Sang Pengadil

pak-minhad

Teks: Sabdopalon Foto: Ist.

 

Bal-balan tanpa wasit, bagaimana ya jadinya? Setiap pemain bisa menafsirkan aturan main sendiri-sendiri. Pastinya akan kacau. Pertandingan sepakbola tanpa wasit hanya dijumpai ketika Umar kecil dan kawan-kawannya bermain bola dengan teman-temannya di lapangan Kawedanan atau lapangan SD empat dengan bal plastik.

Sang pengadil. Wasit. Atau bagi orang-orang tua akan dengan bersemangat menyebut dengan nama lipri. Cukup unik jika menyimak latar belakang sang pengadil sepakbola di Sulang. Hampir semua memiliki latar belakang sebagai pemain sepakbola. Latar belakang tersebut ternyata membantu dan memudahkan sang pengadil ketika harus mengambil keputusan : harus menghentikan dan memulai pertandingan akibat berbagai kejadian dan insiden. Kornol. Heng. Gol. Opset. Finalti. Ataupun pelanggaran yang mengharuskan pemberian sanksi/hukuman kepada pemain dalam waktu yang singkat dengan keputusan yang tepat dan adil.

Sulang tidak pernah kehabisan jajaransang pengadil”. Pak Kardi, mas Mung (Mulyono), mas Yanto Godhek, mas Herno, termasuk juga Pak Juned, Pak Karyo. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pengadil yang lain,  peran yang cukup menonjol ada pada diri Pak Kardi dan mas Mung. Tidak berlebihan, mengingat dua pengadil inilah yang sering memimpin pertandingan sepakbola di Sulang. Pilihan menjadi pengadil merupakan sebentuk kesetiaan dan kecintaan pada dunia sepakbola. Untuk maestro sang pengadil “mbah Minhad” Sayangnya saya tidak punya rekam jejaknya.

Pak Kardi. Dalam setiap pertandingan, sang pengadil ini hampir-hampir mengikuti ke mana arah pergerakan bola sekaligus pergerakan pemain. Semua kejadian selama pertandingan hampir-hampir tidak pernah luput dari pengamatannya sehingga keputusan yang diambilnya selalu obyektif, tegas dan tidak berat sebelah. Ketegasan Pak Kardi tercermin dari sikap tidak segan-segannya dia memberikan kartu pada pemain yang melakukan pelanggaran yang dapat mengganggu kelancaran pertandingan, membahayakan pemain lawan, hingga menyuruh penonton yang telah merangsek masuk lapangan untuk mundur dari garis lapangan.

Mas Mung. Mengawali karir sebagai sang pengadil setelah tidak aktif sebagai pemain dengan menjadi asisten wasit (tukang klebet). Meskipun pergerakannya selama pertandingan tidak sejauh yang dilakukan Pak Kardi, dengan pengalaman sebagai pemain dan assisten wasit menjadikan Mas Mung pengadil yang efektif dalam mengambil setiap keputusan. Jika pak Kardi sering memberikan sanksi/hukuman diikuti dengan penjelasan; Mas Mung melakukannya sebaliknya sanksi/hukuman diberikan pada pemain setelah mendapatkan penjelasan terlebih dahulu. Tentunya keduanya menerapkan cara yang berbeda dengan alasan yang kuat. Satu hal yang pasti kedua pengadil kita ini selalu menerapkan aturan dengan tegas, tidak berat sebelah, tidak memihak salah satu pihak, serta tepat dalam waktu yang cepat.

Pri….iiiiiiit. Kita semua merindukan bunyi suara itu di lapangan Sulang, Pak. Suara ketegasan, suara keadilan. Juga suara kegembiraan dan keceriaan yang telah lama tidak menghiasi lapangan Sulang. (SP)

22 thoughts on “Sang Pengadil

  1. O, gitu ya, biasanya kalo hubi itu memang disertai kemampuan koq. Tinggal bagemana pengembangan dan kesempatannya. Termasuk hubi Anda tulis menulis.
    (buat Editor ini saya gunakan gmail yg baru, mohon maaf kalo nambahi kerjaan Anda)

    Tenang saja, Kids. Wong cuma klik, klik, dan klik.

  2. Oh! nggak you koq, kan you nggak pernah kesenter itu pitalnya. Malahan menurut SP, you kan justru penakluk bola, sehingga bisa meliuk-liuk di antara pohon2 nyiur di laman timur Kawedanan, ya to? Kemudian saya berpikir, jangan2 Dusone memang ibarat “Cristiano ‘C7’ Ronaldo”nya Sulang Putbol ya? sayang terpendam. Betul gitu ya, Gus Gobang?

  3. Lhadalah! ha ha ha ….. mungkin saja ya ini penyebabnya, hingga kini blm sembuh2. Mangkanya dhe’e ngjongglo iyus hingga kini. Wah, sa’aqeneeeee …..

  4. dulu waktu SD Mr.Blethik itu main bola direwangi sampai semaput lho pak kidh,gara2 bagian vitalnya ikut ketendang juga…kalo ndak percaya tanya saja ke mas SP

  5. Urusan nyoblos gampang. Cuman ….. janjane yang paling pas dhe’e tu nyalon apa ya? Padahal krokosal sdh dicap jengkol.

  6. mbah minhad menurut saya lebih terkenal sebagai Sosok “behind the scene” setiap pertandingan Sepak bola di sulang,. dari pada sang Pengadil/ Wasit

  7. Meski mung sak Blethik namun lumayan juga perannya dlm perjalanan bola Sulang. Bahkan, peran dia cukup sulit untuk digantikan orang lain. Saking cintanya (mungkin) pada sepak bola, dia itu akan berbuat apa saja tanpa pamrih. Tak peduli orang lain mentertawakan atau bahkan memarahinya. Si Mr Blethik is “The Multifunction Man of Sulang’s Football”. Jobnya antara lain menghubungi para pemain, menyiapkan perlengkapan, mengedarkan stofmap utk donatur, asisten official (meski tak ada yg nunjuk), dan sampai tukang sool dan pool sepatu. Bravo Mr Blethik.
    What are you comment’s, Mr Sabdopalon, Dusone, CaPas, and Gus Gobang?

  8. SP ki koq jeli temen se? Wis ndhelik2 kok yo mekso diuthik-uthik. Maaf, saya termasuk salah satu dari sekian orang yang gagal membangun keberanian di tengah lapangan, meski sdh mengantongi sertifikat resmi C2.
    (hik hik aq si’in Mas SP, jangan dibilang-bilangkan ama temen2 ya)

  9. Kok tidak ikut ngacung, Kidh? Untuk diketahui, sebenarnya pak Kidhal juga termasuk dalam jajaran “sang pengadil” yang dimiliki Sulang. Tadinya saya ingin melihat bagaimana “sang pengadil” di mata “pengadil”, dan berharap pak Kidhal mau mengulasnya. Gimana pak Kidh?

  10. Iya to? Sayang saya tidak sempat menangi Pak Minhad sebagai wasit. Yang saya ingat, anak-anak seumuran saya punya cerita bahwa Pak Minhad punya payung ajaib yang selalu dibawa nonton bola. Setiap payungnya itu ditancapkan ke tanah bisa dipastikan hujan tidak akan turun selama pertandingan. Trus kalau Timnas Sulang ketinggalan, payungnya itu digerak-gerakkan dan bolanya akan nurut ke arah payung itu. Sampai Gooo….l.

    Pernah waktu itu Sulang kalah melawan Landoh. Padahal Pak Minhad ada. Waktu tak lihat, eh… beliau tidak bawa payung, tapi jas hujan.

  11. Bertekad untuk berprofesi sebagai wasit (khususnya sepak bola) adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Meski hampir semua orang (baca: penonton bola) merasa mampu jadi wasit, namun kalau diberikan kesempatan untuk memimpin pertandingan, saya sangat yakin hampir semuanya menolak(dg alasan bervariatif). Saya sangat salut pada pemberani2 Sulang, Mbah Minhad, P Kardi, P Godeg, P Mung, P Min (tukang klebet abadi). Siapa yg berani jadi penerus mereka? Hayo ngacung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s