Imajinasi Thethek Dulu dan Sekarang

Teks: Youdil Arif

Thetehek sendiri merupakan produk budaya lokal, yang difungsikan sebagai piranti “nggugah saur”di bulan suci ramadhan. Mungkin asal muasalnya dulu penemu ide thethek itu mikir, bahwasanya Sulang jaman pra modern itu sepi nyenyet, peteng ndedet, wite gede gede,iseh akeh wit pring, mudah dibayangkan kalo malam bagaimana suasananya,keadaan ini yang menyebabkan warga sulang tidur sangat lelap dan banyak yang bablas ora saur.

Maka( mungkin) terbentuklah ide untuk membuat kentongan dari pring yang dipukul-pukul untuk menandai waktu saur. Dan sekali lagi mungkin dulu itu thethek itu nggak ada ritme nya,sekedar kentongan dari pring yang dipukul satu atau dua orang secara bergantian tanpo roso seni, cuma thak…thok….thak…thok…dst.

Lama-lama orang bete juga mendengar thethek begitu monoton. Lalu ada ide jumlah pemukul thethek dikembangkan menjadi tiga orang dan seterusnya dengan ritme pukulan berbeda satu sama lain ,di sini lah(mungkin) thethek mulai diakui sebagai cabang seni yang tidak cuma sekedar untuk nggugah wong saur tapi juga layak untuk didengar dan ditonton sambil riyip-riyip(tangi turu bro).

Kemudian era thethek konvensional itu berkembang menjadi thethek modern yaitu dengan memasukkan unsur elektrik didalamnya seperti saund system,gitar keyboard, drum dll. Era ini dimulai tahun 80-an,yaitu ketika Sulang ikut parade thethek di Rembang yang digawangi oleh Pak Yon dkk.

Yang paling fenomenal (mungkin) adalah munculnya tokoh legendaris  musik Sulang yaitu mas Kithut, dedikasinya terhadap perkembangan musik Sulang patut diapresiasi. Pada eranya thethek itu dibikin hingar bingar, keliling seantero Sulang pakai colt buntung untuk ngangkut segala soundsystem lengkap dengan gitar elektrik, keyboard, drum, ketipung juga beberapa stok lagu dangdut (opo ra hebat, jarang-jarang lho ada di desa lain ).

Tapi sebagian warga ada yang nggrundel tidak setuju kalau tampilan thethek jadi seperti itu bukan lagi nggugah wong saur tapi mbikin kaget wong turu.

Lepas dari pro kontra mengenai perkembangan thethek tersebut,faktanya thethtek telah menjadi bagian seni budaya Sulang juga ikut mewarnai atmosfir ramadhan di Sulang.

Bagi total perantau, thethek (mungkin) telah menjadi semacam musik kenangan nggak beda sama rock clasik ( he..he..) karena thethek mustahil ditemui di kota besar ketika ramadhan untuk nggugah saur (jangan dibayangkan ada ).

6 thoughts on “Imajinasi Thethek Dulu dan Sekarang

  1. yo wang,emil-mu raketok,mbok telpon aku ,aku ra iso bali lha wong ortu sering dibdg nanti desember ke bdg lg,moco tulisanku ae dijamin anyar terus.

  2. The2k kmrn seru khusus di sulang,cm bedanya dl pake kenthongan,skrg pake bas bethot plus biduan ngebor,he..he..

  3. Mang ayik-bodo kq rabali sulang?pie ws lali po?ki emailku sing nyar,krm ko hp ku.kbr2 yn ono brita.slm gae klrg bndg.wawang

  4. Halah…. Seru mbiyen, ono mercone dar dor dar dor…. Tp sng penting smangat romadone tetep ora ilang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s