Sambongan’s Mystery

img_0578

Teks: Edhy Nurcahyono

Aku kurang tahu mengapa ada anggapan Rowo Sambongan itu angker, menakutkan. Mitos bahwa di sini pusat kerajaan jin jahat, tempat danyang air bersemayam, dan daerah ‘larangan’, juga sulit dibuktikan.

Apalagi semenjak ada yang meninggal akibat tenggelam, seolah menjadi pembenaran dan alasan shahih bagi orang-orang untuk menasbihkan bahwa Sambongan adalah area singit, beraura negatif dan di bawah kekuasaan makhluk jahat. Setiap kali ada kejadian ganjil, musibah dan tragedi kecelakaan di jalan raya Sambongan, pasti dihubungkan-hubungkan dengan keberadaan Rowo Sambongan. Entahlah, bagaimana cerita itu bisa turun temurun dan terpatri kuat di benak masyarakat luar Sambongan.

Meski bagi banyak orang Rowo Sambongan kental nuansa klenik dan daya magisnya, tak menghalangi kami sebagai warga Sambongan tetap ‘bersahabat’ dan bijak memperlakukannya sebagai bagian dari ‘keluarga’ kami. Seolah kami telah menyatu, meleburkan diri dalam ikatan simbiosis mutualisme.

History of Sambongan

Mendengar kata Sambongan, yang di ada di benak setiap orang, pasti identik dengan sebuah rowo. Dan memang layak kalau rowo menjadi ‘ikon’ tersendiri bagi bumi Sambongan. Meski berganti-ganti nama yang awalnya Sambongan, berganti Sidorejo dan akhirnya bermetamorfosis menjadi Sambongrejo, tetap nama Sambongan yang melekat di bibir khalayak umum untuk menyebutnya.

Mengapa dinamai dengan Sambongan?
Konon katanya (dan memang fakta) karena Sambongan adalah titik simpul bertemunya beberapa wilayah tlatah negri, yaitu Kapasan (ngGlebek) di sisi utara, Kaliombo Kidul dan Sulang Utara di sebelah barat dan Jatimudo sendiri sebagai pemangku rawa. Maka dari itu dipun paringi asmo Sambongan, yang berarti menyambungkan tiap-tiap daerah.

Aku pernah mendapat crito dari Mbah Su (dulu tinggal di belakang rumah Gobank), sesepuh kampung nDologan, sekitar tahun 20-an (masa kecil Mbah Su) hingga masa pendudukan Jepang, Rowo Sambongan sangatlah luas, pesisir rawa mencapai belakang rumah bapak sekarang. Bahkan jalan Rembang-Blora pun hampir tercium oleh mimplah-mimplahnya air rawa kala itu. Kata Mbah Su “mBiyen iki Sambongan koyo segoro!”, untuk menggambarkan betapa luasnya area Rowo Sambongan. Bahkan tentara Jepang pun begitu ‘aware n care’ masalah keberadaan rawa ini karena menyadari betapa susahnya mencari air di tengah alam yang tandus, apalagi kondisi ketika itu dalam berperang dan air adalah salah satu sumber amunisi perbekalan perang. Sebagai bukti, pernah tanggul sebelah utara jebol tidak kuat menahan desakan volume air. Akhirnya Jepang (dengan bentuk penjajahannya) memobilisasi warga di tiap-tiap desa sekitar rawa, untuk mengirimkan beratus-ratus batang kelapa (glugu) dan tenaga kerja dengan sistem rodi untuk membendung kembali tanggul yang jebol. Ini semua dituturkan sendiri oleh Mbah Su.

Jaman pertama keluargaku pindah ke Sambongan (awal 80-an), air rawa pun masih terlihat dari rumah kami. Meski musim kemarau, sawah-sawah di sekitar rawa masih bisa dikaryakan untuk bercocok tanam padi. Sebuah berkah bagi petani yang memiliki lahan di sekitar rawa. Setiap hari puluhan fish buster mengadu untung menangkap ikan, belum lagi para bird hunter dengan senapan anginnya mencari buruannya, karena banyaknya burung yang hidup bebas di sekitar rawa. Pernah juga sekelompok warga membudidayakan ikan air tawar dengan karamba terapung untuk memanfaatkan berlimpahnya air Sambongan, yang kaya akan mikroorganisme, sumber pangan bagi ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Puluhan ekor hewan ternak, sapi dan kambing, dengan rakusnya melahap rumput dan rambanan yang selalu menghijau di pinggir rawa karena kesuburan tanahnya, dan ketika sore menjelang, riuh rendah tawa canda cah angon memandikan hewan-hewan piaraannya, seakan menjadi ritual harian yang selamanya akan kekal.

Irama dan ritme kehidupan setiap makhluk berjalan, dinamika alam dan lingkungan mengalir, digerakkan oleh roda yang bernama Rowo Sambongan. Sebuah pemandangan yang tidak bakal mungkin terulang sampai kapanpun. Dan beruntunglah aku pernah merasakan hidup indah dan damai bersama Rowo Sambongan. (Bersambung)

30 thoughts on “Sambongan’s Mystery

  1. Mas Kunto, piye nek cah perantauan kumpul2 wae di Sulang? Disepakati wae dinane. Mengko kuliner-an lesehan di kaki lima depan Kantor Kecamatan, trus dilanjut nyambangi homebase S-OL…

  2. Sejarah perlu berterima kasih kepada 3 tokoh yang berjasa ‘mbabat alas’ Sambongan, karena 100% warga Sambongan adalah warga pendatang/ perantauan.
    1. Alm. Mbah Djoyo
    2. Alm. Mbah Dayad
    3. Mbah Paidjan

  3. Betul Mas Didik, kita semakin banyak kehilangan para sesepuh pinisepuh baik sbg pelaku sejarah/riwayat maupun sbg penyambung informasi dari para pendahulu kita. Sependek yang saya mampu tetep saya bantu.
    Ayo co, semangat co …… (Yang saya maksud Mbah Djoyo, lengkapnya mungkin Djoyo Marto alm, bapaknya Lik Waryo cs.)

  4. Wah, mantep tambahan critanipun Pak Kidhal. Kulo malah dereng nate mireng bab latihan bedil2an laskar TNI di area Sambongan.
    Sabenere menawi wonten wekdal pengen sowan Mbah Paidjan, sesepuh Sambongan ingkang taksih sugeng. Piyambakke mesti kathah nyimpen crito bab Rawa Sambongan, ingkang mboten dimangertosi generasi sakniki.

  5. Sangat setunyu, eh setuju sangat, sedikit demi sedikit pasti. Sebenarnya meskipun masih bersifat perorangan kan sdh dimulai konservasasi to? Di tanah2 milik keluarga Anda dan keluarga Mas Didik kan sudah mulai menghijau karena embrio hutan rakyat. Demikian pula di bagian barat dan timur Sambongan. Cuman pertanyaannya sampai kapan embrio hutan itu dapat dipertahankan?

  6. Oh ya mister,masalah dampak ttp sja ada…
    Tpi klo kita berfikir dampak kita hanya bisa berfikir ttg malah masalalu,skr kta yg penting cari solusi gmana kta bsa mengembalikan sdikit demi sedikit sambongan menjadi ijo royo royo meneh… Ben sulang dadi makmur meneh

  7. Wah keren ya pak…
    Koyok pilem rembo no pak?
    Klo boleh bilang,critanya bkin sya pengen dger critanya langsung,kpan2 sya tak jagong n minta dicritani…hehehe…

  8. Pagi Duz, makasih. Masih di Tupaz town apa dah kembali ke BumKar? Saya sangat penasaran ttg your obsession yang seharusnya tak ada di kamus. He he he.

  9. Usai latihan itu dapat Anda bayangkan dampak kehancuran habitat flora dan fauna Telaga Sambongan. Namun kami semua tak pernah mempermasalahkan. Namun kenyataannya sejak latihan perang itu belum pernah kondisi Sambongan pulih kembali seperti semula. Dan saya tak berani menduga-duga apakah latihan perang itu merupakan salah satu faktor penyebab kemunduran fungsi keseimbangan ekosistem Sambongan?
    Demikian sedikit kenangan yang sempat saya ingat ttg sehari latihan perang Nasional di Sambongan. Barangkali ada teman2 seangkatan saya yang berkenan melengkapi atau merevisinya, saya sangat berterima kasih. Sembah nuwun.

  10. Pada hari H dilaksanakan latihan perang2an itu semua aktivitas penduduk Sulang dan sekitarnya dihentikan, termasuk semua sekolah diliburkan. Sambongan dengan radius 2 km dinyatakan sbg daerah larangan segala aktivitas umum. Jalan raya Rembang-Blora ditutup, termasuk kereta api. Saat itu tidak menimbulkan masalah, karena kendaraan memang belum begitu banyak. Penduduk sekitar Sambongan diungsikan. Sulang dalam kondisi mencekam.
    Latihan perang dimulai sekitar pukul 07.00 hingga pukul 14.00.
    Situasinya betul2 seperti perang beneran. Suara letusan sejata ringan dan berat sahut menyahut. Diselingi suara pesawat tempur dan heli yang melintas. Kami yang di dalam rumah kadang sempat mencuri keluar rumah sekedar ingin melihat pesawat dan pasukan terjun payung. Namun setiap diketahui ibu, saya pun disuruh masuk kembali ke rumah.
    Setelah kurang lebih 5 – 6 jam, selesailah latihan perang itu. Tapi di jalan raya ada suara dengan penguat leadspeaker melarang penduduk belum boleh keluar rumah.

  11. Tak tahulah saya, apa alasannya, apa tujuannya, siapa yg punya ide dan bagaimana skenarionya? Yang jelas Sambongan dijadikan arena latihan perang Nasional. Saya katakan nasional karena yang terlibat dalam latihan adalah para pasukan komando AD, AL, dan AU. Saya tak dpt menyebut tentang berapa kompi atau batalyon pasukan yg terlibat, pokoknya buanyak sekali, mungkin mencapai angka ribuan
    Dari unsur AL adalah KKO, unsur AU adalah KOPASGAT, dan unsur AD adalah BRIMOB, BR, Pasukan Kavaleri dan Infantri.
    Kendaraan perang yang digunakan antara lain truck pengangkut pasukan dan perlengkapan perang, Jeep2 komandan, sepeda motor cintung, pesawat tempur, helikopter, pesawat angkut pasukan terjun, tank, kapal amphibi, dan perahu karet.
    Senjata yg digunakan antara lain ringan dan berat. Bedil, pistol, granat, meriam, kanon dan bom, dan alat komunikasi komplit plit plit (orang2 menyebut tilpon hawa).

  12. Sobat2 bloger SO, sekali lagi mohon maaf sbb paparan ini saya akses lewat sapinah dari rumah. Pnet lagi terkena dampak “first night” gak apa2 ya sayang. Ini mulai masuk pada inti paparan. Tapi mohon ijin istirah sejenak ya Gus, drijiku kiyu je, Duz. Kwek kwek.

  13. Saya tak ingat persis tgl & bln-nya. Cuma th kejadiannya yaitu th 1967. Telaga Sambongan masih relatif asri dan indah. Genangan air cukup luas dan dalam, sbb proses sedimentasi blm banyak berpengaruh.
    Pepohonan juga relatif cukup, terutama di bagian timur dan utara telaga. Jenisnya beraneka ragam, namun yg menonjol adalah jenis randu kapol dan jati. Tumbuhan airnya adalah welingi, teratai putih, dan ganggang hijau.
    Sedangkan fauna yg berhabitat di sini selain ikan adalah bangsa bangsa burung2an dan hewan melata terutama ular dan biawak besar (Jawa: seliro). Saat itu yg tinggal di Sambonga baru dua keluarga, yaitu keluarga P Paidjan (pensiunan tentara) dan Mbah Djoyo (petani pendatang dari daerah Solo).

  14. Ini sekedar bicara apa adanya, terlepas dari praduga tentang sebab musabab kemunduran fungsi ekologis Sambungan yang pernah menawan.
    Sejak kecil (umur 8 atau 9 th hingga lulus SMP, hampir setiap siang hingga sore, saya termasuk komunitas anak gembala di Telaga Sambongan (maaf saya lebih sreg menyebut Sambongan dg istilah ‘telaga’) Namun yang akan saya tambahkan ttg Sambongan, tak ada hubungannya dengan latar belakang saya sebagai koboi tadi, akan tetapi satu kejadian yang luar biasa meskipun cuma sehari saja. (sorry Dusone, Gus Gobang, CaPas, Mas Didik, Duitor, Eyange Sabdo, Wephy papa Weyna, dan mungkin juga Editor ….. Gak usah tegang. Yang ini bukan misteri koq)

  15. Walah..nek Sambongan terkenal diBlora sebagai areal mancing,buakn daya kleniknya lho pren.Rata2 orang Blora lebih suka mancing di Smbongan drpda di Sudo<katanya sih ikannya lebih gurih.

  16. Wah! kalah cepat dari gelandang serang C7. Bagus, Mas Didik, dilanjut terus dokumentasi Rukun Sulang. Pasti banyak manfaatnya. Okai men?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s