Masih Ada Asa di Sulang (Kisah Suhadi)

img_0999

Teks dan Foto : Dwiyoga N

Pernah dolanan Usum Putu? Permainan yang mengharuskan seseorang yang mendapat takdir untuk dihukum mata ditutup rapat dengan sehelai kain sehingga tidak bisa melihat sama sekali (bahkan setelah kain dibuka pun pendangan masih nge-blur) dan diharuskan mencari lawan main dan menebak namanya supaya gantian dapat hukuman. Gebyar dunia tak pernah bisa kita nikmati, indahnya warna tak mungkin lagi bisa kita kagumi, silaunya mentari tak akan pernah membuat kita memicingkan pelupuk mata, segalanya tampak hitam.

Itu dialami sodara kita, Suhadi. Rumahnya dekat Tapaan Berangkulon. Namun bukan permainan usum putu seperti yang saya ceritakan tadi.

Semenjak 2 tahun lalu Suhadi kehilangan penglihatannya. Berawal dari waktu membantu bapaknya membajak sawah ia merasa ada debu atau pasir yang masuk ke matanya. Sesampainya di rumah matanya tampak memerah dan trasa gatal diikuti perasaan kurang nyaman di kepalanya, refleks iapun mengucek mata. Sejurus lalu Wadik -begitu panggilan akrabnya- pun memeriksakan diri pada dokter di Kota Rembang, pun dikira gangguan biasa. Hingga sebulan kemudian masalah ini tak kunjung berakhir dan pandangan matanya pun terganggu.

Inisiatif memeriksakan diri ke dokter spesialis mata pun ia lakoni sampai ke Jogja (RS. Mata Dr. Yap) dan akhirnya menjalani operasi di sana. Ia divonis  katarak dua bola matanya sekaligus. Operasi berjalan lancar walau menelan biaya tidak sedikit. Diapun pulang dengan perasaan lega.

Namun itu hanya berjalan 3 bulan saja. Gangguan pada kedua matanya muncul kembali, kali ini lebih parah. “Rasane kemeng dan pengen tak copot saja,” kata adik Sumardi ini.

Inisiatif untuk memeriksakan diri ke RS Dr. Yap kembali ia jalani.  Namun hasilnya mengejutkan, tim dokter mendiagnosa katarak yang ia derita masuk stadium yang lebih tinggi. Wadik pulang dengan perasaan tecabik-cabik. Hampir setiap saat mengingat apa yang ia alami ia ingin menangis. Bayangkan saja Tuhan meng-embargo penglihatan kita tanpa konfirmasi dulu.

Wadik merasa ini tidak adil. Emaknya pun begitu, “Ngraos dados tiyang murtadz, Mas. Rasane mboten adil lare kulo kados mekaten!!”, ujarnya atas takdir itu. Bapaknya pun demikian, merasa tak ada lagi yang membantunya ke ladang lagi, sebab Wadik adalah anak yang rajin bantu di ladang. Kakaknya sudah berkeluarga dan adiknya pun punya kesibukan sendiri.

Segala cara pengobatan medis dan nonmedis sudah dijalani. Seorang “pintar” mengharuskan posisi rumah yang harus dirubah pun di turuti dan sampai skarang sudah 3 kali rubah arah rumah namun hasilnya nihil. Ada tawaran medik untuk mengganti salah satu komponen penglihatan lewat donor, namun satu bola mata biayanya 15 juta rupiah. Padahal Suhadi punya 2 bola mata yang musti diganti, itupun belum termasuk biaya operasi dan tetek bengek. Sebuah keputusan pahit yang haris diambil keluarga Suhadi.

Toh, Wadik tidak lantas menyerah pada nasib. Ia pun bangkit. Yang utama, tidak terlalu memikirkan nasibnya, walau beradaptasi dengan keadaan itu memang sulit.

Di teras rumahnya yang sederhana Wadik menuturkan semua cerita kepada kami (Dui, Burhan, dan Yunan). Yang kini ia rasakan adalah hubungan kejiwaan ibu-anak. Ketika emaknya merasa sedih atau bahkan menangis Wadik pun merasakan hal yang sama, bahkan tidur pun sulit. Kalo emak terhibur, Wadik pun merasa tenang hatinya. Ia juga menyampaikan pesan kepada kita untuk mensyukuri anugerah yang sudah kita miliki, menjaga dan merawatnya.

Bagi rekan yang belum pernah mengenal Suhadi atau lupa dengannya, coba ingat, rumah dekat Tapaan berangkulon Sulang, SD Sulang 1 tahun 90-an, Madrasah seangkatan Burhan, Yunan, Zainal Abidin (Aang), Ipung, Oong, Fuad.

Sulang online mengajak Anda mendoakan untuk kesehatan dan ketabahan hati rekan kita Suhadi Berangkulon dan keluarganya. Bila rekan semua terketuk hati untuk memberi santunan silakan datang langsung ke rumah Suhadi. Namun jika hendak kirim donasi bisa lewat Rekening titipan Sulang Online atau Konfirmasi dahulu ke HP 0818-0269-0194 (Dui). Insyaallah akan kami sampaikan pada Suhadi.

33 thoughts on “Masih Ada Asa di Sulang (Kisah Suhadi)

  1. Tanpa membaca tulisan Mas Dui ini, aku pasti bakal terlupa, bahwa aku pernah memiliki teman sekelas yang akrab, periang dan penuh canda sewaktu ngangsu ilmu di madrasah santren yang bernama Suhadi.
    Buat Wadik, kami turut bersimpati atas derita sakit yang dialami. Pasti Allah punya rencana lain dibalik pemberian soal ujian yang bagi orang lain terasa berat ini. Allah akan menghapus dosa-dosamu dengan perantara sakitmu. Tak mungkin Allah membebankan cobaan hidup di luar batas kemampuan umat-Nya.
    Biarlah apa yang sedang menimpamu menjadi pelajaran dan pengingat bagi kami yang diberikan kesempurnaan penglihatan, agar kami tidak menyia-nyiakan anugrah ini dengan pandangan yang merusak,penuh nafsu murahan.
    PS Mas Dui : Bagaimana kalo kita membuka donasi untuk meringankan beban Mas Wadik ini seperti waktu pengumpulan dana patungan buat pembelian kamera, tiap minggu kita ‘unggah’ berapa dana yang telah terkumpul, agar kita bukan sekedar akrab di dunia maya, tetapi juga berempati tinggi terhadap sesama yang sedang menderita.

  2. Terima kasih untuk koreksi limpo50. Inilah tugas kita bersama untuk saling mengingatkan ketika adalah sebuah kesalahan/kejanggalan/kekhilafan.
    Inilah prerogratif-nya Tuhan, dengan segala rencana-Nya di belakang yang tidak diketahui makhluk-Nya.
    Kita jangan pernah berhenti untuk selalu meng-explore hikmah dari setiap kejadian.
    Terima kasih limpo50. Selamat datang di Sulang on-line.

  3. Ada kejutan dan kehormatan di blog ini, atas kunjungan sahabat blogger ‘limpo50’. Terima kasih atas respon dan koreksinya. Silahkan sering2 berkunjung di blog Sulang Online ini, untuk barangkali saling asah asih asuh bersama kita. Sekali lagi terima kasih, prend.

  4. maap aku mung jawab pertanyaan
    wis aku sepurone sing akehhhhhh

    aku salut dengan kalian

    semoga ada jalan yang terbaik buat teman aku suhadi

  5. Setuju, Pak Kidhal. Angen-angen saya, biaya Rp 30 juta yang harus ditebus untuk donor mata itu angka yang tidak sedikit. Tapi itu bukan mustahil kok kalau kita mau gotong royong dan memaksimalkan jejaring kita.

    Terus terang, saya benar-benar terharu. Bukan lantaran saya juga mengenal Wadik. Tapi saya tidak bisa membayangkan seandainya itu menimpa saya.

    Benar bahwa barangkali ada masalah kemanusiaan yang tidak kalah berat di sekitar kita. Bahkan kita sendiri barangkali merasa punya masalah yang tidak kalah besar. Tapi saya yakin, teman-teman semua saat ini kondisinya jauh lebih beruntung dibanding Wadik. Dan akankah kita akan menunggu sampai punya uang banyak untuk bisa mengupayakan bantuan untuk Wadik? Sampai kiamat pun uang yang kita kumpulkan tidak akan cukup banyak untuk membantu orang lain kalau kita tidak sungguh-sungguh berniat.

    Saya mohon ke teman-teman semua. Ayo bersama-sama membantu warga di lingkungan kita yang sedang mendapat ujian dari Tuhan. Silahkan dengan caranya masing-masing. Kalau bukan kita yang memikirkan tetangga kita, lalu siapa lagi?

    Gusti Allah mboten sare.

  6. Wah, rame juga ya, kabar apa, men? Em, trenyuh juga mbaca postingannya Duitor. Usul saya, selain kita diskusikan lewat blog ini, juga perlu diadakan koordinasi dengan penguasa desa termasuk Ki Lurah Sulang. Eh, siapa tahu ada solusinya. Sekali lagi tak acungi jempol Du, kalok nggak salah bersama Yunan Ardi, ya. Terus baru ketemu saya di PendexNet, terus Dui nginep di situ, sebab yang punya angkring bulan madu belum pulang2.

  7. aku arep persiapan turnamen neng Makasar,nek ono jajak aku kbari yo?wingi bungkik pas bali sulang ra gowo master game.

  8. He..he..opo Kids malah suwe paling topone.iyo jarene dijak Kap Tam Gentong,kok suwe dekne neng Sulang?kowe ng Malang?

  9. temanku lama semoga kmu tabah menghadapinya, ALLAH masih menyembunyikan banyak pintu untuk kebahagiaan kmu

    semua cobaan pasti ada hikmahnya

    semangat ya teman

  10. Allah maha adil selalu punya rencana lain dibaliknya,dan kita manusia memandang hanya dengan mata keikhlasan saja agar tahu rencana Allah itu.

  11. mudah2an anda diberi ketabahan,kesabaran atas ujian ini,dan untuk kita renungkan (wuih,judul lagune ebiet g ad) sudah sepantasnya kita mensyukuri semua anugerah dan karunia yg Allah beri pada kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s