Kilasan Sejarah Seni Pertunjukan di Sulang (II)

Catatan Pelengkap Penderita

Teks: Ki Dhalang Sulang

“Mengenang masa lalu tak harus terpaku padanya, namun hendaknya dapat dijadikan cermin dan sekaligus motivator untuk menapak lebih mantap ke masa depan” (disunting dan dimodif dari tagline Sulang Online: 2007).


Sesuai dengan judulnya, maka catatan kecil ini hanya melengkapi tulisan-tulisan sebelumnya tentang riwayat berkesenian yang telah dipaparkan Dwiyoga, Dusone, Sang Pemangku, dan yang lain. Sedangkan objek pada judul “Penderita” bukan dimaksudkan untuk terpaku pada ‘penderitaan’ si pelaku, tetapi dikonotasikan yang mencatat ini adalah si pelaku riwayat itu sendiri. Dengan demikian paparan yang disampaikan relatif akurat, dan relatif tak ada rekayasa.

Biasanya model ini cenderung nutupi yang negatif-negatif, dan ngangkat yang positif-positif saja. Namun si pencatat berjanji untuk berkata sejujur-jujurnya, tidak nutup-nutupi, dan tidak ngapik-ngapik dirinya sendiri (tapi aku emoh pake sumpah-sumpahan, apa lagi disumpah pocong lho, Cah!). Catatan pelengkap ini difokuskan pada riwayat berkesenian musik pop di Sulang (Grup Band).

Cerita selengkapnya begini:

Tahun 1971 saya lulus sekolah guru, dan langsung jadi guru tidak tetap di SD Karangharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan honor Rp 500,- (lima ratus rupiah) per bulan (boleh dikompar: harga beras saat itu = Rp 100,-). Teman akrab saya sejak sekolah adalah Imam Sa’roni (a.k.a Cak Oni). Oleh sebab itu hampir tiap malam kami berkumpul di warungnya, warung serba ada cakrik ndeso. Ada krupuk, ada mut-mutan, ada gula, ada beras, ada rokok-rokokan, bahkan sampai paku rujak, reng, usuk, sampai paku dudur juga ada. Namun persediaaan amat terbatas.

Saya ngancani dia tunggu warung itu memang ada muatan politis. Sambil nyelam minum aer, sambil dapat ngutang rokok untilan sebatang dua batang, juga sekalian dapat ikut ndengerin radio dengan tayangan musiknya (tape rekorder belum masuk Sulang). Yang lagi in saat itu adalah Grup Koes Plus, The Mercys, Panbers, De Hen, D’Lloyd, AKA, dan lain-lain. Menjelang malam bahkan pagi baru kluyur-kluyur pulang untuk tidur. Pada saat itu, kami berdua sama sekali belum mengenal alat musik. Boro-boro membunyikan, menyentuh pun belum pernah. Sebagai catatan, saat itu Sulang masih gelap gulita, belum ada aliran listriknya…

Suatu malam (seingat saya bukan malam Jumat Kliwon), kami berdua baru sadar bahwa selama ini hampir tiap malam nyaris terdengar suara gitar dengan petikan ‘melodi jalan’ model kroncong. Singkat cerita, hampir tiap malam setelah Cak Oni tutup warung, kami berdua menelusuri suara gitar dari sebrang utara. Lhadalah ketemu sekarang. Kami tahu siapa yang sedang memetik gitar dengan corak keroncong itu. Kami belum kenal akrab karena dia umurnya lebih muda dibanding kami berdua. Dia adalah Sapar Daryono (Pak Yon). Dari penulusuran itu , kami berdua berhasil memboyong Pak Yon untuk gabung di blog kami (depan warungnya Cak Oni). Kami bertiga (ditambah satu Cak Mun kakak Cak Oni) tiap malam broak-braok dengan lagu-lagu grup-grup di atas. Modalnya cuma sebuah gitar tua dan hapalan syair dan lagu dari radio. Syairnya agak ngawur-ngawur sithik, tapi cengkoknya diusahakan “sesuai dengan aslinya’.

Komunitas kami makin bertambah sedikit demi sedikit. Kali ini rekan saya sekolah guru, yaitu Pak Edy Hendarto (alm.) pun ikut gabung ngeblog. Beliau asli Kudus tapi sekolah di Rembang, karena kebetulan ikut kakak iparnya (Bp Supar, Pakdhenya Mas Uud, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Binsarpralub Kecamatan Sulang). Rekan-rekan yang lebih yunior pun ikut bergabung, di antaranya adalah Yoga, Wono, Budi, Sariyadi, Yanto (Pak Saleh) dan lain-lain. Saat itu komunitas kami lebih enjoy disebut anak modern (karena bisa nyanyi-nyanyi lagu pop).

Namun apa dikata, saya harus meninggalkan habitat Ngarep Warunge Cak Oni. Saya terpaksa berhenti dari tugas sebagai guru tidak tetap. Bukan karena tak suka bluron di dunia didik-mendidik, tapi lebih pada kondisi keluarga saat itu. Lha piye to? Aku ini anak seorang janda dengan enam bersaudara. Jadi, alasan tidak betahnya memang karena kondisi ekonomis keluarga. Sebagai anak lanang terbesar, saya punya tanggung jawab moral untuk ikut nanggung beban kehidupan adik-adik saya yang pating kriyek itu. Saya punya kakak perempuan tapi sudah berkeluarga sendiri, jadi di rumah saya sebagai anak yang paling gedhe. Bayangkan, adik saya yang ragil (Suyatno, yang sekarang nyangkul di Malang, tanggane Gobang, saat itu masih menyusu ibu). Alhasil, aku mencoba mengadu nasib ke kota Semarang. Di Semarang saya harus kerja srabutan apa saja, nggak usah tak critakke (Wowod ambek Ndura mundhak si’in). Namun memang inilah awal dari ide mendirikan grup Band itu.

Hanya kurang lebih setahun saya adventuring work di Semarang, akhirnya mudik ke Sulang saat lebaran tahun 1972. Habis lebaran niat saya mau kembali lagi merantau ke Semarang, namun nggak diijinkan ibu. Maka kembalilah saya ke habitat semula di depan warungnya Cak Oni. Saya nggak mampu memberikan oleh-oleh untuk rekan-rekan, kecuali sebuah buku tulis yang berisi catatan syair lagu-lagu. Catatan ini memang hasil karya saya (di sela-sela kesibukan bisniz, eh!..gak dhing… nguli…) waktu di Semarang. Lhadalah, jadi gayeng maneh broak-braoknya. Apalagi (tidak sekedar sombong, tapi boleh dites) saat itu saya yang dianggap punya vocal lumayan baik. (saya dilawan!…)

Dari jrang-jreng itu akhirnya muncul ide yang kelihatan khayal dan gila. Bisakah kami mendirikan sebuah grup musik seperti Koes Plus, Panbers, Mercys, dan lain-lain? (Bandhane opo? Lha wong mung bondho dhengkul wae lho!) Terus dan terus saja pertanyaan ini selalu menggoda benak kami tiap hari.

Sambil mencari jalan keluar, kami sempat punya tambahan dua gitar jreng lagi. Tidak baru dari toko tapi gitar lowak dari rekan Rembang. Saat itu kami sudah belajar dari Pak Yon untuk akor-akor gitar. Jadilah sekarang, Musik Kampoeng Ngarep Waroeng, dengan personal Sapar Daryono (yon) sebagai lead guitar, Edy Hendarto (ed) sebagai Bass guitar, Djuprijanto (pri) sebagai rythm guitar and vocalist, dan Imam Sa’roni (is) sebagai drummer. Tapi jangan ‘disinisi’, saat itu yang dipakai sebagai dramnya adalah blek wadhah krupuk mbandung yang kebetulan kosong. (Woooalahhh … kuno… kuno…).

Meski belum pernah pentas resmi, belum pernah pegang alat elektrik sama sekali, kami berempat memberanikan diri memproklamirkan sebuah group band dengan nama sesuai dengan inisial kami, YONEDPRIS (Yon, Edy, Jupri, Imam Sa’roni). Tapi nama ini cuma berlaku di habitat kami “ngarep warunge Cak Oni”.

Kami tetap jreng-jrengan terus hampir tiap malam. Akhirnya ada juga cewek-cewek yang mendekat. Salah satunya adalah putra seorang pejabat Sulang (Bapak Kapolsek, Pak Suwarso). Dia punya suara lumayan bagus, dan akhirnya ikut gabung ke habitat kami. (Bang…, Gobang…, tak bisiki yo, tapi ojo kandhakno karo Wowod opo Ndura lho. Cewek sing moro kuwi mau ora liyo yo ibuke Han, Alex, Ari). Dan kami pun terpaksa harus menambah waktu berlatih tidak malam, tapi sore hari. (Jaga etika dong…).

Dengan gabungnya Mbak Sri Mulyati ke habitat kami, akhirnya makin tambah cewek-cewek Sulang City yang ngefans pada kami. Namun yang berani nyedhak-nyedhak ke kami adalah kategori terpelajar, yang sempat nglanjutkan sekolah ke kota. Cewek-cewek yang hanya lulusan esdeh tentu saja nggak berani (weleh-weleh…. gedSe ndaHe… kemaki…). Info tambahan khusus Wowod dan Ndura… nyak kamu dulu ceblok citrong sama sebehmu ini juga gara-gara suara merdu mirip Yon Koeswoyo yang berjudul “Why Do You Love Me” . (waaah!… nek ini ya kereeeeen banget, Ndur).

Akhir cerita dengan usaha yang keras kami betul-betul berhasil mengadakan pagelaran resmi perdana (tanggal 1 Juli 1973) dengan bendera “ YS Group “ sponsor tunggal Bapak-Bapak Polisi, dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara. Tempatnya di depan Kantor Polisi yang saat itu masih numpang di rumah keluarganya Cah Pasar (sekarang disewa Bu Sih Warung Makan).

Saat itu kami berhasil menyewa alat musik Band sewaan satu-satunya di Rembang, milik Bapak-Bapak Tentara (Kompi C di Rembang). Jangan kaget. Meski hanya pakek amplifier dengan setrum accu dan penerangan lampu petromaks, sambutan masyarakat Sulang amat luar biasa. Kelihatannya berbagai kesan tampak padha mereka. Asing, gumun, dan mungkin bangga, campur aduk jadi satu. Yang paling menarik saat itu adalah peralatan drum yang digebugi Cak Oni. Lebih-lebih anak-anak kecil (mungkin termasuk generasinya John Rubi, dkk.) sama ngrubung Cak Oni (Wah! … jan ndesit tenan…)

Sejak itulah bendera grup Band Yonedpris, yang kemudian lebih ngetren dengan “YS Group”, selalu tampil rutin setiap peringatan Hari Bhayangkara dan Hari Peringatan Tujuh Belas Agustusan di halaman Kawedanan, maupun di aulanya. Kami juga sering ditanggap orang punya kerja, misalnya waktu tetaknya Mas Ipong (alm) putranya Bu Nikmatun, tetakannya Mas Hon (Bu Ngajam), perkawinan Mas Totok (putra Bp. Ngadiyo Kapolsek), dan lain-lain. Kami juga pernah beberapa kali pentas bersama dengan teman-teman kami dari group Rembang di Alon-alon Rembang, di Taman Kartini, di Gedung Pukap Rembang (sekarang Gedung Balai Prajurit), dan lain-lain.

Lima atau enam tahun kemudian muncul generasi kedua group Band Sulang yang digawangi oleh Mas Wiji, Ipong (alm), John Rubi, Samsul (alm). Dan terus generasinya Okid, Suyat, Kamus, …terus.. terus… ada generasi penerusnya, termasuk, Uud, Dusone, Yudhi P’ Gobang, Wowod, Dui, Ndura, Aleks, dan lain-lain.

Pentings… Kita bersama pernah mengadakan pentas antargenerasi musik Sulang, yaitu ketika peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, dengan sponsor Perusahaan Jamu Nyonya Meneer Semarang, dan masyarakat Sulang yang di Jakarta, di Halaman Kecamatan Sulang ( Mas Uud cs. ingat tho?). Kalau nggak salah ada tujuh generasi.

Inilah secercah catatan yang tercicir, yang barang kali dapat melengkapi tulisan-tulisan tentang riwayat berkesenian, khususnya musik pop di Sulang. Kalau ada yang terlewatkan silahkan nambah. Mudah-mudahan tulisan ini bawa berkah Alloh demi penggalian, pengembangan, dan pelestarian berkesenian di Sulang.

Bravo Sulang new fans of Koes Plus (Mas Puji, Mas Totok, Mas Wephi, Mas Agus, dan Mas Vijay).

Bravo komunitas Sulang Online. Merdeka… merdeka… merdeka…!

Hatur suwun.

39 thoughts on “Kilasan Sejarah Seni Pertunjukan di Sulang (II)

  1. walah-walah seru banget critanya..qu jdi kpengen..ternyata da yg lebih menggilahi koesplus sprti q jg..tpi klihatane u smua dah tua-tua owk..qu sring denger nama-nama kalian di radio-radio trutama di cb FM..bgQu koesplus adl obat dari masalah..low dngerin kn dhati bs tenang..Tetap semangaTTT…SALAM JIWA NUSANTARA….

  2. Iya ya, maksud saya kalau tak gawe tegang, dhe’e biar gak brani minta kiriman gitu lho Dus. End…. saya tetap nunggu tulisan Anda tentang lanjutan sejarah musik kita….

  3. Ediannnn….. bloge soyo ngediaaan…. internyeknyekan bin go-Blog-go-Blogan. Ndur tak bisiki yo, kowe kudu mbolo aku, sebabe dhe,e rak wis mbolo Editor, mulakno menangan… pokoke aku wis ngerti pengapesane kok. Awake dhewe angger nyuwun kiriman, wis mesti ka’o dia… leres Mas Duitor ???? Dhe’e terus : Laeeee… laeeee…. kikikikikik… (Sorry, Be, di internyek ga boleh marah lho!)

  4. E… lae…lae… blegedhuweg… ugeg-ugeg… hemel-hemel sadulito.. e e e e Kyai Lurah Semar soyo ngedan (nyuwun pangapunten nggih, Be, mumpung ada kesempatan di internyek). Wadhuh kalo aq disuruh nulis-nulis ya agak grigo juga sama si dia, abiz “my love story” kalah keren dibanding punya dia je Mas Dusone. Tapi ga apalah, nanti aq coba, Nek ono sing “ngenyek” ning internyek, ndara tak kandhakno Buaaapak leeeeeh!!! Wuakakakakakakakakakakak…. (sorry men, aq pinjem model kokoknya Mas Uud, pareng nggeh, Mas)…Eeeee lae…lae….

  5. mosok 98an ndek? gak95an? mbuh ding…lali..

    buat pa’de dalang: ndura disurh nlis sejarahnya sendiri, dia pernah ngeband yang teridiri dari 2 keluarga, keluarga ki dalang dan pak yon bersaudara, personilnya nek gak salah : NDURA, WOWOT, MUIS, ARO DOYOK, HAN SENTHET

  6. Siap, Pak Kidhal. Saya tak coba semampu saya nanti ngetik yang pernah terjadi pada saya. Fotonya juga masih nyimpan kayaknya. Ceritanya begini, pada saat itu eee… waktu itu eee… pas tahun indonesia emas … ee…. main ee…. maaf ya nanti aja deh. Saya grogi kalau nulis begini dipenthelengi istri tercinta.

    Ngaturi sugeng kagem sedaya riyin kemawon.

  7. ketokane unda-undi karo laire compputere kecik, iseh eling ora nggawe logo tupas nganggo program paint neng windows 98 ne kecik…. nek saiki sing njamani yo corel…. (sssttt tak bisiki ko jaman semono…. ngonolah aku wis gumunku ra karuan……, sumpah iku lho……)

  8. Ki dhalang sampun siap2 nginep teng warnet nggih?ampun kentun 76 ne lho.To pendek : Ki dhalang nek kadhemen sediani slimut lho….OK..!!!Nek ora repot gawekke kopi yo! I love you Alll

  9. Punteeen………selamet malem akang and teteh sadayana, sumuhun atuuuhhhh! Si Cepot Asep Sunarya Maung Bandung ndherek langkung nggih! Cah Pasar thanks for you, saya dikasih gelar nyus “si kidhal”, tambah keren nggih, Tor (maksud saya sang Editor). Teh Ida hatur suwun komentarna. Dan bloger bloger yang lain (khususnya genre pop antargenerasi musik Sulang, saya tunggu riwayat group Anda masing-masing. Kalo boleh usul, dapat dimulai dari genre rockn roll-nya Mas Uud cs. Setujuuuuuuuu!

  10. Astowbiruwoh..,adik kwit ndsik kug mesum trus yow,mas pendek skali2 adik mbok dajari ngeblog ben ora camfrogan tok..

    Satu pesan bwt sapi,jgn biasakan pke jari tengah mgko gak dadi2 lo ya

  11. kalo jaman abg saya dulu masuk yang namanya era pop new wafenya Faris RM dan gangnya (gang kegangsaan,jakarta rythem secsion,Dua D, dll) juga ngetop2nya GODBLESS.
    membaca tulisannya pak kidhal sy seperti menyusuri imajinasi masa sebelum sy lahir yaitu eranya koesplus,the mercy,panbers dll dengan sound recording masih sedehana itu.meskipun begitu lagu dari grup2 itu sepertinya telah menjadi memori tersendiri buat pak kidhal,tidak terkecuali saya yang kebetulan kemaren ndilalah sempat nonton vidio klip nya GOD BLESS dimetro tv (acara era 80an) berjudul.. Huma diatas bukit..dengan vidio klip yang masih sederhana made in TVRI itu.rasanya seperti dilempar begitu saja ke masa lalu…mak glodak..byur…..

  12. la ngono iku rak karek sing mara’i leh

    ono risma ng kono? mandhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttttttt

  13. bos’e komplong diutangi gak popo yo…. soale boz e dewe gawene yo melu utang… ha…ha… ha…. yo gak plong….. yo gak ma… rizma….. buat rizma, adik, dan keplek kon ngeblog rene kok angele eram… ngertine internet kok mung camfrog thok… iku piye….?

  14. pak dalang,melihat crita jenengan saya jadi ikut kesengsem ama pak dalang.he…..he…… critanya buagus buangeeeet.

  15. komplong…….kowe nyamar dadiopo? ngko ora tak kandhakno pendek…
    tenang ae..tapi aku utangi pulsa yo…hehehhehee

  16. eh ko kapan kene mulai latihan aku lali plengggg… ketoke ngerti-ngerti langsung main ngono ae ketoke kae….. Nek sing dikarepke Ki Dhalang kon Nulis Sejarahe tulisen ae Ko… ngko tak ewangi eling-eling sithik….. kowe rak ngerti dhewe aku saiki nyekel pulpen wis gak tau…… meneh nulis…. he….he….he….

  17. Percaya ak nek pakde dhalang suara-ne apik..la wis terbukti je..ehm,jane luwih ‘afdol’ meneh nek ada poto2 ne..dulu ada pengalaman unik+lucu,waktu tupas main d sma sulang,d panggung podo aksyen+gaya (soale dipoto)..bareng wis bar,trz dicetak..hehe..potone kobong kabeh…

  18. Ngandel gak, Mas Uud! Yo ing kene pengapesane Wowot, mesti ka’o dia. Ini memang senjata pamungkasku koq, yo lagi iki dhe’e ngerti love story -nya ebehnya. Jane ya saya mau rahasiakan ngono lho. Berhubung in emergency situation, dengan terpaksa tak keluarin itu senjata. Aman…aman… Pendeks Nett ngguya-ngguyu.
    Makasih banget sama respon-responnya untuk Dui, Cah Pasar, Dusone, Yudi Net, Gus Gobang, and bloger-bloger lainnya. Hanya satu pintaku (syaire sopo iki) agar bloger-bloger yang termasuk genre musik pop Sulang, sudi menorehkan pengalaman-pengalaman masing-masing saat berjuang untuk mengibarkan bendera grup masing-masing. Tak ada hal yang mustahil asal kita mau. Dan …..Sulang Online, lebih luas lagi Indonesia Raya Sulang,akan mempunyai sebuah dokumen komplit untuk perjalanan sejarah musiknya, terus dicetak jadi buku. Yo! urut saka ngarep opo soko mburi. Hallo Laskar Kalinyamat mau kasih komentar komplit untuk Tupas nggak? Kalau sudah ngumpul, sang editor pasti mau ndaptarin itu buku ke Rekor MURI. Oce men!

  19. aku arep melu inguk-inguk diamuk pendhek ko…. jarene wedi nek i-net rusak….. ha…ha…ha…. akhire nyolong-nyolong…..
    tapi ojo kandhakno yo………aku tak karo nyamar…..

  20. Perjuangan pakde dalang hampir mirip dg yg kami (tupas) alami dulu. Nek mau latian,ak+andik+yudi p,gotongan salon dari rumahku+yudi p ke rumah pak yon ato hux..pernah juga d rumah pakde dalang..pake alat sederhana nyanyi lagu2ne pop sg rada rock..rasane seperti artis..walo dg alat yg terbatas-drum’e ga da ‘ces ces’e..pentas d bale desa pake efek gaweane yudi p,,pentas d sma sulang d bayar 50ribu,,pentas d sambongan d bayar sega bungkus..eh,tak kandani yo..komplong dulu vokalis lho..

  21. huh…true story yang bikin aku trenyuh beh.sampai2 aku baca artikelnya gak “ambegan” lho beh.gambaran dan deskripsi yang jelas membuat aku sampai ikut berada di masa itu.perjuangan dan kisah yang keren beh.siip..sipp.buat generasi muda sulang sekarang,ayo tingkatkan kesenian kita.nggak hanya musik, tapi juga drama, tari dll.pasti sebeh juga punya cerita yang menarik tentang seni drama di sulang.ya kan beh
    ?..tunggu seri berikutnya….

  22. kali ini aku nggak mau ketinggalan kasih comment…… setelah mas editorrrrr tentunnya…..
    Siiiiip banget artikelnya pak Jup…… semoga ini menjadi sebuah penyemangat anak-anak muda seniman sulang pada masa kini…… aku jadi teringat ketika harus ngusung ampli dan peralatan band yang sederhana ngalor ngidul dari rumahe Pak Yon ke Rumahe Hux….bersama anak-anak TUPAS Dusone (berko), komplong, Andik, Hux, Benu, Kecix, dll….. Juga ingat juga bagaimana sibuknya membuat sebuah perangkt efek gitar sendiri karena harga yang kami belum bisa membelinnya…… (Nggak tahu kalo sekarang sudah ada yang bisa beli belum…………..) he…he….he….

  23. Waktu mbaca pertama kali saya terharu. Apalagi di bagian waktu Ki Dhalang harus ke Semarang. Wah kalau difilmkan mungkin Laskar Pelangi kalah deh.

    Tapi setelah membaca yang kedua kali, imajinasi saya melayang membayangkan yang lucu-lucu, bagaimana kira-kira ekspresi Ki Dalang and the gangs saat itu (bayangin, tahun 73!) yang enjoy sebagai orang modern, trus dikelilingi cewek-cewek, trus main musik paling populer di bawah pancaran sinar petromaks. Apa ndak juara itu namanya?

    Wah, ayo deh, teman-teman yang berbakat main musik dan seni yang lain, mari teruskan perjuangan para perintis (benar-benar berjuang tuh wong tetap nggetih dengan fasilitasnya seadanya). Bikin pertunjukan yang berbiaya rendah, tapi juga jangan mengabaikan kualitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s