Hiburan #1 (Rintisan Sejarah Sulang)

Bioskop

Ketika stasiun televisi masih baru TVRI (tahun 1985an), bioskop atau layar tancep adalah salah satu hiburan yang selalu ditunggu dengan hangat oleh warga Sulang. Ada dua tempat yang sering digunakan untuk memutar tayangan bioskop di Sulang. Lapangan bola di Karanganyar (RW VII) dan halaman kawedanan/kecamatan Sulang (RW II).

Film-film yang diputar seperti film-filmnya bang H. Oma Irama, Warkop, Djaka Sembung, dll. Sering kali diputar ulang sesuai dengan stok film yang dipunyai penyelenggara. Penyelenggara biasanya adalah perusahaan yang sedang promosi di sana. Ada Bodrex, Anggur orang tua, Jamu Jago, dan lain-lain. Yang pasti karena itu adalah pemutaran film gratis maka biasanya tayangan film akan dipotong menjadi beberapa bagian untuk jualan produk mereka. Alasannya adalah untuk mengganti rol film.

Aku juga senang setiap kali akan digelar bioskop di Sulang. Aku dan kawan-kawan akan menyambutnya dengan suka cita. Bahkan sore hari saat para pekerja mendirikan layarnya di sudut lapangan pun kami (sekitar 50-an anak yang tidak semata berasal dari sekitar lokasi pemutaran) sudah bermain-main di sana. Kami berkejar-kejaran di bawah layar yang lebarnya bisa sampai sepuluh meter dan didirikan dengan 2 batang besi yang dipenthang pakai tambang besar. Sepertinya kami saat itu sedang akan berpesta. Sampai menjelang maghrib, ketika penyelenggara mengumumkan akan diputarnya film dengan mengendarai mobil dan menggunakan speaker yang suaranya sangat khas, kami pulang.

Aku akan segera mandi dan minta ijin ke Bapak Ibu untuk boleh nonton bioskop. Untungnya Ibu sering mengijinkan bahkan sering juga membekali dengan uang saku 100 atau 200 rupiah. Jumlah uang yang cukup waktu itu untuk membeli kacang, es puter, dan krupuk sebagai teman nonton.

Dari rumah aku menyamperi teman-teman di sekitar rumah untuk berangkat bersama. Bodik (Body Haryanto), Adik (Yunan Ardi Imawan), Udin (Sholeh Mauludin), Kukuh, (Heri (Heriyanto), Inung (Indra Gunawan), Cucuk dan Lilik (sikembar Waluyo dan Wilujeng), dan kawan-kawan dari pasar adalah teman-teman yang sering berangkat bareng.

Aku jarang berangkat bareng dengan masku (M. Izzuddin Nanang Haromi a.k.a Diduk). Dia punya teman-teman sendiri. Ada Mas Yus (Yusril Helmi Setiawan), Mas Ndando (Bob Brando a.k.a Ndandung), Mas Timuk (Trimudai a.k.a Dai), Umar, Kuprit (Supriyadi) dan lain-lain. Meski di lapangan pun aku melihat masku, aku jarang bergabung dengan mereka. Pasti dia marah dan bilang, “Aja melu-melu wae. Kana dolan dhewe karo kancamu”. Tapi aku tidak pernah benci dengan masku ini. Biar begitu dia baik dan selalu melindungiku.

Meski waktu itu jalan belum seterang sekarang karena belum banyak penerangan jalan, aku tidak merasa takut. Karena sepanjang jalan kami akan bareng dengan kelompok penonton yang lain. Sesampai di lapangan, biasanya aku sudah mendapati banyak orang yang sudah hadir. Mereka duduk lesehan sambil bercengkerama menunggu diputarnya film. Aku dan anak-anak sebayaku yang laki-laki lebih senang berkejaran-kejaran dari pada anak sebayaku yang perempuan. Mereka lebih senang berjalan bergerombol atau duduk-duduk saja. Sampai penyelenggara yang sejak habis maghrib berorasi menjual dagangannya mengumumkan bahwa akan segera diputar film baru kami berebut mencari tempat duduk yang paling strategis.

Butuh beberapa menit untuk sebuah film diputar. Saat proyektor ke layar dinyalakan, dan lampu-lampu penerangan dimatikan, maka perhatian penonton segera terpusat ke layar. Inilah saatnya kami berlomba-lomba untuk melempar sandal, peci, atau sarung setinggi-tingginya. Satu dua sering terdengar umpatan atau rutukan karena tertimpa sandal atau benda-benda itu. Tapi kami menyambutnya tetap dengan tertawa.

Film pun diputar. Berbeda dengan budaya nonton film di gedung bioskop, selama film diputar kami boleh melakukan apa saja mulai dari mengomentari jalannya film, tertawa ketika ada adegan yang lucu, marah-marah kalau tokoh atau jagoan dicurangi, atau apa saja selama tidak menutupi pandangan orang yang duduk di belakang kita. Kalau itu terjadi, tidak jarang kita akan terkena lemparan sandal atau kalau beruntung kotoran sapi kering yang memang banyak di lapangan itu.

Setelah film diputar kami akan pulang dengan perasaan puas. Kalau aku plus ngantuk karena biasanya sudah benar-benar larut dan kecapekan. Untuk mengatasi ngantuk, biasanya aku dan kawan-kawan akan mengingat adegan-adegan yang lucu-lucu kemudian tertawa-tawa sampai rumah. Puas.

15 thoughts on “Hiburan #1 (Rintisan Sejarah Sulang)

  1. ya ya ya ya
    sapa lagi pak biasa ronda malaemmmm

    jam segini pendeknet kan wis ngelimpussss

    heheheheheheheheheh

    kita kemana neh mr. kid

  2. Ya ya ya ogkriiik tenan. Ini wisata maya diikuti hanya 3 biang kerok saja ya? Yah nggak papa, hiking2 teruuus, Weph, Bang, dan satu lagi ada yang ngintip. Itu Duz apa CaPas ya ?????

  3. Wah wah wah ! Saya koq ditilap to, Bang! Padahal sy pengin mbukak bontotan di Watu Jago, je. Tapi kalo rumornya bener, sy ngucapin selamat ya, prend. Wis ben, Duz ben penasaran … kweeeekkk ….. brrrr …..

  4. Secara kebetulan saya temukan tulisan ini. Jebul ada spesifiknya (setidaknya menurut saya) ; selain merupakan pertama kali sepisanan tulisan perintis milat Sulang Online, juga terkandung substansi yang menggelitik agar kita tetap sadar dan ingat pada ‘bumi wutah getih’ kita, meski jarang tertera di peta.
    Maka tepatlah semboyan yang terukir di tagline Sulang Online. Terima kasih Sang Perintis.

  5. aku juga pernah udud pake rokok:
    crystal, staff dan rokok klobot, beli ditempatnya kok beng
    dulu deket warung es batunya lik sun yang dibungkus pake godhong jati
    dan ditali rafia warna item, setahuku dan setahu duwik bagong
    tidak ada warna selain itu.

  6. aku juga pernah nguncalke sarung di depan layar.
    kalo dilapangan mesti ketemu karo duwik bagong.
    sambil udud ndelik. he he..

  7. nambahi dikit, sponsore dulu rokok jarum ya?terus sebelum bioskop dimulai ada acara undian (tapi aku g mudeng detailnya),. ada yang dapet jam,payung etc.biasnya aku nonton sama mbah kini almarhumah samnil maem kacang goreng wedhi dagangane.lucu banget kalo inget tempo dulu

  8. sitik nambahi juga, kalo ada pagelaran yang rada gede di lapangan ato kawedanan pemilik warung yang punya omzet gede seperti mak Pi, mbah Siatun ato warung mie ayam depan mesjid itu sapa namane (lali aku!!) juga sering mremo lho!!!

  9. Nambahi nggih Mas!……Siapa saja yang mremo ( jualan ) kalo ada layar tancep ? Ingat mbah Sabar ? beliau tinggal di Tegalgede, rekan-rekan yang suka berkerumun di depan dagangan mbah sabar pasti tidak lupa dengan kaca mata 3D buataan mbah Sabar. Frame-nya dibuat dari bambu, dengan kaca buatan dari kertas minyak warna merah atau biru. Yah kurang lebih kayak kacamata milik Elton John. Ada juga Lik Jumini, Mbah Suliyah, dan Lik Pahing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s