Pring, Pengorbanan Seorang Ibu

Setelah pohon sawo dalam tulisan saya yang lalu, bambu (Gigantochloa spp) menjadi tanaman yang “terpaksa” pula dikeramatkan. Rumpun bambu (greng) adalah tempat yang sangar dengan memunculkan cerita-cerita yang menyeramkan.

Teks: Puji Qomariyah

Tanaman bambu banyak terdapat di sekitar aliran air: badan/sempadan sungai. Adanya rumpun bambu tersebut mampu menjaga badan sungai dari longsor. Seperti juga pohon sawo, tanaman bambu memiliki sistem perakaran serabut yang cukup lebar. Sistem perakaran inilah yang mampu menahan tanah tempat tumbuhnya dari erosi yang disebabkan oleh air.

Nurcholis Madjid (alm), tokoh pemikir Indonesia menjadikan tanaman bambu sebagai contoh pengorbanan seorang ibu bagi anaknya. Ketika telah tumbuh tunas bambu, perlahan-lahan tanaman pokok bambu yang sudah tua akan merontokkan daunnya. Cak Nur mengibaratkan pengorbanan ibu untuk memberikan tempat tumbuh, udara dan sinar matahari yang diperlukan bagi pertumbuhan tunas baru, anaknya, agar dapat tumbuh dan berkembang dengan normal. Kalau perlu, hingga harta paling berharga pun direlakan, dedaunan, rontok satu per satu demi celah-celah yang memungkinkan sinar matahari sampai pada tunas baru. Dan untuk mengurangi persaingan mendapatkan makanan, bambu tua, si ibu, bahkan merelakan nyawanya agar tunas baru mendapat makanan nutrisi yang cukup dari tempat tumbuhnya.

Sekali berarti setelah itu mati. Penggalan puisi Khairil Anwar tersebut menjadi gambaran pengorbanan bambu. Ciri khas tanaman bambu dalam berkembang biak adalah setelah tua dan menghasilkan anakan baru, bambu-bambu tua tersebut akan mati dimulai dengan rontoknya daun-daun, batang bambu mengering dengan perubahan warna dari hijau berangsur-angsur menjadi kuning/pucat sebelum akhirnya mengering dan mati untuk digantikan oleh tunas-tunas baru.

Seperti juga pohon sawo, rumpun bambu dengan sistem perakarannya mampu menyimpan air bagi lingkungan sekitarnya. Cobalah perhatikan belik-belik di tepi sungai: kedhung Jamban, kali Wedok, Kali Tarung, Kali Santren, Kali Putri, Kali Banyurowo, Kali Branglor, belik biasanya berada pada sungai-sungai yang masih memiliki rumpun bambu yang cukup banyak. Dengan karakteristik dan kemampuannya itulah sebuah penelitian di Jawa Barat (Tasikmalaya-Ciamis) menjadikan tanaman bambu sebagai vegetasi yang digunakan untuk konservasi lingkungan terutama tanah-air, selain nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pada areal tanah yang ditumbuhi rumpun bambu cukup banyak, biasanya tanahnya relatif lembab yang bisa jadi merupakan indikasi adanya kandungan air di dalam tanah tersebut.

Terkait keberadaan greng-greng; kadang kita tidak memperhatikan berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita, yang terjadi justru dengan cerita keangkeran greng-greng tersebut membuat kita menghabiskan rumpun-rumpun bambu yang ada agar menjadi lebih padang. Selanjutya apa? Terkikisnya badan sungai diikuti dengan longsor yang turut membuat dangkal sungai seklaigus membahayakan masyarakat sekitar sungai. Ketika bambu-bambu tua dengan kesadaran mengorbankan dirinya bagi tumbuhberkembangnya tunas-tunas muda dalam meneruskan siklus hidupnya sekaligus menjaga lingkungan bagi manusia; selayaknya kita pun dapat lebih bijaksana memberikan kesempatan pada tunas-tunas bambu muda berkembang menjadi lebih besar dalam mengemban misinya : memberikan arti bagi sebuah kehidupan. (PQ)

4 thoughts on “Pring, Pengorbanan Seorang Ibu

  1. selain itu bambu hidupnya nggak nyusahin(nggak perlu perawatan)dan tahu2 sudah nggrumbul jadi banyak..bambu juga telah menjadi bagian penting bagi manusia untuk komponen rumah,furniture,peralatan rumah tangga sampai barang seni…dan satu lagi anak pring itu bisa dibikin sayur bung…

  2. ..mburi umahku yo pring2an..selasah rontokan godhong pring,bisa jadi humus yg menyuburkan tanah disekelilingnya..tanahe yo gembur..bisa diurap ora yo godhong pring?xixixi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s