Mbah Maliki, Yang Tersisa dari Rodad Sulang

mbah-malik
Mbah Maliki, The last rodad's man standing

Have You Been Seen Rodad Dance?

Teks dan Foto: Dwiyoga Nugroho

Dahulu, Sulang termasuk daerah pengembangan Islam. Beberapa sesepuh yang saya temui bercerita bahwa Santren, Tegalsari adalah tempat pendidikan agama dan punya hubungan historis dengan pengembangan SI (Syarekat Islam). Bahkan lagi kalo saudara mengenal Karto Soewirjo (Sekarmadji Maridjan Karto Soewirjo ) yang tekenal dengan pemberontakan DI-TII, konon beliau pernah ngaji di situ. Namun bukan itu yang akan saya bagi buat rekan RukunSulang semuanya.

Perkembangan Islam di Sulang meninggalkankan banyak bukti, baik yang masih ada atau sudah tidak ada, atau bahkan ada tapi tidak kelihatan, atau ada tapi ditiadakan.

Salah satu yang dulu ada tapi sekarang sudah hampir tidak ada adalah kesenian Rodad. Kesenian tari dengan tabuhan rebana dan 12 orang remaja sebagai penari. Dandanannya celana serta kemeja putih, selempang (biasanya berwarna bendera Indonesia) yang dipeniti di bagian pinggang.  Tak ketinggalan kopyah dengan tempelan hiasan sederhana, membawa kipas lipat di salah satu tangan dan menari menyesuaikan irama rebana yang di tabuh.

Sehabis sholat Isya setiap malam Jumat para muda Sulang belajar tetabuhan rebana dan tarian Rodad. Secara bersama-sama 12 remaja yang mempunyai tinggi berurutan dari tinggi sampai paling pendek, dilatih agar bisa mengikuti setiap gerakan energik dan saling bertautan, tumpang tindih, mubet-mubet namun membentuk sebuah konfigurasi yang indah. Tak hanya tabuh rebana-bedug dan tarian saja, seni Rodad juga diiringi lantunan lagu. Isinya  syair puji pujian, sambutan selamat datang, atau tentang cerita dengan muatan yang menggugah semangat.

Di rumahnya di kawasan Santren Tegalsari tepatnya di depan pertigaan sawo sawonan beruntung kita masih bisa menemui mbah Maliki. Lelaki dengan 6 orang anak dan 8 cucu yang lahir 12 Juni 1939 ini masih lancar bercerita tentang masa keemasan Rodad di desa kita. Beliau pensiunan sukarelawan pasukan TRIKORA tahun 1962 dan pernah bertugas di Maluku pada masa pemberontakan RMS. Ia juga adalah suami mbah Kah, itu lho nenek yang jualan jajanan di Madrasah santren waktu dulu.

Kembali ke perbincangan dengan Mbah Maliki. Beliau masih hafal betul lagu-lagu yang dibawakan dalam pementasan Rodad misal; Musholiyan, Jalal, Yaa Rabbi, Marhaban, dan masih banyak lagi (malah saya sendiri yang lupa). Ada salah satu lagu yang menurut beliau menceritakan keganasan Kompeni Belanda (Daendels) waktu membangun jalan Pantura. Lagu itu sangat menyayat kalbu kalo kita mendengarkan, disebutkan nama-nama kota dari Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang-Lasem dan seterusnya. Nah waktu penyanyi menyebut Rembang-Lasem biasanya bulu kudu akan merinding ketika mendengar lengkingan suara Mbah Maliki yang bisa nyampe oktaf di atas rata rata, kode itu ingin menyampaikan bahwa betapa banyak korban para Rakyat dan Ulama meninggal karena kerja Rodi untuk membangun jalan Dandels di ibukota kabupaten kita. Huh waktu Mbah Maliki menyontohkan menyanyi sayapun merinding disko, apalagi kalau denger pementasan aslinya. Demikian berarti lewat Rodad bisa membakar semangat untuk lepas dari kungkungan penjajah.

Selain pesen heroik seperti itu Rodad juga punya syarat hiburan dengan melihat tingkah lihai para penarinya. Syair-syair lagu berbahasa Indonesia juga dipergunakan untuk acara penyambutan tamu, pernikahan, khitanan dll, namun seringnya Rodad di tanggap oleh orang yang kesampaian Nadzar.

Mbah Maliki pernah 8 tahun tinggal di Bojonegoro menhgikuti sang istri, disana dia sempat mengajari seni Rodad yang ia kuasai berkat latihan dari Alm. Mbah Badrin ( Bapak dari Bp Mun’im Santren)

Kawan blogger, sungguh di sayangkan Rodad yang lengkap sudah pergi dari Sulang dan belum kembali. Yang tersisa hanya beberapa kakek sepuh yang masih setia memelihara alat rebana dan kadang bersedia ditanggap pada acara selapanan bayi, pupakan, sunatan, atau nikahan, walau hanya bisa membawakan tabuhan dan nyanyian saja, tanpa atraksi tarian. Inipun sudah jarang banget sebulan sekali pun nyaris tidak.

Mbah Maliki, Kang Hadi (Suami Mbak Khod jajan santren), Kang Gito dan Kang Nari Mbayurowo, Kang Parno dan Mbah Jalil Tegalsari mereka masih setia berkumpul dan berangkat bareng menuju tuan rumah yang hendak nanggap, walau bukan uang amplop disaku yang dicari.

Mereka menyadari bahwa jaman sekarang berbeda dengan jaman waktu mereka muda dulu, tuntutan hidup sudah bergeser, akan susah mengumpulkan lagi pemuda yang mau belajar tari Rodad, bahkan terbangannya (Tabuh Rebana) sekalipun. Rasa sedih tersirat dari tatapan mbah Maliki akan kehilangan kenangan Rodad di desa kita, walaupun ia barusan dapat hadiah undian sepeda motor matic terbaru dari sebuah Koperasi di desa kita.

Akankah Rodad akan benar benar pergi dari bumi Sulang? Tentu tidak, asal ada 12 atau lebih pemuda yang bersedia tulus dilatih, Rodad Santren akan muncul lagi, yakin Mbah Maliki, beliapun masih siap menjadi pelatih.

Kalu rekan punya hajatan dan ingin nanggap Terbangan Santren yang di gawangi Mbah Maliki CS bisa kontak ke email desa.sulang@gmail.com atau hubungi Dui 081802690194. Insya Allah akan saya sampaikan pada group terbangan yang ceritanya sampai sekarang tidak punya nama ini.

Syarat naggapnya guampang banget, Uang amplop yang pasti, terus minta ijin tetangga kiri kanan kalo akan ada suara gak agak ribut sampai jam 3 subuh.

Tek Byung tek byung…plak…plak..tung plak.. Yaa Musholiyannn……

29 thoughts on “Mbah Maliki, Yang Tersisa dari Rodad Sulang

  1. Momentum besar lho, ayo pren nek nganti ono blogger Sulang sing nduwe gawe, nanggap sakliyane rodad harus didenda, piye ? Dendane rupiah, yang jumlahnya setara dengan satu kali pementasan Rodad itu. Ntar kalo ada momentum kita tampilkan rodad itu makek uang denda tadi. He he he usul waton iki.
    Salah satu jalan buat lestarikan rodad mungkin dari sekolahan sekolahan, buat regenerasi gitchu! toh mbah Malik siap melatih.

  2. Saya mengikuti perkembangan tulisan ini berikut komentar yang masuk. Sekedar masukan; Rodad bisa dijadikan sebuah wisata budaya. Momen “ngundhuh manten” ataupun acara-acara lainnya dengan rodad seperti yang pernah dilontarkan pak Kidhal menurut saya menarik sekali, dan bisa menjadi salah satu ciri khas Sulang. Ada unsur pelestarian budaya, pariwisata, sekaligus hiburan. Mungkin pengelola Sulang online bisa bekerjasama dengan pihak-pihak terkait : pem. desa, kecamatan, pemkab, serta melibatkan berbagai pihak luar baik untuk sekedar sounding ataupun untuk memertahankan dan melestarikan budaya yang masih tersisa.

    Ini sebuah momentum besar. Selamatkanlah.

    Salam humanisma.

  3. Tek Byung tek byung…plak…plak..tung plak..

    “… Ndek biyen wis tak tukok-e, wujud tali sak kutang-e
    Saiki-ne lha kok ilang, sak slira-ne…
    Lungo menyang endi, tanpo pamit ra ngabari
    Opo lali, kowe karo aku iki …”

  4. Wis nyambut gawe dulu Pak Khidal ….,diamuk bose mengko internetan terus…, biasa namanya juga kuli…., matursuwun Xaxaxaxaxaxaxa (husss)

  5. bisa request shownya rodad mbah maliki ga? ben iso ditonton bareng anakku ki…. piye gobang…desak kang admin nampilno mbah maliki on the net.

  6. Sing keren kowe thok bang, lha ono photone barang je…, emang nek nganggo photo mbayare piro leh..? hehehehe

  7. Setelah membaca artikel Mas Dui, aku baru tau ada kesenian Rodad yang pernah hidup di alam Sulang. Hiks, jadi malu sama pendiri-pendiri negri dan bapak-bapak bangsa. Ternyata cuma seujung kuku gini, nasionalisme dan rasa cinta tanah air yang kupunya…
    Nunggu Gobang dadi manten ah, biar aku tahu rodad tuh kayak apa siey?

  8. Saya tengah membayangkan di sebuah acara ‘ngundhuh manten’nya salah seorang bloger SO beberapa bulan y.a.d, ada acara penyambutan khusus oleh 12 orang blogger SO lainnya, menarinari dinamis dan heroik dg kostum nasionalis religius, di bawah komando sang koreografer gaek ‘Mbah Malik’.
    “Mungkinkah”, kata si nenek centil Titik Puspa.
    Woalaaah alah…. Agus Aguuusss!!!

  9. sayang lho grup rodad nya mbah maliki itu kok sampai nggak punya nama,apa gobang kerennnnnnnnnnnnn ada usul untuk nama grup rodadnya mbah maliki?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s