Sebuah Nama, Sebuah Cerita

gapura-sulang

Teks: Dusone untuk Sulang Online

Pemberian nama untuk suatu tempat (kota/desa) dapat melalui berbagai cara.

Riwayat sebuah nama biasanya dapat diketahui dari sebuah legenda cerita yang dikisahkan secara turun temurun, yang  kebanyakan adalah untuk nama tempat-tempat yang sudah ada sejak jaman nenek moyang. Misalnya, Banyumas (legenda banyu emas), Surabaya (legenda soera dan baja), Rawa pening, dan lain-lainnya.

Pemberian nama juga dapat dilakukan menurut ciri khas karakteristik masing-masing tempat. contohnya ; Cirebon, untuk menunjukkan banyaknya rebon (udang kecil) di sungai-sungainya; Kampung Rambutan, untuk menunjukkan banyaknya pohon rambutan di daerah tersebut.

Selain itu, nama tempat juga dapat diberikan karena adanya kebijakan pemerintah (penguasa) setempat. Sebagai contoh adalah pemberian nama di suatu tempat untuk mengenang adanya peristiwa penting yang menurut kaca mata pemerintah (penguasa) layak untuk dikenang dan tidak dilupakan. contoh lain adalah pemberian nama untuk daerah bukaan baru di lokasi transmigran yang mulanya adalah kawasan hutan belantara.

Nama Tempat di Sulang, Sebuah afsir

Di sini, saya akan mencoba untuk sedikit ‘usil’ mengotak atik hal ihwal penamaan tempat yang ada di daerah sulang. metode yang digunakan adalah murni subyektif dengan sumber yang belum tentu layak untuk dipercaya. silakan membaca….

+] Sulang. Ada beberapa kemungkinan : 1] akronim dari kesuSU iLANG, 2] akronim dari SUsune iLANG, 3] akronim dari aSUne iLANG. dari tiga kemungkinan tersebut ada satu kesamaan, yaitu pada kata ilang (=hilang, Bhs. Indonesia), kemudian timbul satu pertanyaan, apa hubungan kata ‘ilang’ dengan tempat ini? adakah sesuatu yang ‘spesial’ dalam hubungan ini? perlu dikaji lebih jauh lagi.

+] Tegalgedhe; (mungkin) pada waktu itu terdapat lahan tegalan yang sangat luas.

+] Branglor, brangkulon, sulangtengah; arah-arah tersebut menunjukkan letak/lokasi daerah terhadap pusat pemerintahan (=kantor kecamatan/kawedanan). Branglor; karena terletak disebelah utara, Brangkulon; karena terletak di sebelah barat, Sulangtengah; karena menjadi satu area dengan pusat pemerintahan (=kantor kecamatan/ kawedanan).

+] Kauman; merupakan akronim dari KAUMe wong iMAN (=kaumnya orang beriman), lokasinya hampir bisa dipastikan selalu berdekatan dengan mesjid.

+] Santren; karena adanya pondok pesantren dengan santri-santrinya.

+] Banyurowo; (mungkin) karena tanah d ilokasi tersebut mampu menyimpan air lebih baik daripada tanah di lokasi yang lain, sehingga tidak heran ketika musim kemarau panjang tiba di mana banyak sumur yang mengalami kekeringan, hanya sumur di Banyurowo-lah yang masih bertahan debit airnya, dan menjadi tujuan utama para ‘pengangsu’ (=pencari air).

+] Tapaan; dahulu adalah tempat untuk bertapa/ menyepi oleh seorang tokoh yang dikeramatkan, bisa juga adalah tempat yang pertama kali dipijak oleh sesepuh/ tetua/ penemu daerah tersebut.

+] Sinderan; (biasanya) merupakan tempat tinggal dan atau beraktifitas petugas pemerintah =penguasa) yang berperan dibidang kehutanan, mengurusi segala permasalahan seputar hutan.

+] Sambongan; semacam danau buatan yang terbentuk karena disambong (=dibendung, bhs indonesia).

+] Karanganyar; anyar=baru, merupakan daerah bentukan baru, konon dahulu masih menjadi satu dengan banyurowo, tetapi karena ada pemekaran wilayah, terus dipecah menjadi daerah baru.

Penutup

Satu hal yang masih membuat saya bertanya-tanya sampai saat ini adalah latar belakang penyebutan ‘pojok’ di Sulangtengah, karena dari sisi geografis ‘pojok’ tidak berada di pojok, tetapi termasuk dalam lingkaran tengah antara Tegalgede dan Sulangtengah, bahkan akses ke pusat pemerintahan (kecamatan) lebih dekat. mudah-mudahan, penyebutan sebagai ‘pojok’ bukan karena ada yang ‘dipojokkan’ ataupun ‘terpojok’. Terimakasih.

03:30 sore

dusonedijepara

untuk sulang online.

18 thoughts on “Sebuah Nama, Sebuah Cerita

  1. sumberjo?mgkin dulu adalah sebuah area yg masi sepi pemukim,tapi lama lama makin bertambah banyak,shg jadi ‘rejo’

  2. sumberjo?mgkin dulu adalah sebuah area yg masi sepi pemukim,tapi lama lama makin bertambah banyak,shg jadi ‘rejo’

  3. Analisis CaPas, saya ya super mathuk. Tapi hrs dikasih setting lho. Ora ketang ngawur2 sithik ya gak masallah. Siapa tahu besok anak putu pada percaya, hingga jadi legenda. Yang namanya legenda itu kan salah satu sumbernya dari cerita ngawur barang to? Klak klak klak klak klak (kalo ini ketawa sambil makan krupuk)

  4. Ini sekedar nambahi naskah penjelajahan Dusone. Dan ini murni menggunakan metode aji2 super pengawuran. Ewodene kalok ada yg percaya ya super kebangeten. Oce?
    Nggalsari (Tegalsari): berasal dari kata ‘tegal’ dan sari. Tegal= pertanahan cukup luas non pemukiman non sawah, sari = kembang/ bunga. Jadi Tegalsari = tanah tegalan yang penuh kembang. Ada crita khayalnya tapi sebelum tak awur, silahkan diothak athik sendiri. Kel kel kel kel kel (ketawa kekelen).

  5. Duz tampil kocak dan menggelitik.
    Ada yg ketinggalan blm diothak athik a.l. Gaplokan, Tegalsari, Karangtingklang, Sumberjo, Loromah, Rociut, Ledhokan, Kedawung. Selamat ngothak athik sing penting mathuk. Ocret.

  6. bung edi,editane diteliti maneh,ada huruf yg ilang,kurungan yg kurang.trims..ohya,untuk menghindari salah tafsir,tulisan ‘baja’ dignti ‘baya’ wae..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s