Riwayat Almaghfurllah KH. Abdul Wahab Khusain (1926-1995)

Bagian 2 (Habis)

Oleh: Bahaud Duror (a.k.a Gus Baha)*

Cerita sebelumnya, setelah Pak Kiai Wahab menimba ilmu di Kediri lalu kembali ke Sarang dan sempat menjadi bagian dari tentara kemerdekaan yaitu Brigade Hizbullah. Beliau juga sempat bermukim di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan belajar langsung kepada ayahanda Syeikh Muhammad. Simak lanjutannya berikut ini.  Sebenarnya saya sudah minta ke penulis untuk mengirimkan foto Pak Kiai Wahab, tapi mungkin karena penulis lagi di Makassar jadi agak kesulitan, kali.

E

Beliau bermukim di Sulang setelah menikah dengan Ibu Muslikhah (kemudian lebih kita kenal dengan Bu Nyai) yang waktu itu baru berumur 16 tahun. Beliau dikarunia 7 orang anak (2 meninggal), sehingga masih tersisa 5 bersaudara yang saat ini masih ada.

Pindah ke Sulang

Kepindahan beliau ke Sulang adalah amanah dari pamannya yang saat itu menginginkan Simbah dapat mensyiarkan agama Islam secara intens di desa ini. Kepindahan ini mengundang beberapa sindiran dari beberapa ulama Rembang. Ada yang mengatakan beliau “dibuang” oleh pamannya agar tempat beliau di Sarang dapat ditempati dan diteruskan oleh KH. Maemun. Tetapi pada saat itu beliau mengatakan “Aku iki ditandur ora dibuang”. Dari situlah saya sadar pada saat itu simbah sudah memahami benar filosofi hidup. Gelas setengah kosong atau setengah isi, itu tergantung dari orang yang mengatakannya. Pikiran positif dan negatif tergantung cara pandang masing-masing individu. Jadi, beliau telah melaksanakan filosofi tersebut  jauh sebelum buku-buku motivasi dicetak sangat banyak saat ini.

Di kalangan NU beliau dikenal sebagai kyai yang keras tetapi fleksibel. Beliau dikenal keras sekeras batu karang dalam memegang teguh prinsip-prinsip agama, tetapi fleksibel tatkala dihadapkan pada persoalan yang menyangkut kemanusiaan. Saya masih ingat beliau termasuk ulama yang memperbolehkan adanya transfusi darah. “Kalau untuk tujuan kebaikan, kenapa tidak?” begitu perkataan beliau saat itu dengan suara yang serak-serak basah.

Bagi saya pribadi sebuah kebahagian menjadi orang yang telah dididik langsung oleh beliau. Meski dengan pendekatan yang keras, beliau sesungguhnya menancapkan kepada keluarganya mengenai arti menghargai/toleransi, memegang janji, fleksibel sekaligus tetap berprinsip pada ajaran agama. Kalo kata orang jawa “keli ning rak ngeli” (kalo ngga salah inget-pen, kalo kata-kata seperti ini Ki Dhalang maestro-nya). Larut tapi tidak hanyut, itu perkataan yang enteng tetapi maknanya sangat dalam.

Menurut saya pribadi, beliau mirip Raja Balion penguasa Ibelin (Raja terakhir yang mempertahankan Yerussalem sebelum akhirnya dikalahkan oleh Shalahuddin dengan negosiasi) yang tidak mau menjual jiwanya. Tidak akan pernah bersedia melakukan kejahatan sekecil apapun meski untuk kebaikan yang besar. Tujuan yang baik harus dilakukan dengan niat dan cara yang baik. Menurut  beliau kebahagiaan sesungguhnya adalah pada kebebasan berfikir dan hati nurani. Itulah yang saya maksudkan beliau begitu teguh dalam memegang prinsip beragamanya.

Di Sulang sendiri beliau telah membangun sebuah image desa Sulang sebagai desa santri di atas berbagai keragaman etnik yang telah ada. PP Zumrotuth Tholibin, Nural Firdaus, dan Madrasah An-Nuraniyah adalah beberapa keberhasilan beliau secara kongkrit yang bisa dilihat pada saat ini.

Sebagai bagian dari keluarga besar dari KH. Abdul Wahab (Pak Jup, saya ngga usah dipanggil gus, jadi ngga enak) besar harapan saya agar masyarakat Sulang tetap menjaga dan meneruskan landasan-landasan agama dan bermasyarakat yang Islami. Seberapapun kemajuan yang telah kita raih dan moderenitas yang masuk, semoga masyarakat tetap ingat siapa diri kita dan untuk apa kita diciptakan sebagi kholifah di dunia, khususnya di Desa Sulang. (nyolong kata-katanya Kaisar Meiji). Wallahu ‘alam bisshowab

Wassalam

31 thoughts on “Riwayat Almaghfurllah KH. Abdul Wahab Khusain (1926-1995)

  1. walaupun akku blum prnah melihat mbah wahab acr lgsg… tp,akku sdh merasakan belajar di pndk y mbah wahab…. dan akku mengagumi beliau…. smoga BINNUR mkin mju….amin

  2. Injih injih… sembah nuwun lan nyuwun gunging samodra pangaksami injih Miss, because I’m rong nyebut your grand father, oce (mulai dhegleng iki ). Yang betul memang Eyang Sasmito Sumarto. Memangnya sebuah sejarah kan perlu digali to Mbak Inu.When when lah (kapan-kapan) Permohonsn saya, nanti setelah Anda disengkakake ing ngaluhur ( kinah ) mudah-mudah nggak lupa sama blog kita …. tur suwun.

  3. Nyuwun sewu Ki Dhalang, sanes Sasmito Mihardjo. Ingkang leres Sasmito Sumarto. Wah, kalo disuruh nulis soal Mbah Kakung, ya susah Ki.Wong pas saya terlahir ke dunia fana, Mbah Kakung sudah di alam kubur je.Wajahnya saja cuma kenal lewat foto.

  4. soal mbah yai Yakub sudah tak ‘delegasikan’ ke mas dui je pak…..biarpun begitu saya tetap bersedia membantu untuk menemani beliaunya(mas duiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii) mencari data…

  5. Gus Gobang… ojo lali lho! kapan2 kalo pulang ke ndeso saya harus dioleh-olehi kopi Singosari….oce…. Tuk Gus Baha’ mohon tak lupa pe-er-nya tentang Riwayat Eyang Fatkhurrahman Almaghfurllah. Dan Dusone….. how are you, about Eyang Kyai Yakup?
    And……… Miss Inu …please to write for Grand Father Sasmito Mihardjo…(sorry yo… nggak usah dipermasalahke conversesion saya, karena ini memang conversesion merdeka koq) Yang penting waton rame nggo Sulange… okeee

  6. Wingi lebaran r sempet ketemu ya Gus.Piye kabare sulawesi?sesok yen wis bali surabaya maneh, mampiro nang warung rollaas, ngicipi kopi he (maap, promosi).

  7. Alhamdulillah…….orang besar tak akan pernah dilupakan sejarah. Sejarah hanya akan membesarkan orang-orang yang memang berjiwa besar. Yuk ngikuti jejak Yai…. siapa tahu berkah buat kita. betul gus?

  8. Ohya,kemaren lek mur juga sempat nyebut2 soal 3 serangkai ntu,eling gak du?jajal kuwe golek info ro kelgne jembrak atw sblh omahe pdk,jaluk tlg pendek atw emake pndk,dya pasti tau…nek santren,hub pak mat,akam,dll..

  9. waduh, kok ganti aku sing keno…..
    bang, tulungi,,,,,

    info awal, keluarga saya pernah menyewa salah satu rumah peninggalan mbah yakub, yaitu milik kelg mbah saelan (bapak’e slamet jembrak),,

    untuk lebih lengkapnya, saya persilakan sdr dui untuk menggali lebih dalam, toh, kebetulan kemarin (bener! kemarin), waktu dui dolan ke rumah saya dan ketemu salah satu anak turn mbah yakub (lek mur, anak’e mbah usup), sempoat omong-omong untuk menuliskan sejarahnya mbah yakub…

    duiiiiiiiiiiiii, tampani lemparanku!!!!

  10. Horas! horas! (eh,kleru dhing….ini kan milik orang Medan, kalok Makasar apa ya?) Yaaah pokoknya salut banget, Gus (maaf ya, saya sudah kadhung enak manggil pakek Gus, nggak papa koq, gimanapun Gus Baha’ masih punya hak pakek je, kalok mau). Mudah-mudahan tulisan Gus Baha’ semakin nambah semangat generasi muda Sulang dalam menapaki perjalanan penemuan jati diri. Tentu saya dan rekan-rekan di blog ini masih nunggu info-info berikutnya, sebagai pelengkap riwayat para ulama Sulang, khususnya, Almaghfurllah Simbah Wahab Khusain.
    Oh ya, kalok Gus Baha’ telah membukakan tabir tiga serangkai (Mbah Wahab, Mbah Maemun, dan Mbah Sahid), saya punya masukan yang barangkali layak untuk digali oleh para bloger Sulang, antara lain tiga serangkai Sulang. Menurut kabar tutur tinular, dulu ada perintis Agama Islam yang katanya nunggal guru, yaitu Alm. Mbah Badrin, Mbah Jakub, dan Mbah H Nursalam. Wah! kalok bisa nggali ini tentu tak kalah hebohnya. Hayo, termasuk Dusone yang pernah tinggal dekat dengan keluarga Almarhum, silahkan eksplor rumor saya ini. Sembah nuwun, Gus Baha’.

  11. wephi, gmn kabarnya..?sae-sae wae kah..?Nyoya wis ngandung Wephi Jr blum..?Insyaallah muleh akhir tahun cah…

  12. Salut banget Gus Baha’ (maaf saya sudah kadung enak mangginya pake Gus, nggak apa-apa koq). Kalaok ada waktu silahkan dieksplor terus, khususnya riwayat Pondok Pesantren Kauman Sulang). Oh, ya, Gus, kalok riwayat Mbah Wahab Khusain sudah relatif tuntas, saya ngimbau agar Gus Baha’ mau menulis juga tentang cikal bakal Pondok Kauman Sulang dari dinasti Mbah Kyai Fatkhurrohman (kalau nggak salah kepernah Canggah dari Gus Baha’). Semabah nuwun.

  13. ojo ngono yud,gobang wis ono kemajuane dari pd mbiyen ,yoooooooooooooo… ra ………baaaaaaaaaaaaang

  14. waduh hebat bener cerita sambungannya ini…………
    Gobang ae sampai gak ketinggalan ngikutinnya…..
    ning postingan ngendi ae kok mesti ono gobang …….. gendruwone comment yo bang…

  15. wahhhh… bagian kedua ini makn dalam saja…

    semoga kita bisa ambil hikmahnya…

    yo wis cah ndang podo tangi… hidup ini penuh dengan perjuangan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s