Cerita Pendek

(Pengantar : Cerita di bawah ini aslinya ditulis dalam bahasa Jawa dengan judul “Nyaur”, dan pernah dimuat di media massa berbahasa Jawa “Panyebar Semangat” tahun 1977.  Saat itu penulis menggunakan nama samaran Daeng Palengrong. Cerita ini pernah diangkat sebagai cerita pilihan versi RRI Semarang pada tahun yang sama Pada blog ini, cerita dengan judul tersebut di atas ditulis kembali dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun perlu diketahui berhubung penulis tidak mempunyai arsip dokumen sama sekali, maka penulisan kembali cerita ini hanya berdasarkan ingatan penulis belaka. Apabila terdapat ketidaksamaan baik para tokoh, latar, maupun alur cerita antara cerita “Nyaur” dengan cerita “Sang Pemburu” di bawah ini, para pembaca harap maklum adanya).

Sang Pemburu (Bagian Pertama)

Oleh: Ki Dhalang Sulang

Aku bersama satu sahabatku yang sama-sama sebagai bujang lapuk ini, punya kegemaran yang sama, yaitu berburu binatang ke hutan di seberang kampung kami. Hutan  Becici. Tidak terlalu jauh. Hanya sekitar satu sampai satu setengah jam berjalan kaki dari rumahku ke tempat perburuan babi hutan dan kijang itu.

Sahabatku ini bernama Harimbo. Nama asli pemberian orang tuanya. Entahlah apa maksud mereka memilih nama itu. Setahuku, Harimbo adalah nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan yang digambarkan sebagai raksasa. Dia adalah putera sulung Raja Raksasa di Kerajaan Pringgadani yang bernama Prabu Tremboko. Raksasa Harimbo punya adik perempuan bernama Harimbi, yang akhirnya berhasil disunting salah satu satria Pandawa yang bernama Raden Bratasena. Mereka kemudian menurunkan satu putera yang bernama Raden Gatutkaca. Cerita pewayangan  ini selalu melintas di ingatanku manakala aku bersama Harimbo.

Di suatu saat tanpa sadar pernah terlontar dari mulutku, suatu pertanyaan yang menyangkut riwayat namanya.

“Nggak tahulah …. tanya saja padanya… ” jawabnya tanpa ekspresi.

“Siapa ? “, sahutku sambil mengerenyit.

“Ya bapakku, to!” jawabnya, sambil menekap mulut menahan tawa.

Asem kecut !”, umpatku dalam hati, sebab ayahnya memang sudah meninggal dunia, sehingga tak mungkin aku bertanya kepada beliau.

Sekian kali aku berfikir, sekian kali pula aku menemukan kelucuan tentang namanya. Bayangkan! Harimbo dalam pewayangan adalah seorang raksasa yang bertubuh tinggi besar, sedangkan Harimbo sahabatku ini ukuran  tubuhnya justru termasuk kategori pendek dan tak gemuk pula.

Satu-satunya karakter yang agak-agak mirip dengan karakter Harimbo dalam pewayangan, dia memang sangat suka berada di tengah hutan. Hanya itu. Kalau sudah berada di dalam hutan, dia akan sangat krasan. Tentang hal ini, aku sendiri mengaku kalah.

“Sudah siap, Pri?”, celetuk Harimbo di hari Sabtu siang  ini, ketika dia telah berada di depan rumahku. Kami berdua memang punya semacam kesepakatan, tiap hari Sabtu siang  sehabis kerja sampai dengan Minggu siang atau sore, adalah jadwal kami untuk berburu. Sebenarnyalah siang ini aku sendiri agak malas-malasan untuk berangkat.  Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hati ini, yang membuat aku agak segan berburu.

“Siap, Boss!” sahutku sambil mengacungkan kepalan tangan berpura-pura semangat. Kadang memang aku memanggilnya dengan sebutan “Boss”, karena dialah yang sering mencukupi segala perbekalan berburu. Mulai dari senapan LE tua bersama mesiunya, sampai dengan lampu senter besar yang biasa kami sebut “belor”, bahkan kadang-kadang sampai rokok dan makanan ringan ala kadarnya, dialah yang menyiapkan. Sedangkan yang bagiku merupakan kewajiban runtin adalah menyiapkan   sebilah parang dan ‘slompret ‘, yaitu peralatan semacam terompet bambu yang nada bunyinya menyerupai suara kijang jantan, yang berfungsi untuk rekayasa memanggil komunitas kijang atau babi hutan.

Siang menjelang sore itu, kami berdua jadi berangkat, meski dalam kondisi hujan rintik-rintik. Hanya berjalan kaki. Kami terpaksa mengenakan mantel. Berjalan beriringan. Kalau ada jalan setapak yang cukup lebar, kami baru berjalan sejajar, sambil membicarakan sesuatu.

Tetapi kali ini lain. Aku tak ada semangat untuk bersuara. Harimbo dapat merasakan juga perilakuku yang tak seperti biasanya.  Dia mencoba untuk memecah kesunyian ini dengan bersenandung dan bersiul berbagai lagu. Kadang lagu pop, namun sesekali beralih ke lagu melayu, bahkan juga lagu-lagu daerah. Namun belum juga dapat merubah suasana.

“Memangnya kamu sedang ada masalah dengan Jumilah, ya?”, tanyanya, setelah kami berdua mulai memasuki ujung hutan. Yang disebut Jumilah itu teman wanitaku. Belum aku putuskan statusnya sebagai pacar. Aku bersama si Jumilah saat-saat ini baru dalam taraf saling menjajaki.

“Enggak. Memangnya kenapa?”, sahutku datar.

“Ya, nggak apa-apa sih, kelihatannya kamu kok nggak punya gairah gitu lho. Eh, siapa tahu si centil itu bikin ulah lagi. Kalau dia macam-macam terus, apa salahnya ganti yang lain saja. Alternatif kan masih seabreg tuh. Ada Lia, Anik, Marni, dan …..”. Bruuuk !. Belum selesai Harimbo meledekku, tiba-tiba kakinya tersandung  akar pohon. Harimbo jatuh tertelungkup. Aku pun tertawa terpingkal-pingkal. Tawaku betul-betul lepas.  Seolah ganjalan yang aku bawa sejak dari rumah tadi,  mendadak lenyap begitu saja. Justru ganti dia yang bersungut-sungut sambil mengumpat.

“Kamu pasti kuwalat sama Jumilah !” ledekku sambil tertawa-tawa.

“Peduli amat dengan cah centil kuwi, memangnya dia paling cantik?!” sahutnya sambil tetap merah padam mukanya.

“Meski tak begitu cantik, tapi dia itu nguwalati lho. Buktinya……  ” sambungku sambil menunjuk  muka dan mantelnya yang berlepotan tanah berlumpur. Harimbo semakin jengkel, Dia tak bisa membalas ledekanku. Namun akhirnya aku pun tak lagi tega untuk terus menyerangnya.

Suasana kembali sepi. Tak ada siul lagi, tak ada senandung, juga tak ada suara kami untuk saling meledek. Senada dengan situasi hutan kali ini yang betul-betul sunyi. Tidak seperti biasanya. Bahkan suara kicau burung atau kokok ayam hutan sekalipun, tak terdengar juga. Aneh! Kami berdua saling berpandangan, seolah baru menyadari kondisi sunyi hutan saat ini.

“Kita sebaiknya nyanggrong saja !”, ajak Harimbo sambil menyentuh batang pohon jati yang berdiameter cukup besar. ‘Nyanggrong ‘ adalah istilah dalam dunia berburu dengan cara menunggu objek  buruan dari atas pohon. Ada beberapa kelebihan dengan cara ini. Selain daerah pandang  pemburu lebih leluasa, garis lesat peluru senapan akan mengarah ke tanah. Jadi, kemungkinan bahaya peluru nyasar ke objek lain lebih kecil.

“Baik. Tapi giliran kamu yang duluan pegang senapan. Aku mau rokok-rokok sebentar”, jawabku sambil jemariku bergerak mengambil bungkusan rokok dari saku celanaku.

“Jangan sekarang ! Kita lihat dulu arah angin!”, sergah Harimbo, mengingatkan bahwa dalam taktik berburu harus memperhatikan arah angin. Jangan sampai bau asing termasuk bau keringat kami tercium oleh binatang hutan.  Meski agak ndongkol, aku dapat menerima peringatan Harimbo.

Di sore itu kami bergantian pegang senapan, Dan sore itu tak satu pun ada binatang buruan yang melintas. Sampai menjelang tengah malam situasi tak berubah. Sepi. Hanya dengungan nyamuk-nyamuk hutan yang semakin meraja lela.

Hingga fajar menyingsing, sekali pun senapan kami tak pernah menyalak. Sesekali kami masih mencoba untuk menyorot dengan belor ke area sekitar kami, tetapi tak satu pun kami menemui sorot mata binatang Setelah beberapa leretan sinar matahari pagi sempat menembus di sela-sela dedaunan, kami pun turun dari pos sanggrongan kami.

“Sial! Sebaiknya kita pulang saja! Percuma kalau kita teruskan. Aku yakin tak bakalan dapat buruan  “, usulku sambil menggerakkan pinggang.

“Nggak bisa ! kita sepakat bahwa jadwal kita sampai sore nanti !” sahut Harimbo sambil sedikit melotot matanya ke  arahku. Jawaban ini memang sudah kuduga. Aku pun tersenyum masam tanpa menyanggah lagi.

Di pagi hingga siang, perburuan kami lanjutkan dengan “ngayam alas“, yaitu tehnik berburu dengan cara berjalan  merunduk-runduk di sela-sela perdu untuk mengintai objek. Namun hingga siang menjelang sore tetap saja kami tak seekor pun menemukan buruan. Dan ….. kami berdua betul-betul terkejut manakala menyibak satu grumbul lagi, tiba-tiba menjumpai seekor induk srigala dengan empat ekor anak-anaknya yang tengah menyusu… (Bersambung).

20 thoughts on “Cerita Pendek

  1. Wah jadi pensaran critanya ki dhal.waktu kecil kok aku nggak di dongengi tentang si Harimbo ini ki dhal.jadi nek temen2 tanya tentang bocorane sithik kulo bisa crita.lha dongenge kawit cilik kancil nyolong timun terus….

  2. wahhhhhhhhhhhhhh maap aku tunggu 1 jam ga ada ya aku matikan kompt nya jadi bobok aja wissssssssssssssss

  3. Halo, Gus Gobang, masih di sinikah dikau. Listrik Sulang barusan nyala. Yok joretan ngiras begadangan. Ongkriiik….

  4. Makasih banget buat sahabat Dusone, Youdhil Cah Pasar, Gus Gobang, Gus Baha’, Queen of Blog, Wephy Al Muri Asprilicho, dan sahabat-sahabat bloger yang lain. Maaf agak dikit telat ngrespon-nya,karena angkring saya baru dibenahi bosse. Tentang cerpen saya silahkan dikritik, sebab saya menyadari kalo nulis pake B Ind itu jadinya kok B Ind aroma Jowo. Saya sendiri yang nulis kadang-kadang ya gregeten dhewe kok.
    Tentang sentilan Gus Baha’ bahwa dulu saya pake nama samaran Bangsawan Angin Mamiri, ini memang ada ceritanya kok, kalo ditulis mungkin ya jadi novel jug lho ! (nggak ndhing), nantilah ya, Gus, sambil canda ria pasti tak beberke sedikit-sedikit. Sembah nuwun.

  5. Pak Jup, mao nanya, knapa pake nama samaran “Daeng”? kok memilih gelar bangsawan Makassar, knapa ngga raden ato Gusti pangeran sing terkesan malah njawani

  6. Top tenan pak dal,tapi motong critane nggak kira-kira,baru saja menemukan konflik sekalimat kok langsung bersambung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s