Kenangan di Jalan

text by Dwiyoga N

“Mbange … mbange …!!!” (teriakan kernet menawarkan jasa pada penumpang)

Masih ingat beberapa nama bus atau angkutan desa yang sering lewat di Jalan Raya Sulang-Kaliombo-Landoh-Deganan-GOR-Sepethi-Mbesi-Ngotet-Njaeni-Taman.

LIONG TIK, bus kayak school bus di Amrik yang mesinnya di depan kemudi dan masuk lewat pintu belakang, tidak beroperasi lagi sekitar 70-an.

Bintang Fajar, bentuknya sejenis Liong Tik, terakhir on the road tahun 77-78

PATMO, Bus legendaris dengan karoseri khas kendaraan film Bolywood India, Kotak rounded.

RIA, Desain serupa Patmo dengan jendela berkaca bening dan tersekat sekat, lampu depan 2 biji bulet semua, font tulisan pake ‘Broadway’, katanya banyak copetnya. Hiiii……

Agung, Big bus warna dominan putih corak biru, tulisan ‘Agung’ kayaknya di tulis dengan Font “Script MT Bold”

Semar Agung, desain eksterior udah agak mending ketimbang Patmo dan Ria mungkin ini varian PO Agung

Usaha Jaya

Minang Indah, warna merah maroon

Subur, Warna dominan biru dengan lukisan abstrak menyerupai burung terbang

Lombok Cepat, Warna coklat

Budiman Jaya

Dua Lolo

Si Polin

Dedy

Paman Doplang

DAN LAIN LAIN, MOHON DI TAMBAH YAA !!!!

2 thoughts on “Kenangan di Jalan

  1. sik-sik-sik,
    kaya’nya dulu waktu saya kecil saya pernah mendengar ada suara sepur deh….yang lewatnya sebelah baratnya pasar…

    pernah ada satu momen, ketika itu saya -tepatnya, kami- lagi bermain-main di halaman kantor kawedanan sulang, dan tiba-tiba terdengar suara loko sepur, langsung deh berhamburan do pating pencelat lari ke arah sumber suara itu, pengen ngerti sosok dan bentuk dari sepur itu……

    nek gak salah lo ya….

  2. Lha dalah! ketemu biangnya nih. Inilah yang dinamakan ” manut jantraning jaman ” (maaf, ya Mas Uud, saya nggak pengin nyaingi Pujangga Ki Ronggowarsito, yang waktu kecilnya bernama Raden Mas Burhan, dan katanya merupakan Santri Pertama dari Gontor Ponorogo, (ini ada referensinya, Mas Uud?).

    Wah! nglantur, kembali masalah sejarah transportasi di Sulang. Saya mau nambah dikit ya, Mas Dui, yaitu sebuah alat transportasi yang cukup unik dan nyata. Ini terjadi ketika saya masih sinau di SMP, (jadi kurun waktu antara 1965-1967) Alat trans nya berupa mobil tapi mobil tanki air. Cuma rutenya tidak Rembang-Blora-Cepu, tapi Rembang-Sulang-Tanjung-Lambangan Wetan- Nganguk- Lambangan Kulon- Cabean- dan finish di Warugunung.

    Caranya,para penumpang masuk kedalam bak air. Bayangkan! seharusnya air yang masuk, tapi ini yang masuk malah orang-orang Sulang dan sekitarnya, termasuk saya, wuah ngenes banget. Panasnya minta ampun. Ning njero tanki podho karo diopen. Tapi masiyo ngono yo tetep ditunggu para penumpang, karena memang si mobil tanki itu disengaja dirubah fungsi oleh aparat Pemda kita.

    Gak nyalahke, lha wong memang sikonnya harus gitu. Oh ya, Sopirnya namanya Pak Man. Mobilnya dicat warna silver tapi catnya sudah busem banget. Namun begitu, banyak orang Sulangan yang sabar menanti kehadirannya. Kalau situasi dulu itu dilakoni sekarang, ya malah kebeneran. Sebab apa? habis naik, keluar dari tutup atas itu pasti gembrobyos kayak bar bluron ning kali, jadi nggak perlu mandi lagi. Jadi cocok dengan situasi kekeringan seperti saat ini. Mau nggak? Ah! kalau saya tak mau lagi koq, mbuh nek Cah Pasaran kono, opo cah Nggalgedhe kana! Hallo Cah Pasar, Gobang, Dusone, Yudhi P, Yunan, Ijun, Ika, Intan, dan lain-lain. Siniyo lho! Disini ada mobil-mobil antique, yang evennya nggak kalah sama sirkuit Monaco lho! Cepetan, mengko tak kasih hadiah lagi,oce men. Yok ditambah maneh Mas Dui, Sirkuit Sulang Online. Sembanh nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s