Rekonstruksi Geliat Musik Pop di Sulang

Teks: Youdil Arif

tiga puluh tahun silam. Di dunia kecil yang bernama Sulang, malam yang sunyi dan gelap gulita tidak melarutkan apa yang dinamakan ekspresi yang hendak melahirkan eksistensi.

Ekspresi dan eksistensi adalah dua sisi mata uang yang sejak lama berada di genggaman para generasi. Universalitas musik pop-lah yang membangunkan para generasi itu menuju kesadaran, walaupun hanya terdengar sayup dari sebuah radio ketika malam temaram di depan sebuah warung kelontong.

Tak lama seorang teman yang mahir memainkan melodi keroncong memutuskan untuk bergabung memainkan pop, berbekal satu gitar akustik tua dan catatan beberapa lirik lagu dari radio yang berhasil ditulis oleh teman yang lain. Momen yang sama dilakukan Paul Mc.Cartney yang piawai memainkan alat musik bertemu dengan John Lennon yang jenius menulis lagu, sebuah sejarah yang selalu diingat.

Gitar tua, blek krupuk mbandung, catatan lagu pop (Koes Plus, Panbers, Mercys, AKA dll.) adalah ekspresi budaya pop mereka yang mengidentifikasikan sebuah eksistensi yang lebih enjoy bila mereka disebut anak modern.

Malam tidak lagi seperti malam yang lalu, komunitas ngarep warung kelontong alias YONEDPRIS sudah mengawali sebuah lagu Why do you love me. . dengan versi unplugged mereka, broak-broak memecah sunyi.

Definisi eksistensi itu akhirnya sampai pada penampilan di atas panggung dengan alat band sewaan di bawah cahaya terang lampu petromak di berbagai acara sunatan, nikahan dan panggung 17 agustusan. Anak modern yang telah mengusung budaya pop itu menarik perhatian warga desa untuk berduyun-duyun menonton sambil berdecak kagum.

Ekpresi itu bisa juga berbentuk tong set, istilah lain untuk mendefinisikan drum set yang terbuat dari tong, gitar elektrik seken berwarna lusuh, bas gitar yang dipinjam dari seorang teman dan sebuah keybod yang baru dibeli beberapa hari lalu. Alat itu masing-masing menjulurkan kabel berserakan menuju sebuah ampli tua yang entah bermerek apa. Bunyi drum yang aneh dan distorsi elektrik gitar seperti suara gergaji mesin menusuk telinga mengusik siang yang panas.

Namun keterbatasan fasilitas tak mengurungkan semangat untuk bisa  memainkan satu nomor rock seperti yang dimainkan grup band ternama ditelevisi. Cakrawala media itu juga telah memanjakan mereka mentransfer segala kebutuhan ekspresi, menjadikan mereka generasi yang “all around” yang tak cukup dengan memainkan kan nomor rock saja tapi juga mampu melayani permintaan memainkan genre pop lama, pop baru, dangdut konvensional, dangdut koplo, campur sari bahkan tong-tong klek dut, sebuah ekspresi campur aduk sebagai konsekwensi dimulainya era permintaan pasar. Maka tidak lah mengherankan kalo eksistensi mereka mulai diperhitungkan sampai tingkat karisedenan.

Ekspresi juga dilahirkan di sekolah, dibimbing oleh seorang guru ketrampilan elektronik yang hobi musik, atau guru seni musik yang punya hobi elektronik entah mana yang benar yang jelas beliau seorang low profile yang berkumis tebal, mencoba memperkenalkan apa itu ngeband, sesuatu yang hanya dilihat di televisi dan panggung tujuh belasan didepan kantor kecamatan. Ngeband yang kata beliau menyatukan jiwa-jiwa menjadi sejiwa, belum tentu mudah untuk dimengerti, seperti pada sebuah sesi latihan seorang teman dibelakang drum mengerang kecapek-an minta berhenti setelah lima buah lagu dibawakan terus-menerus, tanpa diketahui teman yang lain berada didepannya lalu berteriak: sudah. . sudah . . sudah . . sambil terus memainkan drumnya , apakah ini bukti gagalnya penyatuan jiwa itu, atau cuma masalah non teknis saja. Sekali lagi itu belum bisa dimengerti oleh teman-teman yang lain.

Ekspresi yang masih kabur itu nyatanya memberikan sebuah eksistensi yang bernama anak band, merajai panggung sekolah dan jadi buah bibir para cewek.

Satu waktu ekspresi itu dibawa sampai disatu tempat, merasakan geliat panggung -panggung festival dibelantara kota, fenomena ekspresi yang berwujud gengsi memainkan alat bermerk diatas panggung. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh seorang teman yang memainkan bass gitar ketika kali pertama mengikuti audisi salah satu festival, sejak malam sudah sibuk mempersiapkan untuk “gengsi” itu mencari pinjaman elektrik gitar, bassgitar juga snare drum pada seorang kenalan dan satu lagi perjuangan untuk mencari sewaan effeck elektrik gitar keliling seantero kota.

Audisi itu akhirnya berujung pada tiket tampil ke atas panggung walaupun terlihat nerveous di hadapan si Azis dedengkot Jamrud.

Bagi teman-teman satu grup yang kelas pekerja ekpresi ini sungguh mahal harganya walaupun sesungguhnya memberikan sebuah eksistensi berbentuk pengakuan di komunitas anak-anak band yang merupakan koneksi untuk bisa tampil dari panggung ke panggung.

Generasi-generasi telah berlalu meninggalkan jalan setapak untuk generasi selanjutnya , bagaimana generasi kini? Idealnya harus lebih baik. . .

45 thoughts on “Rekonstruksi Geliat Musik Pop di Sulang

  1. ya ya ya ya ya ya…

    menurut itungane dino ben dadi sukses malahan

    editor kan golek impen disik brita sing arep di tok ke

  2. Ooo, saya kok jadi melu penasaran nunggu postingnya. Atawa blm di attach Editor ya? Kita tunggu ya CaPas, mungkin Editor ingin mbuat surprise utk kite, he he he he he …..

  3. Halo halo Bandung………. apa memang kota kembang hujan terus ya Gob, geliatnya koq terus mandheg! Akeu kangeueun lho! Apa lagi saya belum diciprati dialog model Ki Asep Sunandarnya. Onkriiik…. Cah …..

  4. Sahabat saya yang di Dayeuh, sahabat saya yang di situs Ratu Sima, sahabat saya si Hantu Padang Karautan situs Arok, dan semua sahabat sahabat yang di situs lainnya, tak tunggu terus buah jarinya. Ongkriiik…. kwek kwek kwek kwek ….

  5. Ya ya ya, Cah Pasar, Dus, dan Gob, dan bloger yang lain, Editor memang “peri busi”, tapi yang jelas tidak “prei busi”. Jogja kan selalu hujan tak henti-henti. maka busi harus tetap “on”… kwek kwek kwek kwek kwek kwek ( mlagiat gayane Gus Gobang, soriiiii ).

  6. sy sebenere sdh ngirim tulisan tapi kok belum muncul ya..mungkin redaktur merangkap editor merangkap pimred sulang OL itu lagi busy pak…

  7. Haleuo Caeuh Paseur ! How are you. Tak waiting terus lho, gaya tulisan Anda yang unique itu. Begitu pula Dusone sang budayawan Njeporo. Mana suara Anda ???

  8. Kaeusihaeun deuh leu, Cah Pasar ! belon bisa jumpa-jumpa darat sekarang. Tapi nggak usah kuwatir, lebaran tahun depan kita adakan semacam teumeu kangeun atau apa pun namanya, biar sekalian saya bisa nimang yunior Anda. Oukeu, meun… atuuuuh……..

  9. yud gelem bakso wenak loooo
    iki aku lagi mangan bakso wenak puollllllll
    ping pindone sing bengi2 aku kowe tong q uk malem riyoyo
    aku wenak e tanteeeeeeeeee

  10. kalo sy ngumpul kopi darat itu berat diongkos,mending ngumpul didunia maia yang cuma gratis (khususon sy).

  11. welehh…..gak ngiro iso ketemu langsung karo ki dhalang….

    hmmmmmm…..jan-jane yo ngantuk tapi, dadi ra sido….

  12. Malam ini saya bersama Mas Duitor dan Dusone berkesempatan ngumpul di Kantor Pusat Sulang Online. Wah! enak juga ngomong ngalor ngindul tentang dunia maia… saya tambah pengalaman banyak banget…. hallo Cah Pasar, Gus Gobang, Mr. War-Two (Thuram), dan blogger yang lain dan Editor sendiri, pengin nggak ngumpul-ngumpul jumpa darat??????

  13. sebenere tulisan ini sudah lama ada di folder sy,dan sy cuma merangkum saja terus ditambah uyah sedikit,jadi nggak usah topo sgala..he..he… mangga dilajeungkeun deui..pak kidhal sareng dus..hatur nuhun.

  14. Ada geliat sang naga dari Dayeuh Bandung! Rrrrruarrrr biasa, Youdil punya gaya ungkap yang unique untuk merefleksi geliat musik di sebuah desa yang barang kali jarang dicetak di peta….adalah Dayeuh Sulang tercinta. Halo Dusone…rupanya sebulan yang lalu Cah Pasar baru “laku topo broto” ya! Inilah hasil dari “wisik” yang diterimanya… Saya mewakili komunitas musik pop Sulang hanya dapat mengucapkan “terima kasih” atas pendokumentasian jagat musik kita. Tak tunggu geliat-geliat berikutnya. Sumuhun atuuuuh….

  15. Terima kasih karena mas Dwi udah mampir ke Blognya Desa Bago, hmm.. BTW istri saya juga orang rembang loh..!! Tepatnya orang Lasem, saya sering kok maen kesulang apalagi kalau sedang pengen legen pasti meluncur kedaerah sulang, dan yang pasti harus makan lontong tuyuhan juga.

    Silahkan jika mas dwi sedang meluncur kedaerah Wetan, misal mau ke Bali bisa mampir ke Desa Bago alamat dan ancer-ancernya udah saya jawab pada komentar Mas Dwi pada blognya Desa Bago.

    Thanks N salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s