Profil #1 Seniman (Rintisan Sejarah Sulang)

Selain asupan untuk fisik setiap masyarakat juga membutuhkan asupan untuk kehidupan psikisnya. Demikian juga dengan di Sulang. Kehadiran seniman telah membuat Sulang jadi lebih indah. Sayang keahlian mereka belum (jika sulit dikatakan tidak) bisa dijadikan sebagai matapencaharian yang menjanjikan. Maklum, sulang is very-very small city. Jadi belum ada yang rela untuk mengapresiasi keberadaan mereka sebagai sebuah kebutuhan yang membutuhkan biaya untuk menjaganya tetap eksis.

Toh, di dalam situasi serba minimalis untuk berkembangnya seniman ini, tetap saja bakat-bakat hebat itu tidak bisa ditahan untuk berkreasi. Berikut adalah seniman-seniman hebat yang sempat mengisi hari-hari di masa menjelang remajaku. Tetapi sebelumnya saya mohon maaf kalau daftar yang saya susun ini berdasarkan keterbatasan ingatan saya. Jadi kalau panjenengan punya masukan siapa saja yang perlu kita cantumkan dalam daftar, silahkan menghubungi saya di desa.sulang@gmail.com atau isi komentar di bagian bawah postingan ini. Ya…

Seni Rupa

Pak Mat (Ahmad Anom). Berprofesi sebagai guru SD tidak membuatnya membatasi kegiatannya sebatas mengajar di dalam kelas. Dia pahlawanku waktu kecil. Selain nyetil (berdandan trendi), orangnya kreatif bisa bikin macam-macam. Nggambar, bikin taman, bikin prakarya untuk penelitian, gantungan kunci dari dahan sawo di depan rumahnya, nyablon, vandel, dan paling lama kusimpan karyanya adalah medali ketika aku lulus SD. Rumahnya di santren (komplek pendidikan Islam di RW V, nggalsari). Secara pribadi aku merasa benar-benar merasa sangat mendapat perhatian dari beliau. Seorang guru yang sebeneranya sangat hangat. Meski sering juga sebela karena di tengah-tengah pelajaran dia datang ke kelas menyuruhku membelikan sebungkus rokok Bentoel. Anyway, orang semacam Pak Mat ini perlu terus mendapat dukungan dan ruang agar bisa memperkaya estetika Sulang.

Pak Giman (Sugiman). Juga berprofesi sebagai guru SD, bapak ini telah melahirkan banyak sekali generasi muda Sulang yang mahir membuat banyak prakarya. Tidak berlebihan juga kalau kemudian putrinya yang pertama sering mendapat gelar juara di lomba-lomba kesenian (tari, lukis, puisi) baik tingkat kecamatan atau kabupaten Rembang. Sebenarnya beliau tidak hanya menguasai seni lukis. Seni pertunjukan pun beliau kuasai. Sebuah pertunjukan kolosal pernah beliau buat ketika karnaval HUT RI, seluruh murid SD N III laki-laki maupun perempuan berdandan dan mengenakan kostum petruk semua. Sebuah pertunjukan seni kontemporer yang pernah terjadi (atau mungkin sampai kini masih satu-satunya) di Sulang pada tahun 80 an akhir.

Seni Musik

Perkembangan seni musik di Sulang, barangkali karena lebih bisa langsung dinikmati bersama-sama, lebih pesat dibanding dengan seni lainnya. Akibatnya banyak juga anak-anak muda yang menguasai alat-alat musik. Semuanya bagus-bagus. Tapi tidak mungkin bagi saya untuk bisa mengingat satu persatu dan memasukkan namanya di sini. Meski begitu tetap ada tokoh yang layak kita apresiasi karya-karyanya.

Tidak ada musisi terhebat yang bisa menandingi petikan gitar Gombleh (Ilal … aduh, jenengmu dawa sapa ya. Sepuramulah). Begitu yang kupercayai waktu itu. Dialah anak muda yang bisa bermain pentas mengimbangi permainan mas Son, bapaknya Todi, atau mas kempul (Puji). Padahal dia tidak pernah belajar khusus musik, tapi pengetahuan dan kemampuan musikalnya sangat luar biasa (untuk ukuran desaku). Ada juga kithut (Totok) seangkatan Gombleh yang di kemudian hari lebih tertarik sebagai manajer sebuah grup pertunjukan. Kalau yang megang drum ada mas Bondo. Dan generasi muda ada Dwi Yoga, sarjana bahasa Inggris yang giat membawakan lagu-lagu kontemporer. Sedangkan Diva Sulang yang saya ingat itu mbak Puk (istrinya mas Yoga) dan Ulfa (adiknya Gombleh).

Seni Pertunjukan

Bu Harni Harsi. adalah salah seorang guru tari yang banyak memoles bakat-bakat emas penari tradisi di Sulang. Saya pernah menjadi muridnya. Sayang tidak lama lantaran waktu itu yang ikut latihan perempuan semua. Sementara kalau ada anak laki-laki yang belajar nari itu kayaknya kok gimanaaa gitu.

Pak Jup. Adalah dalang kondang wayang kulit dari Sulang yang sudah memiliki jam pentas terbanyak di Sulang. Sering juga berpentas dengan adiknya, Mbak Pah. Nah kalau Mbak Pah ini malah sering masuk TVRI (maksudnya pentas di tivi). Dan mbak Pah ini pernah menyutradarai sebuah drama teater Bawang Merah-Bawang Putih. Kapan bikin pertunjukan semacam ini lagi, Mbak?

Mas Hang (Hapsoro). Berbeda dengan dua seniman pertunjukan di atas yang bergelut di wilayah tradisi, Mas Hang ini lebih ke teater modern. Yang dia ajari baca puisi, pasti juara kalau ikut lomba agustusan. Kecuali jurinya berselera rendah. Orangnya nyentrik, dulu gondrong mirip penyanyi alm. Gombloh. Katanya sih pernah jadi pemake … upss… katanya. Tapi beberapa tahun lalu saya ketemu dia sudah rapi jali dan tidak gondrong.

13 thoughts on “Profil #1 Seniman (Rintisan Sejarah Sulang)

  1. malem mingu lapo yo cah cah lusang? wahhh…
    arep poso siap siap yo cah golek legent… wenak di nggo buko poso

  2. Siapa sih yang buat blog ini.
    Hayoo ngakuuuu.

    Aku kenal sih sama tokoh ini.
    Gimana kabarnya mereka berdua.

    Dulu sih aku deket dengan Pak Ahmad Anom.
    Sekarang berapa anaknya.
    Masih ngajar di SDN Sulang 1 ??

    Kalo Pak Giman, itu khan yang tinggal di dekat lapangan sepak bola khan ??

    Mimic

  3. Buat mas pemangku sulang,saya juga merasa sedih dengan perkembangan kesenian dan budaya yang ada di sulang ini.generasi penerus yang sekarang ini tahunya hanya musik modern,tarian disco dan yang berbau kebarat-baratan.mana tarian gambyong, merak,bambangan cakil yang biasa ditarikan dulu oleh anak2 SD pada waktu 17an?mana generasi penerusnya Bu Harsi,ataupun Pak Jup satu-satunya dhalang di Sulang yang sekarang juga baru “Vacum of Power”.Saya harapkan mas pemangku sulang ataupun temen2 yang sengaja ataupun tidak sengaja membuka website ini dapat memberikan saran ataupun solusi agar seni dan budaya di sulang tidak mati tertelan jaman.Oh ya mas,saya kemarin janji mo memberikan foto-foto sulang masa lampau yang saya punya….kapan ya?

  4. salam tepang ugi.
    jan-jane kulo nggih penasaran, sinten to pemangkune sulang menika,
    salut buat pemangku sulang, kreatif.
    kemarin pas lebaran wahyu (adek) sempet mendokumentasikan sekelumit pojok sulang.
    saya tunggu-tunggu kok belum nongol juga ya?
    lare-lare sulang menapa sampun kathah ingkang pirso komunitas menika?

  5. Buat pemangkunya Sulang, kok ya berhenti jadi muridnya iku-ku tuh kenapa?
    apa seni tari itu cuman punya perempuan tok?
    wah, gender donk.
    pantesan beliau pernah rasan-rasae, katanya cari penari laki-laki susahe minta ampun.
    Behubung sekarang bu harsi sudah kena osteoarthritis, sudah tidak bisa lagi aktif didunia seni tari.
    padahal masih ada keinginan buat bikin sendratari (walaupun menurtku terlalu muluk2 sih).
    Buat penerus-penerus bu harsi (banyak lho!), monngo dipun uri-uri supados lestari.

  6. Baik, Mas Wahyu, dengan ini saya ralat. Maaf saya tidak bermaksud mengganti nama Ibu njenengan. Omong-omong, apa kabar beliau. Terus sekarang njenengan sedang di mana sibuk apa sekarang?

  7. assalamualaikum wr. wb

    keren mas… explore daerah biar bisa ikut dikenang para pembaca…:)
    TOP tnan…
    mas nek boleh usul…
    ketika tak lihat, tak baca, terus tak rasakan menurutku kok sepertinya ada sing kurang srek, kurang mak nyus…
    1. Judulnya itu lho…
    kok sepertinya “menurunkan”, ngapurane mas
    nek misal diganti menjadi Sulang GoinBlog piye?ato mungkin bisa yang lainnya
    2. Poto-potone alias gambar-gambare kok belum tak temukan ya?
    itu aja dulu… sukses ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s