Pak Karyo-Pak Juned: Iswadi Idris-Roni Pattinasarani

Si kancil dalam 3 dimensi

Teks: Sabdopalon

Jika dunia sepakbola Indonesia pernah memiliki Kancil pada diri Iswadi Idris, dunia sepakbola Sulang pun memiliki jenderal kancil yang melekat pada diri pak Karyo lengkap dengan konflik internal dalam tubuh tim Sulang seperti konflik tim nasional Indonesia yang kebingungan dalam menentukan kapten tim: Roni atau Iswadi. Pak Karyo atau Pak Juned.

Entah ini sebuah kebetulan atau tidak; tapi kejadian ini dialami dunia sepakbola Indonesia dan sepakbola Sulang dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Pelatih-manajer tim sepakbola Indonesia pernah menagalami kebingungan dalam menentukan kapten; padahal pada waktu bersamaan terdapat dua jenderal lapangan : Iswadi Idris dan Roni Pattinasarani. Tidak boleh ada matahari kembar dalam tim Nasional Indonesia. Itulah kuncinya. Akhirnya ditetapkan Roni Pattinasarani sebagai kapten tim nasional Indonesia melalui mediasi Syarnubi Said, dan Iswadi “kancil” Idris menerimanya dengan lapang dada karena sebenarnya tidak ada rivalitas antara mereka berdua. Uniknya, ketika kembali ke klub peran kapten klub Krama Yudha Tigaberlian (KTB) berada pada diri Iswadi Idris, dan Roni sebagai wakilnya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tim sepakbola Sulang juga memiliki dua jenderal lapangan yang sedang bersinar : Karyo dan Juneidi dengan tipikal permainan yang hampir sama dengan Iswadi-Roni. Mat Karyo seolah mewakili kepiawaian si Kancil, dengan tubuh yang kecil namun pergerakannya lincah dalam menggiring bola maupun melewati hadangan pemain lawan. Ciri khas Karyo dalam menggiring bola adalah dengan berlari sambil merentangkan kedua tangannya seolah sedang menari-nari sambil membawa bola yang lengket di kakinya sebelum melakukan umpan pada Joko sang penyerang.

Juneidi (Juned), seolah mewakili Roni dengan peran sedikit ke belakang. Pada masanya, Juned merupakan pengatur serangan tim sepakbola Sulang. Juned merupakan gelandang yang tenang dengan umpan-umpan yang akurat. Sebagai gelandang, Juned pun mampu menciptakan gol dengan elegan, dan sering menjadi inspirasi bagi serangan serta terciptanya gol demi gol bagi Perses.

Seperti juga Iswadi-Roni, sesungguhnya tidak ada rivalitas antara Karyo dan Juned. Namun kenyataan bersinarnya kedua bintang sepakbola Sulang ini, tidak urung membuat bingung manajemen tim Sulang dalam menentukan kapten tim: Karyo dengan pergerakan yang licin ataukah Juned yang memiliki ketenangan dalam mengatur serangan. Saya tidak melihat adanya konflik, rivalitas, ataupun intrik-intrik dalam penentuan kapten tim Sulang ketika itu, meskipun sempat terdengar suara miring terkait penentuan kapten tim.

Melalui mediasi Pak Aziz Saleh (tokoh di balik layar kesuksesan Perses) akhirnya Juned (kalau saya tidak salah ingat) ditetapkan sebagai kapten Perses bergantian peran dengan Mat Karyo (nama ini diadopsi dari tokoh kartun pada harian Suara Karya). Dan terbukti keduanya saling bahu membahu membawa keharuman Perses dalam kancah dunia sepakbola Rembang.

Setelah tidak aktif sebagai pemain, dua legenda sepakbola Sulang ini selalu mendampingi yunior-yuniornya di Sulang baik dalam latihan maupun dalam pertandingan persahabatan-kompetisi kemanapun Perses serta Buana 82 bermain.

Khusus Pak Juned, kepiawaiannya dalam melatih serta memberikan motivasi dan inspirasi bagi pemain, bersama Bah Dowo pernah mengantarkan tim Suratin Sulang tahun 1990 menjadi runner up yang hanya kalah oleh tim inti Suratin Cup ’90 Kab. Rembang di final dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu 2 x 15 menit. Hebatnya lagi, Pak Juned meramu tim dengan mengumpulkan semua bakat pemain muda yang ada di seluruh Kecamatan Sulang hanya dalam waktu 2 minggu. Dan hanya kalah oleh tim Inti Suratin Cup Rembang yang telah dipersiapkan dalam waktu lebih dari 1 tahun. Bravo pak Juned.

Terima kasih, Pak Juned. Terima kasih untuk seluruh dedikasi Anda bagi sepakbola Sulang.

Pak Karyo, saya belum sempat memenuhi janji-janji saya. Janji dari seorang bocah kecil yang pernah terucap ketika kita sering jalan bersama sepulang dari Jumatan. Saya masih tetap mengingatnya, dan insya Allah saya akan memenuhinya.

5 thoughts on “Pak Karyo-Pak Juned: Iswadi Idris-Roni Pattinasarani

  1. Betul pak Kidh. Tapi saya dengar cerita “Junet Tukang Mblayu” agak samar-samar. Kayaknya menarik juga kalau ada yang bisa eksplor tentang maestro “tukang mblayu” di sulang semisal : kang Waryo (sambongan), Bayan Puji, tentunya pak Joned yang “tukang mblayu”. Atau pak Joned di ajak untuk bertutur cerita langsung di SO. Gimana pak Kidh?
    @ sulang on-lainers : kira-kira ono bedane ga mlayu ro mblayu ?

  2. Wah hem! Gus Gobang keren tenan je. Kayak kerennya tulisan Ki Sabdopalon. Khusus untuk Pak Juned (Djunaedi bapaknya Mbak Ira dan Mbak Anjar)masih punya simpanan prestasi khusus yaitu sebagai jawara satu dan jawara bertahan hampir selama sepuluh tahun non stop sebagai jago maraton di tingkat Kab. Rembang. Kalo nggak salah dimulai tahun 1966 (waktu itu beliau masih duduk di bangku STN Rembang), sehingga beliaunya dulu pernah mendapat tambahan julukan “Junet Tukang Mblayu” ( Ha ha ha ha ha)Salut lagi buat SP-nya.

  3. Nyuwun sewu, Pak Juned meniko ingkang guru olahraga lan sakmeniko manggen wonten ing Sambongan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s