A Memory of An Old Time in Rawa Sambongan

img_0578

Moudiyarrr. Saiki senengane dho nganggo boso Enggris.

Mas Didik bercerita tentang Sambongan. Sebenarnya tulisannya panjang. Sengaja saya umumkan bertahap, biar bacanya cepet rampung. (e)

Teks: Edhi Nurcahyono*

Setiap kali kumenjejak di belakang rumah Bapak, kuarahkan pandangan ke semua penjuru mata angin. Kusapu dengan tatapan tajam ke setiap ruang yang masih bisa terjangkau oleh sudut mata.

Dan akhirnya penglihatanku terhenti ke sejengkal area yang selalu kujadikan point of view‘, satu tempat yang seolah menjadi magnet pengenang masa lalu, yang mengusik kenangan dan mengangkat kembali romantisme masa kecil bersama teman-teman sepermainan. Dialah oase di antara padang tandus tempatku berpijak, dan dialah air penyejuk di tengah kerasnya alam yang kami diami. Terhampar menggenang di Lattitude: 6″46’55.82″S dan Longitude: 111″22’34.60″E, di tlatah bumi Jatimudo nan damai tetapi gersang. Ya…itulah Rawa Sambongan.

Masih terbayang jelas, di masa aku masih duduk di bangku sekolah dasar, di sanalah aku dan teman-teman bercengkerama menghabiskan waktu bermain. Menikmati keceriaan dan indahnya masa kecil, entah dengan berburu ikan, bluron dan lomban di jernihnya air rawa yang gilap-gilap, berkotor-kotor ria bermain lumpur di pintu air, melewatkan malam mengadakan pesta ‘barbeque jagung’ (maksudnya mbakar jagung) di pinggir rawa bila musim telah tiba, menyalurkan hasrat keisengan bermain mercon bumbung (yang sengaja menjauh dari pemukiman agar tidak membuat gaduh) ataupun hanya sekedar jjs nyepeda onthel menikmati eloknya alam di sekitar rawa.

Terasa belum lama bersendau gurau dan gojeg dengan teman-teman sepermainanku, Mas Agus, Kelik, Nug, Rohadi, Mas Wied , Aris, Dwi , Anto, Joko, Dilus, Mulyono, Udin dan Endri. Dengan daya imajinasi dan kreativitas anak-anak yang polos dan ndesani, kami ‘sulap’ Rawa Sambongan sebagai playground dan arena water boom yang selalu mengasyikkan.

Kala itu daerah kami belum terjamah oleh air ledeng, sehingga air rawa menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar. Mandi, mencuci, dan minumpun semua bertumpu dari air rawa ini. Jangan bayangkan dengan kondisi air rawa sekarang, dulu airnya begitu jernih, melimpah, dan layak minum. Masih banyak tanaman keras dan perdu di sekeliling rawa sebagai penahan air, mulai asem londo, randu alas, akasia, jati, johar, pohon bunga flamboyan, bogor dan ploso, yang menjadikan lingkungan rawa menjadi sejuk, hijau dan rindang. Ditambah vegetasi air seperti teratai, suket lingi, kangkung londo dan ganggeng, semakin lengkaplah Rowo Sambongan menjadi ajang berbagi kasih antara alam dan warga Sambongan. Tidak pernah dalam sejarah sebelumnya, air sambongan bakal ‘asat’ sepanjang apapun kemarau yang melanda.

Ekosistem yang terjaga menjadikan tumbuh dan kembangnya keanekaragaman hayati, dan di antaranya dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan gizi bagi tubuh-tubuh kecil kami. Begitu mudahnya dulu mendapatkan ikan, ada mujair, nila, kutuk, wader, urang, dan bahkan populasi keong mas pun hidup dan berkembang, yang kami jadikan lauk sebagai teman nasi bagi makan sehari-hari. (Bersambung)

* Alumnus SMPN Sulang, sekarang bekerja di Jakarta dan hampir setiap minggu pulang ke Sulang untuk menengok istri dan buah hatinya.

35 thoughts on “A Memory of An Old Time in Rawa Sambongan

  1. Nek Mas Didik kadang terjangkit d’Lamb Ang An West.
    Haiya, Dusone ben tambah ngeSu ndhaLe. Ong Ing Oooong …..

  2. Tadi yg rada seriously, sekarang kembali dheglenkly. Halo Gus Gobang, saiki koq pelit komen se? Apa lagi sakit “Sam Bo” (penyakit anyar iki, Gus)

  3. Gini lho, men! jangan penthit2 nek ngalem nggih, yang paling urgent saya pribadi nimbrung di sini dg niatan belajar. Dan ternyata hal yg saya kira mustahil sedikit demi sedikit bisa saya peroleh di sini.
    Maaf, ndherek miterang Mas Duwek_bl@nglOR punika sinten nggih, sakawit kula wastani Mas Duitor, bul sanes. Sugeng tepangan Mas Duwek (kula sampun gadhah ancer2 kok, menawi boten lepat Mas Dwi Punto, nggih?)

  4. nyuwon Sewu…
    Pak kidhal meniko sinten njeh…

    Pak Kidhal itu panggilan sayang untuk Ki Dhalang Sulang. Tapi juga bisa diartikan Kiai Dhari Langit. Sumpah iki, aku menyaksikan langsung Ustadz Kidhal memimpin tahlilan di lor Treteg mBandhung pas lebaran kemarin.

  5. wah, iki utak atik gathuk versi tiongha…
    nanging sik sik sik… 3 kuburan, kuburane sopo wae kui?
    Sambongan cen nduwe pengrajin kijing lan patok, ning ora nduwe tanah kuburan kanggo nyublekke.
    bener ra gus gobank?

  6. Refers to Om Dusone dalam menganalisa history of city name, saya mengurai bahwa Sambongan is berasal dari bahasa Cina. “Sam” is tiga, “Bong” is kuburan, dan “An” is akhiran yang berfungsi membentuk kata benda. Jadi, Sambongan berarti tiga kuburan yang berfungsi di akhiran dan membentuk kata benda: Cina! Oh, My! It’s so complicated for me. Saya akan mencoba di next waktu deh.

  7. totally agree Pak Kidal.
    Tanpa jasa Pak Kidhal dan ‘Pak Kidhal Pak Kidhal’ yang laen, awakke dhewe dereng saged mentas saking jaman jahiliyah, jaman sing isine mung wong sing bodo, primitif lan terbelakang.

    Kemutan pepatah : Dibalik kebesaran orang-orang hebat, dibelakangnya ada guru pengajar yang jauh lebih hebat.

    Ayo, sejenak bareng2 nyanyi lagu “Hymne Guru”…

  8. Gini lho Mas Didik, jaman di es de 4 dulu kan sdh tak entek2ke nggojlog Mas Didik dkk, to? Jadi kalo sekarang mampu berkarya bagus2 kan wajar, muridnya siapa mbiyen, tul nggak Gus Gobang!

  9. Lho, ingkang ditunggu meniko komentaripun je Pak Kidhal.
    Tulisan meniko ibarat adzan lan komentar ibarat iqomatipun. Yen mboten dikomentari, pripun anggene bade miwiti sholat…

  10. matur nuwun kagem mas dui lan pemangku sulang, sampun ngloloske tulisan kulo. sakjane dudu tulisan kui, mung sekedar ngudo roso, curhat basa gaule…

  11. Nek I yes must to follow yes, Duz. No what what to?
    Untuk karya anak lanang Didik ini, saya nggak melu melu komen lho! Why?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s