Hiburan #2 (Rintisan Sejarah Sulang)

Dolanan Anak

Ada banyak dolanan anak yang pernah kumainkan. Di antaranya gobaksodor, sorogan, umbulan, sudahmandah, dakon, betengan, karetan, dan sepaksepong.

Secara persis sulit mengingat siapa saja yang mengenalkan pada saya bagaimana dolanan itu dimainkan  dan apa saja aturan mainnya. Tetapi rasanya mudah mengikuti permainan-permainan itu. Apalagi biasanya para pemula mendapat status sebagai pupuk bawang. Dengan status ini seorang pemain memiliki kekebalan hukum pertandingan karena masih dalam tahap try out. Baru setelah dianggap tahu aturan dan bisa memainkan dia akan menyandang gelar sebagai pemain sebenarnya.

Secara umum dolanan di Sulang sewaktu saya kecil tidak berbeda dengan dolanan anak pada umumnya di daerah lain di Jawa Tengah. Baik itu nama maupun aturan mainnya. Kalaupun ada perbedaan, itu tidak terlalu berarti. Dan, sebagian besar dolanan kami waktu itu selalu melibatkan banyak peserta. Sehingga dibutuhkan tempat bermain di luar ruangan.

Saya akan mencoba merangkai potongan-potongan ingatan tentang dolanan saya dulu. Jika ada yang kelewatan, dan tampaknya memang banyak yang sudah terlupa, mohon Anda bersedia melengkapinya.

Gobaksodor

Saya pertama kali mengenal dolanan ini ketika di duduk di SD satu. Waktu itu Bu Jeki (Hj. Sri Rejeki), guru kami, mengajak anak-anak sekelas untuk menuju lapangan bulu tangkis di bagian depan sekolah. Kemudian kami dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masing 3 orang (atau lima ya? Duh lupa… maaf).  Setelah itu tiap dua kelompok akan mendapat jatah masing-masing setengah lapangan. Satu kelompok penyerang bertugas garis batas akhir tanpa tersentuh lawan. Satu lagi kelompok bertahan bertugas harus menjaga agar lawan tidak berhasil lewat. Berbeda dengan kelompok penyerang yang bisa berlari ke mana saja, kelompok bertahan dibatasi hanya melintas di atas garis lapangan saja.  Dolanan ini bisa dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan.

Sorogan

Alat utama yang digunakan untuk dolanan ini adalah batu berbentuk pipih untuk membidik tumpukan pecahan genting yang berada kira-kira sejauh 5 meter. Ini juga permainan kelompok yang melibatkan dua tim. Masing-masing tim harus bisa memorakporandakan tumpukan genting lawan. Yang berhasil duluan berhak digendong.

Umbul

Ini adalah jenis permainan yang menggunakan umbul atau kartu bergambar. Sebenarnya saya tidak termasuk yang sering memainkan umbulan. Pertama karena untuk mendapatkannya harus membeli dan kedua lantaran ada unsur judinya, Bapak tidak mengijinkan anak-anaknya bahkan sekedar menyimpan kartu-kartu itu. Toh diam-diam aku juga memainkannya di rumah Adik, Oong, atau di pasar. Ada beberapa varian dalam dolanan ini. Sayang hanya daksrep yang kuingat. Yakni selembar kartu milik beberapa pemain dikumpulkan lalu diumbulkan (dilempar ke atas). Kartu yang dak (gambarnya utama menghadap ke atas) akan menang dan berhak menggirik (memiliki) kartu yang srep (menghadap ke bawah). Kalau pemain lebih dari dua dan setelah diumbul kedapatan dak lebih dari satu maka otomatis yang srep tereliminasi dan yang dak akan diumbulkan lagi sampai ada pemenang tunggal yang berhak menggirik semua kartu.

Sudahmandah

Juga dikenal dengan nama engklek. Seorang pemain harus menguasai sebuah potongan genting untuk melintas sebidang tanah yang datar yang telah diberi garis-garis sesuai ragamnya. Ada beberapa teknik yang harus dikuasai seperti kaki digoyang dan sebagainya. [aduh ada yang bisa lebih baik menjelaskan?]

Dakon

Dolanan anak sampai sekarang masih eksis. Menggunakan papan berlubang-lubang dan kecik (biji sawo). 2 orang yang dibekali kecik sama banyak bertanding untuk memasukkan kecik sebanyak-banyaknya ke sumur mereka.

Betengan

Ini adalah permainan strategi perang-perangan 2 tim atau lebih. Wilayah tim ditandai dengan sebuah beteng (bisa berupa tonggak yang ditancapkan ke tanah, tiang net voli atau juga tiang teras rumah tergantung di mana betengan dimainkan). Tim yang ingin menguasai beteng lawan harus bisa menyentuh beteng lawan tanpa tersentuh pemain lawan. Pemain yang tersentuh lawan akan disandera dan hanya bisa dibebaskan setelah disentuh kawan setimnya. Ada satu lagi yang harus diperhatikan. Para pemain tidak boleh terlalu lama meninggalkan beteng karena itu bisa mengurangi “kekuatannya”. Jika dua pemain berhadap-hadapan dan posisinya sama-sama jauh dari beteng, maka yang meninggalkan betengnya duluan disebut “kalah tuo” dan jika tersentuh dia akan disandera.

Karetan

Karet gelang yang biasanya untuk pengikat di tangan anak-anak bisa berubah menjadi dolanan. 1. Lompat karet. Karet-karet itu dirangkai sampai kira-kira 4 meter. Lalu dua orang anak memegang ujung-ujungnya sebagai standar lompatan. 2. Penjepret cicak. Dan … [aduh lagi-lagi lupa deh].

Sepaksepong

Sebenarnya ini adalah petak umpet. Untuk bisa ngumpet [sembunyi] dilakukan pengundian antar pemain. Caranya pemain harus punya gacu berupa batu pipih untuk menyepak (merobohkan) sepongan (biasanya berupa batubata merah yang diberdirikan). Untuk menentukan urutan pelempar, para pemain berdiri di dekat sepong dan melempar gacunya ke arah yang ditentukan. Siapa yang melempar gacu paling jauh maka dia mendapat kesempatan pertama menyepak sepongan. Jika sepongan roboh, maka saat itu juga semua pemain bisa langsung ngumpet dan yang dadi (pemain yang bertugas menemukan para pengumpet) adalah pelempar gacu yang terdekat dengan sepongan. Demikian juga sebaliknya, kalau sampai pelempar gacu terakhir yang merobohkan sepongan, maka yang dadi adalah pemilik gacu yang terjauh. Saya jarang sekali bisa melempar paling jauh atau paling dekat. Itulah makanya saya jarang dadi. Permainan belum selesai begitu pengumpet bisa ditemukan yang dadi. Karena jika pengumpet berhasil lebih dulu menyentuh sepongan maka umpetan dimulai lagi sampai semua pengumpet kenek (terlihat).

Walhasil, itulah sedikit dari banyaknya dolanan yang pernah saya mainkan dengan kawan-kawan di Sulang. Barang kali sidang blogger/pembaca ada yang bisa menambahi atau mengoreksi, saya sangat senang. Percayalah, selain dalam rangka untuk nostalgia catatan-catatan kecil begini bisa kita gunakan sebagai dokumentasi untuk makin mengenal siapa jati diri kita sebenarnya. Dan, kalau kita sudah makin mengenal siapa diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan, untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengisi masa depan kita sepertinya akan lebih terarah. Wallahu a’lam.

 

S

Mbok kalau ada yang punya dokumentasi dalam bentuk foto tentang Sulang, saya dikirimi. Nggih…

11 thoughts on “Hiburan #2 (Rintisan Sejarah Sulang)

  1. setauku,sorogan kuwi alate ‘kreweng + bungkus rokok yg ditekuk berbentuk segi3 dg nilai masing2 berbeda sesuai merk’ trz nek daksrep kui ‘umbul d tekuk diumpetke blandare ng mburi awak terus d dokok ngarep dtutupi tangan,trz d tomboki..yen tombok’ane podo ro sg ng tangane blandar yo menang’ ada lagi ‘gadaran’ ‘kuartet’

  2. Hemh, tangguh tenan sobat siji iki, gak salah rek nek dijuluk ‘de King’ …..
    Ini sambil pariwisata maya, ngiras uji coba commentsel, gitu lho Gus, tapi nek you dah cessel ya istirah dulu lah.

  3. Aaakhhh ….. sampai di pos ini saya tergoda ingin jadi bocah lagi, bisa dakon, benthik, gobagsodor, macanan, mul2an, lsp. Terus nanti 100 th 200 th y.a.d kalo anak putu pengin main terus piye ya carane? apa ndak ada “prosedural guide”nya ya?
    Yok Bang, neruske laku wisotomoyo …..

  4. Ngangsu / Ngasu.

    Ya lebih popular di sebut Ngangsu ( Ya! Ngangsu ). Kalo Ngasu ( tanpa tambahan ”ng” ditengahnya ) memang masih sering di ucapkan, tapi ini ambigu atau istilah enggresnya cenderung distinctive meaning, nek sampeyan menyebut ’Ngasu’ ini hampir sama artinya dengan meng-animalisasi sesorang ”Menjadi Asu”.Mangkanya hati hati membedakan dua kata ini. Yo wis iku gak penting.
    Sebentar lagi desa sulang akan di ramaikan dengan budaya baru beberapa tahun terakhir, orang hilir mudik bawa jerigen di sepeda atau diangkut songkro. Cari air buat kebutuhan harian. Beberapa tempat yang masih jadi tumpuan pujaan para sedherek yang Ngangsu ini ada di lokasi Banyurowo, beberapa sumur disana masih ada airnya walo sudah masuk kemarau. Bagi sodara yang sekarang tidak berada di Sulang silakan bersyukur tidak kesusahan air. Tapi ( semoga menjadi kenyataan ) sebentar lagi Sulang alan mempunyai alat distribusi air bersih dengan memanfaatkan air Telaga Sambongan. Di perkirakan Alat ini untuk sementara bisa menjangkau sampai dengan Sulang bagian Utara ( Brang Lor ). Nek Sulang iso di jangkau alat kuwi kabeh lha terus mata pencahariane Kang Empet piye ?

  5. Ngencub Kinjeng
    Musim panen padi sudah berlalu, desane ndewe memang hanya menganut satu musim panen padi. musim hujan hanya cukup mengairi padi sekali tanam hingga panen. Tapi kayaknya musim ini agak beda, udah masuk musim kemarau tapi masih tetep juga ada mendung. Mengusik beberapa pak tani untuk berspekulasi nanam padi etape ke-2 tahun ini. Mungkin aja kalo ujan emang bener-bener gak lagi turun ya paling pengairan di bantu mesin Diesel. Satu jam mengairi, diesel di ganjar lima belas ribu perak. Yah gitu deh pokoknya.!!!
    Oke. Musim panen identik dengan tumpukan jerami dan kinjeng berterbangan. Anak kecil Sulang mana yang gak kepingin nangkep binatang kecil yang kayak Helikopter itu. Areal asik buat Ngencup kinjeng antara lain persawahan Banyurowo, persawahan Tegalgede dekat kali Ngatemo, persawahan Tegalsari belakang SD 2. Ada varian kinjeng yang masih ku ingat. Kinjeng Biasa, warna dominan kuning dari badan hingga ekor, geraknya cukup tidak lincah tapi cukup susah untuk di encup. Kinjeng Kebo, warna dominan hijau ukuran tubuh lebih besar dari kinjeng biasa mudah ditangkep apalagi kalo pake kebyok. Kinjeng Dom, bentuknya kayak jarum, ibarat Helikopter yo Apache lah. Nah sing paling terakhir iki yang paling susah di tangkep, di kebyok saja susah nya minta ampun apalagi di encup semata, di granat mungkin bisa (mati) yaitu Kinjeng Nganten, tubuhnya atletis, warna merah Ferrari ( we’eh cah ). Kalo Sampeyan bisa nangkep Kinjeng Nganten dalam keadaan utuh Die or Alive, I will give you reward One Thousand Only seekornya.

  6. juga ada permainan delikan sodo (menyembunyikan patahan sapu lidi).
    aku setuju usul wowot: kupas tuntas “rel sepur sport center”
    karena semua olah raga berkumpulnya ndek sana.

  7. Sudah manda : ada Dendeng Ireng, Dendeng Puteh, Nyawah, Mithong, Goyang, Nyaplok, Byok, Nyelengi, Jempol ( Gacu nyaris menyentuh garis ). Paling bagus pake gacu enternit yang di remuk remuk, sebab gacu varian ini mempunyai traksi lebih luas terhadap bidang sudahmanda, sehingga gacu ini lebih nepak ( langsung berheni di posisi lemparan, tidak mengalami slip sehingga bablas dari posisi lemparan ). Tapi Gacu dari bahan enternit kurang bagus untuk lapangan tanah ( gacu terlalu lekat pada tanah dan handling kurang bagus). Ukuran luas tiap kolom sudahmanda biasanya 3 petak ubin kali 3 petak ubin. tapi untuk kolom 4 dan 5 biasanya berukuran 3 petak ubin kali 6 petak ubin. Eh..ngono po yo ? Di Lapangan yang jago sudahmanda bernama Mbak Pak. Siapa berani lawan ?

  8. wah bener-bener mengingatkanku pada masa lalu mas. mungkin ada lagi permainan yang dimainkan di Sulang antara lain nekeran, tembak-tembakan (bedhilnya terbuat dari bambu kecil yang dibentuk sedemikian rupa dan pelurunya dari kertas), Layangan dan mungkin masih ada lagi.Untuk permainan yang terakhir ini saya masih ingat sering main di dekat rel sepur di belakang rumah njenengan.Tapi sekarang nggak tahu Sulang masih ada rel sepur nggak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s