Dangdut Koplo, Benci Tapi Rindu (1)

inul_003a

Dangdut Koplo; Do You Love It?

Ndek biyen wis tak tukok-e, wujud tali sak kutang-e
Saiki-ne lha kok ilang, sak slira-ne…
Lungo menyang endi, tanpo pamit ra ngabari
Opo lali, kowe karo aku iki…

Itulah sepenggal bait terdepan lagu “Tragedi Tali Kutang” ciptaan Cak Diqin yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh si “Melas Face” Cak Shodiq feat Neng Vivi Rosalita yang terlihat kenes dan menggoda. Pertama kali aku dengar dan lihat dari piranti audio visual yang dibenamkan di dalam kabin Bis Nusantara, sewaktu perjalanan pulang mudik mingguan, 3 tahun silam.

Sungguh…awalnya aku senyum-senyum sendiri. Menyimak syairnya yang nakal namun mengundang tawa. Biduanitanya pun (maaf meminjam istilah bis) economic class yang berkostum seronok, dengan aksi goyang nan heboh di bawah hingar bingar alunan musik yang bagiku ‘agak asing’ di indra pendengaran meski masih kental ‘dangdut taste’nya.

Menurut analisis dangkal cipta, rasa, dan karsaku kala itu, yang membedakan dengan ‘pure dangdut’, adanya sentuhan improvisasi berupa tepukan kendang, ketipung dan alat musik additional yaitu drum, dengan ‘aksen’ yang begitu dominan dan menghentak-hentak dengan ritme harmonik yang cepat, nge-beat, terkadang diseling lengking melodi petikan senar sang gitaris. Kalau aku compare, style tepukan kendangnya mirip kita kothekan menggunakan tool bangku meja sekolah jaman masih berseragam putih merah. Genre musik yang aneh? Kolaborasi dangdut-rock-jaipong dan house music-kah? Gumamku kala itu.

Tapi herannya, setiap kali dientertain oleh: bis-bis malam Cepu-Jakarta, tatkala selintas lalu di muka warung VCD pojok prapatan “Texas City”, ketika orang nanggap hiburan pas punya gawe maupun saat ada acara pentas pertunjukkan musik di daerah Sulang dan sekitarnya, seolah dangdut dengan genre baru ini -yang akhirnya disebut dangdut koplo- menjadi musik wajib yang diperdengarkan. (Mengapa dinamai koplo ya? Padahal koplo berkonotasi negatif, yaitu zat aditif yang terlarang, pil koplo).

Sang fenomenal…demikian fakta aktualnya. Tidak muda tidak tua, yang kecil maupun yang dewasa, bergender pria atau wanita, bergelar priyayi atawa jelata, semua kesengsem dengan kehadiran musik dangdut yang konon kelahirannya dibidani oleh para ‘maestro’ musik dari ranah Jawa Timur. Meski hard listening, namun ritmenya terasa dinamis, riang serta rancak sehingga memacu adrenalin untuk mengiringnya dengan berjoged berjingkrak-jingkrak. Asyik…assoy geboy…fly… Ditambah nilai plus kejelitaan dan kemolekan wajah ayu para biduanita, dengan goyang dahsyatnya sebagai bumbu penyedap mata sewaktu beraksi di panggung, menjadikan setumpuk alasan mengapa musik ini laku, acceptable, touching heart dan memabukkan para maniak-nya .

Bisa jadi inilah trik dan terobosan ‘mengejutkan’ dari para musikus dangdut untuk menyiasati tren dunia musik yang menghendaki adanya pembaharuan yang kontinyu. Di kala musik dangdut jenuh dengan corak pakemnya, dengan indikasi mandegnya launching lagu-lagu dangdut terbaru dan lambatnya regenerasi artis dangdut di kancah musik Indonesia, revolusi yang dibawa dangdut koplo pun terbilang ‘menyihir’. Meski sebagian besar lagu-lagu yang di’koplo’kan adalah jiplakan dan mengekor dari lagu penyanyi/ grup band lain yang dimodifikasi genrenya, nyatanya aliran musik ini cepat memperoleh kepopuleran dan nancep di hati pendengarnya, meski hanya terbatas di kawasan Jawa Timur dan Pantura Timur Jawa Tengah.

Imbasnya, banyak artis dan orkes melayu (OM) yang ikut terangkat derajat kehidupannya, melejit bersama ke-fenomenal-an dangdut koplo itu sendiri. Sejauh ini yang kondang kita kenal adalah OM New Pallapa dari Sidoarjo, OM Sera dari Gresik, OM Monata dari Pasuruan, dan OM Rass dari Bumi Kartini, Jepara. Bintang pentas dan diva panggung ‘dadakan’ pun bermunculan, nama-nama seperti Brodin, Agung, Shodiq, Dwi Ratna, Lilin Herlina, Vivi Rosalita, Ratna Antika, Gayuh Rakasiwi, Tya Agustin, Evi Puspitasari, Lusiana Safara, Anjar Agustin, Nena Fernanda, dan Denis Arista, yang siap bergoyang menuntaskan animo masyarakat yang haus akan hiburan musik dangdut. Aku yakin, pasti banyak yang tak kenal dengan ‘makhluk permusikan’ di atas sebelum ‘turunnya’ sang fenomenal ini. Dan konon kabarnya Inul Daratista dan Dewi Persik yang sukses melanglang buana menembus papan atas artis ibukota adalah jebolan sekolah ASDK (Akademi Seni Dangdut Koplo).

Lagu-lagu yang diaransemen ulang pun bukan tebang pilih. Pelbagai tembang bisa di versi koplo-kan. Mulai lagu jaman dulu hingga lagu terbaru, tembangnya Tetty Kadi hingga Shanty, Kalau Bulan Bisa Ngomong hingga Kucing Garong, lirik gubahan Rhoma Irama hingga Katon Bagaskara, Favourites Band hingga Kangen Band, bahkan Campursari hingga Pop Melodi. Bukan itu saja, lagu-lagu western oldiesh, pop maupun rock dengan segala variannya tak sulit untuk di’pleset’kan.

Bukti cetho welo welo bahwa dangdut koplo kaya akan improvisasi aransemen dengan beragam sentuhan permainan rythim serta melodi, terlebih ‘gebukan maut’ kendang cs, menciptakan warna musik yang khas, riang ceria, segar dan membumi. Lagu yang dinyanyikan baik secara solo maupun duet, saduran maupun orisinal dangdut koplo semacam Kere Munggah mBale, Slenco, SMS, Tragedi Tali Kutang, Kucing Garong, Misscall, Turu Nang Dadane, Karmila, Bibir Louhan, Manten-Mantenan, Sahara, Kandungan, Sir Gobang Gosir, Mlebes, Banyu Kali, Syahdu, Ketahuan, Puspa, Heaven, Leyeh-leyeh, Bokong Semok, Bunga Desa (Raib), Jambu Alas dll tak asing menyapa gendang telinga. Andai ada top ten hit list tembang populer di daerah, pastilah dijejali oleh lagu-lagu koplo.

Kalau aku boleh berintermezzo, dengan berpura-pura menjadi pengamat musik sekelas Bens Leo, merasai dan menikmati berbagai macam lagu yang pernah kudengarkan, didapat satu konklusi penggolongan tipe warna dangdut koplo yaitu “Hardcore Koplo” dan “Shocking Koplo”. Ciri “Hardcore Koplo” adalah pukulan kendang yang bertubi-tubi yang dilakukan sejak intro lagu dimulai. Jadi orang bakal ngeh kalau sejak awal itu adalah lagu dangdut koplo, semisal pada lagu Welcome to My Paradise-nya Nena Fernanda dan Banyu Kali yang dinyanyikan Evi Puspitasari . Lain halnya dengan “Shocking Koplo”, yang dinamai demikian karena mengejutkan. Orang tidak paham kalau tembang yang dibawakan tersebut sejatinya dangdut koplo, karena ketika start lagu tersebut dibawakan sama mirip dengan lagu asli, semisal lagu duetnya Shodiq dan Dwi Ratna membawakan lagu berjudul Syahdu dan Sahara yang dibawakan oleh Brodin. Pertama-tama lagu dibawakan plek dengan versi aslinya, tapi setelah reffrain, irama lagu berubah drastis, ritme dan tempo lagu pun meningkat setelah pukulan kendang yang menghentak-hentak sampai akhir lagu. (Maaf, bagi yang belum pernah mendengar lagu tersebut di atas, silahkan hubungi lapak VCD terdekat.)

Bersambung…

15 thoughts on “Dangdut Koplo, Benci Tapi Rindu (1)

  1. Atawa gini:
    Dhek biyen wis tak tukokke tali benang layangane … etc. (ini dijamin aman, tapi tak dijamin menarik, he he he).

  2. @akuhayu : sebenarnya kl adiknya mau sedikit mem”parodi”kan syairnya, dijamin bebas omelan eyange.

    Digawe gini aja :
    “Ndek biyen wis tak tukok-e, wujud tali sak sepatu-ne”🙂

  3. @Dui : lho, ingkang badhe nderek Pemilu 2009, wonten Partai Rokok kaliyan Partai Dangdut Koplo barang, kok awakke dhewe kon milih?🙂

  4. @Pak Kidhal : wah, kulo ngga mampu mbooking Inul Pak Kid, ndek wingi konco kulo nanggap kagem acara kantor, manajemen Inul nyuwun 60jt.

    Dhuwit saking pundi Pak Kid? Mending menawi pengen ningali goyang ngebor, tumbas perkakas tukang kayu, alat bor kemawon, mboten gantos 100ewu pun angsal.🙂

  5. Pilih mana ? kalo kita punya anak : Dibiarin merokok, atau dibiarin nonton VCD Dhangdut “Koplo”, memang betul-betul dibenci tapi di rindu.

  6. Maksodnya Mas Uud mungkin ini kan lagi musim rendhengan gitu loh! Lebih2 lagi Mas Didik Salambanu lagi ngeboking si Inul “The bor dancer” ….. xixixixix …. asyiiiik …..

  7. hahahah, saya tahu lagu itu, adik sepupu saya, yang masih SD, pernah menyanyikannya dang diomeli eyangnya ;D

  8. tren musik memang tak ubahnya mode pakaian muter bolak balik seperti jarum jam,lha manusia yang ditakdirkan bosenan itu juga punya kemampuan mengusir bosen,jadinya ya musik koplo itu yang mendobrak pakem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s