Pejuang Prapatan

Teks: Kang Tarom Foto-foto: Dwi Yoga Nugraha

Mbah Surip, Kang Wasiban, Kang Parmin, serta Lek Temok nampak sumringah. Dari wajahnya selalu tersungging senyum bahagia. Mereka nampak gembira dan bersemangat saat mengikuti upacara peringatan Ultah Bhayangkara ke 62, di halaman Polsek Sulang (1/7).
Apa sebab? Ternyata pada hari itu, mereka yang oleh masyarakat Sulang lebih dikenal sebagai “Danyang Prapatan”, menerima penghargaan dari Kepolisian Sektor Sulang. Mereka sengaja diundang mengikuti upacara untuk menerima penghargaan dan cindera mata dari Kapolsek Sulang, AKP Sunarmin.

Mereka berempat dianggap telah berjasa membantu tugas-tugas polisi mengatur kelancaran lalu lintas di kawasan perempatan, jantung Kota Sulang.

Tiap hari, mereka sibuk mengatur lalu lintas di blok tersebut. Layaknya polisi beneran, mereka cekatan menggerak-gerakkan tangan memberi aba-aba sambil sesekali meniup peluit yang yang menyelinap di bibir mereka. Sudah puluhan tahun mereka menggeluti pekerjaan yang lazim dilakukan oleh aparat kepolisian.

Belum adanya lampu bangjo, membuat lalu lintas di kawasan perempatan Sulang nampak semrawut. Lebih-lebih saat pagi hari pada jam berangkat sekolah dan berangkat kantor. Lalu lalang pejalan kaki, pengendara sepeda onthel dan motor, plus kendaraan roda empat, sudah seperti suasana ruas jalan protokol ibukota, bising, dan semrawut.

Berkat kesigapan Mbah Surip dkk., kenyamanan saat melintas di jalur tersebut tak perlu diragukan. Secara silih berganti, mereka akan memberikan aba-aba kepada pengguna jalan yang melintas sebagai isyarat. Bahkan, mereka tak segan-segan membantu menyeberangkan pejalan kaki meski tanpa dimintai bantuan.

Wah mulia banget! Pantas jika mereka mendapat penghargaan dari Polsek. Dan itu memang sudah semestinya yang harus dilakukan oleh aparat untuk membangun kemitraan dengan masyarakat.

Mbah Surip, Kang Wasiban, Kang Parmin serta Lek Temok yang oleh para sopir omprengan dikenal sebagai makelar, tak pernah lelah menjalani hari-harinya sebagai “polisi swasta”. Dari perempatanlah mereka hidup. Dari sana mereka mengais rupiah. Pendapatannya, bergantung pada pemberian suka-rela para sopir atas jasa yang mereka berikan.

Mereka tak dibayar negara. Mereka tak disubsidi polisi. Mereka hanyalah makelar yang hidupnya serba pas-pasan. Meski demikian, mereka mempunyai kepedulian yang tinggi kepada sesama. Mereka telah berbuat untuk orang lain, untuk kenyamanan pengguna jalan. Jika tak berlebihan, mungkin kita patut menyebutnya dengan sebutan “pejuang prapatan”.

4 thoughts on “Pejuang Prapatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s