Sawo, Makanan Para Raja

Saya tidak akan mengulas taksonomi tumbuhan sawo (Acrhras zapota. l), karena latar belakang saya tidak berhubungan dengan hal itu.

Teks: Puji Qomariyah*

Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Namun di Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dpl, seperti di Jawa dan Madura.

Tanaman ini telah banyak memberikan manfaat bagi manusia mulai dari buah, daun, hingga kayunya. Yang pasti, jika Anda sedang berada di bawah pohon sawo, Anda akan menemukan kesejukan karena sawo selalu berdaun lebat.

Cerita lintasgenerasi yang selalu berkembang tentang pohon sawo adalah omah gendruwo, sehingga pohon sawo hampir-hampir dikeramatkan (sangar). Menyeramkan sekaligus menarik untuk dicermati.

Di mana kira-kira kita bisa menemukan pohon sawo tumbuh? Langgar-langgar, mesjid, atau rumah-rumah tua. Perhatikan saja, komplek pesantren al-Barkah, langgar Santren, rumahnya mbah mantan Hasyim, ataupun komplek pesantrennya pak Qostur. Yang menarik lagi, di sebelah pohon sawo tersebut biasanya ada sumur. Keberadaan pohon sawo seolah menjadi pasangan sumur tersebut. Pada sumur yang berdampingan dengan pohon sawo, biasanya airnya jernih, segar, dan tidak pernah mengering. Seorang kawan peneliti pernah memberikan penjelasan; sawo memiliki sistem perakaran serabut dengan luas sebaran perakarannya bisa mencapai 2.5-3 kali diameter tajuk pohonnya. Bagaimana membayangkannya ya? Wislah, sederhananya dalam bayangan saya sistem perakarannya sendiri akan mampu menyimpan air minimal untuk dirinya sendiri.

Terus hubungannya dengan omah gendruwo bagaimana? Kira-kira demikian, supaya pohon sawo itu tidak diganggu ataupun ditebang; nggolek gampange, mbah-mbah ataupun orang tua bilang nek wit sawo iku ditunggoni gendruwo. Praktis. Dan dengan cara tersebut memang cukup efektif untuk menjaga keberadaan pohon sawo dari pengrusakan ataupun penebangan. Apakah ini uthak-athik gathuk? Setiap kejadian yang berkaitan dengan pohon sawo, masyarakat akan selalu menghubungkan dengan hal-hal yang angker. Tapi menurut hemat saya, pada tempat-tempat dimana masih terdapat pohon sawo biasanya juga terdapat sumber air. Dan secara implisit, mbah-mbah kita telah mengajarkan upaya konservasi tanah-air sejak lama. Inilah nilai-nilai yang coba ditanamkan pendahulu-pendahulu kita. Jadilah sahabat bagi bumi.

Pastinya, dengan pendekatan sosiologis tersebut Perum Perhutani menggunakan cara yang hampir sama untuk menyelamatkan pohon jati plus-nya sebagai sumber benih dengan mengeramatkan pohon tersebut bahkan sampai-sampai untuk memberi kesan angker, setiap tahun diberikan sesajen agar selamat dari pencurian.

Kenapa saya mengatakan sawo adalah makanan raja? Bagi yang pernah piknik ke Keraton Yogyakarta dan sempat mengamati tanaman di sekitar istana, di situ banyak tumbuh tanaman sawo yang masih terpelihara. Artinya memang para raja dahulu menyukai buah sawo. Sederhananya begitu. Jadi kalo ingin buah makanan raja, tanamlah sawo makanan para raja.(PQ)

 

* Penulis adalah alumnus SMPN Sulang, Ketua Jurusan Sosiologi Univ. Widya Mataram; Dir. eksekutif Humanisma – Yogyakarta; Community development specialist.

39 thoughts on “Sawo, Makanan Para Raja

  1. ade yeng bilang nanem sawo depan rumah tu kurang baek, ada yeng tau dak knapa? cos di depan rumahku ade pohon sawo, kecil sih (cangkokan) tapi rindang, sayang kan klo di tebang.

  2. sawooo, sebuah kenikmatan dari surga yang telah ditaruh didunia. Raja2 wae kesengsem, apalagi cah madrasahan, nek tuku ning mbah likah . 25 repis oleh 3, ndisik tapi.

  3. Sembah nuwun, Mas U atas kangelannya, demi Rukun Sulang, katanya yg bisik2 di samping Anda tuh. Sokur bage resep masak ala LN ditayangkan di SO gitu loh, biar tambah heboh, sebab web ini rasa2nya udah dilirik-lirik oleh sahabat2 blogger lainnya. Makasih ya, Men.

  4. Kagem Pak Kidhal: Maturnuwun sanget sampun rawuh di malam midodareni dulu. Tentang souvenir resep Sulang, saya masih ada lumayan banyak wong memang dulu nyetaknya juga banyak tapi belum sempat terdistribusi dengan baik. Insya allah segera saya kirim, Pak Kidhal. Sekalian juga untuk teman-teman yang berminat dengan buku resep manten kami, bisa email ke desa.sulang@yahoo.com sekalian ke mana ngirimnya. salam terhangat untuk seluruh Rukun Sulang.

  5. Saya belum dpt entri sovenir resepnya, sbb saya njagong waktu malem widodaren-nya LN je. Wah, BuDos ini koq lama juga baru nginguk-inguk SO-nya. Apa dipenthelengi Sabdopalon-nya, ya? He he he…. Episode lanjutan ‘ancrhras zapota menu para raja baheula tetep tak tunggu loh, Njeng! Salam gayeng buat Anda sagotrah.

  6. Kagem Mbak PQ, mbok sekali2 Mbak LN diprovokasi biar mau bukak resep masakan di SO, biar tambah sueger gitu loh! (khusus yang ini nggak usah rekomendasi dari Editor koq, yang ngrekomendasi cukup Gus Gobang dari Malang …..

  7. Ha ha ha ha ….. asyak jaga ya, Daz. Ana gara2 sang Adatar agak mamba dhaglang, kata panya bahasa madal Salang Anlana, yang batah mangkaratkan daha kata (madar kawa)

  8. Masih ingat, pak Kidhal. Berkat responden-responden berkualitas seperti pak Kidhal inilah, saya bisa memberikan analisa yang obyektif. Thx pak Kidhal. Kapan bikin pergelaran wayang lagi?

  9. Perlu ditambah juga saya ikut andil dalam penelitian pq, karena saya termasuk salah satu respondennya, disuruh ngisi quesioner telung kebet bolak balik, judulnya saya agak lupa, kalo nggak salah ttg partisipasi masyarakat Sulang thp partai politik mbuh apa ya? Kemutan mboten Mbak Puji Q ? (saya memang temennya Ayah Anda)

  10. selaim lulusan SMP N Sulang, aku yo lulusan SDN 2 Sulang, dan madrasah an-Nuroniyah Sulang. Kabare madrasah dan dunia kecil santren piye cah?

  11. Bicara hal siruk menyiruk, kabarnya Gus Gobang dah ancang2 mau nyiruk ke alas Ketonggo deket Ngawi sana, bener Du?

  12. Sulang Online makin brilian.
    Welkome buat Mbak Puji yang Bu Dosen entah ngrangkep apa lagi ya, selamat selamat …..
    Saya setuju banget tentang pelestarian sawo. Sebenarnyalah (menurut saya) bahwa ada korelasi yg signif antara sawo dan kehidupan Pak Kyai jadul. Pada jaman keemasan komuditas sawo, sebelum tergeser oleh sawo mbangkok atawa ustrali atawa prancis (apel, peer, dll), hasil nanam sawo merupakan salah satu sumber penghidupan keluarga Kyai. Sebab sawo memang merupakan pohon yang paling nriman dan paling dermawan (berbuah sepanjang masa).
    Tentang gendruwonya, kita serahkan pada pakarnya, yaitu sobat Youdil Arif dan Editor. Duz and Gobang pasti setuju … eng ing eeeng …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s