Dangdut Koplo, Benci Tapi Rindu (2-habis)

inul_003a

Sudah ah, hidup kok berandai-andai…Back to Laptop. Ini lanjutan naskah Mas Didik Salambanu sebelumnya. Kali ini lebih serius ulasannya. Ayo goyang, Mang….

Teks: Didik Salambanu*

Well…

Setengah dekade belakangan ini, musik yang ‘kuncup tunas’nya adalah hiburan antar kampung ini telah memasuki wilayah industri bisnis. Kocek puluhan juta yang mesti siap-siap digelontorkan para pembooking yang berniat mementaskan dangdut koplo, yang melibatkan penyanyi, grup band dan penata panggung.

Semakin punya reputasi dan nama besar, semakin mahal tarif per manggungnya. Suatu berkah ekonomi dan finansial bagi penyanyi, pemain musik, kru panggung, manager, penata lampu, penyedia sound system dan pemasok deklit serta panggung .

Seolah tak mau kalah berebut kue rejeki demi mengeruk keuntungan, studio rekaman maupun tukang video amatiran memanfaatkan momen manggung mereka dengan mengabadikan gambar live setiap aksi di atas panggung untuk selanjutnya dicetakgandakan dalam bentuk keping VCD, yang sebagian besar tanpa ijin dan permit Deperindag, untuk didistribusikan ke setiap pelosok daerah, menyusur segmen masyarakat yang addict to dangdut koplo.

Kesuksesan, ketenaran, booming dan demam dangdut koplo tak lepas dari peredaran VCD-VCD yang dijual di pasar ‘gelap’. Begitu mudah mencari album “masterpiece” dangdut koplo karya berbagai grup orkes melayu yang available di lapak-lapak pinggir jalan dengan harga tidak lebih dari enam lembar uang seribuan per kepingnya. Cukup murah bukan?

Ratusan judul lagu, dengan beragam nama penyanyi bertumpuk-tumpuk dalam VCD (obyek yang di-Indonesiakan menjadi perekam cakram optik) siap menyambut dan menawarkan pilihan bagi para pembeli, pengkoleksi dan penyuka musik kontemporer ini. Bagi seorang netter pun tak akan sulit. Banyak situs maupun blog-blog pribadi yang memberikan fasilitas free download lagu-lagu dangdut koplo yang pernah beredar di pasaran. Hanya tinggal langkah klik untuk mengunduhnya.

Dangdut Koplo; Kontroversi Yang (seolah) Tak Berujung

Dilihat dari sisi hukum, penjiplakan, pembajakan dan plagiarisme kreatifitas bermusik untuk kepentingan komersiil dalam bentuk peredaran VCD bajakan, khususnya VCD lagu dangdut koplo, adalah original sin dan melanggar undang-undang hak cipta dan kekayaan intelektual yang mesti dituntaskan di meja pengadilan.

Kalau dihitung, berapa rupiah royalti album artis penyanyi yang ditelikung, berapa kerugian materiil para pencipta lagu yang buah karyanya dengan seenaknya dicatut, berapa milyar income negara dari cukai dan pajak label album yang tak terbayarkan? Sungguh, kerugian nilai uang yang sangat besar bagi negara, yang menurut hitungan kasarku, jauh lebih besar dari pendapatan daerah Rembang selama 5 tahun terakhir. (Ngasal : mode on)

Belum lagi kerugian immateriil berupa matinya ide dan kreatifitas insan musik dalam berkarya, lumpuhnya semangat mencipta lagu dan bermusik, menyemai persaingan bisnis tidak sehat dan saling klaim antar pihak terhadap produk seni seseorang, ketidakjelasan status hukum sebuah karya seni, suramnya masa depan kehidupan orang-orang yang bergelut di dunia musik serta penurunan tingkat kepercayaan dari bangsa lain kepada negara karena lemah dalam law enforcement.

Meski tidak dapat dirasakan, dampak kerugian immateriil jauh lebih besar dari nilai kerugian materiilnya.
Dari hal kecil yang luput dari perhatian pemerintah, in case kasus peredaran VCD bajakan, berkembang menjadi penyakit kronis yang menggerogoti kebebasan berkreasi dan hak mencipta bagi setiap warga negara.

Di lain pihak, banyak kalangan, orang-orang sepuh, pemuka agama, pemerhati masalah sosial, psikolog dan tokoh masyarakat berkeberatan dan menolak keberadaan dangdut koplo. Bukan musiknya yang digugat, tetap aksi panggungnya. Bukan maksud mengeneralisasi, melihat secara live ataupun melalu media gambar hidup, tayangan dangdut koplo secara kasat mata mendatangkan kemirisan dan keprihatinan.

Aksi penyanyi di panggung dengan ‘gagah berani’ mengumbar mode busana yang minim bahan, menonjolkan lekuk-lekuk indah tubuh, mengeksploitasi sensualitas kaum hawa, aksi goyang pinggul dan (maaf) pantat yang terkesan erotis, merayu-rayu nafsu birahi dan terkesan vulgar tanpa memperhatikan aspek kesopanan dan sisi audien yang berasal dari semua lapisan umur, berlawanan dengan semangat implementasi penegakkan undang-undang anti pornoaksi dan pornografi serta keributan dan crash yang kerap terjadi antar penonton sehingga menciptakan kerawanan sosial, lunturnya identitas bangsa timur dan pergeseran budaya secara generatif.

Tipisnya jurang pemisah mana seni dan mana pornoaksi, membuat kita bersilang pendapat, perang opini, beradu argumen tentang batasannya, yang tak berkesudahan, tanpa titik temu dan terus berlarut-larut. Sementara dinamika budaya dan sosial masyarakat setiap detik terus bergerak mengikuti perkembangan dunia global. Dengan berkedok karya seni, sebagian dari kita bersikap permissive terhadap banjirnya budaya negatif yang tak bersih tersaring oleh norma-norma yang selama ini menjadi pegangan. Semua ditelan mentah-mentah tanpa memikirkan impact buruk bagi tumbuh kembangnya generasi muda, penanaman nilai-nilai akhlak luhur dan pembentukan karakter bangsa.

Pandangan sebagai bangsa yang religius, santun dan beradab semakin tercabut dari akar adat istiadatnya.
Siapakah yang patut disalahkan? Insan permusikan, penyanyi panggung, penyuka musik, masyarakat yang menonton, produsen-pengedar-pembeli VCD ataukah pemerintah beserta aparaturnya? Jawabannya bisa beragam dan kompleks, karena tak mudah untuk menunjuk hidung dan seperti benang kusut, bingung dari titik mana untuk memulai mengurainya.

Kelahiran genre baru bermusik yang diusung dangdut koplo, hasil olah daya imajinasi dan kreatifitas nan tinggi, penuh ide-ide segar, dan berani tampil beda melawan patron dangdut murni yang sedang redup sinarnya, bertolak belakang dengan image negatif tentang aksi pornoaksi dan pembajakan karya seni, membuat dangdut koplo (boleh) dicinta sekaligus (layak) dibenci.

Ah…buat apa larut berbicara hukum dan masalah moral di negeri ini. Dangdut koplo terlanjur berbaur dan melebur dalam kehidupan masyarakat dengan segala kontroversinya. Masing-masing pribadi punya kedewasaan, kearifan dan kebijakan untuk merespon setiap pengaruh kemunculan budaya baru, untuk memilah mengambil nilai positif dan membuang poin negatifnya.

Aku hanyalah seorang penikmat musik, sejauh irama dan lirik yang aku dengar enak di kuping, menyentuh relung jiwa bermusikku dan terlebih membuat hati terhibur, I like it…

Salam Koploholic.

*Penulis adalah warga Sulang yang sekarang bekerja di Jakarta. Setiap minggu bolak-balik Rembang-Jakarta demi keluarga.

16 thoughts on “Dangdut Koplo, Benci Tapi Rindu (2-habis)

  1. Ada penyanyi dangdut koplo asal Rembang ga yach, yang direkrut OM kondang?
    Maybe Kang Tarom yang sering menjadi MC panggung musik tau…

  2. Saya jg tidak terlalu suka koplo,krn musiknya tdk pakem dan sering jiplak.Prnah dulu saya punya murid klas 6SD drum+ketipung,skarang setelah merebak musik dia menjadi profesional dan sering diajak grup2 lain(maksute add player).Hasil main tersebut bs mencukupi kbutuhan keluarganya.

  3. Tapi mas didik pancen hebat, kok sempet2e inget2 nama pedangdut koplo, macam Vivi Rosalita dan Mas Brodin, naa… yang terakhir ini mungkin yang mnjadi perhatian saya, dengan gaya ngibing yang khas anak muda ndeso,dan suara sing dimiripke Rhoma Irama, kadang bikin mesem dewe, saya tau juga dari Bis Malam nek waktu Pulang kampung, Group OM SERA, OM PALAPA, Sony Jos, Cak Dikin, mungkin akrab banget bagi pemudik reguler seperti saya dan mas didik…, karena hiburane yo kuwi waktu meninggalkan atau saat menuju Jakarta, demi keluarga… Bravo MAs Didik, Jalasveva Jayamahe (maksute piye..?!!)

  4. Salut banget untuk tulisan Mas Didik. Saya sempat terhenyak, dan kembali mencermatinya. Ada irama dan harmoni yang silih berganti bak karakter musik koplo itu sendiri. Kadang mendayu-dayu mamun tiba2 menghentak bagai kendhang-kendhut dg irama khas koplo (kolaborasi adopsi gaya Boliwood, Melayu, Jaipong, Njowo, Madura, Mbanyuwangen, bahkan kadang nyeberang ke P Dewata. Bagus, terlepas dari plus minus munculnya genre koplo, saya makin bangga pada SO. Ternyata lewat blog kita ini makin bermunculan pemikir2 dg talenta baik, dg karakter, stil, dan latar yang beraneka. Mulai Sang Editornya, Sing Duitor, Cah Pasar, Dusone, Gus Baha’, Gus Gobang, Kang Tarom, Wephy As, Sabdopalon, dan Mas Didik sendiri, dll. Sekali lagi Bravo Sulang Online, Bravo The Gang Of SO. Jooos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s