Rukun Sulang en Sulang Rukun

Endhog, Teri, dan Nasi-nya Mbah Wahab

Teks: Ki Dhalang Sulang

Sengaja saya posting satu anekdot baru atau apa pun namanya, hasil kontemplasi Pemangku Sulang Online, dalam sebuah komen-nya pada “naskah guyonan” saya yang perdana, yaitu “ Rukun Sulang…. ben Sulang tambah rukun, nek rukun kan ati tentrem, sinau utawa nyambut gawe ya tambah semangat……dsb”. Anekdot yang ditawarkan oleh Sang Pemangku kepada kita, bener-bener mengusik komponen bawah sadar saya (“Wi’iiih! Sebehe koncoku sok intelek niiih!”, kata Gobang).

Terkait dengan itu, kali ini saya mencoba berbagi pengalaman kepada Anda semua untuk sekedar memberikan hiburan ringan, yang barangkali dapat membuat kita warga Sulang (yang di sono dan di sini) lebih rukun, lebih guyub, dan lebih raket dan rumaket gitu lho, Men. Terlebih lagi agar apa yang menjadi “jargon” Sulang Online (terukir di tagline Sulang Online) setapak demi setapak dapat terwujud (bravo Pemangku Sulang Online bersama kru-nya).

Sub judul yang (mungkin terasa aneh) saya tawarkan kali ini adalah menyangkut pengalaman kami (Komunitas Ngarep Warunge Cak Oni) bersama seorang ulama legendaris Sulang. Beliau adalah Bapak Kyai Haji Abdul Wahab Al Maghfirullah (Pemangku Pondok Pesantren Kauman Sulang; sekarang bernama Pondok Pesantren Zumrotuth Tholibin). Saya berharap torehan pengalaman ini dapat menjadi pemicu semangat bagi para blogger untuk mengeksplor potensi Sulang, desaku yang kucinta pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda dan handai taulanku…. (lho lho lho lho… opo hubungane Mbah Wahab karo YS Group?) Beginilah sebenarnya:

Siapa pun orangnya, bila mendengar nama Mbah Yai Wahab, pasti akan terbayangkan seorang tokoh ulama kharismatik, sangar, keras dalam berprinsip, jagoan dalam bidang syariah Islamiyah, da’i kondhang di kawasan Pati, Kudus, Demak, Jepara, Mblora, dan Rembang sendiri (dimohon dengan hormat agar putra dan wayahnya Mbah Wahab, khususnya Gus Bahak (Bahaud Duror – red ), sudi menyumbangkan riwayat lengkap Romo Kyai Haji Abdul Wahab Husain di blog ini. Setuju, Cah?)

Di Inguk Mbah Wahab

Barangkali tidak begitu banyak orang yang tahu persis, atau secara tidak sengaja menjumpai sisi lain dari beliau, tentang gambaran pribadi seutuhnya, yang menggambarkan kematangan sosok yang disepuhkan, yang sangat perlu kita teladani, yaitu Mbah Wahab yang bijaksana. Kami, komunitas ngarep warunge Cak Oni, termasuk sekelompok anak muda (pada saat itu) yang langsung maupun tidak langsung menarik perhatian Mbah Wahab, dan sedikit banyak dapat merasakan secara langsung kapasitas kebijaksanaan beliau (Anda semua tahu bahwa habitat ngarep warung memang tetangga dekat dengan beliau, yaaaah hanya sepelemparan batu, menurut istilah Mas Uud).

Anda mungkin tidak percaya kalau saya katakan bahwa Mbah Wahab sering nginguk di habitat kami. Namun demikianlah kenyataannya. Kami yang mengklaim sebagai anak modern, yang suka broak-braok mblebeki tanggane, ternyata betul-betul sangat sering sapejagong dengan beliau. Kami tidak tahu persis apa yang menjadi faktor ketertarikan beliau kepada gangs jalanan kami. Apakah model kepala kami yang rata-rata berambut semi gondrong tanpa penutup kepala, ataukah brang-breng kami yang mungkin sangat ngganggu orang ngaji dan orang tidur, atau justru ada visi dan misi beliau yang kami sendiri tidak tahu. Namun setelah sekian lama dan sekian kali beliau hadir di habitat kami, akhirnya kami menemukan juga alasannya.

Beliau hadir dengan ciri khas obor rokok cap Kaki Tiga, rokok favorit beliau. (mohon diingat bahwa Sulang saat itu belum berlistrik, sehingga merupakan hal yang biasa kalau orang jalan atau njagong tanpa lampu, cukup menggunakan sinar nyala rokok untuk penerangan). Jam kehadiran beliau biasanya menjelang tengah malam. Dan biasanya setelah beliau hadir, kami jadi prekewuh untuk broak-braok lagi, meskipun kadang-kadang beliau justru mempersilahkan kami untuk melanjutkan nyanyi-nyanyi. Arena nyanyi berubah menjadi arena diskusi. Dan beliaulahyang mejadi moderatornya. Anehnya, sedikit sekali diskusi dengan topik keagamaan (mungkin beliau pirso kalau kami sangat cethek pengetahuan tentang keagamaan kami)

Topik yang sering dipilih justru topik politik, ekonomi, dan seni budaya. Yang kami semua kagumi adalah kesediaan beliau untuk menempatkan diri di antara kami layaknya sebagai teman atau sahabat. Bukan antara guru dan murid, lebih-lebih antara kyai dan santrinya. Hal ini tampak jelas pada jalannya diskusi. Apa yang beliau belum ketahui, dan kebetulan kami sedikit tahu, beliau tidak segan-segan untuk menanyakannya. Misalnya dunia pewayangan (beliau sangat tertarik hal wayang), dan perkembangan istilah-istilah politik, ekonomi, dan lain-lain.

Endog, Teri, Nasi

Suatu saat (menjelang tengah malam tentunya) kami dikejutkan dengan pertanyaan beliau yang terkesan mendadak dan tiba-tiba. Saat itu kami memang sudah berhenti dari broak-braok (akhirnya ada hikmah yang dapat kami ambil dari kehadiran beliau, bahwa menjelang tengah malam kami harus berhenti dari perilaku negatif mblebeki tanggane. Ini adalah suatu penemuan penyadaran yang barangkali sesuai dengan salah satu visi dan misi Mbah Wahab). Pertanyaan yang tiba-tiba dan tanpa warming up kali ini adalah tentang istilah dalam dunia politik yang saat itu lagi ngetren, yaitu “indoktrinasi”. Semula kami ragu-ragu untuk menjawabnya, namun setelah beliau meyakinkan bahwa beliau tidak ngetes, tapi betul-betul belum begitu jelas maksud istilah tersebut, kami secara bergantian mencoba untuk memberikan penjelasan (saat itu, sekitar tahun tujuh puluhan, memang negara kita Indonesia tercinta baru dilanda eksplorasi politis yang luar biasa).

Jawaban kami saat itu, bahwa yang dimaksud ‘indoktrinasi’ adalah suatu ajaran atau paham dari pemerintah atau kelompok yang berkuasa agar diikuti oleh semua orang, baik secara sukarela maupun terpaksa. Ibarat makanan, indoktrinasi adalah makanan khusus buat otak dan fikiran. Mendengar jawaban kami yang saur manuk pating pecothot ndak karu-karuwan itu, beliau terdiam sesaat. Beliau kemudian ngambil kesimpulan dalam logat Jawa Sulangan begini, “ O, nek ngono indoktrinasi iku ngibarate panganan yoiku bangsane endhog, teri, karo nasi, nanging kusus nggo panganan uteg lan pikiran…” Kami terpana oleh kesimpulan beliau berupa suatu anekdot yang kami yakin hanya dapat dilakukan oleh orang-orang cerdas atau bahkan jenius.

Yang lebih mengejutkan, suatu saat ada pengajian di depan Masji Jami’ Sulang, yang beliau menjadi salah satu pembicaranya. Materi yang diambil oleh Mbah Wahab saat itu tiada lain tentang indoktrinasi alias endhog, teri, nasi. Yang juga sangat kami kagumi adalah kejujuran beliau tentang endhog, teri nasi ini adalah hasil diskusi bersama kami.

Demikianlah sekelumit pengalaman kami waktu sapejagong dengan ulama besar Sulang, yang tentunya sangat banyak hal-hal yang patut kami teladani dalam mengarungi dunia kehidupan, yang kelihatannya amat dekat dengan kita, tapi kadang-kadang justru membingungkan. Terima kasih Mbah Wahab. Semoga apa yang telah Mbah Wahab amanahkan kepada masyarakat banyak termasuk kami, mendapatkan berkah dan ridlo dari Alloh Subhanahu wa ta’ala. Amin amin amin ya Rob al alamin.

58 thoughts on “Rukun Sulang en Sulang Rukun

  1. Usul, tahun depan, piye nek Rukun Sulang nggawe nikah massal? Paling tidak lima pasangan lah. Kuwi jelas ngirit tur mesti tamune bakal akeh banget. Ijab-e di Masjid trus resepsi di halaman kecamatan. Konsumsine makanan tradisional khas Sulang.

    Saya membayangkan bakal seru, misalnya yang jadi penghulunya Ustadz Kidal tur pakai bahasa Jawa. Lha mantene sing lanang didandani Buta Cakil, sing putri dandani ala Srikandi. Dadi temane Beauty and the beast. Aku gelem didandani punakawan wis.

  2. Khusus untukGobang dan Dusone, saya siap untuk dijadikan duta “nakokke” lho ! kalok sudah ada calon selimut yang bisa jenthat-jenthit dhewe. Kwek kwek kwek kwek kwek

  3. haahahaha untuk selimut hangat yang hidup tinggal finising ajah kid
    di doakan ajahhhhh
    hahahahahahahahahahahah
    makanya mau operlap dus yudi hahahahahahahahahahaha

    cik malah ngelu ndase….. hahahahahahahahahaha

  4. hahahahahaha
    alhamdulillah sini ga hujan
    habis dari sebelah rumah ada kesripahan
    makanya lngsung tancap gas OL

    Kid OL di mana ne?

  5. Wooo, belum to ? pancen belum tak kirim koq, wuakakakak…. wah malam ini kita cuman ronda berdua ya, Bang, mungkin Njeporo, Mbandung, Ngayogjokarto, Semarang, Mbetawi, Surabaya, de le el lagi Ujan deres. Gimana Gob, Malang juga hujan? Hati-hati ngadepin hujan, bisa berabe kalok kanyeben… pada hal selimutnya baru dalam taraf seleksi to?!! Heh heh heh……..

  6. Halo, Bang…. email saya tentang cara ngingu brengos dah masuk belum ya ? Kalok untuk Dusone cocoknya nggak brengosen, tapi jenggoten. wuakakakakakak…. coba Bang, tolong dibayangkan kalok Dusone berjenggot panjang… wuih…! kayak budayawan tenan pokoke.

  7. Nggak koq, jaringan kayaknya lagi lemot mungkin, tiba-tiba not found je, oke, kalok you brengosnya kalah kandel, saya punya teknis untuk ngandelke brengos koq ! Nanti tak kirim lewat email aja, mundhak Dusone kepengin, oce ??????

  8. hahahahahahaa di mana emang e kid?
    aku cari2 ga ketemu
    ya klo brengose tok besuk ga ta cukur wissssss cik madani

  9. Ok Boss, doaku selalu menyetaimu… dan postingan Duitor tentang senior-senor Anda apakah sudah di-inguk Gus? cakep nggak ya ????? yang jelas you kalah keren dibanding your senior (terutama brengose…wuakakakakakak)

  10. ok ok
    saya ga takut ki dal, amannnnnnnn
    sebentar lagi ta bentar lagi tak over lap ae wisssssssssssssssssssssssssssssss
    doakan ja

  11. Halo Gus Gobang !Are you lagi koming ? Tenang aja, men…. Perkara didahului Pendeks dan Inu, ya nggak masalllllah …. Konco bujang masih buanyak sekali, termasuk Dusone, Wowod, Ndura, terutama Mr. War-Two, Brother Complongs, en so-on en so-on. Yok semangat terus Gus Gobang, siapa tahu jodoh Anda memang via internyetnyetan….. ok friend

  12. He-eng.Sebagai bocoran saja, yang mau diposting Mas Duitor adalah kenang-kenangan seniormen dan seniorwomen Anda di waktu masih jadi Top Leader di Sulang.

  13. Ya ya ya, dilanjut terus rapate, saya tetep setia mengawal Anda berdua. Oh ya Dusune, you sudah nginguk di blog fotonya Mas Dui belum ? Di sana ada senior Anda terpampang bersama-sama dengan gangs Ngarep Warung. Coba silakan diteliti, siapa yang in action dengan sepeda merk releigh-nya tuh! Dan untuk Gus Gobang, sebentar lagi juga akan diekspos senior-senior Anda. Oce………….

  14. Insya Allah kabar itu benar pak..doakan aja muga sukses..ngko nek sukses,pendek sukurane internet gratis..he

  15. Sulang malam ini aman tanpa kendala. Tapi malam ini saya kehilangan tempat nangkring, PendheksNett akringe tutupan rapet. Menurut kabar mbok bakul sinambiworo, Mas Pendhek nglamar ke Tegal. (Ojo diguyu, Bang, kapan you nusul)

  16. selamat sore kawan kawan
    saya tejo keren dari tlatah wetan…
    gmana ya kabar sulang
    wahhh
    podo ribut opo yo iku?
    kok

  17. Met malem Dus, dan blogger SulangOnline yang lain (tentu saja juga Cah Pasar dan Gus Gobang sayang). Sulang dah mulai ujan rintik-rintik. Tapi saya yaqin kalok Sulang ndak bakalan banjir koq. Oh ya Dus, Rendezvous Shinta udah tak kasih komen, jal di inguk….sorry ya…komennya belum banyak…baru meriiiiiiiiii…..selamet bersastroleo terus.

  18. Mau tambah seneng jangan nginguk thok dong, Du. Kasih semangat buat Gus Gobang, biar nggak kanyeben di kota Malang. Tuk Dusone, saya mau mampir bentar ke you punya rendezvous. Oce men

  19. pak, njenengan klik nama saya kan langsung meluncur ke teras rumah saya (gayane!),kulo nggih nembe belajar menulis+membaca,je..nyuwun kritik sarannya

  20. Tak titenane, Gus Gobang biso meneng op ora jal. Nanging nek podho meneng kabeh, PendheksNett yo klakon tangisan. Bener nggak Dus. Oh,ya Dusone, kamu punya web belum tak skeningi.Boleh nggak saya masuk? Ya boleh to Pak Kidhal (tak jawab dhewe, mundhak kesuwen)

  21. nggihhhhhhhhhhh ki dhalanggggg………………
    guyon harussssss karena dengan rutinitas sehari2 yang kita jalani kita udah pusing
    masak di blog ini kita serius bangettttttttttttttt

    di blog ini kita pakai sebagai ajang
    1. Temu kangennnn atau ngumpul2 pareng ning dunia maya
    2. Diskusi dengan dasar untuk kepentingan warga sulang sosial dan budaya (politik sudah ada yang mikir dan keamanan udah ada pak polisi)
    3. guyon gayeng gawe ngilangi setresssss

  22. Bener Cah Pasar, Gobang itu kalo mau ya jenius juga koq. Terbukti dengan statemen-nya ” The Ten Key to Success. Wah! wah! wah! tak catet ndhok komponen bawah sadar saya, biar ingat terus….penting iki Sar…ya nggak? …ya nggak?. Tapi jare Dusone, Gobang nek disanjung nemen-nemen terus muncul kayak pantun lama : Ikan terbang jangan dipanggang/kalok dipanggang kluar buihnya/Den Mas Gobang jangan dipandang/kalok dipandang kluar aksinya//…heh…heh..guyon guyon…nek guyon tambah gayeng.. neng gayeng mesti rukun…….rukun agawe seneng lan makmur….ok men

  23. ya karena pengaruh temen2 ngeblok yang seriusssss jadi ikut serius
    mang ayikkkkkkkkkk

    piye kabareeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  24. sy masih teringat gaya khotbah jum’ah beliau keras dan berapi-api dengan tanpa teks,dan ada satu khotbahnya yang berjudul “pager”yang disampaikan dengan sangat singkat dan masih sy ingat sampai sekarang.Pager merupakan refleksi keprihatinan beliau tentang pentingnya pagar untuk melindungi keluarga dari pengaruh negatif lingkungan dan media yang terus berkembang pada waktu itu ( 20 th yang lalu) walaupun begitu “pager” itu masih aktual sampai sekarang.Kiranya keaktualan khotbah2 jum’ah beliau patut diteladani oleh para dai masa kini,mungkin seperti dilakukan beliau itu untuk turun gunung menyapa(spt crita pak kidhal) maka tidak heran kalau khotbah beliau itu selalu aktual.Kebanyakan dai masa kini cuma melihat fakta yang ada di media(cetak elektronik) bukan aktualitas di lingkungan sekitar jadi jangan heran kalo tema khotbah jum’ah mereka sama sekali nggak nyambung dengan kesehariannya para makmum,lebih parah lagi khotbah jum’ah itu ada yang disampaikan dengan membaca saja dibuku kumpulan khotbah jum’ah yang banyak dijual dipinggir jalan

  25. KUNCI MENUJU SUKSES :

    1. Menyadari potensi diri sendiri.
    2. Jujur kepada diri sendiri
    3. Nasehat diri sendiri
    4. Merubah pola / cara berpikir
    5. Merubah perilaku
    6. Disiplin diri
    7. Membangun percaya diri
    8. Menjalin kerjasama
    9. Membangun sukses
    10.Membangun sejarah

  26. nggihhh…. bapak e koncoku kerennnnnnn
    semoga makin seru tulisannya….
    yang jelas pada prinsipnya kita jangan sampai eker mergo masalah sing ora jelas…
    yo masalah politik
    masalah karo koncone
    masalah opo ae…
    sing penting rukun
    masalah poleksosbut suatu kawasan dapat kita capai dengan kebersamaan kita… keyakinan kita
    RUKUN ANGGAWE SENENG LAN MAKMUR

  27. Saya pernah berada pada satu masa dimana wibawa dan kharisma mbah wahab begitu besar dimasyarakat,contohnya waktu jum’atan, biasanya pada waktu sebelum kutbah dimulai,anak-anak pada guyon rame,tapi ketika mbah wahab keluar dari rumah, langsung saja mak klep ndak ada suara gaduh lagi. beda dengan jum’atan waktu2 sekarang..apalagi pas sholat id..iyo leh?

  28. Saya mungkin kurang mengenal Mbah Kyai Wahab, salah satunya karena jarak rumah saya lumayan tidak dekat, ditambah lagi waktu beliau masih sugeng saya masih berusia puluhan atau belasan tahun. Namun mendengar kisah yang di tuliskan Ki Dhalang Sulang terbuka mata saya akan Kewibawan beliau Mbah Kyai Wahab. Walaupun beliau sudah kapundhut semoga Sulang masih mewarisi keharuman nama beliau, dan substansinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s