Kemana air yang dulu melimpah?

Waktu SD (sekitar tahun 84-an), setiap sore saya selalu menghabiskan waktu dengan main bola di lapangan kecamatan Sulang. Meski luasnya hanya dua kali lapangan bola voli plus permukaan tanah yang tidak rata, tidak kurang dari 30 remaja yang beramai-ramai main bola di sana. Belum lagi remaja perempuan yang jumlahnya hampir seimbang. Ditambah orang-orang dewasa yang biasanya membawa anak-anak mereka yang masih kecil untuk didulang.

Betapa menyenangkan waktu itu. Menjelang adzan maghrib kami segera menyudahi permainan. Selanjutnya kami mandi bersama di pancuran milik pam di pinggir jalan depan kecamatan. Kami menyebutnya “pet”. Tidak terhitung air bersih dan segar yang kami pakai mandi waktu itu. Biasanya aku mandi dengan teman-teman seumuran. Kalau mandi dengan anak-anak pasar, maka aku tidak pernah bisa kebagian air. Karena mereka berotot besar. Apalagi memang sebagian anak-anak pasar itu berayah kuli panggul. Yang pasti aku mandi sampai mataku merah, sampai ibu harus membawa sapu ijuk untuk ‘membujukku’ agar cepat-cepat pulang.

Rasanya belum lama aku mengalami itu semua. Bahkan memar di pahaku akibat cubitan ibupun rasanya baru hilang kemarin. Tetapi air pet di depan kecamatan itu sudah benar-benar habis. Bahkan jika kita berdiri di bekas pet itupun sulit rasanya mempercayai bahwa aku pernah hampir tenggelam di sana. Semuanya habis sudah.

Yang ada adalah hampir 5 tahun terakhir, tiap malam Pak Sholeh pensiunan Naib, harus begadang untuk nadong air. Menunggu giliran mengalirnya air dari PDAM. Untung Pak Sholeh tidak sendirian. Karena ada Pak Brono, pensiunan TNI, yang tidak habis-habisnya kesabaran dalam mengomeli pegawai PAM.

Lalu kemana mengalirnya air yang dulu melimpah? Ada yang bilang air mengalir ke saku para oknum pdam yang diam-diam menerima pelanggan baru tanpa menghitung kemampuan mesin yang mereka miliki. Ada juga yang bilang sumbernya sudah habis untuk daerah lain. Dan banyak lagi yang lainnya.

Tetapi yang pasti, habisnya air di Sulang itu hampir bersamaan dengan makin banyaknya hutan yang ditebang secara liar. Sudah tidak ada lagi hutan di sekitar sulang. Semuanya habis. Dijarah oleh oknum aparat maupun cukong-cukong yang hanya mikir perutnya sendiri.

Kalau sudah begini mau apalagi?

15 thoughts on “Kemana air yang dulu melimpah?

  1. Ooo, sy nyoba hiking nelusuri titik sumber mata air Sulang Online, Weph Papa Weyna. Ini you di mana, men, Lsm, Slg, at Bla ?

  2. yuk, mungkin nggak sih kalau misalnya melakukan sedikit nostalgia, bagaimana dahulu air bisa begitu melimpah di Sulang? lalu apa yang sekarang hilang sehingga (mungkin akibatnya) air juga turut hilang itu dikembalikan agar air juga (semoga) bisa kembali?
    Kapan kapan saya tak cerita apa yang dilakukan sama anak anak kampung saya agar air sumurnya nggak ngedrop terus terusan, saya pikir sulang bisa lah, lha wong pemudanya aja banyak yang well educated kok, tempat saya yang kandang tukang mendem aja bisa!

  3. Buat mas mail Sukribo, Tulisan anda profokatif deh. Mbok ya jangan ngenyek dulu. Apalagi nyuruh nyuruh. Saya nggak nambahi perkoro, tapi disini ajang temu kangen dan cerita realistis. nek sampeyan nyuruh nyuruh alias ber- ide idelais seperti itu… ya di guyu yang lain to ya. Mending Buktikan aja. Inna a’malu bil action ? Actionmu apa? ngangkon ae Cino meteng yo iso. Wis pokoke aku gak seneng sama kata kata profokatif. Titik……Buat paiman paiman yang lain…awas nek ngisruh. Ojo Padon ae. Muergawe gak usah kongkan kongkon.

  4. Kalau sudah begini mau apalagi?

    Saya sedih membaca akhir dari posting diatas, bukan karena airnya memang semakin susah, tapi karena kata kata yang sedemikian menyedihkan.
    Menyedihkan karena seakan tidak ada lagi yang bisa dilakukan…

    Lalu untuk apa nulis kata – kata ini sedemikian besar:
    Mengenang tidak berarti membeku di masa lalu, namun bertindak dan berjuang untuknya

    ayolah, usul saja tidak cukup, saya ngikut aja bahwa ‘inna mal a’malu binniaat’ tapi kok saya prefer ‘inna mal a’malu bil action yaaa…’

    salam hangat dari dusun ngemplak caban jogja

  5. Air rupanya jadi topik hangat ya?!
    tapi ini dah masuk nopember, artinya hujan 1,2 dah mulai turun.Gimana Sulang?dah dapet jatah air dari langit kan?beli air jeligen atau budaya ngangsu dah mulai berkurang to?Alhamdulillah Jatim dah muali lho.
    kalau semuanya lancar, bendungan growongan insyaalloh bisa jadi pengharapan warga Sulang (sulang tengah khususnya).tapi itu-pun menurut informasi masih 2-3 tahun lagi.walaupun demikian,melestarikan sumber kehidupan warga Sulang yaitu sumur dibanyurawa (BR) yg jadi tempat langganan ngangsu adeku kalo pulang kampung, g ada salah and ruginya.Sempet usul ke babe, mbok ya-o disekitar sumur ditanami pohon2n pengikat air seperti Beringin atau Trembesi.toh itu tanah bengkok.kalo untuk kemaslahatan umat pak kades masak g ikhlas sih?kalo bukab kita yang menikmati, paling tidak kita sudah berinvestasi buatanak cucu.tapi nanti kalo pohonnya sudah guede jangan dipake u/ hal-hal yang dilarang agama lho ya.tapi ini masih angan2…..

  6. weleh3, cah lapangan iku llho! sombonge nemen, sebelum dikau merasakan nikmatnya ngangsu ato damainya tumbas banyu jeligenan, mending dari sekarang mulai aja nimbun banyu sak akeh2e, spa ngerti besok anak cucumu merasakan apa yang dialami warga sulang sebagian besar!kan lumayan dah ada cageran!
    mas yen wani tak tunggu ng prapatn sulang, besok hari sabtu malam 27 oktbr 2007, kita bertanding secara jujur dan fair play, kalah mbayari di PSane Targo! wani ra? kw ga ngapel to?

  7. Disela gelisahnya warga sulang yang sedang kekurangan air air karena jatuh musim kemarau, ada sesuatu yang mungkin logis untuk di pertanyakan. Walah !!!
    Begini lho, Setiap datang musim kemarau Sulang selalu kekurangan aer. Betul karena (mungkin) akibat tak langsung dari gundulnya hutan, dan lain sebagainya. Ada satu daerah yang ALHAMDULILLAH BANGET tidak terlalu merasakan dampak musim kemarau, yaitu Karanganyar (KA) dan Banyurowo (BR). Bukan untuk mamer mameri tapi kenapa bisa begitu? Apakah karena kondidi geografis KA dan BR atau karena KA dan BR dulu termasuk daerah yang mempunyai banyak pohon besar di pinggir jalan sehingga terbentuk sumur alamiah di bawah tanah yang diwarisi oleh pohon2 tersebut? Lha nek sumure wis entek banyune piye? Rak Ngangsu..Ngangsu ning ndi ? Sambongan ? Walah aduhe !!

  8. sedih mas klo bicara tentang air. ntah begitu saja, air yang dulunya melimpah sekarang musnah. saat ini muncul budaya baru di Sulang yaitu “ngangsu” beramai-ramai.
    Sumur Banyurowo, saat ini menjadi sumber mata air yang menghidupi warga Sulang. Denger2 PDAM Sulang mbangun tower air disebelah Selatan Sambongan..mga2 beneran dan menjadikan berkah bagi warga sulang, AMIN!!!
    Kapan-kapan pulang mas, kita “ngangsu bareng-bareng..he..he..(tak tunggu ya…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s