Bluron

Teks: Youdil Cah Pasar

Karena tidak mudik ke Sulang maka sehari setelah Idul fitri saya memutuskan untuk berdarma wisata, mencari tempat liburan yang kalo bisa gratis (demi menjaga stabilitas keuangan akibat dampak buruk ritual belanja lebaran).

Baca lanjutannya

Kami mendapatkan tempat tersebut yaitu sekira 30 Km dari kota Bandung arah ke Bekasi itupun masih masuk sekitar 5 Km (ndeso-so) rumah penduduk masih jarang. Kanan-kiri jalan cuma terbentang sawah dan tegalan tapi memang inilah yang diam-diam saya cari. Landscape sawah dan tegalan membikin fresh betul (mak nyes) setelah sehari-hari yang telah lalu cuma disuguhi kemacetan jalan yang puncaknya menjelang mau lebaran kemaren. Lha manusia seantero kota itu seperti ditumplek blek kejalan semua seperti rayap. Bagi saya orang kota kelahiran ndeso ini melihat kekacauan tersebut lama-lama jadi stres juga.

Bersama ister dan precil saya akhirnya sampai ke tempat tujuan,yang ternyata sudah banyak sodara yang sudah datang duluan karena tuan rumah adalah sodara yang dituakan wajar kalo pas lebaran terlihat banyak penggemarnya.

Setelah ritual halalbihalal usai, saya segera memeriksa suasana sekitar rumah sederhana itu. Lho ternyata di balik rimbunan padi itu terdapat kolam ikan. Lucunya sang tuan rumah sengaja menyediakan gedebok pisang, yang nggak lain maksudnya agar precil-precil itu bisa bluron sepuasnya.

Bagi precil-precil kota kegiatan bermain air keruh tentu merupakan hal baru nan menantang, mereka langsung berhamburan memulai bluronnya termasuk precil saya. Tapi tak semuanya yang datang dibolehkan oleh orangtuanya karena alasan menyangkut kebersihan air atau mungkin air keruh seperti itu tidak baik bagi kulit.

Bisa dibayangkan bagaimana raut muka mereka melihat yang lain boleh bluron sampai njedindil. Kalo nurut saya ya kenapa dilarang larang toh nggak tiap hari. Bahkan kegitan bermain yang kotor-kotor (air keruh, main lumpur, kecek di sawah) sekarang lagi ngetren dan telah dikemas menjadi kegitan outbound. Mungkin namanya yang jadi berbahasa inggris itulah orang kota itu mau membeli untuk kegitan anak-anaknya agar lebih variatif disamping untuk memperkenalkan mainannya wong ndeso (back to nature). Buat mereka yang penting kemasannya keren (outbound gitu lho) maka anak-anak mereka boleh ikut. Kalo namanya bukan outbound nggak boleh (maksa), padahal sama aja isi kegiatannya.

Memang orang jaman sekarang lebih percaya pada kemasan. Itu berlaku hampir pada semua hal, pun dalam urusan makanan contohnya: biar pun isinya sama kacang goreng orang tetep pilih kacang kemasan (kacang garuda) dari pada kacang yang dipincuk. Juga buat makanan junk food nya amrik (mc.donald, pizza hut, dunkin D dll) lha jeroannya sama saja cuma menang di kemasan aja.. Nggak beda dengan ayam gorengnya mbah siatun, endok dadarnya yu kir atau donatmya pasar malam di lapangan banyurowo.

Karena sudah terlihat sangat njedindil maka precil saya menyerah dan minta berhenti. Saya membatin mungkin pengalaman bluronnya kurang lebih sama dengan pengalaman bluron saya ketika kali banjir dibelakang madrasah santren. Bedanya air kali itu terlihat lebih deras dan lebih keruh. Dan biasanya ketika selesai bluron langsung buru-buru berjemur mengeringkan rambut supaya sampai rumah tak terlihat njedindil. Dan yang membuat saya tertawa geli ketika teringat satu mitos yang kita anut waktu itu untuk menghilangkan merah di mata setelah adus kali yaitu dengan cara memandang matahari terik. Lha wong matahari yang melotot dengan ultravioletnya itu kok kita plototi juga, miturut logika saya sekarang kelakuan itu membuat geleng-geleng kepala saja (gek idene sopo..?) tentu saja cara ini tidak saya terapkan pada precil saya sesudah bluron tadi, lha wong mitos edan.

Ketika dulu itu bluron di kali -bagi saya yang rumahnya jauh dari kali- memang merupakan kegiatan yang menantang. Maksudnya menantang larangan orang tua karena kami anak komplek (pinggir ratan estate) umumnya nggak boleh main di kali apalagi pada musim hujan yang kaline selalu banjir. Tapi bagi anak-anak yang rumahnya di kawasan komplek pinggir kali estate tentu saja bluron telah menjadi bagian hidupnya, paling tidak sehari dua kali, maka kelihaian berenang plus nyilemnya tidak diragukan lagi dan telah menjadi refrensi bagi kami anak-anak komplek pinggir ratan estate. Dan sekarang hasil refrensi cara berenang itu saya tularkan pada precil saya. Mungkin gaya berenangnya nanti akan ada sedikit campuran gaya renang kali sulang.

Seusai acara makan bersama saya langsung pamit pulang (SMP) karena memang sudah sore sementara perjalanan lumayan jauh, alhamdulillah di jalan lancar total maklum masih pada mudik. Hidup para Mudikmania……

Foto di atas adalah Youdil Precil (jenengi jagoanmu ki sapa, Bro? ed.)

 

13 thoughts on “Bluron

  1. sampai jumpa juga kid
    saya tunggu serangan2 komen yang ter baru isini mulai hujannnnnnnnn

    SEMANGAT BUAT WARGA SULANGGGGG

  2. Oke, men, hanya saja ini saya agak prekewuh sama yang punya angkring. Dhe’e wis senggar-senggur semendhe kursi. Umpana masih ada Duitor gitu, Pendhek tak suruh moto untuk bukti fisik. Oke ? sampai jumpa sayang.

  3. Haeuleo Dayeuh Bandung! Apa kabar ? Cah Pasar sekeluarga semoga tetap mendapat berkah dan rahmat-Nya. Bagaimana reques saya tentang glosary Sundonan ?

  4. sayang banget di sulang sekarang sudah gakda tempat buat bluron……………
    sepanjang kali tanjung sampai kali tarung sudah kering kerontang
    tidak terlihat lagi sekumpulan bocah kintiran pake gedebog pisang……….
    piya iki cah?????????????

  5. Saya punya Bluron arena, tapi jauh dari Sulang, ya tempatnya di Growongan. Ada ceruk di bawah jembatan, nah itu mungkin bisa di buat bluron atau bahkan bungy jumping. Tapi arena itu terkenal ada dhemit dan regul nya lho ya…Berani ? O iya saya punya fotonya. Silakan lihat di galeri foto untuk sulang online ini.

  6. Ki Dalang dan Cah Pasar yang kangen sama bluron, saya beruntung (alhamdulillah Rob al Alamien) sekarang tinggal di rumah istri yang sangat dekat dengan kali Bedog. Banyunya masih gemlidik dan masih banyak belik yang mengucurkan air jernih dari bawah pohon-pohon besar seperti di growongan dulu itu lho.

    Dengan segala kerendahan hati, kalau njenengan berdua pengin bluron, mbok ke sini saja. Nanti istri saya pasti juga senang.

    Salam hangat dari saya dan istri.

  7. O o o, ini yang aku cari, masiyo tuwekan jan-jane ya masih mau kalau perkara nyewek. Mung ae untungnya saya nggak punya kancane ( Tahu nggak ya, Cah Pasar ? Konco kanggo nyewek opo hayo?) Salam buat Cah Pasar sekeluarga, Tak dongakke dari jauh mudah-mudahan rejeki tambah, terus di save, 365 hari, biar dapat untuk mudik, meski tebing Sulang sudah musnah,nanti tak carikan tempat buat blurone putuku lanang, Ok men?

  8. yes pak,kalo bandung rekreasinya kebanyakan tempat belanja baju pak(distro),lha kalo pas malem minggu itu orang jakarta pada belanja dan mbikin macet,ini dikarenakan adanya jalan tol cipularang,dari jakara cuma 2 jam.sebelum ada jalan tol dulu orang jakarta paling liburannya ke puncak yang sekarang nggak dingin dan indah lagi,tapi bandung sekarang juga rada panas dan macet nya hampir menyamai jakarta pak,bedanya bandung ceweknya cakep-cakep,pak (nyambung nggak ya?)

  9. Wah! saya skening-skening ketemu blurone cah pasar Sulang. Menarik, menarik betul, maksud saya langsung nyedhot mbun-mbunan ingatan saya di waktu kecil. Kuwi lho Mas, Dulu kali Sulang barat jembatan dapat dijadikan arena terjun bebas di kala banjir. Dulu di sebelah utara ada tebing cadas cukup tinggi. Dasar sungai masih cukup dalam. Sehingga kalau kami loncat dari tebing, tak bakalan nyampek ke dasar sungai. Wah bali masalah air maneh. Tolong ditulis tempat rekreasi yang lain di Bandung ya, biar imajinasi saya ikut mabur kesana, ok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s