Surat dari Pak Guru

pak-giman

Dulu, Sulang memanggil kami dengan sebutan “Ru” atau “Nak Mas Guru“.

Oleh: Bapak Sugiman

Salam hangat untuk rekan di Sulang Online,

Sebelumnya saya sering mendengar Sulang Online dari cerita anak saya. Karena kurang lancar mengoperasikan komputer lebih-lebih internet, sampai sekarang saya belum pernah melihat tampilan langsung Sulang Online di internet.

Walau anak saya sering menawarkan untuk ikut ke Warnetnya mas Yudi Pendek, rasanya agak pusing lihat gambar di layar monitor yang konfigurasi warnanya begitu kontras jadi saya sering menolak ajakan anak saya. Salah satu cara bagaimana saya bisa tahu tulisan di Sulang Online ya lewat print2-an yang di ambil anak saya dari blog ini. Mohon maklum kalo caranya masih tradisional.

Melihat semangat rekan-rekan yang menulis di Sulang online rasanya kok saya juga ingin menulis sesuatu di sini. Cerita tentang pengabdian rekan rekan guru pendatang dari luar Sulang, seperti Solo, Klaten, Jogja, Kulon Progo, Bantul dan daerah “Kidulan” (daerah selatan – red ) lainnya.

Saya memang bukan aseli Sulang, namun sekarang saya sudah kadung betah tinggal di daerah ini. Kali pertama saya datang ke Sulang tanggal 4 Januari 1974 saya merasa asing dengan makanan yang bumbunya pedes seperti Mangut, Mrico, Petis, ditambah lagi sambel yang menambah citarasa panas dan pedes semakin tidak cocok dengan lidah ini. Maklum saya lahir di Kulon Progo yang cuma mengenal Brongkos, Pentho, Growol, Gebleg, atau Tempe Benguk.

Selain kendala yang berhubungan dengan lidah, susahnya mencari air buat mandi di waktu kemarau menjadi kisah tersendiri. Kami biasanya mandi di sumur komplek perumahan Puskesmas lama (Karanganyar), padahal kebanyakan dari kami kos jauh dari sana. Saya sendiri kos di tempatnya Mbah Sas di Sulang Tengah (Mbah Sas adalah kakek dari bloger Ika Nugraheni alias INU, red).

Bagi kami, sebagai kaum pendatang memang harus mampu menyesuaikan lingkunan baru. Bagaimanapun keadaanya kami harus bisa menyesuaikan diri, sebab dari awal kami bertekad dan berjanji akan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Di Sulang sendiri, sebelum saya sudah ada beberapa pendahulu yang telah diterjunkan di Sulang, seperti Bp Suroso Tegalgede, Almh. Ibu Sudiyah istri Bp. Sarobah. Beliau berdua berasal dari pinggiran tlatah Mataram.

Generasi setelah saya adalah Bu Endang Ismawarti (istri mantan Lurah Suparno sekaligus ibu dari Blogger Sulang, Maskuntop dan Mas Dwi, red.), Ismi Rahayu (istri Bp Roem Basuki), Ibu Sumiyati Sulang Utara, Ibu Syamsiyah Gaplokan Sulang, Ibu Pardjiyah (pernah tinggal di belakang rumah mbak Ut rias manten, red) dan masih banyak lagi yang lewat dari ingatan saya.

Dan masih saya ingat biasanya waga Sulang memanggil kami dengan sebutan “Ru” atau “Nak Mas Guru” misal, “Badhe tindhak pundi, Ru?

Saya pertama kali ditugaskan di SMP 1 Sulang yang dulu bernama SMP Pemda. Salah satu murid saya waktu itu adalah Sunarmin (sekarang Kapolsek Sulang). Kemudian saya dipindahtugaskan ke SD Jatimudo pada awal 1795 dan diangkat jadi PNS dengan honor 7 ribu rupiah, alhamdulillah honor segitu cukup bagi saya.

Mohon maaf bila saya terlalu jauh menceritakan kisah pribadi saya. Karena begitulah mungkin gambaran perjalanan para guru pendatang dari “Kidulan” yang memang dari awal hanya bermodal semangat mengabdi demi pendidikan negeri ini, walau tidak kami pungkiri bahwa mencari penghidupan adalah realita yang harus kami perjuangkan (Alhamdulillah honor guru sekarang sudah sedikit lebih baik ).

Melalui tulisan ini, saya barangkali mewakili rekan guru pendatang dari “Kidulan” mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga desa yang telah menerima keberadaan kami baik secara profesi maupun kehidupan bermasyarakat.

Semoga Blog Sulang Online ini menjadi salah satu wadah untuk menghimpun ide generasi muda demi kemajuan Sulang. Terimakasih.

Salam hangat.

* Pengirim adalah ayahanda Blogger SO, Dwiyoga Nugroho. Beliau tinggal di RW 7 dan masih mengajar di SDN Sulang 2 (dulu SD Sulang 3).

12 thoughts on “Surat dari Pak Guru

  1. assalamu’akum Pak Giman semoga sehat selalu saya berterima kasih karena dulu pernah mengajari saya dan kawan-kawan tentang banyak hal walaupun dg murid yg yg nakal di SDN Sulang, dan cerita nya maknyuuus buaaanget sampai disitu harap maklum.
    Salam Rahma
    Thanks ya pak buat semuanya yg telah pak Giman berikan.
    Love you so much ya pak………. semuanya pokoknya manteppppppp n josssss

  2. wah pak giman buat cerita, ternyata banyak yang terkesimak setelah membacanya, saya juga teman pak giman sewaktu mengajar di MTs Tauhidiyah Pomahan . salam hangat untuk pak sugiman, semoga tetap diberi kesehatan. amin

  3. “… XIN CUN KIONG HI 2560, GONG XI FA CAI …”

    Walah senenge pak Kidh. Ayo diajaki maneh liyane.
    Monggo mas Totok, pak Mad, Bah Dowo, pak Karyo, pak Joned, dll ditenggo pak Kidhal.

  4. Welcome to “The Freedoms Park”, Sir. I like, Mr.Gee Man.
    Saya sebut “Freedoms Park” kerna di sini saya temukan sebuah habitat untuk ‘kebebasan’. Bebas berinteraksi antar generasi dan antar famili, bebas berkreasi, bebas berobsesi, dan yang tak kalah penting adalah bebas dari gagap teknologi, haiyaaa? Gong Xi Fa Cai – Wan Shi Ru Yi – Shen Ti Jian Kang – madaar kawa. Shax shax shax shax (ketawa model mandarin Zu Lang)

  5. sugeng rawuh Pak Guru…
    duh, maos tulisanipun Pak Giman dados kelingan jenatipun ibu kulo-ibu Sukartinah-kanjeng ibu ugi asli kidulan, saking tlatah Ngaglik Sleman.
    Yen mboten salah kemutan, Pak Giman satu angkatan kalih almarhumah ibu wekdal nglanjutaken program D2. Leres nggih Pak?

  6. “… old soldier never die; they just fade away …”

    Kira-kira begitulah pak Giman. Generasi selalu silih berganti sebagai kelangsungan tiga dimensi waktu yang selalu tertaut: kemarin, hari ini, dan esok pagi.
    Sugeng rawuh; akhirnya pak Kidhal ada yang ngancani.
    @ pak Kidhal : tambah gayeng ya pak Kidh, ono mas Totok, saiki disusul pak Giman, kiro-kiro sopo maneh ya?

    Terima kasih guru-guruku.

  7. buat pak giman dan pak guru2 yang lain… matur nuwun atas segala ilmu yang telah saya dan teman2 terima… pak giman ini termasuk guru faforit saya lho. yang paling saya ingat itu kalo pas beliau nggambar.. wahh jan apik tenan gambaree

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s