Butho Cakil

cakil
Pilih saya di Pemilu nanti ya. Ha..ha..ha...

Buto Cakil methakil, pethakilan. Jowal jawil jebule njaluk pen…Thung! Tokoh kita satu ini jauh dari Pethakilan apalagi jowal-jawil.

Teks: Sabdopalon

Bagi masyarakat Sulang, wayang orang sebagai sebuah seni pertunjukan sepertinya tinggal cerita terutama generasi mudanya. Sejujurnya, saya sendiri pun tidak terlalu paham dengan seni pertunjukan satu ini. Baik yang versi Ramayana maupun Mahabharata. Dari beberapa buku populer yang pernah saya baca semisal Anak Bajang Meniup Menggiring Angin-nya Sindhunata ataupun Mahabharata-nya Nyoman Pandhit.  Sederhananya setiap sequel-nya selalu menawarkan hal-hal menarik dan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Dan tetap menarik.

Saya tidak sedang menawarkan pandangan tentang seni pertunjukan wayang orang yang di luar kompetensi saya. Namun saya mencoba ikut menggali potensi yang pernah kita miliki terkait hal tersebut. Setidaknya Sulang pada masanya pernah memiliki seniman yang energik dengan peran antagonis (?) yang memerlukan stamina serta penghayatan peran yang cukup mennguras energi: Butho Cakil ataupun peran Anoman. Dalam banyak pertunjukan wayang orang, peran ini selalu dimainkan oleh Lik Karno.

Pada masanya, Lik Karno dengan perannya merupakan sri panggung dunia perwayangorangan hingga di Rembang. Peran Butho Cakil di panggung cukup berhasil diperankan oleh lik Karno, mengantarkannya menjadi seniman pertunjukan yang dikenal pada masanya meskipun lik Karno tidak memerankan tokoh-tokoh protagonis atau sebagai lakonnya. Ini bisa dicapai berkat kecintaannya pada dunia seni pertunjukan, sehingga setiap peran yang dilakoninya diimbangi dengan penghayatan peran.

Kebintangan Lik Karno di panggung menjadi anomali, mengingat fenomena ini muncul dari seorang tokoh antagonis: butho cakil yang merupakan gambaran kesewenang-wenangan ataupun keangkaramurkaan dalam dunia pewayangan. Sri panggung biasanya melekat dalam diri pemain dengan tokoh-tokoh lakon semisal Werkudoro, Krhisna, Janoko, dll. Namun dengan penghayatan peran, justru peran antagonis tersebut tetap menempatkan lik Karno sebagai bintang panggung wayang orang di Rembang pada masanya. Sebuah pencapaian yang luar biasa, mengalahkan sang lakon di luar panggung.

Kira-kira seni pertunjukan di Sulang saat ini bagaimana ya? Dalam catatan saya, Sulang memiliki potensi seniman-seniman andal. Selain Lik Karno; kita memiliki dalang wayang kulit sekelas Mas Jupri yang cukup eksis dalam perwayangkulitan di Rembang, atau Mbak Pah sang waranggana yang malang-melintang & diakui hingga kini di RRI Semarang (Jawa Tengah), atau mas Heru “katam” maestro ngibing dengan goyang ala lagu Pasrah. Masalahnya mungkin : dari titik mana kita memulainya lagi. Kiro-kiro ngono yo, Lik Karno, Mas Jup, Mba Pah?

Saya jadi membayangkan sebuah pertunjukan kolaboratif antargenerasi seni pertunjukan di Sulang. Campursari; wayang wong, wayang kulit, ketoprak, musik (band), dalam satu panggung. Di lapangan Sulang atau lapangan kawedanan. Kira-kira jadinya seperti apa ya? Pas waranggana nembang mengiringi munculnya Bimo dalam lakon Wahyu Makutarama; tiba-tiba butho cakil naik panggung menyanyikan Sweet Child o’Mine-nya GnR. Sepertinya seru.

15 thoughts on “Butho Cakil

  1. Sik sik, tak njupuk kloso kanggo klekaran, nggawe wedang teh + gorengan, mirengke Pak Kid badhe tular cerito wayang.

    Kulo tunggu Ki Dhalang.

  2. He..he..he.. Sabdopalon noyo genggong. Semar ngejawantah pak Kidh. Whatever-lah. Sing penting, SO bisa menjadi ruang publik bersama bagi masyarakat Sulang serta memberikan inspirasi bagi siapapun yang sempat mampir di SO.
    Hari ini, tanggal 10 Januari 2009 di Forum Kompas liputan Jogja-Jateng ada ulasan tentang lahirnya wayang. Menarik pak Kidh. Kalau sempat coba dibaca, kalau enggak ya coba nanti tak tulis ulang terus tak kirim ke duitor biar kalau mau di-posting ya enggak apa-apa (makasih telah di-edit judul bukunya Sindhunata).

  3. Baik Mas Didik, Dusone, Cah Pasar, Gus Gobang, dll, dlm waktu dekat mudah2 sdh bisa mosting wayangan ala SO. Cuman masih saya pertimbangkan model yg pas buat para sahabat blogger kita, wayang mbeling, kontemporer, edan, ataukah klasik dg sentuhan postmodern. He he he ….. sorry Duz, agak engkek sithik ….. Cuman saya mohon agar Anda semua ttp eksis di blog kita ini, dg kreativitas dan kapabilitas masing2. Sekali lagi salam hangat buat Anda semua.

  4. Sip Pak Kid…Pripun menawi Pak Kid mengunggah cerita wayang secara serial di SO. Di saat generasi sekarang semakin tercabut akar budayanya, semakin tak melirik kesenian peninggalan nenek moyang, mugi langkah kecil meniko saged menggelorakan kecintaan terhadap produk budaya bangsa piyambak.
    Wong kulo piyambak nyesel, kok mbiyen ra seneng wayang…padahal saking rangkaian cerita wayang, kathah memuat falsafah hidup ingkang adiluhung, ngajaraken bab kebecikan lan pelajaran ingkang migunani.
    Yen kulo ditakoni, pandhawa iku sopo wae, bakal kangelan anggenipun njawab, hiks,…

  5. saya dulu wis sempat nyebut2 soal kolaborasi yg njenengan sebut tadi dalam komen saya di postingan ttg sejarah seni pertunjukan di sulang,dalam komen saya itu juga saya sebutkan adanya kolaborasi lain antara jajanan khas dg permainan tradisional yg ikut ngrame’ke art festive nya

  6. Benar, Mas Didik en Dusone. Wayang di Indonesia (baca: Jawa) meski diambil dari epos Mahabharata dan Ramayana, namun sdh digubah oleh para empu kita sesuai dg tujuan tertentu pula, baik tokoh, karakter, setting, bahkan alurnya. Dng alasan inilah ‘wayang’ (bukan 2 epos di atas) dinyatakan sbg produk asli Indonesia. Sebagai contoh tokoh yg ada di wayang kita, tapi tak pernah ada di epos2 di atas a.l. Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Cangik, Limbuk, Buto Cakil, Buto2 babrah, Dewa Ruci, Prabu Kalapracona, Mustakaweni, Antasena, Kartapiyaga, dll. Bahkan kita punya silsilah wayang versi Islam (zaman Sunan Kalijaga) yang ada beberapa perbedaan dg versi Hindu. Wah! mungkin lain waktu bisa kita diskusikan lebih jauh lagi. Oce, men?

  7. Pak Kid, kalau dicerita ramayana or mahabharata sesungguhnya, sebenarnya chakil itu siapa nggih? apa cuma rekaan di cerita ramayana versi jawa?
    Maklum Pak Kid, lagi belajar mencintai wayang…

  8. He he he ….. kaplingnya dah dikonprom sama yg punya wp, tapi mau bangun pondasinya masih terkendala teknis. Makanya saya pengin meguru pada Anda semuanya ttg membangun blog tsb. Kata WP blog saya diberi nama http: masjup1sulang.wordpress.com. Menurut Editor sdh dilink sama SO. Cuman beberapa hari ini saya blm sempat ke Pnetnya. Kalo akses cuma lewat sapinah. Oh ya, Duz, semalam suntuk tadi (hingga pagi ini) seluruh entri di web Anda tak jelajah kembali. Selain sambil belajar cara you mendesain web Anda, jujur saja saya pengin tahu lebih banyak tentang obssesive opinion Anda. Tapi maaf, blm ngasih komen selanjutnya. Oce, men.

  9. mr.kid aka kidhalangsulang aka pakkidhal aka masdjup
    kemaren bilangnya dah bikin WP, alamatpun dimana?

  10. Wuah! kaget juga saya baca catatan SP kali ini. Saya kira SP hanya spesifikasi kompetensi jurnalis bal-balan doang (saya punya alasan kuat di sini, sbb saya tahu SP juga salah satu pelaku bal2an Sulang). E, jebul Anda ini juga handal sbg pengamat sejarah di bidang seni budaya Sulang. Sekali lagi (entah yg keberapa) saya sangat respek banget pada laporan Anda. Thk’s friend.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s