Riwayat Almaghfurllah KH. Abdul Wahab Khusain (1926-1995)

Bagian 1

Oleh: Bahaud Duror (a.k.a Gus Baha)

Setiap saya mencari nama Mbah Kyai Wahab di web, selalu yang muncul cerita humor tentang beliau yang diceritakan oleh Gus Dur. Untunglah sekarang, cucu beliau (yang waktu kecil buandhelnya minta ampun) bersedia bercerita profilnya untuk kita. Kawan-kawan, diawali oleh Gus Bahak ini, maka mbok iya teman-teman juga bercerita tentang sejarah keluarga masing-masing. Oiya, demi kenyamanan Anda, tulisan ini akan kami umumkan dalam dua kali penayangan. Percayalah pasti seru.

S

Assalamualaikum

Sesuai dengan sindiran Pak Jup, agar ada pihak keluarga yang menuliskan riwayat KH. Abdul Wahab, maka ijinkan saya menuliskan sedikit apa yang saya ketahui mengenai beliau, kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.:

Beliau lahir di Sarang sekitar tahun 1926 (maklum pada saat itu sistem penulisan akte belum seperti sekarang) dari pasangan Khusain dan Aminah. Beliau memiliki 3 saudara laki, Mukhid (Alm), Hamjawi, dan Dahlan. Simbah banyak dibesarkan dan diajar oleh pamannya di Sarang, KH. Zubair (Alm) yang merupakan ayahanda dari KH. Maemun Zubair (Pengasuh PP Al-Anwar). Jadi KH. Maemun merupakan sepupu dari simbah.

Pada saat mudanya beliau menimba ilmu di Lirboyo Kediri bersama K.H. Maemun dan KH. Sahid (Alm). Ketiga orang ini disebut Tiga Serangkai pada saat di pondok pesantrennya. Cerita Pak Jup mengenai ketertarikan Simbah mengingatkan cerita beliau saat di Kediri yang sering keluar pondok malam hari untuk sekedar melihat pagelaran wayang bersama dua sohibnya pada waktu itu. Seringkali pada saat pulang dari melihat pagelaran tersebut KH. Sahid (alm) sering menangis karena merasa berdosa karena telah membuang waktu dengan melakukan kegiatan yang bersifat sia-sia. Kedua sohibnya selalu mengatakan wayang juga merupakan ajaran hidup yang perlu juga untuk diresapi, karena penokohan wayang juga simbol dari kehidupan manusia. Saya sendiri tidak tahu apakah ini opini independent beliau (semoga benar begitu) atau hanya justifikasi beliau karena minimnya hiburan saat itu.

Setelah beberapa tahun menimba ilmu di Kediri beliau kembali ke Sarang dan sempat menjadi bagian dari tentara kemerdekaan yaitu Brigade Hizbullah, tapi mengundurkan diri setelah masa kemerdekaan karena nasehat dari KH. Zubair (Alm) untuk mengajar kembali. Di Sarang beliau sempat menjadi pengusaha garam, nelayan, dan mendirikan sekolah yang sampai sekarang masih ada yaitu yaitu Al-Ghozaliyah. Beliau sempat bermukim di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji dan belajar langsung kepada ayahanda Syeikh Muhammad. (bersambung)

Apa pandangan hidup Simbah dan siapa Simbah menikah? Bagaimana pula peran Simbah dalam menyebarkan agama Islam di Sulang, silahkan tunggu postingan berikutnya tanggal 1 November besok. Sabar, ya…

7 thoughts on “Riwayat Almaghfurllah KH. Abdul Wahab Khusain (1926-1995)

  1. He-eh, kita tunggu aja postingan selanjutnya dari Gus Baha’. Pasti tambah serem. Ini agaknya si Gus-nya lagi lomban di laut Jawa mungkin? Bener, Gus???????
    Oh ya, Dus, pakeliran you punya sudah tak inguk lho!

  2. hmm…..

    mendengar nama mbah wahab,
    yang teringat adalah ‘keras-tegas-medeni-karismatik’

    aku ae sampek wedi o’

  3. Assalamualaikum, Gus Baha’, dan juga bloger yang lain (kecuali Gus Gobang, tapi khususon Gus Gobang tak kasih selamat atas ketrengginasannya kasih komen di postingan ini, weeeh………. aku kalah cepet).
    Gus Baha’, saya ngucapin terima kasih yang sak guedhe-guedhenya karena Gus Baha’ telah mengrespon “pangudoroso” saya (maaf, nggak nyindir lho, Gus, tapi nek gak kroso ya kebangetan).
    Yah dengan tulisan Gus Baha’ ini pasti Sulang Online semakin heboh. Nggak usah tak critakke, bahwa setelah saya buka blog dan sekata-sekata saya cermati tulisan Gus Baha’, ada beberapa titik air mata dipojok-pojok mata ini. Entah apalah arti air mata itu, saya sendiri nggak begitu mudheng, silahkan tanya pada rumput yang bergoyang. Oh, ya, tanya pada sang Pemangku saja ( maksudku bukan Pemangku Sulang Online lho, tapi Sang Pemangku mbak Lina koq. Lha gimana to? Lha wong Jogja diguyur hujan empat hari non setop je?. Oke untuk Gus Baha’, tak tunggu episode berikutnya. Sembah nuwun. Wassalam………………..

  4. iya, aku aja yang pegang key word khusus internal sulang online aja sengaja gak ngebukanya. biar penasaran. Seperti menunggu sekuel kethoprak sayembara Ampak Ampak Kaligawe.

  5. oooo…. cerita bersambung ya….. ok….ok…. tak tunggu episode berikutnya……
    aku dan temen2 pernah punya pengalaman dimarahi sama Mbah Wahab, waktu subuhan di masjid….. he…he….he… sampai-sampai gak berani keluar masjid….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s