Sang Pemburu (2/Tamat)

Di bagian pertama dikisahkan, aku (Pri) dan Harimbo terkejut karena di balik gerumbulan ada seekor induk srigala yang sedang menyusui anak-anaknya. Rejeki nomplokkah? Atau akan berakhir di situkah akhir riwayat mereka berdua?  Silahkan simak lanjutan berikut ini.

Oleh: Ki Dhalang Sulang

Bagai diberi aba-aba, kami berdua serempak bergerak mundur beberapa langkah. Harimbo mengangkat senapan untuk membidik. Entah induk atau anak-anak srigala itu yang dia incar.

“Jangan!”, cegahku sambil memegang lup senapan untuk membelokkan arah bidikannya. Untunglah Harimbo belum sempat menarik pelatuknya.

“Mengapa?!”, tanyanya dengan tatapan mata aneh.

“Kasihan, Har, dia sedang menyusui!”, jawabku mantap.

“Hiya! Tapi kamu lihat enggak, itu kan srigala to?!”, bentaknya kepadaku.

“Aku tahu! tapi dia kan lagi menyusui!”, aku ganti membentak.

“Kenapa kalau menyusui!  Srigala tetap srigala! Sok moral kamu!. Minggir nggak !”, timpal Harimbo sambil menodongkan moncong senapan ke arahku. Aku terkejut. Seperti ada kilatan sinar merah menyala dari matanya. Ada apa dengan Harimbo ini? Benarkah dia lagi kesurupan hantu hutan? Ataukah hanya pura-pura? Bertumpuk pertanyaan hilir mudik di otakku.

“Cepat pergi, banci!”,  bentaknya sekali lagi. Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah. Berbalik dan berlari kecil sedikit menjauh.

Belum lagi lima langkah, tiba-tiba kudengar letusan senapan. Aku berhenti sejenak barang kali Harimbo jadi menembakku. Oh ! tidak. Aku masih sadar, berarti aku masih hidup. Begitu kudengar letusan yang kedua dan ketiga, aku berhenti sambil menengok ke belakang. Kulihat induk srigala telah menggelepar-gelepar. Juga dua anaknya. Sedangkan yang dua lagi sempat kulihat lari tunggang langgang menyusup ke semak belukar. Beberapa kali lagi kudengar letusan senjata terarah ke anak-anak srigala yang lari itu. Namun dua anak srigala yang lari itu selamat dari kejaran peluru Harimbo. Kudengar kikik srigala kecil yang semakin menjauh. Aku manarik nafas panjang. Tak tahulah aku apa arti tarikan nafasku ini.

Dan sejak itulah hubungan persahabatan kami terputus. Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan sampai beberapa tahun, aku sudah lupa untuk menghitungnya. Selama itu aku selalu menghindar untuk bertemu dengannya, meski dia sudah mati-matian berusaha untuk rujuk denganku.  Waktu aku melangsungkan pernikahanku dengan Jumilah, dia sengaja tak kuundang. Demikian pula waktu dia mengundangku pada acara pernikahannya, aku pun tak minat untuk hadir.

Sampai suatu saat di hari Sabtu siang, aku kedatangan dua orang tamu. Yang satu setengah baya, satu lagi anak laki-laki kurang lebih berumur belasan tahun. Ternyata setelah kuingat-ingat, dia adalah Harimbo. Anak belasan tahun ini pasti anaknya.

“Ini Danur. Anakku yang sulung”, Harimbo memperkenalkan. Aku pun menyambutnya untuk bersalaman. Begitu tangannya bersentuhan denganku, tiba-tiba hatiku terasa lega. Kedongkolanku pada Harimbo selama ini mendadak lenyap.

“Nama  lengkapmu?”, tanyaku tanpa sadar, karena tiba-tiba teringat akan kelucuan nama ayahnya. Harimbo. Seorang raksasa yang menjelma jadi kerdil ini.

“Danurwendo, Om?”, jawab anak ini, yang meski baru berumur belasan tahun, tapi tingginya hampir menyamai ayahnya. Aku yakin kelak Danurwendo kalau sudah dewasa, profil tubuhnya pasti cukup tinggi dan besar, Tidak seperti ayahnya. Mungkin secara genetik turunan dari ibunya. Aku tahu bahwa Marni, isteri Harimbo, memang tergolong bongsor. Lucu juga membayangkan ketika Harimbo bersanding dengan si Marni di pelaminan. Untung aku tak menyaksikan. Tiba-tiba aku terpingkal-pingkal sendirian.

“Ada apa kamu, Pri?” Tanya Harimbo agak heran.

“Ah! nggak apa-apa …. cuman …..  ini betul-betul anak kamu atau bukan sih?”

“Memangnya kenapa ?”

“Seperti bumi dengan langit!”, kelakarku sambil tetap mengelus-elus kepala Danurwendo. Kami bertiga pun tertawa-tawa sambil berpeluk-pelukan. Sampai tak kusadari ada sepasang mata memandang kami bertiga sambil geleng-geleng kepala. Jumilah, isteriku, tiba-tiba sudah berada di dekat kami. Tawaku mendadak terhenti. Aku tiba-tiba teringat, meski telah sekian lama kami berumah tangga, namun Tuhan belum memberikan momongan kepada kami.

“Aku tahu yang kalian pikirkan. Makanya aku ke sini bersama Danur”, celetuk Harimbo menyadarkan lamunan kami.

“Maksudmu?”, sahutku untuk memperjelas arah celetukan Harimbo.

“Coba jelaskan pada Om kamu ini, Nur!” pinta Harimbo kepada anaknya.

“Benar Om Pringgo, kalau Om dan Tante tak keberatan, aku ingin ikut Om  dan Tante di sini”, sambung Danur sedikit ragu.

“Maksud kamu ingin jadi anak angkat Om dan Tantemu ini?” tanyaku sedikit kebingungan. Danurwendo mengangguk sambil tersenyum.

“Benar, Har?” sahutku minta kepastian Harimbo. Dia juga tersenyum sambil mengangguk pula. Serentak kuraih kedua ketiak Danur dan kuangkat untuk menimangnya, meski agak berat juga. Jumilah pun ikut menepuk-nepuk pantat anak yang masih kugendong  dengan tumpahan rasa campur-baur. Senang, bahagia, trenyuh, dan entah apa lagi. Apa pun bentuknya, apa pun statusnya, kami tak peduli. Yang penting di rumahku bakal ada jeritan meriah seorang bocah. Alhamdulillah.

Rupanya sore itu Harimbo telah mempersiapkan semua perbekalan berburu, termasuk sebilah parang dan slompret bambu yang dulu jadi tugasku. Parang dan slompret dia serahkan kepadaku. Dan tanpa kusadari kami bertiga telah berjalan sambil bersendagurau menyusuri jalan setapak menuju ke hutan Becici.

“Danur telah aku ajari berburu beberapa kali kok, Pri, jangan kawatirkan dia!”, celetuk Harimbo sambil menunjuk Danurwendo, yang telah mendahului berlari memasuki ujung hutan ini.

“Ooo!’, hanya itu suara yang keluar dari bibirku. Entahlah. Kali ini aku betul-betul bersemangat. Bertolak belakang dengan suasana waktu terakhir kami berburu beberapa tahun yang lalu. Dengan berlari-lari kecil kami segera menyusul Danur memasuki hutan. Mendadak hatiku berdebar begitu tak melihat Danur.

“He ! Danur ! di mana kamu !”, teriakku cukup keras sampai menggaung.

“Ah! Biarlah, memang dia sering begitu kok. Biasanya dia telah bertengger di pohon untuk memilih lokasi nyanggrong“, suara Harimbo tampak tenang sambil tersenyum bangga. Namun naluriku berkata lain. Dan ……… jantungku serasa hampir copot begitu mendengar jeritan seorang bocah, disertai lolongan srigala.

Kami berdua serentak lari mencari sumber suara. Tidak sulit, karena lolong panjang srigala menuntun kami ke arah tempat itu. Begitu kami menemukan sumber suara itu, kami berdua menjerit. Tampak Danur terkapar dengan leher berdarah di bawah kangkangan seekor srigala berbulu hitam.

Harimbo segera membidik ke arah srigala hitam yang tampak semakin menegakkan lehernya, sambil tetap melolong panjang. Tampak seleret sorot matanya berwarna merah menyala menatap kami berdua. Mendadak aku teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Juga di tempat ini., ketika Harimbo membantai induk srigala dan dua anaknya yang sedang menyusu. Waktu itu dua anak srigala lolos dari bidikan Harimbo. Apakah srigala hitam ini salah satu dari mereka? Demikianlah timbul pertanyaan dalam benakku.

Sebelum Harimbo menarik pelatuk senapan, tiba-tiba muncul dari sampingnya seekor srigala lagi. Berbulu merah.  Dengan cepat srigala merah itu menubruk Harimbo. Senapan yang dipegang terlepas. Tubuh Harimbo menabrakku. Aku terpental beberapa jengkal. Terasa dadaku terdampar pada bongkahan batu. Aku tersedak-sedak. Pandangan mataku berkunang-kunang. Namun aku masih dapat menyaksikan pergumulan antara Harimbo dan srigala merah itu. Sebelum pulih pandangan mataku, Harimbo telah terkapar berkelojotan dengan tubuh dan terutama bagian lehernya berlumur darah.

Segera kupaksa berdiri tegak dengan parang di tanganku. Kutatap dengan penuh kemarahan dua srigala yang seolah puas mengangkangi korbannya masing-masing. Kuhampiri yang berbulu merah. Dengan sekuat tenaga kubabat leher srigala merah yang tetap diam terpaku di tempatnya. Sebuah lengkingan panjang membarengi putusnya leher srigala merah itu.

Amarahku semakin memuncak. Selangkah demi selangkah kuhampiri srigala yang satunya lagi. Dia tetap diam tak bereaksi. Sejenak aku heran juga. Sepertinya dia siap kubunuh setelah barang kali telah berhasil membalas dendamnya. Dan aku semakin yakin kalau dua srigala ini adalah dua anak srigala yang dulu. Aku tak perduli. Kuayun parangku tinggi-tinggi. Satu lagi sebuah lengkingan panjang terdengar menyayat bersamaan dengan parangku memutus lehernya. Srigala hitam menggelepar. Hanya beberapa saat dan akhirnya berhenti. Mati.

Aku jatuh terduduk. Dada ini semakin sesak kurasakan. Namun sempat terlintas sebuah pertanyaan di otakku : Siapakah yang layak disebut “Sang Pemburu”?  Kami ataukah srigala-srigala itu?. Sebelum kutemukan jawaban yang pasti, pandangan mataku semakin kabur ….. kabur ….. kabur …… Dan aku pun rebah ke tanah tak berdaya. Tak tahulah, aku ini sedang pingsan  ataukah ikut mati. Namun bibirku sempat bergetar lirih menyebut Asma-Nya, “Allohuakbar ……”

Tamat

20 thoughts on “Sang Pemburu (2/Tamat)

  1. Betul sekali, Wep, kurang lebih 4 malam yang lalu dia kepregok saya di Pnet, langsung tak tantang diskusi. Malahan sempat dicalling Editor lewat hp. Nah ini dia, saya mau coba ndeketin dia koq, mudah2an mau mbukak pintunya, he he he . Dan ini penting buat Papanya Weyna, setelah saya cermati beberapa kali ttg laporan musik Anda, ternyata ada sesuatu pontensi yang terpemdam. Yok ndang nulis maneh pren, ocre.

  2. Sebnarnya Sulang ada pnulis muda yg handal lho pren,yoiku Gus Lisin putrane Mbah Taqin prapatan.Tulisane aku prnah dikon moco dekne,uaapik tenaaan josh gandos.Jajal duittor moro mrono,mergo biyene dekne sering ngetik ng Pendek.

  3. Trieuma kaseuih sobat Youd CaPas atas masukan yang melegakan buanget. Ke depan pasti tak respon.
    Gimana kabar Bandung Lautan Aer? You & family aman khan?
    Sembah nuwun juga buat sobat Duzhutbun, Gus Gobang, Wephy papanya Weyna, Duitor, Editor, dan blogger lainnya. Onkriiik…. brrrh

  4. Trieuma kaseuih sobat Youd CaPas atas masukan yang melegakan. Bearti you responsive buanget. Ke depan pasti tak respon.
    Gimang kabar Bandung Lautan Air? You & family aman khan?
    Buat sobat Duz, Gobang, Wephy papanya Weyna, dan sobat2 komentator Sulang Online yang lain makasih juga ya, men. Ongkriiiiik ….. brrrmh

  5. Trieuma kaseuih sobat Youd CaPas, masukannya bener2 melegakan. Berarti you responsive buanget. Ke depan pasti tak respon juga.
    Gimana kabar Bandung Lautan Air? Anda & family aman khan?

  6. Hoi, Teman-teman yang tinggal di Sulang. Ayo buruan belajar nulis cerpen ke Ki Dhalang. Kita bikin poros baru di dunia sastra Indonesia; Sulang.

  7. weh jebul jago cerpen juga pak kidal tapi kalo boleh ngritik membangun,sy amati kok kebanyakan menyebutkan “aku” dan “ku” ( bisa dihindari dengan mencari celah menukar-nukar kata dalam kalimat yang maksudnya sama tanpa menyebut aku atau ku lagi)…sorrey lho pak

  8. Wah! Dusone sekarang juga pakek prinsip “pengiritan”, je. Komene super irit.
    Buat Gus Baha’ yang masih di perantauan. Tentang nama yang pernah saya pake dari model darah biru Makassar, itu janjane sejak kecil saya sangat mengagumi para petulangan laut orang Bugis dan Makassar. Dalam sejarah pernah tercatat juga seorang “Kraeng Galengsong”, ya kurang lebih begitulah. Dan tak tunggu berita Gus Baha’ dari situs Angin Mamiri.
    Khusus untuk Editor ngrangkep ilustrator (tapi bukan provokator lho!) Sembah nuwun atas mik’upnya.

  9. whoah….seperti selesai meghela nafas dalam belasan menit, dan menghembuskannya..
    klimaks yang di jedakan dan diklimakskan lagi dan di jedakan lagi dan di klimakskan lagi. Walau hanya beberapa paragraf, membacanya membuat capek sekujur badan, terbawa alur cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s