“Deleleken” Gara-Gara Puso

Oleh: Kang Tarom, Kamituwo Banyurowo

Inilah kenyataan pahit yang dialami saudara-saudara kita. Penduduk Sulang yang mayoritas bergelut dengan panas dan hujan alias bercocok tanam, podho sambat. Maksud hati ingin kembali mereguk hasil panenan yang melimpah seperti saat musim tanam padi pertama. Namun, apa lacur, kenyataannya malah tak seperti yang dibayangkan.

Tandhur pindho (menanam padi yang ke dua) yang dilakukan sebagian besar sedulur tani yang tinggal di Brang Lor, Brang Kulon, te-Gal Sari dan mBanyurowo, juga kademangan-kademangan lain, mengalami gatot alias gagal total. Minimnya curah hujan beberapa bulan lalu, membuat tanaman padi mereka nggagar (mati). Kasihan banget nasib mereka.

Kang Pardi misalnya, petani yang tinggal di mBanyurowo ini mengaku harus menanggung kerugian yang tidak sedikit akibat tanaman padinya podho alum (layu) karena kurang asupan air.

“Ngaten niki nggeh rugi kathah. Empun kadung ditandhuri, diragati, dipupuk malah jawohipun mboten wonten. Panase enthar-enthar koyok pol-polane ketigo. Nggeh mboten dadehan. Pol-pole pakakke lembu,” tuturnya ngenes.

Hal serupa juga dialami Lek Janadi, petani asal Brang Lor. Padi yang ditanamnya, terpaksa harus dipanen dini. Pasalnya, jika dibiarkan, tanaman padi tersebut akan ngurak (mati menguning kemudian lapuk).

“Semprul! Udane ora ono. Parine ora kelar modhot, malah podho pating blasah. Luwih apik dienggo pengaritan kanggo pakan sapi, katimbang muspro,” cetusnya jengkel.

Tak hanya Kang Pardi dan Lek janadi saja yang merasakan kegetiran itu. Masih banyak saudara kita yang lain, yang nasibnya sama dengan mereka. Puluhan hektare lahan pertanian di Sulang mengalami puso (gagal panen) pada musim tanam pindho (April, Mei, Juni)lalu.

Cuaca yang tak bersahabat menjadi biang keladinya. Kondisi ini membuat sebagian besar petani kita deleleken karena menanggung kerugian yang tak sedikit. Mereka hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit. Nasib-nasib!

Benarkah kondisi alam semata penyebab kegagalan? Oke, memang itu kenyataannya. Tapi, kayaknya kurang adil jika kita hanya menuding faktor cuaca sebagai satu-satunya biang kerok. Kenapa kita tidak belajar introspeksi? Bukankah hal seperti itu sudah sering mereka alami?

Kalau mau jujur-jujuran; salah sedulur kita juga sih. Kenapa harus maksa nanam padi? Tidakkah ada komoditi lain yang lebih tepat untuk Sulang setelah panenan? Jagung atau apa kek misalnya. Jangankan untuk musim tanam pindho, musim tanam padi pertama saja, bisa panen sudah untung-untungan.

Kita patut prihatin. Sulang, lahan pertaniannya semua tadah hujan. Di kampung kita, belum ada saluran irigasi. Bisa panen padi setahun sekali saja, sudah Alhamdulillah.

Sudah saatnya petani kita harus mulai berpikir lebih maju. Mereka harus belajar merubah pola bercocok dari dimensi tradisional menuju yang modern. Misalnya, petani harus pintar membaca musim sekaligus pintar menentukan jenis komoditi yang ditanam sesuai keadaan. Petani harus jadi manusia yang tanggap ing sasmita. Tak boleh main asal tanam. Tak boleh asal spekulasi.

Itu secuil potret nasib petani Sulang. Sejak dulu hingga sekarang, nasib mereka tak pernah berubah. Jangan-jangan memang nasib petani tak akan pernah berubah! Naudzu billahi mindzalik.

Ternyata, jadi pak tani itu gak gampang. Gak bisa asal-asalan. Gak asal main spekulasi. Pupuk itu harus beli nek! Bukan pemberian cuma-cuma seperti BLT! Sudah sulit nyarinya, mahal lagi. Duh nasib-nasib! Kenapa petani terus dikebiri ya?

2 thoughts on ““Deleleken” Gara-Gara Puso

  1. Wah kayae semua setuju nih kalo mas Tarom ditunjuk sebagai ketua petani se-Sulang raya. Biar dikasih tau sekarang kita nanam padi, besok jagung, terus kedele, terus nanem kacang.
    Hehehehe..
    Pripun Mas Tarom.
    Sekalian aja bangun bendungan. Kali Sulang nek di bendung banyak yang ngamok mungkin ya.
    Carane punya irigasi di Rembang gimana Ya?? Mungkin gak ya Rembang punya saluran irigasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s