Sulang dan Ngopi

kopi-lelet

Menikmati segelas kopi hitam sambil me’lelet’kan ampas kopi halus ke rokok sudah merupakan pemandangan yang lazim/lumrah ditemui di warung-warung kopi di sekitar Sulang.

Teks: Dusone

Sejak lama, anak-anak muda Sulang senang melakukan aktivitas berkumpul, yang untuk selanjutnya disebut nongkrong. Komunitas nongkrong ini, tidak hanya berasal dari satu generasi saja, tetapi lintas generasi. Ada yang merupakan teman di sekolah, teman sepermainan, ada juga guru dan muridnya. Dalam komunitas ini, semua atribut hilang, lebur. Semua sama, setara.

Kegiatan nongkrong ini menimbulkan gagasan dari ‘seseorang’ yang berinisiatif untuk membuat sarana untuk tempat nongkrong yang lebih representatif, yaitu dengan mendirikan warung kopi.

Hal ini terjadi kira-kira di era 90-an, yang waktu itu lagi booming Play Station, rentalan VCD dan Piala Dunia (untuk mengetahui kapan dan siapa yang pertama kali mempopulerkan warung kopi, perlu diadakan riset lebih lanjut).

Dengan berdirinya warung kopi, aktivis nongkrong akhirnya mendapatkan tempat ‘berlabuh’ yang lebih baik dari pada sebelumnya yang (mungkin) hanya bergerombol di ujung-ujung jalan, atau bahkan di pos ronda.

Dilengkapi dengan fasilitas game PS, membuat aktivis nongkrong ini menjadi lebih betah untuk berlama-lama berada di warung kopi, meski hanya dengan ditemani segelas kopi. Kadang, aktivitas nongkrong juga di barengi dengan acara nonton bareng pertandingan sepakbola, yang diakses melalui layar televisi yang telah tersedia.

Pada perjalanannya, keberadaan warung kopi sempat juga mengalami pasang surut. Ada yang terpaksa tutup karena terjadi ‘mis management’, atau karena si ‘owner’nya pindah domisili. Tetapi ada juga yang mengalami perkembangan setelah di’take over’ alias terjadi pergantian pengelolaan.

Dalam benak dan angan-angan saya, aktivitas ngopi ini bisa menjadi sarana untuk transfer teknologi, sarana untuk saling berbagi informasi dan pendapat. Entah itu mendukung atau bahkan meng’kritisi kondisi bangsa ini (dalam lingkup yang lebih khusus, keadaan Sulang).
Warung kopi menjadi tempat bertemunya para intelektual muda Sulang lulusan Yogya, Semarang atau kota lain, dan menularkan pengetahuannya kepada aktivis nongkrong yang tetap tinggal di Sulang, yang semua tetap bermuara pada satu hal, kemajuan Sulang itu sendiri.

Mungkin, 5-10 tahun ke depan, warung kopi di Sulang sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot, sehingga selain ngopi juga dapat dinikmati internet gratis. Mudah-mudahan….

15:03 pm
27Nop08
JPR

Tulisan ini juga dimuat di Webblog Dusone.

39 thoughts on “Sulang dan Ngopi

  1. Ho-oh, men, nyari sapidi emang cukup sulit juga. Ada sapi’i d per4an tp sy blm begitu ngenal komunitasnya. Ya udah, pake sapinah aja di rumah, sekalian nglatih kesabaran. Okrik, men.

  2. eh barusan aku ketemu Sapdi lho, di angkringan. Dia lagi minum teh tubruk !
    Bang nek sido bali awakmu tak jajal ngonthel pake Kendi ( Kendaraan Dinas ) Rukun Sulang. Nek sanggup kliling Sulang mboncengke aku, tak traktir teh panas.

  3. Wah Laskar Kalinyamat sudah warmingup, siap untuk couter attack. Yang jual mahal itu kan Pendeksnetnya. Lha piye to ? kudune ngoyak setoran je malah tutupan terus. Katanya spidi lagi ngadat. Batin saya, spidi iku pakanan opoooo?

  4. Lokasi “Hik” di perempatan samping toko Mas Heng. Kemaren-kemaren modelnya kayak di Jogja, Semarang, dan kota besar lainnya, dikrobongi brukut pakai deklit, dengan ciri khas lampu teplok. Ya orang Sulang nggak pada tahu, iku janjane dodol opo? Kemudian tak protes gini, “Mas nek sampeyan pengin payu yo akringe dibukak byak, terus lampune ojo teplok tapi nyalur listrik ngono lho! Sulang kan rada peteng, jadi butuh padang.” Wah saiki laris manis, ada wedang jahe, wedang zuzu, wedang teh, wedang cemuai, aneka goreng-gorengan, dan tak lupa ciri khas yang jadi klangenan saya, nasi ngeoooooong…!

    Wah, cen Kidhal provokator berpengalaman. U.

  5. Halo, men. Dunia cangkruk Sulang tambah satu model lagi, yokuwi “Warung Hik” dari Jogja. Sulang semakin begadang……………………..

  6. he’eh..kliru.., ud, editke.. 15.03 .. PM e buang wae..trims..

    rapapa ben seru. Lagian maksute PM kan Peh Maghrib, Ndorokakung.

  7. Lha you gimana ? kalok mau tahu ya mudik dulu ke kampung to! Nanti tak jelaskan sejelas-jelasnya. Kwek kwek kwek kwek kwek …………..

  8. Duz and Gobang, sekarang juga ada istilah yang cukup ngetren di dunia ngopi, lho ! Mau tahu, tak kasih bocoran dikit ya ! Satu : Kopi pangkon, dua : Kopi cuwot. Yang ini pasti lebih jooooos guandoooooos (kata Mbak Fifi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s