Rowo Sambongan, Riwayatmu Kini (habis)

danau

Di pertengahan tahun ini, di tengah kemarau yang membakar bumi, berdua dengan anakku, kusempatkan ‘bersilaturahmi’ dengan Rowo Sambongan.

Teks: Edhi Nurcahyono

 Sudah lama aku melalaikannya, tenggelam oleh kerepotan dan kesibukan dunia yang melenakan. Ingin aku mengenalkan anakku tentang alam tempat di mana dulu masa kecil bapaknya dihabiskan.

Sesampai di sana, apa yang kami lihat…


Terbelalak mataku dibuatnya. Miris hati ini melihat pesona dan elok alamnya hilang oleh kerusakan akibat ulah tangan-tangan kotor manusia. Sedimentasi lumpur yang tinggi, tanah kerukan yang menggunung di tepian danau alami ini, level air rawa yang cuma se’dengkul’, punahnya sebagian tanaman keras penyangga rawa, betonisasi tebing rawa dan proyek pengolahan air minum oleh PDAM seakan menenggelamkan semua kenangan indah bersama Rowo Sambongan. Hingar bingar deru mesin backhoe yang sedang ‘menari-menari’ menyelesaikan job order proyek pembangunan dan gemuruh suara knalpot truk-truk tanah menanjaki tebing seolah menjadi lonceng kematian bagi keberadaan rawa ini. Bahkan belum lama ini aku melewati jalan raya Rembang-Blora, tak terlihat sedikitpun air setetes tersisa di dalamnya, ludes des tersedot oleh serakahnya pompa hisap PDAM. Dan tanah rawapun garing kemringking mirip tanah tegalan yang menengadah menanti guyuran hujan dari langit

Ke manakah Rowoku yang dulu?

Aku tidak apriori, mencibir dan menyalahkan adanya proyek pembangunan dengan dalih menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan warga Sambongan, yang sekian lama terkena dampak krisis air. Yang aku sesalkan mengapa kita jarang menyadari bahwa alam adalah bagian dari kita, alam adalah ‘soulmate’ kita, bukan dengan cara mengeksploitasi tanpa batas dan semena-mena untuk menggaulinya. Andai manusia tidak merambah daerah hulu sana ( Mantingan, Bulu, Kadiwono, Ngiri, Pasedan, Pinggan, Tlogo) dengan serampangan menebangi pohon hutan, tentu tiada istilah krisis air. Andai kelestarian mata air selalu terjaga, tak perlu PDAM memaksakan diri mengolah air Sambongan yang tepatnya lebih cocok sebagai daerah resapan air, penjaga ekosistem, tandon air, paru-paru bumi Sambongan dan penghibur mata para pecinta lingkungan.

Setiap pembangunan pasti aku dukung, asalkan yang berwawasan lingkungan, detail dan teliti menilai aspek amdal-nya, memperhatkan keseimbangan alam dan berorientasi program go green go yang gencar dicanangkan untuk mengeliminir dampak global warming.

Kutatap raut muka bidadari kecilku. Begitu polos, suci dan jujur memandang puing-puing pesona Rowo Sambongan, yang masih diperkenan oleh-Nya untuk disisakan. Baginya, inilah alam dia sekarang. Alam yang makin gersang, panas dan tak ramah lagi bagi penduduk bumi. Dosa, salah dan kejahilan kita terhadap alam, semakin menjauhkan anak cucu kita dari makna bumi sebagai sang pengayom dan sandaran punggung kehidupan.

Ah, sampai kapan semua derita alam ini akan berakhir? Tidak tergerakkah diri kita untuk berbuat kebajikan agar alam sedikit tersenyum dan berbangga hati oleh sekeping kepedulian kita?

Kunyalakan kendaraan untuk mengajak anakku melangkah pulang. Sayup-sayup terdengar tembang dari Koes Plus mengalun syahdu dari pemutar musik di dalam kabin mobilku.

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau kutinggalkan

Sebait lirik lagu lama “Andaikan Kau Datang Kemari”, yang mengguratkan sebuah perasaan cinta ini, cinta kepada alam lingkungan, terkhusus untuk Rowo Sambongan.

Didik Sambongan
Teluk Jakarta, medio Desember 2008
Sambongan, where I ever lived on & never replaced place…

8 thoughts on “Rowo Sambongan, Riwayatmu Kini (habis)

  1. kelingan biyen angon sapi ne sekitar rowo “sambongan”. biyen isih akeh banyune saiki ne endi banyune “mengerikan”. biyen iso mancing/golek wader atau sejenisnya, saiki? huh…..tinggal kenangan.

  2. wah,dikebaki sapi kabeh…
    1)sapi wis tobat
    2)sapi ‘sprint’
    3)sapi mbahas kusmin,eh,kusples
    4)sapi bengok2
    5)sapi bingung tur keweden, dewean gakno kancanya

    yoh,tak kancani pi

  3. Aku termasuk koesplus mania lho,bnyak sair2nya yg mengandung masa depan alam indonesia sblum trjadi kerusakan oleh tngan2 kotor syaithonirrojim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s