Bah Dowo, the Colorfull Lev Yashin

bah-dowo

Gaya Darno Kekuk menangkap bola, salah satu kaki diangkat agar pemain lawan tidak mendekati wilayah tangkapnya.

Teks Sabdopalon

 

Dengan postur setinggi 180-an lebih, Darno Kekuk/Engkuk adalah sosok yang pas untuk menempati posisi paling belakang dalam tim sepakbola : penjaga gawang. Awal kemunculan Darno Kekuk dalam kancah sepakbola Sulang ketika mas Harno yang terkenal dengan “tangkapan sambil melompat mirip laba-laba” masih dalam masa keemasan sebagai kiper Perses seolah untuk melanjutkan legenda kiper dari Sulang.

Dengan postur tinggi dan teknik yang sangat mumpuni sebagai penjaga gawang, tidak berlebihan jika Apsebo maupun PSIR pernah mempercayakan gawangnya pada Darno Kekuk hingga level nasional. Keunggulan postur tubuh tersebut memudahkan Darno Kekuk memenangkan duel-duel bola atas dengan penyerang lawan, meskipun pada masanya tingginya postur tubuh tidak didukung dengan badan yang kekar. Dengan postur tubuh tersebut, Darno Kekuk terkesan “mbungkring” sebagai penjaga gawang.

Selain duel-duel bola atas, kelebihan Darno Kekuk adalah menutup ruang tembak pemain depan lawan sehingga kesulitan untuk membuat gol. Gaya Darno Kekuk dalam menangkap dan memenangkan duel bola atas sempat menjadi trademark-nya: menangkap bola sambil melompat dengan salah satu kaki diangkat untuk memberi tahu pemain depan lawan agar tidak mendekat dalam wilayah tangkapnya. Kalo dilihat dari jauh tentu akan terlihat pemandangan yang indah sekaligus lucu : wong kok kedawan sothang. Tapi gaya tersebut menjadi resep yang manjur bagi Darno Kekuk dalam mengamankan gawangnya. Dan pada masanya gaya ini menjadi gaya banyak penjaga gawang (tentang siapa menginspirasi siapa, tanya aja sama Bah Dowo. Begitu Bah?🙂 ).

Satu lagi kelebihan Darno Kekuk. Dengan posisi yang relatif bebas, Darno Kekuk turut membantu menyusun serangan dengan mengorganisir rekan-rekannya melalui bengokan-nya. Yang pasti, Darno Kekuk termasuk pemain yang disiplin di dalam lapangan maupun luar lapangan. Ini tidak berlebihan mengingat latar belakang pendidikan serta profesinya sebagai guru olahraga sangat membantu mempersiapkan diri sebelum dan selama pertandingan. Darno Kekuk selalu disiplin dalam menjaga stamina dengan rutin latihan, ini pula yang mengantarkannya bisa berkiprah dalam level nasional.

Kiprah Darno Kekuk setelah tidak aktif sebagai pemain masih terus berlanjut dengan membina pemain muda di Sulang. Dari cerita yang pernah dilatih Darno Kekuk, pelatih satu ini disiplin dalam menerapkan jadwal latihannya dengan memberikan sanksi bagi yang terlambat datang atau bahkan tidak datang dengan hukuman sit-up ataupun push-up. Woow keren. Harusnya memang begitu, biar mental pemain tertempa semenjak latihan. Lantas kenapa harus dengan istilah colorfull Lev Yashin? Sederhana saja. Darno Kekuk tidak pernah memakai kostum serba hitam seperti Lev Yashin. Gak pernah trend pada masa itu ya Bah? Ojo-ojo ra duwe. Tapi Darno Kekuk memang pantas untuk disebandingkan dengan Lev Yashin. Tenan Bah. Terutama dengan bola-bola yang ditepisnya dengan gaya-gaya mirip Lev Yashin, dalam menyelamatkan sontekan Bambang Handoyo (Mak) ataupun Ponk Ponco yang sering main di lapangan Sulang karena di-bon kesebelasan lain.

Yang mungkin agak menjadi tanda tanya adalah ketika Darno Kekuk juga menekuni olahraga beladiri hingga menyandang ban hitam (DAN), karena dalam bidang olahraga tersebut ternyata Darno Kekuk juga berprestasi sehingga mengantarkannya sebagai pelatih sepakbola yang nyambi menjadi pelatih beladiri atau pelatih beladiri yang nyambi jadi pelatih sepakbola. Entahlah. Wong gak pati penting. Lebih penting Sulang pernah melahirkan penjaga gawang berkaliber nasional. Darno Kekuk yang telah berubah menjadi Bah Dowo. Koyok Satria Baja Hitam ae Bah, ndadak nganggo berubah 🙂

Tentang bergantinya nama Darno Kekuk menjadi Bah Dowo, mungkin yang bersangkutan bisa memberikan penjelasan. Cerita yang banyak tentang sepakbola yo, Bah. Jangan pernah capek memberikan inspirasi bagi bal-balan di Sulang. (SP)

12 thoughts on “Bah Dowo, the Colorfull Lev Yashin

  1. Ini rhs lho Duz en CaPas, Sabdopalon kuwi husband nya juragan sawo yang dirut humanis tu lo! Kurang complete? Mas Aqim Mas Aqim. Complete name tanya sopire! But it’s confidential, Sir.

  2. Wooo … kecekel sekarang. Makasih inpo rhs-nya nggih, Mas Editor. Ini jg analisis rahasia lho, kalau salah mohon dikoreksi. Sabdopalon itu lahir d Pomahan, besar d Sulang, n nikah dpt juragan sawo. Tul nggak Duz?????

  3. Wah! ngenyeeek ….. aq kan gak punya modal di entertainment bol, to? Semula tak darani Kang Thuram, bul dudu, Duitor tak kejar mung ngguya- ngguyu, tp juga bukan dia koq. Namun yang penting di Sulang Online dah lahir “Exclusive Journaliser Figure” Kalo mau ngejar ya pada sopir SO nya. Bravo bal2an Sulang …..

  4. Saya sempat terhenyak, waktu mencermati tiga tulisan ttg sepak bola Sulang yang menampilkan tiga profil yang layak dilegendakan (setidak-tidaknya untuk Sulang), yaitu Kang Ci, Mat Maradona, dan Darno Lev Yashin.
    Saya kagum banget dengan gaya ulasan Mas Sabdopalon yang tak kalah hebohnya di banding dg ulasan Bung Niagara di tabloit Bola (lebih2 pada entri “Amat Anom little Maradona Sulang”). Saya jadi penasaran siapakah Anda sebenarnya? Benarkah Anda wong asli Sulang?
    “Elevating hat” buat Anda.

    sst… ini rahasia, Rama Ustadz. Njenengan benar dia tidak asli Sulang. Wong lahire di Pomahan. Sekali lagi rahasia kita berdua nggih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s