya menghimbau (we’eh… menghimbau) agar sahabat2 bloger (Cah Pasar, Dusone, Gobang, Sabdopalon, Didik Salambanu, Gus Baha’, dll.) segera ngeposting artikel yang terkait lomba blog “Aku Untuk Indonesiaku”. Okai pren.

  3. Di Gaplokan workshop-nya bapaknya mas Tyo kalau ga salah namanya Pak Kasdu.

    Analisa sederhana saya tentang usaha perekonomian di Sulang adalah masalah pasar (market). Masalah produksi bisa dipelajari (mulai dari awal hingga QC), tapi masalah market ini yang perlu dicermati betul dan memerlukan masukan dan keterlibatan dari banyak pihak. Ayo yang ahli mengenai analisa kelayakan usaha coba dikasih masukan.

    Bukan begitu, ker? Awakmu kok betah melek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s