“Scene” Musik di Sulang

Pengantar:

Terima kasih tak terhingga atas kiriman tulisan tentang Musik di Sulang. Tulisan ini jauh lebih berisi karena dikerjakan oleh pelakunya sendiri.  Semoga bisa menginspirasi sedulur-sedulur yang lain. Thanks ya, Mas Yudhie.

Salam hangat.

oleh yudhie dusone yarcho

Menyambung apa yang telah di’review’ oleh pemangku blog : sulang.wordpress.com, saya ingin mencoba menambahkan sedikit apa yang saya ketahui tentang scene musik di’kota’ ini.

Similar dengan yang terjadi di Seattle [nun jauh di Amrik, sana] ketika grunge mengobrak-abrik arah permusikan di seluruh dunia, scene musik di Sulang juga diwarnai oleh arus pertumbuhan band yang cukup pesat.  Band-band bermunculan, meski jika diperhatikan dengan lebih seksama, orang-orang yang terlibat didalamnya hanya ‘itu-itu’ saja.

Tongki a.k.a Aan misalnya. Dia pernah satu band dengan Andhi’ dan Sapi a.k.a Weppy/Licco, dan mereka pernah manggung di alun-alun Rembang [gimana sih, tulisan alun-alun yang benar?!].  Sebelumnya, Tongki’  juga pernah berduet dengan Ayik [domisili sekarang bandung] menyanyikan lagu-lagu nirvana, yang memang pada saat itu lagi ‘hot-hot’nya. kemudian, Tongki’ berkolaborasi dengan Andhi’, Sapi, Bercho a.k.a. yudhie, Kecik a.k.a. Alex, dan seorang vokalis cewek dari Pati.  Kolaborasi ini menjadi sebuah band bernama Virgin.

Virgin lalu intensif melakukan latihan, untuk mengikuti sebuah festival yang bertajuk ‘Festival Musik Alternatif Se Eks-Karesidenan Pati’ yang berlangsung di GOR Pati, akhir 1999. Virgin berhasil menyabet gelar juara ke 3 dan gelar gitaris terbaik, Andhi’. Waktu itu Virgin membawakan lagu ‘Interstate Love Song’ Stone Temple Pilots dan ‘Gambang Suling’ yang telah di aransemen menjadi lebih ‘fushion-alternatif’ [entah, apa istilahnya yang benar].

Selain di Virgin, Bercho, Kecik, dan Andhi’ mempunyai band bernama Tupas [kependekan dari ‘tugu payung dan sekitarnya’] yang dibentuk bersama Pendek. Pada awalnya band ini juga beranggotakan Komplong a.k.a Dilla sekarang di free cell dan Hook a.k.a. Kukuh. Pentas pertama kali di acara pentas perpisahan SMA Negeri Sulang, dengan bayaran 50 ribu rupiah, waktu itu.

Sampai saat ini, Tupas masih eksis walau tidak begitu aktif, sehubungan dengan berpencarnya aktifitas para personelnya. Seiring dengan vakumnya Tupas, Pendek pernah berkolaborasi dengan Tupai [Iwan] juga Bongod [Hadi], sedangkan Bercho membentuk ‘jam sesion band’ bersama Sapi, Adi’ dan Risma.

Oh ya, saya tiba-tiba teringat. Dulu pernah ada satu ‘momen’ di mana beberapa anak muda Sulang, salah satunya adalah mas Diduk a.k.a Nanang] [saya yakin, itu adalah cikal bakal dari FGMS sekarang!] berinisiatif mengadakan sebuah ‘gigs’ yang diselenggarakan di gedung Kawedanan Sulang, yang kebetulan bertepatan dengan suasana lebaran. Jadi bisa dikatakan, semacam acara silaturahmi antar generasi Sulang, yang menampilkan beberapa band Sulang, salah satunya adalah Tupas. Waktu itu, Tupas menyanyikan beberapa buah lagu, yang masih saya ingat adalah ‘Mawar Merah’ Slank dengan Komplong masih sebagai vokalis dan Hook pada gitar bolong. Waktu itu beberapa ‘crew’ Tupas menyalakan kembang api berbentuk kupu-kupu yang bisa terbang, sehingga menambah kemeriahan acara.

Ah, jadi pengen bernostalgia lagi. Kapan ‘gigs’ seperti ini akan muncul lagi, dan tidak sekedar ‘seremoni’ belaka tiap 17 agustus.

Tidak bisa diingkari juga bagaimana peran Mas Gombleh [Ilal] dalam meramaikan scene musik di Sulang ini. Dia bersama dengan Uud [Adiknya Diduk], Tonga a.k.a. Edy, Mas Kithut [Totok] dan Lisin pernah manggung di salah satu acara di Kecamatan Sulang, kalau tidak salah waktu itu panggungnya lumayan besar.

Saya juga pernah satu panggung dengan Mas Gombleh, di salah satu acara kampanye sebuah partai peserta pemilu, kalau tidak salah tahun 1994-an, di halaman Stadion Krida Rembang. Waktu itu yang terlibat diantaranya adalah Tongki’, Sapi dan Gagap [Roni].

Ada beberapa nama lain yang pernah dan atau masih beredar di scene musik Sulang, untuk sekedar menyebut di antaranya adalah Ndaru [anaknya Pak Djup], Wahyu [anaknya Bu Harsi], Ari & Han [Senthet] [keduanya adalah anak Pak Yon, adik dan kakak dari Kecik], Apin [Hanif, adiknya Gombleh], Cemplon [Hendri], Agus [Lambangan], Gobed [Yanto], Pak Yon, Pak Kempul [Puji], Pak Mad [Ach. Anom]. Jika ada yang terlewat.  Mohon maaf sebesar-besarnya.

Perkembangan scene musik saat ini makin berkembang dengan adanya studio musik di Sulang [milik Mas Kithut], sehingga untuk melatih skill, tidak lagi harus bersusah-susah dan jauh pergi ke Rembang. Yang membanggakan saya, sampai saat ini [setidaknya] tidak ada band di Sulang yang membawakan lagu-lagu dari Kangen band [Maaf, saya tidak membencinya, saya hanya tidak suka. Itu saja]. Semoga seterusnya tidak ada. [Atau saya yang kelewatan akan sesuatu? Entah]

Salute!
Keep On Rock N’ Roll!

Terimakasih untuk : teman-teman Tupas [andhi’ (adik saya), Pendek, Hook, Komplong, kecik], Bandhot [hani] yang pertama kali mengajari saya main gitar, Gobed [yanto] dan Gombleh [Ilal] atas support dan kritiknya, jam session band (sekarang!) [Dwi’, Risma, Sapi, Adi’], Aiu [adik saya] atas kritikan pedas dan ledekannya.

Yudhie Dusone Yarcho a.k.a. Bercho
former of corned beef [semarang], Virgin [sulang] dan Tupas [sulang]
sekarang tinggal dan bekerja di jepara
blog: deadisbeautiful.blogspot.com
email: deadisbeautiful@gmail.com

16 thoughts on ““Scene” Musik di Sulang

  1. hm,,, wuakeh tenan rek komen-e…

    yang jelas, pen’dokumentasi’an terhadap segala sesuatu itu penting,
    nek jare bung karno,’jangan sekali-kali melupakan sejarah’..
    entah itu sejarah hidup kita, keluarga kita, orang disekitar kita, desa kita, negara kita, dan sejarah tentang apa saja……

    makanya, dulu ada pelajaran sejarah di sekolah (entah sekarang, masih ada apa tidak)

    makasih-maturnuwun-arigato-thanks

  2. Akhirnya kegilaan saya memang harus berakhir sampai di sini. Jane masih kepengin terus menggila, namun berhubung yang punya angkring sudah kasih kode pada saya dengan menguap berkali-kali, maka saya akhirnya prekewuh juga. Sekali lagi mohon maaf apabila ada tutur kata, diksi, ungkapan, frase, kalimat, maupun paragraf yang awut-awutan ndak karu-karuwan, yang akhirnya cuman ngreget-ngreti entri Anda ini. Bila mana perlu seluruh komentar saya ini boleh di delete saja. Namun saya tetap nitip ucapan sebelum pendeletan….Bravo Dusone, Cah Pasar, Gobang, Gus Baha’, Mas Tarom, Mas Kuntop, Mas Dui, mas blogger yanglain , dan tentu saja Sang Pemangku SulangOnline yamh semakin dipusingkan editing…. wuakakakakakakaka……sadar Pak Kidhal…sadar…

  3. Dusone sahabatku
    Rintisan Anda setahun yang lalu, kini telah ada trontong-trontong fajar, yang saya yakin akan segera membangunkan Sulang. Lebih-lebih lagi Anda tak sendiri di sini. Jebul banyak sekali, dan sangat banyak sekali tunas-tunas desa yang berkomitmen tinggi untuk menjaga, mengasuh, memelihara, mengisi, menanam, menimba, memasang, merengkuh, meminang, menimang, mengelus, menggendong, dan lain-lain amalan untuk Sulang sebuah desa yang jarang tertulis di peta. Adalah Sang Pemangku Sulang Online, Sang Duitor, Sang Youdil Arif, Sang Gobang, Sang War-Two, Sang Yudhi P, Sang Kuntop, Sang Sang Sang Sang lainnya yang saya yaqin ainul yaqin tetap seiring sejalan bersama Anda.

  4. Di sini memang saya tak akan menanggapi secara khusus tulisan Anda yang kadung terpatri di otak saya. Namun secara tersirat saya tetap berusaha agar ada secercah guna yang dapat membangkitkan kita semua, agar lebih peduli pada nasib perjalanan sosok Sulang, baik di bidang seni budaya pada umumnya, dan lebih khusus pada dunia musik yang telah Anda seken ini.

  5. Untuk perilaku saya yang mungkin gila ini,tak ada kata yang paling tepat kecuali “mohon maaf”, kepada : Sang Pemangku Sulang Online dan segenap krunya, semua blogger Sulang Online, dan khususnya kepada Anda sendiri yang punya wewenang di entri ini. Saya berharap agar segala apapun tanggapan saya ini, tetap ada sedebu manfaat bagi kita, atau setidak-tidaknya bagi saya secara pribadi.

  6. Setelah saya baca tak kurang dari lima kali tulisan Anda ini, saya justru tak dapat memberikan tanggapan secara khusus. Hal ini karena tiba-tiba muncul sense-sense yang agak asing dari dunia bawah sadar saya, yang mendorong jemari ini untuk bergerak lepas di atas keyboardnya Mas PendheksNet. Spontanitas, reflek, dan seperempat sadar. Saya sendiri tak tahu, apa jadinya. Suatu kerja sia-sia, ataukah suatu kerja yang gila. Namun saya betul-betul menikmatinya bagaikan menemukan dunia mainan baru.

  7. Mencermati apa yang telah Anda torehkan dengan judul “Scene Musik di Sulang”, jujur saja saya langsung trenyuh adanya. Karena apa? Saya semakin sadar bahwa segala apa yang pernah berputar pada roda jaman di mana pun, layaknya harus terdokumentasi secara rapi. Dengan demikian catatan sejarah dan riwayat tentangsesuatu kejadian yang lalu, tentu akan berguna bagi generasi berikutnya. Demikian pula tentang riwayat perjalanan dunia musik di desa kita ini, pasti juga akan dibutuhkan generasi musik berikutnya.

  8. Assalamu alaikum wr.wb.

    Dusone sahabatku

    Entri ini baru saya temukan dengan tak sengaja, setelah Anda tulis kurang lebih setahun yang lalu. Silahkan Anda hitung berapa jarak waktu antara posting tulisan ini dengan saat saya tulis refleksi. Namun rentang waktu di dunia tulis-menulis hampir tak berpengaruh terhadap relevansi substansi tulisan dengan si pembaca atau apresiator-nya. Untuk itu saya mohon maaf sekiranya tanggapan saya ini nanti nglantur kemana-mana…………

  9. Aku dapat info blog ini dari seseorang, tetapi aku benar-benar senang, karena meski aku sudah lama meninggalkan (merantau dari_sulang) sejak lulus smp, tetapi aku lahir dan besar di sana. Artinya ada jaringan lain di luar desa yang sering kalau aku pulang sudah tidak (jarang) bertemu dengan sebayaku (aku tetangga sebelah kithut). Kepada adik-adik (aku yakin….pas dipanggil demikian) untuk mengembangkan blog ini. Kapan-kapan aku kirim. atau kunjungi di http://sangperantau.myblog.com. atau tulisan-tulisan saya diblog yang sudah terpasang. yah….kita tuker-tukeran blog donk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s