Selalu Ada Asa Di Sulang

darni

Teks dan Foto : Dwiyoga Nugroho

Belum juga mbah Ji’in mengumandangkan “Assholatu Khoiru Minannaum..” di mushola depan rumah, kudengar lirih suara antan berdebum seolah akan membangunkan ayam jantan yang masih terlelap. Pukul tiga dini hari peluh Mak Darni sudah rata di dahi, ketan bertemu antan, jelas lumatlah ketan di ujung antan.

Pagi sekali Emak, begitu kami memanggil, sudah harus bangun memulai hidup memecah sunyinya pagi di kampung ini. Emak terus menumbuk dan menumbuk, dia hendak membuat Gandhos pagi ini, gandos adalah penganan dari ketan. Kenapa ada Gandhos sepagi ini?

Tunggu dulu, bukan hanya gandhos tapi juga piya-piya, tahu isi susur, pisang goreng atau tempe goreng. Penganan yang akan disandingkan dengan nasi urap yang hangat. Sudah bertahun tahun, Emak seperti selalu lebih awal bangun dibanding kokok ayam. Selalu menumbuk dan menumbuk seolah seperti ingin memeta sebuah asa dalam setiap tumbukan. Asa di pagi hari untuk menghidupi lima anaknya dan suami.

Ketika semuanya sudah selesai lalu ia tata di atas sebuah tambir atau tampah. Ia berjalan menuju pasar yang jaraknya cuma 1 km. Dari rumah ia menyusuri jalan yang sudah rata beraspal, di antara lalu lalang sepeda motor, becak dan anak anak sekolah, aku melihat Emak di kejauhan dengan tampah di kepala penuh dengan dagangan yang akan ia bawa ke pasar. Berjalan tanpa alas kaki dan mengenakan kebaya, ya selalu kebaya dan Jarit yang tak lagi baru. Seperti melihat lanskap gubuk reyot di tengah gedung menjulang di kota kota besar. Kontradiktif.

Mak Darni berusia lebih dari separuh abad, namun seingatku dulu ia tidak pernah mengenakan sekalipun pakaian yang bisa dibilang modern. Paling enggak blus pun ia tidak pernah memakai. Selalu hanya jarit lusuh. Bahkan kalau lagi kegerahan ia cuma pake entrok. Aku sering melihatnya menyusui si Mintul, anak bungsunya, di depan rumahnya sambil memetik daun beluntas untuk dijadikan urap.

Rumahku persis di sebelah rumah yang berdinding anyam bambu milik Emak. Aku menyebut anyam bambu tidak punya maksud hendak mencela, toh rumahku juga tidak seluruhnya berdinding tembok. Yang bikin beda adalah kami punya kakus, jadi tak perlu ke sungai kalau hendak buang hajat. Emak dan kami sering saling berkunjung, layaknya hidup saling bertetangga kadang juga ada nuansa “panas” di antara kami. Bahkan Jamil, anak Emak yang ke 4 pernah memecahkan dua kaca jendela rumah kami entah apa sebabnya. Namun tak jarang pula Emak meneteskan air mata di hadapanku ketika beban batinnya sangat berat. Curhat. Begitupun juga kalau salah satu dari keluarga kami sakit, Emak selalu menawarkan diri untuk memijit atau kerik.

Usia Emak sudah tak lagi muda, suaminya pun sudah tampak renta. Walau anaknya kini tidak semuanya menjadi tanggung jawab Emak namun derita nampaknya tak pernah sirna. Anak-anaknya memang telah lulus sekolah dan hampir semuanya berkeluarga, namun tetaplah Emak yang menjadi ‘tatapan’ akan kebutuhan hidup keluarga mereka. Beban Emak semakin berat, sampai-sampai aku berfikir kenapa Tuhan selalu memberi cobaan untuk keluarga Emak? Belum sempat masalah satu selesai muncul masalah berikutnya, begitu dan begitu terus menerus bertubi-tubi. Namun justru Emaklah yang pernah membukakan mataku bahwa Tuhan sesungguhnya tidak pernah memihak, walau Emak didera nestapa ia tak pernah membolos menjadi jamaah di mushola depan rumah.

Bahkan tak jarang aku melihat Emak tertawa sampai bercucur air mata ketika melihat cucunya bertingkah lucu. Ya Tuhan, orang seperti Emak masih kau beri anugerah untuk tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh Maha Pemurah Engkau.

Di desa ini, Sulang, sebetulnya banyak orang bernasib seperti Emak, hidup berkurang materi, menanggung beban ekonomi, menganggur, belum dapat kerja. Namun apakah Emak diciptakan untuk berperan jadi miskin? Tentu bukan, Tuhan pasti punya sesuatu yang akan dihadiahkan untuk Emak kelak. Bahwa parameter bahagia ternyata bukan banyak harta yang kita punya, parameter sukses bukan lewat kemampuan beli motor mahal atau handphone bagus. Aku sendiri masih hijau memahami hidup yang rumit ini.

Kawan Sulang, jangan pernah menyerah hidup di Sulang, membangun masa depan di sini bukan hal yang mustahil, walau berat. Seperti di tempat lain pun semua pasti banyak kendala.

Kisah Emak Darni si penjual Nasi Pincuk di Pasar Sulang yang sampai saat ini masih menekuni profesinya, mungkin bisa kita ambil hikmahnya. Kalau rekan kebetulan menemuinya silakan borong saja dagangannya biar dia bisa cepet pulang dan bersitirahat.

29 thoughts on “Selalu Ada Asa Di Sulang

  1. sulang ujan malem ngreceh ini, aku kangen sama temen temen tak belain payungan naik motor. beruntunglah sapidi tidak purik.

  2. Lholololo, dah pada ngumpul di sini to! Buat CaPas, saya koq belum dikasih no hp nya Kania SW se! Mau tak jak es em esan je!

  3. sy kadang kuangen dengan nuansa pasar tradisional yang natural bandingka suasana formil supermarket atau mal2 yang senyumannya sudah akan menguras kantong kita apalagi tertawanya…

  4. E’eh ….. Sapina (Sapipapaweyna) baru nongol …. Boleh juga, pren, akhirnya ‘religiosity foundation is excellent …..’

  5. semangatlah…
    hidupmu di depan masih banyak cerita indah yang bisa kmu ukir

    semangat dan selalu bualah hal2 yang berguna bagi nusa bangsa dan juga diri kita sendiri dan keluarga kita

  6. hadapi dengan senyuman..dan senyum serta membuat orang lain senang adalah ibadah..dibalik setiap kesukaran,selalu ada kemudahan..jangan menyerah..jangan menyerah..

  7. Hidup memang penuh dengan sebuah perjuangan…

    semu harus kita jalani dengan iklas…

    agar kita bisa menikmati setiap perjalanan hidup kita dengan

    sebuah senyuman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s