Ramadhan, Tarawehan, dan Kita (Renungan)

Teks by Yudil Arif

 

Pada masa orientasi ramadhan yaitu seminggu masuk bulan puasa adalah hari-hari di mana mushola, langgar dan mesjid pada malam harinya akan kehabisan tempat sholat, meluber sampai teras alias sold out. Di mana bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, anak-anak dan precil-precil (balita) akan berduyun-duyun menyemarakkan malam ramadhan dengan sholat teraweh, pokoknya antusiasme ramadhan pada awalnya akan nampak adanya (lha wong setahun sekali je..).

Walaupun dianjurkan untuk menempati shaf terdepan, kita anak muda selalu pengen ndepipes dipojok sebagai shaf terfavorit. Adapun bapak-bapak dan para manula seperti tahun-tahun kemarin akan tetap menjadi penghuni di shaf-shaf terdepan ( tradisi). Dan shaf paling belakang akan diisi oleh para penggembira yaitu anak-anak dan precil-precil yang tak lupa dengan kegaduhannya.

Tak ketinggalan pula para bapak Imam merangkap Ustad itu akan jor-joran memberi tausyiah pada makmumnya yang temanya klise saja yaitu tentang keutamaan hikmah ramadhan, rukun puasa, ayat-ayat yang berhubungan dengan puasa ramadhan sampai bahasan tentang adanya malam Lailatul khodar qodar.

Bagi anak-anak yang masih sekolah dari SD sampai SMA tema tausyiah ini penting yaitu penting untuk tugas dari bapak/ibu guru agama mereka di sekolah (biasanya hanya satu atau dua dari mereka yang memperhatikan dan mencatat yang lainnya mencontek belakangan). Adapun kita anak muda (biasanya) cuma manggut-manggut mendengarkan diselingi ngobrol (prosentasenya 30% manggut-manggut dan 70% ngobrol).

Tapi fenomena itu tidak bertahan sampai menjelang akhir ramadhan, barisan makmum di belakang imam itu mrithili secara perlahan dan sporadis dari malam ke malam yang akhirnya menyisakan satu atau dua baris shaf saja. Lalu pada ke mana mereka? Biasanya menjelang akhir ramadhan kita jadi kehilangan semangat untuk menhidupkan malam itu dengan berjamaah teraweh karena semangat itu tiba-tiba berubah menjadi semangat menyambut Idul fitri.

Pesan Nabi untuk mengenakan pakaian bersih dan terbaik itu dipresepsikan menjadi suatu keharusan memakai baju baru pada saat Idulfitri nanti. Tak heran menjelang idulfitri pasar dan pusat perbelanjaan menjadi serbuan para penyambut idulfitri tersebut.

Berpijak pada presepsi itu juga Idulfitri sekarang telah dijadikan suatu even konsumtivisme yang memberikan keuntungan secara ekonomi oleh satu pihak dan dilain pihak (kita) dibuat babakbelur dipaksa merogoh kocek dalam-dalam.

Lepas dari masalah tersebut di atas, kalau boleh merenung sejenak (ini serius) sebenarnya Allah yang Maha tahu telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan pemutihan, karena mungkin bulan-bulan lalu kita sudah terlalu banyak mengoleksi dosa dan ramadhan juga semacam bulan pelatihan yang membekali kita tentang kesabaran sebagi bekal untuk bulan-bulan berikutnya.

Tapi biasanya kita manusia ini termasuk bongso nyeyel, apa yang sebenarnya diketahui itu benar dieyel saja, untuk menutupi kekurangannya yaitu males. Manusia sekarang (mungkin tuntutan jaman) inginnya serba instan dan melupakan proses termasuk dalam urusan beragama, misalnya ketika menjalankan ritual agama (wajib/sunah) maunya langsung memberi keuntungan secara lansung bagi kehidupannya sekarang, padahal tuntunan dalam beragama itu punya dimensi jauh kedepan(akherat). Pun ketika berdoa meminta sesuatu pengennya lansung dikobul tanpa proses atau kata lainnya mereka pengennya cash and carry saja (edaaan…..)

6 thoughts on “Ramadhan, Tarawehan, dan Kita (Renungan)

  1. nggih pak,sy sebenarnya ada kesulitan dalam penulisannya saja ,nek ngomongipun insya Allah lancar,tapi tak usahakan, maklum pak di SD sy dulu pelajaran bahasa sunda nggak ada,adanya kaweruh basa jawa.

  2. Mas Yudhil Cah Pasar, sambil terus nulis, mbok sekali-sekali saya kepengin diciprati Bahasa Sunda, yang populer-populer dulu, jadi semacam kamus atau glosary gitu lho, ini harus..harus…harus… tak tunggu terus, ok.

  3. thanx pak,saya sering nulis ,tapi buat konsumsi pribadi saja jadi ketika menulis untuk dibaca orang lain sebenarnya saya kurang PD karena merasa belum banyak refrensinya (baca buku),maka diforum ini diharapkan menjadi wadah berbagi ilmu disamping menggiatkan dalam hal tulis-menulis bagi cah sulang,gaya penulisannya tidak usah serius2 bangetlah ,jadi diciprati teori2 disiplin ilmu(sospolbud,kesehatan,spiritual dll) sedikit2,lalu dikemukakan dalam gaya tata bahasa sulangan dan jangan ketinggalan humoria-nya…sekali lagi thanx atas apresiasi nya pak ki dha lang su lang (sorry lagi keyboardnya macet)

  4. Mas Yudhil pancen oke banget. Maaf, ya, Lepas hari raya baru tak temokke buah karyanya. Kalok tak liat aromanya, ini koq aroma Bandung. Kirim terus dhong konsep-konsep agamisnya. Yang tetep aku ingat “cash and carry”nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s